(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

4. Aku Selalu Penasaran Mengapa Orang-orang Begitu Terobsesi Pada Perjalanan Menggunakan Kereta Api, Tanpa Kuketahui Kereta Lintas Jawa Tidak Lagi Sekumuh Yang Dulu Kutumpangi


“Dari mana mau ke mana, Mas?” 
Lexi yang baru datang bertanya dengan ramah, mencoba berbasa-basi pada pria muda berkaos putih yang dipadukan sempurna menggunakan kemeja biru polos di seberang bangkunya. 
Namun, bukannya menjawab, orang tersebut justru menatap Lexi keheranan, kedua matanya menyipit seakan mencoba meneliti dan memastikan apakah mereka saling mengenal. 
“Kita belum pernah bertemu sebelumnya,” terang Lexi dibarengi senyuman lebar. Lalu, mendudukkan bokongnya di kursi persis di seberang Arga. Berhubung masa pembatasan sosial masih berlaku, secara teknis posisi mereka duduk diatur zig-zag, tidak benar-benar berhadapan. 
Hanya saja, pernyataan tersebut tidak lantas membuat si pemilik mata indah itu mengalihkan pandang. Sadar situasinya canggung, Lexi malah mengulurkan tangan. “Alexia.”
Yang sudah bisa dipastikan tidak disambut oleh orang tersebut. “Maaf tapi kita dilarang melakukan kontak fisik.”
“Ah, benar!” ujar gadis berambut panjang tersebut seraya manggut-manggut. Lantas, menarik kembali uluran tangannya. “Kita semua bisa saling menularkan virus. Eh, omong-omong, kamu belum menjawab pertanyaanku ..., dari mana mau ke mana? Apakah kamu warga sini juga? Atau malah mau pulang kampung? Dan bagaimana perasaanmu ketika akhirnya bisa keluar rumah setelah sebelumnya terkurung?”
Si pria menutup buku di tangannya, kemudian menatap Lexi serius. “Apakah Anda wartawan atau semacamnya?”
Lexi tidak mengangguk, tetapi juga tidak menggeleng. “Secara teknis, aku penulis. Tapi, tidak bisa disebut wartawan, karena aku tidak punya surat dari dewan pers. Jadi, anggap saja aku penulis yang sedang melakukan riset untuk tulisanku.”
“Tidak bisakah kau riset tanpa mengganggu orang lain?” Arga mengangkat buku di tangannya tinggi-tinggi. “Sebagai seorang penulis, harusnya Anda bisa menghargai seorang pembaca yang sedang ingin bercinta dengan buku.”
“Kasar sekali.” Lexi bergumam, tampak jelas kekesalan di wajahnya. “Baiklah, Tuan Pembaca Buku. Selamat bercinta dengan bukumu, tetapi semoga kau tidak lupa menjadi makhluk sosial.”
♥♥♥
“Sebenarnya tipemu seperti apa?” todong Bu Fatimah ketika melihat putranya muncul di depan pintu. “Dikenalkan sama yang cantik dan modern seperti teman-teman Bian, kamu tidak mau. Dikenalkan dengan yang salehah seperti teman-teman Anisa, kamu juga tidak mau.”
Arga melompat ke atas sofa ruang tamu, membiarkan punggungnya beristirahat setelah seharian berkendara di tengah lenggangnya –tetapi juga seramnya –Ibu Kota. Dia sama sekali tidak punya daya untuk berdebat dengan sang mama. Itulah kenapa dia diam. Tak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir mungilnya. 
“Sudahlah, Ma!” Suara sang ayah, Pak Lukman, berjalan dari arah teras. Sajadah cokelat tua bergambar kabah menggantung di bahunya. “Biarkan anakmu memutuskan jalan hidupnya sendiri. Dia sudah kepala tiga sekarang. Sudah bisa menimbang mana yang baik dan mana yang buruk.”
