Koper Coklat Ibu

Reads
125
Votes
2
Parts
5
Vote
Report
Penulis Pena Lura

Kilas Balik


Arini melempar ponselnya ke atas ranjang. Layar yang masih menyala itu menunjukkan kegelapan dari dalam lemari di Jakarta, namun telinga Arini menangkap sesuatu yang lebih mengerikan: suara garukan kuku yang sama dengan derit roda kopernya tadi.

Ia kembali menatap koper di depannya. Gigi-gigi susu yang tertancap di dinding dalam koper itu seolah mulai bersinar di bawah lampu kamar yang berkedip. Arini meraih buku harian ibunya lagi, jemarinya merobek halaman yang menempel karena noda kering yang lengket.

Di halaman itu, tertulis sebuah pengakuan yang ditulis dengan tekanan pena begitu kuat hingga kertasnya nyaris bolong:
Arini anak yang pintar. Dia memegang kakinya saat aku menutup tutupnya. Dia mengerti bahwa di rumah ini, hanya boleh ada satu suara. Suaraku. Lela Ledhung adalah perjanjian. Jika kau diam, kau akan abadi.

Pandangan Arini mengabur. Tiba-tiba, suhu di kamar penginapan itu turun drastis. Aroma formalin mendadak lenyap, digantikan oleh bau amis darah segar yang sangat kuat.

Lantai tegel di bawah kakinya berubah. Ia tidak lagi berada di penginapan Kotagede. Dinding-dinding kamar itu meluas, berubah menjadi gudang pengap di rumah masa kecilnya di Sayidan. Tahun 1998. Suasana di luar sedang kacau karena kerusuhan, tapi di dalam gudang ini, kesunyian jauh lebih mematikan.

Ia melihat dirinya sendiri. Arini kecil, tujuh tahun, dengan rambut dikuncir dua. Ia berdiri mematung, matanya yang besar menatap kosong ke arah koper cokelat yang terguncang hebat di tengah ruangan.

Ibunya, Sulastri, sedang duduk bersila di depan koper itu. Wajahnya cantik namun kaku seperti topeng kayu. Tangan Sulastri memetik senar gender yang diletakkan di pangkuannya. Ting. Ting. Ting. Nada pelog yang tidak sempurna itu menggema, memantul di dinding gudang.

"Ibu... Anis mau keluar," suara Arini kecil terdengar seperti cicit tikus.
Sulastri tidak menoleh. Ia mulai melantunkan bait itu dengan suara yang begitu merdu namun dingin, seolah suaranya datang dari dasar sumur.

"Cep menenga, aja pijer nangis... Anakku sing ayu rupane..."

"Dia haus, Bu..." Arini kecil mendekat, tangannya hendak menyentuh gerendel koper.

Tiba-tiba, Sulastri berhenti memetik gender. Ia menoleh ke arah Arini dengan tatapan yang akan menghantui Arini hingga dewasa.

"Anis sedang belajar menjadi anak yang tenang, Arini. Jangan diganggu. Kamu mau menemaninya di dalam?"

Arini kecil menggeleng kuat-kuat. Ketakutan itu begitu murni hingga ia tidak bisa bernapas. Ia melihat ibunya kembali bernyanyi, dan kali ini, Arini kecil justru ikut menindih tutup koper itu dengan tubuh mungilnya agar guncangan dari dalam berhenti. Agar ibunya tidak marah. Agar ibunya tetap mencintainya.

Duk! Duk! Duk!

Suara benturan dari dalam koper itu perlahan melemah, berubah menjadi garukan halus, lalu... sunyi yang mutlak.

Kembali ke masa kini, Arini tersedak ludahnya sendiri. Ia terisak hebat di lantai penginapan. Jadi ini alasannya ia tidak pernah punya adik. Ini alasannya ibunya selalu berkata Anis hilang di pasar. Ibunya tidak pernah kehilangan anak; ibunya menyimpan anaknya.

Arini meraih sepasang sepatu plastik merah dari dalam koper. Saat ia menyentuhnya, ia menyadari sesuatu yang lebih pahit. Sepatu itu tidak kosong. Di dalamnya masih ada tulang-tulang kecil yang telah mengapur, menyatu dengan sol sepatu yang lepas.

Di tengah tangis histerisnya, radio tua di sudut kamar kembali berbunyi. Namun kali ini bukan musik orkestra, melainkan suara tawa kecil seorang anak perempuan yang sangat jernih. "Mbak Arini... ganti giliranku yang memegang tutupnya, ya?" Pintu kamar penginapan yang terkunci rapat tiba-tiba berderit terbuka, menampakkan lorong gelap yang tak berujung.


Other Stories
Srikandi

Iptu Yanti, anggota Polwan yang masih lajang dan cantik, bertugas di Satuan Reskrim. Bersa ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Aswin, Kami Menyayangimu

Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...

Download Titik & Koma