9.gue? Narsistik? Menyebalkan? Hello? Nggak Salah?
Arga tidak tahu persisnya jam berapa, tetapi yang jelas dia bisa merasakan ujung kakinya disengat oleh matahari yang masuk melalui jendela kaca persis di sebelah pintu masuk. Maklum saja, berhubung kamarnya mengadap langsung ke arah timur, cahaya pun bisa dengan leluasa menembus hanya untuk membangunkannya, memberinya kecupan pagi.
Namun, bukan itu yang membuat mata Arga terbuka. Melainkan ketukan kencang dari balik pintu, diiringi teriakan memanggil-manggil namanya.
Tidak langsung bangkit, Arga terlebih dahulu mengulat, menguap dan mengucek matanya di atas kasur. Dia bahkan belum menyingkirkan selimut bergambar hewan –bawaan bungalow –di atas tubuhnya. Baru setelah menghabiskan sekitar lima menit, dia mengulurkan tangan ke atas nakas, mengambil kacamatanya. Bukan karena sudah puas, melainkan karena suara ketukan semakin kencang. Bila terlalu lama, Arga khawatir benda itu akan jebol.
“Iya. Sebentar!” Arga sedikit berteriak. “Siapa sih?” lanjutnya seraya menuruni ranjang. Alih-alih menurunkan kedua kakinya lebih dulu, Arga malah menerjunkan tangannya ke lantai. Akibatnya, bisa ditebak dia njlungup. Hampir saja kedua gigi depan serta kacamatanya patah. Beruntung, dia tidak kenapa-kenapa. Malah, insiden pagi itu berhasil membuat matanya sepenuhnya terbuka.
Rasa kantuk hilang sepenuhnya.
Lalu, Arga menghampiri pintu yang masih setia diketuk. Tidak lupa dia mengusap wajahnya asal, menghilangkan sisa-sisa tidur yang menempel di sana. Setelah memastikan –atau lebih tepatnya merasa –semua baik-baik saja, dia pun membuka kunci dan menarik daun pintu ke dalam, yang langsung membuatnya disambut tatapan tajam gadis yang menginap persis di seberang kamarnya. Gadis yang menatapnya dengan sangat kesal.
“Berisik tahu nggak! Masih pagi juga!” Arga mengomel. “Ganggu orang tidur saja.”
“Pagi?” Perempuan berkaos putih dengan bawahan celana jin di selutut yang tampak sudah siap sebab membawa tas berisi perbekalan di punggung tersebut membulatkan matanya, lalu menunjuk ke langit. “Matahari sudah setinggi ini dan kamu baru bangun? Belum bersiap? Ya ampun! Kamu pikir ini hotel? Sedang liburan?”
Arga mengikuti arah yang Lexi tunjuk. Benar saja, matahari sudah setinggi pohon kelapa. Dan dia baru ingat bila berdasarkan pemberitahuan semalam, di hari pertama ini para peserta akan diajak ke Alas Purwo. Dan gadis ini, yang sekarang berdiri di depannya ini –berdasarkan undian acak yang dilakukan panitia –adalah teman satu timnya.
“Busnya sudah mau berangkat lho!” lanjut Lexi. “Cepetan! Nanti kita ditinggal lho.”
Arga mengangguk. “Ya sudah, tunggu! Gue mandi du–“
“Nggak usah mandi!”
Kini giliran mata Arga yang membulat. “Terus?”
“Terlalu lama! Cuci muka! Ganti baju! Berangkat!” Melihat Arga cengo, Lexi menyentak, “Jangan bilang kamu belum mempersiapkan semua keperluan yang perlu dibawa? Kita nggak punya banyak waktu lho, Ga.”
“Iya. Iya. Bawel!”
♥♥♥
Meskipun tak senang, tapi tampaknya berada satu tim dengan Lexi adalah pilihan terbaik di antara semua pilihan terburuk yang Arga punya sekarang. Meski itu artinya dia harus mendapat tatapan tajam nun sinis sebagai ganjaran atas kesalahpahaman tempo hari. Paling tidak dia tak perlu banyak berbasa-basi. Sesuatu yang jelas tidak akan bisa dia rasakan bila berada di tim lain, bersama orang lain, apalagi kalau orang tersebut ..., jelas dan terang-terangan menyatakan diri sebagai penggemarnya.
