Titik Temu
Arini memalingkan wajah dengan sentakan kasar, memutus kontak mata dengan pantulannya sendiri di kaca stasiun. Jantungnya berdentum, menciptakan irama ganjil yang bertabrakan dengan musik orkestra Lela Ledhung yang masih terngiang. Saat ia menoleh kembali ke kaca, bayangan koper dan tangan pucat itu telah lenyap. Hanya ada dirinya—pucat, kuyu, dengan mata yang menyimpan ketakutan purba.
Ia tidak bisa tinggal di sini. Stasiun Tugu terlalu terang, terlalu penuh dengan mata-mata yang seolah menghakiminya.
Arini memesan taksi daring, namun alih-alih memberikan alamat rumah ibunya di Sayidan, ia mengetikkan sebuah koordinat acak di pinggiran Kotagede. Ia butuh tempat di mana sejarah bisa bersembunyi di balik dinding-dinding batu yang tinggi.
Mobil membawanya menembus malam Jogja yang semakin pekat. Kotagede menyambutnya dengan sunyi yang intimidatif. Gang-gang sempit yang hanya cukup dilewati satu motor, barisan rumah tua bergaya Indische, dan bau dupa yang samar beradu dengan wangi melati yang busuk karena terlalu matang. Arini turun di sebuah persimpangan yang sepi.
"Mbak, yakin turun di sini? Ini daerah buntu," sopir taksi itu bertanya dengan nada sangsi.
"Yakin," jawab Arini singkat, suaranya parau.
Ia berjalan menyusuri trotoar batu, mengikuti insting yang bahkan ia sendiri tidak pahami.
Kakinya terasa berat, seolah ditarik oleh kunci tua yang masih mendekam di sakunya. Tiba-tiba, langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan kayu yang menjorok ke jalan. Sebuah papan nama kayu yang sudah retak tergantung miring: "Kala: Antik & Arkaisma".
Toko itu tidak memiliki lampu neon. Hanya ada sebuah lampu minyak yang bergoyang ditiup angin, membiaskan bayangan yang menari-nari di kaca jendela yang buram.
Arini mendorong pintunya.
Kring.
Denting loncer kuno menyambutnya. Aroma di dalam toko itu sangat spesifik: perpaduan debu buku tua, kayu jati yang lembap, dan... formalin.
"Mencari tempat untuk menyimpan sesuatu, Cah Ayu?"
Arini tersentak. Di sudut ruangan yang gelap, duduk seorang lelaki tua dengan blangkon lusuh. Matanya tertutup selaput putih katarak, namun ia menoleh tepat ke arah Arini seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya. Di depannya terdapat sebuah gender(instrumen gamelan dari perunggu) yang bilah-bilahnya berkilat tertimpa cahaya redup.
"Saya... saya hanya melihat-lihat," bisik Arini. Tangannya meremas tali ransel.
Lelaki itu tersenyum, menampakkan deretan gigi yang menghitam. "Di sini, barang-barang yang menemukan pemiliknya, bukan sebaliknya. Seperti lagu yang sedang kamu dengar."
Lelaki itu memukul satu bilah gender. Ting. Nada pelog yang tinggi menggantung di udara.
Arini merasa kepalanya berputar. Matanya menyisir seisi ruangan yang penuh dengan lemari tua, keris, dan jam dinding yang detaknya saling bersahutan tidak sinkron. Hingga matanya tertuju pada sebuah objek di sudut paling belakang, di bawah tumpukan kain jarik tua.
Sebuah koper kulit cokelat tua.
Koper itu tampak sangat berwibawa sekaligus mengerikan. Kulitnya pecah-pecah di beberapa bagian, dan sudut-sudutnya dilapisi kuningan yang sudah menghitam. Arini mendekat seolah terhipnotis. Setiap langkahnya membuat musik orkestra di kepalanya semakin keras, kali ini dengan tambahan suara sinden yang lebih jelas, lebih mendesak:
"Cep menenga, aja pijer nangis..."
Arini berlutut di depan koper itu. Ia mengeluarkan kunci tua dari sakunya. Tanpa sadar, ia mencocokkan lubang kunci koper dengan kunci perak yang ditemukannya. Klik.
Koper itu tidak terbuka, tapi sebuah getaran dingin menjalar dari ujung jarinya hingga ke tulang punggung.
"Koper itu punya sejarah yang panjang," suara lelaki tua itu terdengar tepat di belakang telinga Arini, meski Arini yakin lelaki itu tadi duduk jauh di sana.
"Dia adalah wadah untuk hal-hal yang tidak ingin diingat oleh dunia. Harganya murah, jika kamu berani membayarnya dengan ingatanmu."
Arini menelan ludah. "Berapa?"
"Cukup bawa dia pergi dari sini. Dia sudah terlalu lama menunggu untuk pulang ke pemilik aslinya."
Arini mencengkeram pegangan koper itu. Saat ia mengangkatnya, koper itu terasa sangat berat, jauh lebih berat dari sebuah koper kosong. Ada sesuatu yang bergeser di dalamnya—sesuatu yang tumpul dan lunak, menghantam dinding kulit koper dengan suara thud yang pelan.
Arini membawa koper itu keluar toko dengan terburu-buru. Namun, saat ia melirik ke bawah melalui celah kecil di penutup koper yang tidak rapat sempurna, ia melihat seikat rambut hitam panjang yang terjepit di sana—dan rambut itu tampak seolah sedang bergerak, menarik dirinya sendiri masuk kembali ke dalam kegelapan koper.
Other Stories
Always In My Mind
Sempat kepikiran saya ingin rehat setelah setahun berpengalaman menjadi guru pendamping, t ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...