(bukan) Tentang Kita

Reads
5
Votes
0
Parts
3
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

2. Tahu Apa Yang Lebih Berharga Dari Emas Atau Permata? Ya, Benar. Itu Tak Lain Dan Tak Bukan Adalah Cinta Tulus Seorang Ibu?


“Daripada kamu sendirian di sana, apa tidak lebih baik pulang saja ke rumah Bunda? Toh, Bunda sekarang sendirian lho di sini,” kata wanita paruh baya berkacamata yang sedang memakan potongan pepaya segar di depan kamera kepada gadis muda berambut panjang, berkulit putih kemerahan serta memiliki mata abu-abu bening yang juga tengah menyantap makan malam, sepiring nasi bebek bertabur bumbu hitam khas Madura.
Meskipun hanya terhubung melalui layar laptop, tetapi keduanya berlagak seolah tengah berada di meja yang sama. Setidak-tidaknya, ini cukup untuk mengobati kerinduan Lexi pada rumah dan keluarga. 
“Bukannya aku tidak mau, tapi kan Bunda tahu sendiri kalau perjalanan dari sini ke Jakarta tidak mudah, apalagi di tengah pandemi seperti sekarang.” Lexi memotong paha bebek, mencuil sedikit, mencampurnya dengan bumbu, lalu memakannya bersama nasi hangat. Nikmat. “Toh, di sana aku mau ngapain? Tidak ada yang bisa dieksplorasi.”
Bu Nurmala tersenyum tipis, kemudian menusuk daging pepaya menggunakan garpu tetapi tidak langsung memakannya, melainkan mengayun-ayunkan makanan tersebut ke udara seraya berkata, “Di sana juga sama saja, kan? Tidak ngapa-ngapain? Cuma selonjoran di kos-kosan. Kan?”
“Ya paling tidak di sini aku masih bisa keluar rumah,” jawab Lexi, tidak mau kalah. “Toh, peraturannya juga tidak seketat di kota-kota besar. Ini buktinya!” Dia mengangkat piring rotan tempat nasi dan lauk bisa dia nikmati. “Kalau di Jakarta, mana mungkin aku bisa keliling cari makan malam?”
“Kan bisa Bunda buatkan, kalau kamu mau. Memang menurutmu Bunda tidak bisa membuat makanan seperti itu doang?”
Lexi terkekeh, hampir saja nasi di mulutnya muncrat saking tak tahan melihat ekspresi wanita enam puluh tahun itu. “Bukan begitu, Bun. Tentu saja aku percaya masakan Bunda adalah yang terbaik di dunia,” katanya dilengkapi gesture berlebihan. “Masalahnya, aku kan butuh bertemu orang. Tujuanku pulang ke Indonesia kan untuk mengisi blog dengan pengalaman tentang Indonesia. Kalau hanya di rumah doang, dari mana pengalamannya?”
Kali itu Bu Nurmala tidak lagi menjawab, tetapi dia berdecih kecil. 
Sadar ibu asuhnya kecewa, Lexi buru-buru mengalihkan obrolan. “Bun, tahu program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara?”
Nurmala menyipitkan mata, heran tetapi kemudian bertanya. “Apa itu?”
Sembari menghentikan aksi makannya, Lexi menegakkan punggung supaya lebih jelas menjangkau kamera laptop, memberi kesempatan pada Nurmala agar dapat melihat wajahnya lebih jelas. “Semacam program untuk konten kreator.”
“Oh iya? Bunda baru dengar.”
“Dari kementerian pariwisata dan kreatif lho, Bun.” Lexi semakin berbinar, siap menjelaskan atau lebih tepatnya berbagi cerita. “Jadi, nanti pesertanya akan diajak untuk mempromosikan tempat destinasi wisata lokal. Apalagi kan sejak pandemi, semuanya seolah mati.”
“Kamu mau ikut?” tanya Nurmala.
Yang langsung dijawab anggukan malu-malu oleh putrinya. “Aku sudah daftar sih, Bun. Karena mereka memang mencari pekerja kreatif termasuk konten kreator dan penulis.”
“Tapi apa tidak masalah? Ini kan Covid juga masih lumayan tinggi,” sela Nurmala. Keningnya mengerut, menandakan kecemasan. 
“Tenang, Bun. Ini kan program pemerintah,” jelas Lexi, percaya diri. “Mereka pasti sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Toh, hadiahnya juga lumayan. Terlebih di tengah kondisi ekonomi yang hancur begini, kan?”
Bu Nurmala malah menghela napas panjang. 
“Lho, kenapa? Bunda tidak senang?”
“Bukan begitu,” jawab wanita berkulit putih itu, lemah. “Bunda senang kalau kamu senang, hanya saja Bunda sebagai orang tua wajar kan kalau kepikiran macam-macam? Terlebih di tengah kondisi dunia yang semengerikan ini, kan?”
Lexi tersenyum, lebar. “Bunda kenapa malah mengikuti kata-kata aku?”
“Ya habisnya.” Bu Nurmala menoleh ke arah lain, kepada seseorang di seberang gawai yang dia gunakan untuk berkomunikasi sepertinya. “Apa, Sayang? Iya, ini Kak Sisi sudah Bunda minta pulang malah tidak mau. Susah banget dibilangi. Padahal Bunda kan hanya –“
