8.manusia Kalau Lapar Memang Kebanyakan Menyebalkan
Tahu apa bagian paling mengerikan dari waktu? Yaitu adalah fakta bahwa tidak ada satu jejak pun yang dapat dihapus. Memang benar, waktu secara perlahan akan mengaburkan kenangan tetapi di sisi lain waktu bisa berubah menjadi bom mengerikan, yang ledakannya bisa sangat dahsyat seiring lamanya dia disimpan.
Kutipan tersebut Lexi temukan di halaman ke dua ratus dari buku pemberian Arga, yang malam itu sedang dia nikmati di teras kamar, ditemani secangkir kopi panas –yang sekarang telah dingin –serta kue nagasari yang dibuat dan dibagikan Bu Galuh sebagai camilan selepas makan malam.
Walau sebetulnya tidak terbiasa membaca buku fiksi, akan tetapi membaca tulisan Arga benar-benar mampu membuat dada gadis berambut kemerahan itu sesak, seolah-olah ada duri tajam yang sengaja ditusuk perlahan persis di ulu hatinya, merobek paru-paru dan belok ke arah jantung. Terlebih saat ingatan tentang mendiang ayahnya mendadak muncul di kepala.
Tiga tahun sudah Lexi kehilangan sang ayah.
Tak pernah terbayangkan dalam hidup Lexi akan kembali kehilangan secepat itu. Padahal pagi harinya dia masih menikmati sarapan bersama dengan kedua orang tuanya. Mamanya memasak pasta, sementara papanya membuatkan mereka jus jeruk segar, menatanya di atas meja makan dan mempersilakan tuan putri –sekaligus satu-satunya anak angkat mereka yang baru bangun pagi, biasanya Lexi jarang menginap di rumah orang tuanya. Sejak masuk universitas, Lexi telah pindah ke apartemen yang dia sewa bersama sahabatnya, Luna, yang kemudian pindah dan digantikan oleh Philip, kekasih terakhir Lexi sebelum masuk masa jomlo panjang –bergabung bersama mereka.
“Hai, Sweetheart!” Handrick menyapa, membuka kedua tangan dan mempersilakan Lexi untuk menghambur, memeluk dan menghadiahkan kecupan di pipi keriput pria enam puluh tahunan tersebut. “Kau tampak lebih cantik sekarang.”
Lexi tersipu, tanpa melepas pelukannya dia bergelayut di tubuh gagah pria berambut putih itu. “Dad, urusan kita belum selesai. Aku masih marah padamu soal kemarin.”
“Oh ayolah, Sayang.”
Marie, ibu angkat Lexi dari meja dapur menyahut. “Mom sudah memintanya untuk melanjutkan pengobatan tetapi papamu tetap bersikeras menghentikan kemoterapinya. Mengapa? Mengapa dia tidak mau melihat istri dan anaknya bahagia?”
“Sayang, kalian membuat Dad merasa menjadi orang paling jahat di dunia.” Handrick menyentuh pundak Lexi, menyeret salah satu kursi di sebelahnya kemudian meminta gadis itu duduk. “Makanlah. Itu bagus untukmu. Kau harus lebih sering memakan makanan asli bila tak mau terkena penyakit mematikan seperti Dad.”
“Dad?”
Handrick membelai rambut pirang Lexi lembut, penuh kasih.
Lexi meneguk isi gelas besar di atas meja, yang memang sengaja diberikan oleh sang ayah untuk dirinya, nikmat. “Jus buatanmu memang yang terbaik di dunia.” Sayangnya, tidak seperti biasanya, respons yang Handrick berikan hanya senyuman tipis dan ..., penuh awan hitam. “Dad, apakah terjadi sesuatu?” tanya Lexi, cemas.
Handrick menggeleng, menggeser kursi lain dan duduk di samping putrinya. “Sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu.”
“Katakan saja.”
Ada keragu-raguan di sana, sampai pria keturunan Belanda tersebut menyentuh punggung tangan anak gadisnya. “Ini tentang keluargamu.”