“Ya sudah, kenapa lo nggak cuekin saja?” Pertanyaan itu pernah diberikan oleh Rangga saat mereka masih muda. Lebih tepatnya setelah keduanya menikmati makan siang di sebuah mall, persis setelah gagal menonton film karena dicegat –diksi ini terlalu berlebihan –oleh penggemar berat buku-buku Arga di lift, yang berakhir membawa keduanya ikut para gadis itu makan siang, ditanya-tanya. “Tapi lumayan lho, Mas. Kita jadi bisa dapat makanan gratis. Sering-sering saja begini.”
“Mulutmu, Ngga! Nggak semudah itu. Sebagai seniman yang gue jual bukan cuma karya tetapi juga citra.”
“Hand and body lotion?”
“Itu sih merek.”
Lamunan konyol tersebut buyar ketika sopir bus yang dia tumpangi tiba-tiba mengerem, secara mendadak dan membuat kepala Arga membentur kursi di depannya.
“Haduh, hati-hati dong, Pak!”
“Sakit ini!”
“Pelan-pelan saja asal selamat!”
Keriuhan terdengar dari kursi-kursi lain, sementara Lexi tampak masih sibuk mengetikkan jari-jari di layar telepon pintar. Tidak terpengaruh, sama sekali. Dan seolah sadar tengah di perhatikan, Lexi mendadak melirik menggunakan ekor matanya, sinis.
“Kenapa lihat-lihat?”
Arga menggeleng. “Nggak.” Lalu mengalihkan pandang keluar jendela.
“Setahun tinggal di Indonesia membuat aku terbiasa melihat pelanggaran lalu lintas.”
Ucapan Lexi sontak membuat Arga kembali menoleh kepada gadis itu, yang kali itu telah memasukkan ponsel ke dalam tas, dan balik menatapnya. Mengajaknya bicara.
“Meskipun bisa dibilang aku baru benar-benar menikmati jalanan Indonesia di tiga bulan pertama, tapi itu cukup bikin trauma.”
Senyum Arga yang sinis tetap menyimpan rasa malu. “Ini belum seberapa. Lo harus lihat kalau nggak pandemi. Semua orang berkendara kayak mau ngajak orang ke neraka. Belum lagi kalau di jalanan besar, pengendara motor pagi buta, harus beradu sama truk tronton besar yang siap bikin mereka jadi daging cincang.”
“Tapi Amerika juga ada kok orang yang nyetir kayak mau bunuh diri." Lexi menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Belum lagi orang mabuk di jalan yang bikin orang lain kecelakaan.”
“Di sini juga ada!” ungkap Arga. “Bedanya mungkin cuma satu.”
“Apa?”
“Di sini kalau pelakunya anak pejabat bakalan lolos. Belum lagi kalau nggak viral.” Senyuman Arga semakin kecut. “Viral pun belum tentu beres. Bisa jadi polisi cari orang lain buat dijadikan tumbal, kayak yang sudah-sudah.”
“Menurutmu, kenapa begitu?”
Arga menaikkan kedua bahunya bersamaan. “Entahlah. Mungkin sistem, mungkin juga orang-orangnya.”
“Sebenarnya di Amerika pun nggak jauh beda. Di sana juga banyak orang aneh tapi sistemnya tetap jalan. Tahu kenapa? Karena orang yang dianggap pintar mau jalan. Mereka menggerakkan orang-orang di bawahnya, dan memberi kesempatan yang lain buat jalan.”
“Hal yang terlalu mustahil buat dilakukan bangsa ini.” Arga tertawa, kering. “Orang yang dikasih mandat saja malah senang kok goblok-goblokin mereka yang ada di bawahnya.”
“Bukankah negara ini demokrasi?”
“Katanya.”
“Lalu, kenapa rakyat dianggap bawahan?”
“Feodalisme.”
“Ya sudah, kenapa tidak mencoba mengubahnya?”
Arga tertawa. “Nggak semudah itu kali.”
“Kamu bahkan belum memulainya.”
“Ya realistis saja deh, Lex.“
“Realistis atau pasrah?” Sadar pertanyaannya membuat Arga tak berkutik, Lexi kembali melanjutkan, “Realistis itu nggak sama dengan pasrah lho.”
“Tahu apa lo tentang negeri ini? Lo baru setahun di sini, gue sudah tiga puluh, hampir tiga puluh satu tahun. Yang gue lihat bukan cuma orang-orangnya, sistemnya tapi juga ..., masalah yang kami hadapi jauh lebih kompleks dari bayanganmu.”
“Itu bedanya kita sama Amerika. Di sana orang selalu punya kesempatan untuk belajar, mencoba dan memperbaiki. Sementara di sini nggak ada orang yang mau bergerak kecuali menertawakan.”
“Karena kadang yang berusaha disalip yang pura-pura.”
Suasana hening, sesaat.
