(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

3. Benarkah Manusia Hanya Bisa Jatuh Cinta Sekali Seumur Hidup Dan Selebihnya Hanya Menghabiskan Waktu Sebelum Mati? Kalau Iya, Alangkah Malang Nasib Diri Ini


Pria kepala tiga berkaos hitam polos dengan celana pendek selutut itu berdiri di depan lemari kaca besar yang sengaja dia pajang di ruang tamu apartemennya. Tempat di mana dia menyimpan puluhan karya yang telah dia hasilkan sepanjang karier menulisnya. Lengkap dengan berbagai edisi cetakan untuk setiap karya, juga beberapa hadiah eksklusif yang biasanya diberikan penerbit bagi para pembeli. Mulai dari pembatas buku, kartu pos, gantungan kunci, boneka hingga totbage bergambar tokoh ciptaannya.
Di antara para karakter tersebut tampak sosok pemuda berkacamata, dengan tampilan elegan, dibalut celana hitam panjang yang dipadukan dengan kaos putih dan kemeja biru terang. Usianya berada di kisaran awal dua puluh, tetapi bila dilihat lebih jeli, dengan kacamata dan kulit putih itu, maka orang yang pernah bertemu dengan Arga pasti akan langsung sadar bahwa referensi utama karakter tersebut tak lain dan tak bukan adalah diri Arga sendiri.
Mas Candra, nama karakter itu.
Candra Satya Bumi. 
Hanya saja, berbeda dengan Argantara Ramadhani yang penyendiri, Candra merupakan pria menyenangkan. Dia bisa apa saja, suka bersepeda, mendengarkan musik dan menjadi vokalis band terkenal. Tetapi bagian itu bukanlah masalah besar. Toh, Arga paham betul dirinya memang tak bisa menyanyi. Pun Arga juga kurang bisa tampil di panggung. Satu-satunya yang membuat Arga iri pada kehidupan Candra hanyalah fakta bahwa pria itu bisa menikahi Ellia. Bella-nya.
“Mas Arga, tulisan Mas bagus!” Kalimat itu diberikan oleh Bella delapan belas tahun lalu, ketika untuk pertama kalinya Arga menunjukkan tulisannya, yang dia buat di dalam buku tulis Sinar Dunia dengan pulpen hitam seribuan, lengkap dengan berbagai coretan di sana-sini. “Harus diterbitkan ini. Pasti Mas akan terkenal.”
Arga yang masih belia merasakan pipinya menghangat. Itulah mengapa dia buru-buru mengalihkan pandang ke arah lain. Menatap persawahan luas di kejauhan seraya menyandarkan punggungnya ke pohon asem tempat mereka berteduh. “Tidak semudah itu, Bell.”
“Maksudnya?” Bella menoleh, bingung. Dan, menurut Arga, itu membuat wajah Bella semakin lucu ..., dan cantik. 
“Tulisan itu tidak ditulis untuk orang lain. Maksudku, bukan buat dibaca orang banyak.”
“Tapi kenapa Mas tunjukkan ke aku? Aku kan orang.”
“Orang saja. Bukan orang banyak.” Arga membela diri, menyambar buku tulisnya, sebelum berlari menjauhi gadis tersebut, yang memandanginya dengan tatapan masih keheranan. 
Ya, benar. Tulisan ini aku buat untukmu. Hanya untukmu, Bella. Arga membatin, pedih. Tangannya melepaskan handuk abu-abu dan membiarkan benda itu tetap nangkring di lehernya, lantas menyentuh permukaan kaca tepat di barisan buku serial Ellia. 
♥♥♥
“Ada yang antar paket buat Bapak.” Dikatakan oleh Pak Wahyu, petugas keamanan via telepon ketika Arga baru saja hendak tidur siang, membenamkan tubuhnya di atas kasur penuh lembaran catatan untuk novel terbarunya, yang entah kapan akan dia kerjakan. 
Dengan malas dia menjawab, “Ya sudah. Taruh situ saja. Nanti saya ambil.”
“Orangnya tidak mau, Pak.”
“Tidak mau bagaimana?”