“Keluargaku?” Kening Lexi mengerut, bingung. “Kenapa dengan keluargaku? Kalian ada masalah?”
“Bukan kami, Sayang.”
“Lalu?”
“Kau sudah memberitahunya?” Suara Marie menjeda fokus mereka. Wanita berambut pendek itu meletakkan makanan buatannya di tengah meja, lalu ikut duduk, membuat Lexi berada di tengah-tengah kedua manusia yang paling mencintainya tersebut. “Mom rasa sudah waktunya memberitahumu.”
“Tunggu!” Lexi menyela. “Apakah ini kaitannya dengan Uncle Jordan? Apakah dia masuk penjara lagi? Oh, Mom, sudah cukup! Kalian terlalu baik! Kita harus membiarkan dia bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Berhenti membayar uang jaminan untuknya atau ..., bisa-bisa dia akan mati di jalanan karena kelakuannya sendiri.
“Aku tahu kalian mencintainya tapi ini bisa menjadi bumerang di masa depan,” cerocosnya. “Jadi, kumohon. Bila kalian memang peduli padanya, biarkan dia bertanggung jawab kali ini.”
Handrick dan Marie saling pandang, kemudian kompak menghela napas panjang.
“Kau tahu pamanmu di tangkap polisi, lagi?”
“Siapa yang tidak tahu, Dad? Semua orang di kota ini pasti sudah tahu. Kami semua mengenal betapa buruk tabiat Paman Jordan.” Lexi memutar bola matanya malas.
Handrick tersenyum, tipis. “Ya. Benar. Semua orang tahu sebajingan apa pamanmu. Tetapi sayangnya, ini bukan soal dia.”
“Lalu?” Lexi meletakkan gelas ke meja, menatap satu persatu wajah orang tuanya. “Adakah keluarga kita yang lain yang sedang dalam masalah? Siapa? Aunt Mir? Uncle Ahmed? Atau –“
“Kami telah mendapat informasi tentang orang tua kandungmu.”
Ucapan Marie seketika membuat Lexi bergeming. Dia merasakan sekujur tubuhnya mendidih.
♥♥♥
Ada satu kebiasaan masyarakat Indonesia yang paling tidak Arga suka, yaitu, bermuka dua.
“Mereka bisa bertindak sangat manis di depan kita.” Arga menceritakan pengalamannya sebelum tidur, lagi, kepada Mbak Indah yang tersambung tetapi kali itu via telepon. “Tetapi di belakang? Mereka mengolok-olok seolah gue manusia paling hina di dunia.”
Dari gawai berlogo buah setengah yang Arga geletakkan di atas kasur, terdengar suara Mbak Indah tertawa. “Lo kayak nggak paham saja kelakuan orang kita. Terus, bagaimana? Tapi lo tetap menandatangani buku-buku itu, kan?”
“Ya iyalah!” Arga agak berteriak supaya orang di seberang telepon tetap bisa mendengar suaranya. Lalu, dia membuka pintu lemari kayu imitasi –yang sebenarnya berbahan plastik –tempat menyimpan pakaian untuk mengambil kaos ganti. “Toh, kan lo sendiri yang bilang ..., apa pun yang terjadi, seburuk apa pun suasana hati gue .., harus tetap menerima bila ada pembaca minta tanda tangan. Ya, meskipun agak malas karena sebelumnya gue dengar mereka menggosip yang nggak-nggak tentang gue.
“Lagian, kenapa sih lo nggak bilang kalau gue masuk lewat jalur rekomendasi? Padahal kan kalau nggak ada kuota, ya sudah, nggak perlu maksa.”
“Bukan maksa, Ga!” Indah meralat, suaranya melembut. “Tapi memang penerbitan kita dapat permintaan khusus dari pemerintah sejak awal. Lo ingat program Belajar Tulis Bareng yang harusnya jalan tahun 2020, kan? Nah, sejak gagalnya program itu ..., pemerintah nawarin –“
“Tapi tetap saja, kan? Seharusnya peserta yang dimasukkan bukan gue!” Arga melompat ke ranjang, membuat ponsel pintarnya agak berguncang. “Tahu begini kan gue nggak perlu mengisi formulir kemarin.”