“Ya justru karena itu, Pa.” Bu Fatimah menghampiri suaminya guna mencium punggung tangan pria berambut putih tersebut. Lalu, disusul oleh Arga yang masih dengan muka tanpa ekspresinya. “Anakmu ini sudah waktunya berumah tangga. Mama ngempet setiap hari melihat dia cuma klumbrak-klubruk seperti pakaian jarang dicuci. Keluar rumah cuma ke sini, itu pun karena butuh orang buat mencucikan baju-bajunya. Pun, itu harus Mama dulu yang paksa. Kalau tidak, mungkin semua bajunya bakalan berjamur di dalam apartemen.”
“Ya malah bagus dong, Ma. Dia jadi tidak perlu repot-repot belanja kalau mau makan jamur,” celetuk Pak Lukman, diiringi seringai yang ditujukan kepada bungsunya, yang langsung dibalas cekikikan puas oleh Arga. 
Sayangnya, reaksi berbeda diberikan oleh Bu Fatimah. Bibirnya dimajukan, cemberut. “Terus saja belain anakmu.” Dia menoleh ke arah Arga, tajam. “Mama belum selesai. Kita bicara lagi nanti. Mama mau buat makan malam dulu.”
Setelah memastikan wanita berjilbab abu-abu panjang tersebut menghilang di balik rak pemisah ruang tamu dengan ruang tengah, dan memastikan tak akan mendengar obrolan mereka, Pak Lukman buru-buru menepuk bahu Arga. “Jangan dibikin pusing! Kayak nggak paham mamamu saja. Nanti kalau capek pasti berhenti sendiri.”
“Iya, Pa.”
“Jadi, bagaimana?” lanjut Lukman, tetapi sebelum itu dia mengajak sang putra duduk di sofa. “Ada yang mau kamu ceritakan ke Papa?”
Arga mendengkus pelan. “Cerita? Cerita apa, Pa? Nggak ada yang perlu diceritakan.”
“Yakin?” selidik Lukman. “Kalau begitu izinkan Papa yang cerita.” Dia menempelkan punggungnya ke sandaran sofa, lalu mengangkat sebelah kakinya untuk dipijat oleh Arga. “Di dalam keluarga kita tidak dikenal yang namanya perselingkuhan.”
Arga yang memijat kaki ayahnya mendadak berhenti, menoleh sebentar guna memastikan air muka pria kepala tujuh tersebut. “Maksud, Papa?”
Pak Lukman malah menarik kedua ujung bibirnya ke atas. “Papa tahu cintamu tulus, tapi mau sampai kapan? Dia sudah bahagia dengan orang lain.”
“Pa –“
“Belajar membuka hati bukan berarti mengkhianati. Justru kalau begini terus, kamu sedang menzalimi dirimu sendiri.” Ada kepedihan dari intonasi yang Lukman gunakan. Pedih. Lirih. “Mereka akan punya dua –“
“Tiga!” Arga meralat, pelan. “Mereka akan punya tiga anak, Pa! Karena bagaimanapun ..., mendiang Daren tetap anak mereka.”
Pak Lukman menghela napas panjang lewat mulut, sesak. “Kamu tampaknya jauh lebih paham daripada siapa pun tentang keluarga Bella dan Rian. Tapi kamu harus ingat, Arga! Kamu bukan bagian dari mereka! Dan sampai kapan pun tidak akan bisa menjadi bagian dari keluarga mereka!”
Arga bergeming, menelan ludah yang kering.
“Baik Bella dan Rian sama-sama sahabatmu. Jangan sampai kamu menjadi duri dalam daging dari kebahagiaan mereka. Karena bila itu terjadi, Papa tidak akan segan-segan untuk menyeretmu ke neraka.”
“Arga nggak pernah berpikir sejauh itu, Pa.”
“Semua orang di dunia ini awalnya juga begitu!” terang Pak Lukman. “Tetapi kenyataannya? Banyak dari mereka yang justru menjadi penyebab kehancuran keluarga orang lain.” Lagi, pria tua tersebut menarik napas panjang. “Argantara Ramadhani, mata –“ dia menunjuk kedua bola mata berkelopak keriput miliknya untuk dilihat. “Mata manusia bisa sangat berbahaya. Pikiran manusia –“ disusul ketukan kecil di dahi. “Pikiran manusia memang menakjubkan, tetapi sekaligus mengerikan. Dan dua hal itu merupakan senjata paling ampuh untuk memanipulasi seorang pria, terutama –“
“Terutama?”