“Yang penting kan Kak Sisi happy, Bunda Sayang.” Yang dimaksud muncul, seorang perempuan muda berbaju cokelat dengan rambut dikuncir asal. Lalu, melambaikan tangan ke arah kamera, menyapa Lexi. “Hai, Kak. Bagaimana? Jadi ikut?”
“Lho?” Pertanyaan Bianca sontak membuat sang ibu kaget, tetapi malah dijawab tawa renyah kompak dari keduanya. “Ya ampun, jadi kamu sudah tahu? Kalian ya! Benar-benar!”
Bianca merangkul pundak Nurmala, lalu mencium pipi sang bunda. “Jangan marah! Jangan marah!”
Meski kesal, tetapi Nurmala akhirnya geleng-geleng saja.
“Jadi, bagaimana, Kak?” Bianca menoleh lagi ke kamera, menunggu jawaban dari saudarinya itu.
Lexi menaik turunkan alisnya, diiringi rekahan senyum. “Yup. I literally just submitted in the other day. Now i’m dying waiting to hear back. Like, I need to know if I got in! I swear, if I actually make it ..., I’m gonna scream. I want this so bad!”
Bianca tak kalah dramatis menjawab, “Ah, I’m rooting for you so hard. Manifesting all the good vibes for you. May the universe bless you and your content queen dreams.”
“Amen.” Lexi berpura-pura mengusap wajah karena tangannya kotor. “Bay the way, keponakan aku mana?”
“Lagi main sama bapaknya di kamar.” Bianca mendudukkan dirinya di kursi, persis di sebelah sang Bunda. “Capek banget. Badanku terasa remuk. Padahal nggak ngapa-ngapain. Nggak ngebayangin deh kalau di saat seperti ini aku nggak punya Bunda.” Dia menoleh pada Bu Nurmala, lalu mencium kembali wanita itu. “Makasih ya, Bun, sudah mau ke sini terus buat bantu aku.”
Bu Nurmala tersenyum meledek sebelum menjawab, “Sama-sama. Tapi sekarang Bunda boleh minta tolong?”
“Apa?”
“Tolong bawa wadah kosong ini ke belakang. Kalau bisa, cucikan sekalian.” Seraya menyerahkan mangkuk bening bekas tempat pepaya potong kepada wanita dua puluh enam tahun tersebut. Yang langsung membuat bibir Bianca maju. “Kenapa? Tidak mau?”
“Mau!”
Sepeninggal Bianca, Nurmala dan Lexi kompak tertawa. 
“Dia memang ekspresif banget ya,” kata Lexi. “Dari kecil dia sangat menggemaskan. Dan sampai sekarang masih menggemaskan. Adik bayi pun sepertinya kalah imut dengan mamanya.”
“Jangan kencang-kencang. Nanti dia dengar!”
♥♥♥
Walau dibesarkan di panti asuhan, Lexi tidak pernah benar-benar merasa sendiri di dunia ini. 
Memang benar, dua puluh tahun terakhir dia telah mendapat orang tua adopsi, yang memboyongnya pergi ke Negeri Paman Sam dan menawarkan kehidupan baru yang luar biasa. Akan tetapi, Lexi tidak akan pernah bisa melupakan tanah kelahirannya. Juga fakta bahwa Bu Nurmala adalah satu dari para pengasuh panti asuhan Lentera yang menyayanginya sepenuh hati, membesarkan dan memberinya cinta layaknya anak sendiri. Bahkan setelah mereka terpisah lama, Bu Nurmala dan keluarganya masih menganggap Lexi sebagai bagian dari mereka. Yang membuat Lexi lebih bersyukur lagi, di usianya yang menginjak kepala tiga, di saat orang yang dia anggap mama telah mengalami demensia, dia tetap bisa merasakan cinta seorang ibu. 
“Hi, Auntie Nora, how’s Mom doing today?” tanya Lexi kepada wanita berambut cepak di seberang panggilan. “Did she –remember anythings about Dad?”
“Hi Sweetheart.” Bibi Nora yang sedang meminum kopi memamerkannya sebentar ke kamera, lalu duduk di meja makan. “She had a good morning. She asked about you and your dad, like he just went out to get the mail.” Raut wajah wanita tua itu berubah layu. “I didnt’t correct her.”
Lexi mengangguk pedih. “That must be so hard for you. I wish I could be there.”
“I know, Sweetheart. But, it’s not your fault. Travel’s impossible right now. Just keep calling when you can –it helps her. She still lights up when she hears your voice.”
Lexi mengangguk, tetapi kemudian dengan hati-hati bertanya kembali, “Do you think it’s really ..., dementia?” Ada harapan besar di sana. “Or just grief messing with her memory?”
“Honestly, I think it’s both. Doctor said, she showing signs even before your dad passed. But, losing him –it broke something. It’s like she stopped trying to hold on.”
Lexi mengusap wajahnya sendiri. “Oh, God. I feel useless here.”
“No. You’re not.” Bibi Nora menguatkan. “You’re her daugther. No metter where you are. Just keep loving her, however you can. That matters.”

Other Stories
Hantu Kos Receh

Mahera akhirnya diterima di kampus impiannya! Demi mengejar cita-cita, ia rela meninggalka ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Egler

Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Ijr

hrj ...

Download Titik & Koma