Mbak Indah tertawa, renyah. “Ya kalau nggak begitu, lo nggak bakalan mau berangkat. Lagian tenang saja. Program ini cuma sepuluh hari. Mending lo gunakan waktu ini sebaik mungkin buat cari pacar. Siapa tahu kan ada peserta atau malah cewek lokal Banyuwangi yang kecantol sama lo.”
“Bahasa lo, Mbak. Memang gue apa sampai bisa bikin orang kecantol? Kail? Paku? Atau gantungan baju?”
“Kayaknya benda-benda itu jauh lebih bagus ketimbang lo deh, Ga!” celetuk Mbak Indah, bercanda. “Ya sudah ya. Gue mau tidur dulu. Sudah ditunggu sama laki gue. Da-dah, Arga. Selamat berlibur.”
“Eh, Mbak –“
Klik.
Sambungan dimatikan. Membuat Arga yang kesal meremas guling di sebelahnya. Lalu, mengentak-entakkan kakinya ka kasur. Masih dalam posisi berbaring, dia berguling-guling.
♥♥♥
Arga lebih baik tenggelam di tengah lautan virus daripada harus berada di ruangan yang sama bersama manusia-manusia sok tahu yang sering berasumsi ketimbang mengonfirmasi sendiri setiap kali mendapat sebuah isu.
“Selain masuk lewat jalur orang dalam, yang gue dengar, si Arga juga dua tahun ini berhenti main sosmed itu karena bermasalah sama pacarnya.” Pernyataan itu keluar dari mulut Kamala tepat ketika para gadis berkumpul di pendopo, menunggu peserta atau lebih tepatnya jemaah laki-laki yang sedang menunaikan ibadah isya di mushalla penginapan, tak jauh dari sana.
“Jadi, soal Ellia itu benar?” Nathania, asisten Cecillia menyahut. Kaget. Mukanya membulat. Yang langsung diamini oleh yang lainnya. “Ya ampun. Jahat juga yang Mas Arga. Pantas saja series Candra dan Ellia berhenti dan nggak dilanjutin. Padahal gue suka banget dan menunggu kelanjutan cerita mereka.”
“Bukannya di versi novel si Candra sudah melamar Ellia ya?” Sabrina, si penulis naskah film tak mau kalah. “Kok mereka malah putus?”
Cecillia memainkan rambut panjangnya, menaikkan kedua bahu tanda tak habis pikir. “Begitulah. Se-green flag apa pun cowok ..., memang nggak bisa dipercaya. Sesusah itu dia mengejar Ellia, secinta itu narasinya soal Ellia, tapi ujung-ujungnya dia juga ninggalin Ellia di dunia nyata.”
“Kalian ingat nggak sih yang dulu pernah ..., soal fans yang nanyain Ellia asli ke mana? Terus malah dijawab ketus banget sama dia. Kan sempat ramai itu Twitter.” Tak mau kalah, Nina, menambahkan.
Sementara Lexi yang tidak paham apa-apa hanya diam mendengarkan, sembari berusaha mencerna obrolan teman-temannya. Sampai kemudian, mulutnya buka suara, “Jadi, tokoh Candra itu dia sendiri?”
Para gadis kompak mengangguk. “Kabarnya sih iya.”
“Masa sih? Padahal sifat mereka bagai langit dan bumi.”
“Lo baca bukunya, Lex?” Mirabel terkejut, menarik lengan Lexi supaya mata mereka bisa bertemu. “Lo beneran baca bukunya Arga?”
“Biasa saja kali, Mir!” Kamala berdecih. “Ya namanya saja Argantara Ramadhani. Siapa sih remaja cewek yang nggak tahu cerita buatannya? Meskipun nggak pernah baca langsung, pasti mereka tahu lah. Sama kayak tokoh Dilan. Candra itu ikonik banget.”
“Tapi kan dia nggak tumbuh di sini.”