Pria tua itu menunjuk dada Arga dengan tangan kanannya. “Yang hatinya terluka.”
♥♥♥
Dia cuma manusia biasa yang jatuh cinta, lalu salahnya di mana?
Kenapa seolah-olah semua orang di dunia menghakiminya? 
Adalah kalimat pertama yang Arga tulis di komputernya, setengah frustrasi. Di sebelahnya, menempel pada stoples berisi peyek udang buatan Bella, ponsel pintar Arga terhubung dengan Indah yang kali itu bukan menuntutnya menulis, melainkan mendengarkan ceritanya. 
“Sejujurnya, gue setuju perkataan sama perkataan bokap lo.” Ibu satu tiga berwajah chubby tersebut membetulkan frame kacamata baca yang menempel di hidung kecilnya. “Sekarang sudah waktunya lo move on. Paling tidak, kalaupun belum bisa membuka hati buat orang baru, carilah suasana baru. Pulihkan diri lo dulu, Ga.”
Arga mendengkus kecil seraya membetulkan posisi duduknya. “Gue sudah pulih. Seratus persen negatif Covid. Dan lo tahu itu.”
“Please, lo tahu maksud gue!” seru Mbak Indah. “Justru karena sekarang lo sudah sembuh, lo bisa pergi ke mana saja yang lo mau –selama masih mengikuti protokol kesehatan, tentunya. 
“Badan lo secara fisik memang nggak sakit lagi, tapi –“ sama seperti ayahnya, Arga melihat Mbak Indah juga menempelkan tangan di dada. “Gue tahu persis kabar kehamilan Bella bikin lo terluka.”
“Kata siapa?” sangkal Arga, defensif. “Gue bahagia kok!”
Mbak Indah menggeleng, senyum di bibirnya pun melebar seakan sengaja meledek. “Gue kenal lo bukan sehari dua hari ya, Anak Muda. Dari lo masih bocah ingusan yang mimpi bisa nikahin sahabat sendiri, sampai jadi manusia setengah tikus –kata nyokap lo –yang cuma bisa glundang-glundung di atas kasur. Jangankan perasaan, isi kepala lo juga gue tahu. 
“Dengar! Lo bisa mengelak di depan orang lain, tapi lo nggak bakal bisa menyembunyikan apa pun dari gue, Argantara.”
“Terus, mau Mbak sekarang apa?”
“Bukankah sudah jelas? Gue ingin lo sembuh.”
“Caranya?”
♥♥♥
Selamat!
Anda terpilih untuk mengikuti program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara tahap pertama di tahun 2021 bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Berulang kali pria berkacamata tersebut memandangi pesan yang masuk via emailnya, memastikan bahwa pengumuman itu bukan kesalahan. Bukan karena dia takut ditipu, yang saat tiba di Banyuwangi ternyata email tersebut palsu dan dia diusir paksa oleh panitia, melainkan sebaliknya. Arga takut bila dia nantinya malah mengecewakan penyelenggara. 
Apalagi tujuan Arga mengisi formulir pendaftaran dulu tak lain dan tidak bukan hanya untuk menyenangkan Indah, atau lebih tepatnya mengamankan telinganya sendiri dari ocehan para wanita dewasa di sekitarnya. Meskipun secara teknis kata mereka di sini spesifik ditujukan pada Mbak Indah dan sang mama.
Namun, entah sial atau memang direstui semesta, Arga justru dinyatakan lolos dan diminta pergi ke Banyuwangi secepatnya. 
Dan di sinilah dia berada sekarang, duduk di dalam gerbong kereta yang melaju cepat menuju ke arah timur Pulau Jawa. Di pangkuannya tampak sebuah buku bersampul biru yang tersimpan, tetapi masih tertutup dan belum ada tanda-tanda akan dibaca secepatnya. Sementara mata kecokelatannya menata keluar jendela, ke arah rimbunnya hutan, hamparan ladang pertanian, kota-kota yang gersang, hingga pemukiman kumuh yang silih berganti menampilkan kehidupan masyarakat dari berbagai lapisan sosial.