“Tidak mau menitipkan,” jelas Pak Wahyu. “Maunya ketemu langsung sama Bapak. Padahal sudah saya jelaskan, tapi orangnya tetap tidak mau. Katanya, dia mau memastikan kalau Bapak betulan masih hidup.”
Tahu siapa yang datang mencarinya, Arga buru-buru bangkit. “Ya sudah. Saya ke sana.”
Dengan rambut yang disisir asal menggunakan jari, Arga turun ke lantai bawah, menemui sosok pria muda bertubuh tinggi dengan jaket kulit hitam yang telah menunggunya di lobi.
“Ini, gue masih hidup!” ucap Arga di detik pertama mata mereka bertemu. Meski sama-sama memakai masker tetapi dia tahu Rian sedang nyengir. Tersenyum kambing. “Apa yang lo bawa kali ini? Awas saja kalau nggak penting.”
“Paket makanan dari Bunda.”
“Bunda Nur?”
“Bundanya Niar dong. Istri gue!” jawab Rian penuh penekanan. Yang meskipun biasa saja, tetapi di telinga Arga terdengar seperti: dia Bella-ku. Hanya milikku. Istriku. Bukan istrimu. Jadi, jangan berpikir untuk mendapatkannya. 
Arga menyambar bungkusan itu tanpa pikir panjang. “Ya ampun, Bella. Kenapa betulan dikirim? Padahal gue cuma bercanda.” Mata Arga langsung berbinar, tak bisa menahan diri. “Makasih ya, Ian.”
“Sama-sama.” Rian menaikkan sebelah alisnya. “Bay the way, lo juga dapat titipan lain ini.”
“Dari?”
“Nyokap lo.”
“Apa?”
“Obat, katanya.”
“Gue kan sudah sembuh.”
“Memang tapi itu bukan obat Covid.”
“Terus?”
“Katanya, isinya baygon sama obat tikus. Soalnya, Bu Ima takut lo mati kena pes daripada kena Covid.”
Sadar itu candaan, Arga buru-buru menendang kaki sahabatnya tersebut, yang langsung Rian hindari. “Gue nggak sejorok itu ya, Anjing! Lo kira gue tinggal di tempat pembuangan sampah?”
“Tempat pembuangan sampah juga kayaknya lebih bersih dari kamar lo deh.”
“Asu!” Arga memasang kuda-kuda, hendak memukul tetapi tidak benar-benar menghujani pria muda itu dengan tinju mautnya. “Sudah! Pulang sana! Daripada gue jadikan santapan tikus! Mau lo? Hah?”
“Ih, takutnya!” ledek Rian. “Nggak perlu diusir, gue bakalan balik sendiri. Takut dicariin Niar.” Dalam sekejap ekspresi pria beriris cokelat gelap itu serius, sembari melirik jam di pergelangan tangan kanannya. “Gue sudah janji mau ajak dia main. Kalau kelamaan, nanti dia bisa nangis. Gue pamit tadi cuma sebentar, soalnya.”
♥♥♥
“Enak, nggak?” 
Arga yang baru saja memasukkan potongan daging sapi ke dalam mulut mulai mengunyah, menikmati bumbu kecap buatan Bella yang saking enaknya bisa membuat lidah pemuda yang kala itu baru berusia delapan belas tahun itu terbuai. “Kamu memang cocok jadi chef, Bell.”
“Mas Arga berlebihan.” Bella terkekeh, lalu mengemasi peralatan masak yang kotor untuk dibawa ke belakang guna dibersihkan.
“Eh, Bella, nggak usah! Nanti saja! Biar aku bantu!” cegah Arga, berdiri dan menahan pergelangan tangan Bella yang hendak pergi. “Makan dulu. Nikmati ini, mumpung masih hangat.”
“Nanti saja,” jawab Bella, lengkap dengan senyuman manisnya yang khas. “Sebentar lagi Ibu pulang. Nggak enak kalau rumah masih kotor. Kan aku dibayar buat bersih-bersih. Bukan buat menemani Mas Arga makan.”
Ingatan itu mungkin dengan mudah menguap dari cerita hidup Bella, tapi tidak di sisi Arga. 