“Ya, aku baru baca sih sebenarnya. Itu pun belum selesai. Baru beberapa bab doang. Tapi kok rasanya ..., karakter mereka terlalu jauh. Meskipun harus diakui secara penampilan, Candra itu dia banget.”
“Kan!” Mirabel menepuk kedua telapak tangannya kuat-kuat, membuat teman-temannya berjingkat saking kagetnya. Yang akibatnya, dia hampir dipukul oleh Kamala. “Maaf! Maaf!”
“Untung gue nggak jantungan!”
“Tapi memang benar kan. Secara deskripsi fisik, Arga seolah sengaja nunjukin kalau Candra itu ya dia.”
“Terlalu narsistik nggak sih?” Lexi tertawa.
“Banget!” Nina mengamini. “Bay the way, kalau menurut kalian tokoh Ellia itu sebenarnya siapa? Kalau menurut gue sih ..., dulu gue sama teman-teman gue ngiranya Kak Anisa ya.”
“Siapa itu?” tanya Lexi.
“Temannya si Arga.” Sabrina menjelaskan. “Jadi, dulu itu waktu masih zaman Facebook, banyak penggemar mencoba menebak-nebak siapa Ellia dengan mengubek-ubek medsosnya si Arga.”
“Ah, zaman itu!” Mirabel bertopang dagu, matanya berkaca-kaca. “Masa remaja yang indah banget.”
“Masalahnya, habis itu si Annisa malah menikah sama sepupunya Arga, kan?”
“Bukan sepupu!” ralat Cecillia. “Anak sepupunya. Keponakan jauhnya. Orang Rangga manggil mamanya Arga pakai oma.”
“Pokoknya itu lah. Gue nggak terlalu ngikutin silsilah keluarga mereka!” Kamala membela diri. “Intinya, Annisa menikah sama cowok itu. Dan sejak saat itu tulisannya mulai menurun.”
“Nggak lah. Biasa saja!” Novita yang baru kembali dari toilet menyahut. “Cuma, dia memang sempat berhenti tulis romance saat itu. Tapi bukan karena pernikahan Anisa, keles. Soalnya, habis itu dia tulis lagi kok kisah Candra dan Ellia, dan hasilnya tetap bagus.”
“Kebantu series adaptasi nggak sih?”
“Nggak lah!” bela Novita. “Memang bagus. But, gue malah mengira kalau Ellia itu si Adelia.”
“Bukannya Bella?”
Tebakan Nina mendapat gelengan tegas dari yang lain.
“Mereka lebih kayak kakak dan adik, menurut gue.”
“Setuju.”
“Bella itu yang mana sih? Gue lupa.”
“Yang pacarnya radak-radak.” Nina menjawab. “Mereka memang jarang muncul, bahkan seingat gue nggak punya FB. Tapi gue ingat banget dia punya pacar yang –“
“Ah, yang ganteng itu kan!” Kamala akhirnya ingat. “Yang sering dibully sama si Arga dan gengnya.”
♥♥♥
Rangga. Bella. Adelia. Anisa. Rian.
Nama-nama itu membuat Lexi akhirnya menggali informasi juga, pada akhirnya. Dia hanya ingin memastikan apakah benar Arga senarsistik itu. Beruntung, pria yang kamarnya persis di seberang kamarnya tersebut belum menghapus akun lamanya. Meski tak banyak, kebanyakan soal promosi karya, tetapi masih ada beberapa jepret gambar yang mengabadikan masa remaja penulis muda berbakat tersebut.
Hingga suatu ketika, mata Lexi berhenti persis di sebuah foto yang dibagikan di akhir tahun 2013-an. Memotret kejadian di sebuah perlombaan renang. Dua orang pria muda yang sepertinya atlet renang memamerkan mendali mereka masing-masing, ditemani Arga dan orang-orang yang sebelumnya disebut namanya.
“Kok?”
Lalu, Lexi kembali menggeser ke bawah. Mengecek foto-foto lain. Dan benar saja, ada begitu banyak potret di sana. Yang sontak membuat gadis itu tertawa. Apakah dunia memang sesempit itu?
Other Stories
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Viral
Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...