Sunyi, pikir Arga. 
Bukan hanya karena ini di tengah pandemi, atau kereta ekonomi telah menjadi jauh lebih modern dan nyaman, tetapi ingatan Argalah yang terjebak di masa lalu. 
Arga masih ingat hari itu, ketika untuk pertama kalinya dia dan keluarganya memboyong Bella ke Jakarta. Gadis itu mengenakan kaos bergambar Barbie tipis yang dihadiahkan oleh Bu Fatimah sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke sepuluh. 
Rambut panjang Bella dikucir dua, tanpa hiasan apa pun. Jangankan jepit, untuk membeli karet rambut saja keluarga gadis itu tidak mampu. Nenek Bella –yang juga ikut bersama mereka –mengikat kuat rambut cucu sulungnya menggunakan karet pembungkus nasi, serta menyusui si bungsu, Sella, dengan air gula. Yang kemudian Bu Fatima ganti dengan susu bubuk begitu mereka tinggal di rumahnya. 
Susana kereta di tahun itu amat ramai dan berisik. Kebisingan di mana-mana, mulai dari suara gesekan kereta dan rel yang tak berhenti berderit, teriakan pedagang asongan hingga obrolan penuh tawa dari sesama penumpang yang saking asyiknya melupakan kenyamanan orang lain. Atau lebih tepatnya, hanya Argalah yang tidak bisa menikmatinya. Belum lagi aroma apek dari campuran busa tempat duduk yang entah sudah berapa ribu orang yang pernah duduk di sana, keringat dan asap rokok di mana-mana. 
Satu-satunya yang menguatkan Arga adalah Bella. Gadis itu duduk persis di sebelahnya, menggenggam erat tangannya seraya menunjuk-nunjuk ke luar jendela kereta yang sengaja di buka, membiarkan wajah mereka diterpa angin sore. 
“Mas Arga, lihat!” kata Bella sembari menyipitkan matanya, tak kuat melawan kencangnya angin. “Seru sekali ya!”
Arga mengurungkan niatnya untuk muntah, menelan kembali isi perutnya yang sebenarnya sudah sampai di tenggorokan. “Iya, Bell.”
“Ternyata Jakarta itu jauh juga ya.” Gadis itu kembali melanjutkan. “Aku senang deh, berarti saat Bapak bebas dari penjara nanti, Bapak tidak akan bisa menemukan kami. Iya, kan?”
Senyuman Arga memudar saat mendengar pertanyaan tersebut. Bukan apa-apa, hati Arga teriris. Dia yang hanya berjarak setahun dari pujaan hatinya itu pun sudah mampu memahami betapa berat kehidupan Bella. Tidak menjawab, Arga mengeratkan genggaman tangannya, meremas jemari gadis berkulit sawo matang itu kuat-kuat. 
“Apa pun yang terjadi nanti, aku akan selalu melindungimu.”
Bella tertawa. “Benar? Tapi badan Mas Arga kan kecil. Memang berani melawan bapakku?” 
“Kenapa tidak?”
“Bapakku kan badannya besar seperti monster. Iya kan, Mak?” 
Wanita tua berambut tipis di depan mereka mengangguk. Pariyem, alias Mak Yem adalah satu-satunya orang tua Bella sekarang, menggantikan peran anak dan menantunya yang dengan sangat tega mengantarkan Bella dan adik bayinya, Sella, ke dalam jurang penderitaan. 
“Bapak seram kan, Mak?” ulang Bella.
“Sudah!” Bukan Mak Yem, yang menjawab malah Bu Fatimah. “Tidak usah bahas bapakmu. Mending kalian makan dulu.” Dia mengeluarkan sekotak roti dari dalam tas jinjing cokelat tua miliknya, yang kemudian langsung dijejalkan ke mulut dua bocah tersebut.


Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Kumpulan Tulisan

Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Rumah Nenek

Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...

Download Titik & Koma