Andai. Andai. Dan andai dia bisa mengulang waktu, maka Arga akan membayar Bella untuk itu. Duduk di seberang meja makan, menikmati aneka masakan buatannya yang kini hanya bisa Arga nikmati lewat orang lain. 
Di meja makan apartemen yang juga penuh ceceran kertas, Arga memakan nasi hangat, pepes ikan dan sambal goreng teri buatan Bella. Sendirian. Membiarkan lidahnya sekali lagi tetap terpesona, akan tetapi air matanya mendadak jatuh, membayangkan di meja makan yang berbeda, di rumah sederhananya, Bella sedang menikmati makanan yang sama ini dengan orang lain, yang tak lain juga sahabat Arga sendiri. Juga buah hati mereka. Anak kandung Bella dengan Rian. 
♥♥♥
Kalau another live itu ada, maka Arga akan tidak akan pernah membiarkan Bella sendirian hari itu. 
“Kamu yakin mau pulang sendirian, Bell?”
Pertanyaan itu dijawab oleh Bella remaja, yang dibalut jaket tipis berwarna merah muda dengan anggukan. “Nggak apa-apa kok, Mas. Lagian ramai. Nggak akan ada apa-apa.”
“Tapi, misalnya kamu nggak berani, aku bisa kok menutup stan lebih cepat.”
“Jangan!” tegas Bella. “Kuenya masih banyak. Sayang kalau ditutup.” Gadis itu menengok ke sekeliling, keramaian pasar malam tempat mereka berjualan. “Bikin kue ini pakai modal. Jangan sampai nggak balik. Kasihan Ibu.”
“Kamu sakit –“
“Terus, kenapa? Yang sakit kan aku. Mas Arga kan nggak.”
Arga bersumpah, Bella adalah manusia paling keras kepala yang pernah dia temui. Tekatnya kuat, terutama jika berkaitan dengan uang. Pun malam itu, kalau bukan karena dia sudah hampir mirip vampir –saking pucatnya –dan dibujuk mati-matian oleh Rangga, bisa dipastikan Bella tak akan mau meninggalkan dagangan mereka. 
“Daripada lo pingsan di sini? Yang ada nyusahin orang.”
“Nggak perlu nyusahin orang. Kan ada aku!” sahut Arga penuh percaya diri. “Nanti kalau kamu pingsan, aku gendong.”
“Ish!” Rangga bergidik ngeri. “Tetap saja. Terus, nanti kalian mau gue nutup kedai sendirian? Begitu? Belum bayar rumah sakit. Iya kalau cuma pingsan, kalau mati? Nanti lo –“ Dia menunjuk Arga tepat di depan muka, di antara kedua mata, tepat di ujung hidung. “Bisa ditangkap polisi atas tuduhan eksploitasi karyawan. Apalagi gue dan Bella masih di bawah umur.”
“Kalian sudah SMA.”
“Justru karena itu! Kami masih sekolah dan enam belas tahun. Yang mana di mata hukum, kami masih sangat anak-anak.”
♥♥♥
Apa yang kalian pembaca novel remaja bayangkan saat mendengar kata tawuran? Sekelompok anak remaja keren dengan penampilan gahar dan menarik hati? Pria muda romantis layaknya Iqbaal Ramadhan yang pintar gombal di film Dilan? Atau, apa?
Tapi di dunia nyata, tidak begitu. Mereka cuma sampah masyarakat yang saking nggak berharganya sampai rela melakukan hal konyol hanya untuk mencari-cari pengakuan. 

Arga ingat kalimat itu pernah dia tulis di novelnya yang bertajuk Dia Ellia jilid ke delapan. Berisi ketakutan dan kegelisahan hatinya setelah Bella, gadis yang sangat dia cinta hampir mati karena terjebak di tengah tawuran antar pelajar sepulang dari pasar malam. 
Sayangnya, Arga tidak muncul sebagai pahlawan sebagaimana Candra menyelamatkan Ellia. Malah, bisa dibilang Arga terlambat datang. Dia baru muncul setelah gadis pujaannya dibawa ke rumah sakit. 
“Bella?” panggilnya begitu memasuki UGD. Yang langsung disambut penampilan acak-acakan Bella, yang tengah didudukkan di kursi plastik, terbungkus handuk dan memegang teh hangat. “Kamu nggak apa-apa?” lanjut Arga, panik. 
Tubuh Bella gemetaran, tetapi seperti biasa dia tersenyum. “Nggak apa-apa kok. Cuma ..., orang itu ..., nolongin aku ..., babak belur.”
“Siapa?”
 Rian.
Orang itu adalah Rian. 
Candra dari Ellia di dunia nyata. 
♥♥♥
Terlalu percaya diri memang tidak baik. Meskipun terdengar menyakitkan, tetapi sudah seharusnya Arga mengatakan hal tersebut kepada dirinya sendiri, mematrinya di dalam kepala supaya tidak lupa.
Candra mungkin terinspirasi dan dibuat khusus untuk menampung imajinasi Arga mengenai dirinya sendiri, tetapi Rian lahir secara alami sebagai Mas Candra. Tidak hanya sama-sama tampan, Rian juga punya selera humor yang hampir selalu bisa membuat Bella tertawa. Dia terbuka, telaten dan memenuhi semua kriteria Mas Candra secara sempurna. 
“Niar mau makan apa, Sayang? Sama Ayah ya? Bunda biar makan dulu, oke?” 
Setiap kali mereka pergi untuk makan bersama, juga dengan sahabat-sahabat lainnya, tidak pernah sekalipun Arga melihat Rian membiarkan Bella bersama putri mereka. 
“Ini waktu Bella untuk bersenang-senang,” kata Rian setiap kali ditanya. “Memang kalian nggak suka gue bawa anak?”
“Kenapa harus nggak suka?” jawab Rangga. “Masih untung lo dikasih anak sama Tuhan. Iya kan, Niar Cantik?” lanjutnya dengan bahasa bayi, menoel-noel pipi gadis mungil bermata besar, yang sangat mirip bapaknya itu, gemas. 
Meskipun menikah lebih dulu, keponakan jauh Arga satu itu memang belum dikaruniai buah hati. Sama seperti Arga –soal pernikahan –pertanyaan kapan hampir setiap waktu Rangga dan Annisa dapatkan. Ironisnya, bukan dari orang terdekat, melainkan mereka yang jauh. Orang-orang asing yang malah tidak pernah tahu seberapa berdarah dan getir perjalanan hidup yang mereka jalani.  
“Niar suka Om Aga?” Rian menanyai bocah yang pada waktu itu belum bisa bicara itu, saat sang buah hati mengulurkan tangan pada Arga, minta diraih. “Mau ikut Om Aga? Iya?”
Daniar sangat cantik. 
Dia mirip Rian, tapi entah bagaimana Arga bisa melihat banyak hal tentang Bella ada di dalam diri anak itu. Kalau saja hari itu dia lebih berani ..., dan kalau saja pertanyaan kalau-kalau itu dikeluarkan, lalu benar-benar menjadi kenyataan ..., mungkinkah bocah ini harusnya mirip dia dan bukan Rian?
Arga memeluk tubuh mungil Daniar, mendekapnya hangat. 
Aroma bedak bayi, kulit yang lembut, serta jemari berkuku mungil tetapi tajam itu menyentuh wajahnya. Arga membiarkan dirinya diremas, dipeluk dan digigit oleh si bayi. Anak yang mungkin dia cintai jauh –jauh melebihi dirinya sendiri. 
“Sayang, jangan dong!” cegah Rian, berusaha menyelamatkan Arga sebelum pipinya berubah menjadi karya seni dari kuku bayi. “Kasihan Om Aga. Sakit itu.”
Namun, alih-alih melepaskan Daniar malah menangis. 
Memaksa Arga berdiri, lalu mengayun-ayunkannya ke udara. “Oh nggak! Nggak! Maunya sama Om ya.” 
Benar saja, detik berikutnya bocah itu tersenyum, tertawa lebar menandakan dia amat bahagia. 

Other Stories
Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Pucuk Rhu Di Pusaka Sahara

Mahasiswa Indonesia di Yaman diibaratkan seperti pucuk rhu di Padang Sahara: selalu diuji ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Ruf Mainen Namen

Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Download Titik & Koma