Baik Arga maupun Lexi sama-sama meluruskan posisi duduk. Tidak ada percakapan apa pun sebelum akhirnya bus berhenti di lokasi tujuan.
♥♥♥
“Sebagaimana yang dijelaskan semalam, kalian yang terpilih silakan berkolaborasi membuat karya terbaik dari tempat-tempat yang akan kita datangi. Kalian bebas mengambil referensi dari satu tempat, atau malah semuanya dan diolah menjadi satu. Yang jelas, kami meminta kekompakan dan keseriusan kalian sebagai tim.” Peringatan tersebut kembali diberikan oleh panitia sebelum mereka turun dari bus.
Sama seperti peserta lain, Lexi mengangguk-anggukkan kepalanya, paham.
Tak lupa, Lexi membawa ransel untuk digendong di punggung, sedangkan di lehernya tergantung kamera. Kontras dengan penampilan kawan satu timnya, yang hanya membawa buku catatan kecil dan pena di tangan, itu pun dimasukkan ke kantong celana.
“Sudah? Begitu doang?”
Arga melambatkan langkah, mengangguk. “Memang mau bawa apa lagi?”
“Kita jauh-jauh ke sini, kamu tidak mau foto atau ambil video?”
Tanpa bicara, Arga menunjukkan ponsel pintar yang juga dia simpan di kantong celananya yang lain. “Semua ada di sini.”
Lexi menarik kedua ujung bibirnya, kecut.
“Apakah ini sudah semuanya?” Suara seorang pria paruh baya dengan logat Banyuwangi terdengar di kejauhan, membuat Lexi dan Arga segera mendekat ke arah kerumunan. “Perkenalkan saya Rasmo. Biasa dipanggil Mbah Rasmo atau Mbah Mo. Orang yang akan memandu kalian dalam perjalanan kali ini. Apakah kalian sudah siap?”
Para peserta dengan kompak menjawab siap, penuh semangat.
Mbah Rasmo tersenyum, hangat dengan sorot mata teduh khas manusia yang telah lama memakan asam garam kehidupan dunia. “Apakah di antara kalian ada yang pernah ke sini sebelumnya?”
Lagi, para peserta kompak menggeleng.
“Baiklah kalau begitu izinkan saya untuk mengingatkan kepada kalian bahwa di sini, di tempat yang sedang kalian tapaki ini ..., alam lebih tua daripada kita. Laut dan pohon-pohon, juga angin dan semesta telah berdoa jauh sebelum kalian tercipta.”
Sebagai orang baru, Lexi terlihat sangat bersemangat. Dia mendengarkan penjelasan Mbah Rasmo dengan saksama, kontras dengan pria di sebelahnya yang tampaknya masih belum tertarik.
“Anak-anakku, ingat ini baik-baik!” Suara Mbah Rasmo berubah tegas, dan keras. “Bila selama ini kalian menganggap kehidupan di kota bisa membuat kalian merasa menaklukkan dunia, maka di sini kita bukanlah siapa-siapa.
“Manusia hanyalah tamu di sini. Tamu yang datang untuk belajar dari alam. Maka dari itu, tinggalkan semua suara kebisingan kota. Tinggalkan ego dalam diri kalian, termasuk semua impian dan cita-cinta yang ingin kalian buktikan. Karena tempat ini tidak menerima kesombongan.”
Mbah Rasmo melirik ke samping, pada gadis muda yang membawa kotak berbahan kayu di tangan.
“Silakan tinggalkan semua peralatan elektronik yang kalian bawa.” Hampir semua peserta kaget, namun dengan cepat Mbah Rasmo melanjutkan. “Tenang. Nanti akan dikembalikan setelah sesi selesai. Sebentar saja.” Senyum di wajah keriput itu kembali terlukis. “Kita akan sejenak bicara dengan alam. Tanpa suara. Tanpa distraksi. Izinkan kaki, tangan dan napas kalian yang bicara kali ini.”
♥♥♥
Berjalan di atas pasir basah di Pantai Pancur seolah membuat Lexi bisa merasakan suaranya ditelan oleh ombak. Mata keabu-abuannya menyapu garis horizon.
Birunya laut pantai selatan dan putihnya pasir begitu memanjakan mata. Terlebih saat itu hanya ada mereka, tanpa ada satu pun pengunjung lain.
“Rasakan suara laut yang coba berbicara pada kalian.” Suara Mbah Rasmo menjadi satu-satunya suara manusia yang terdengar di sana. Memandu perjalanan spiritual kesepuluh peserta. Sebab, para kru di tinggal di belakang dan baru akan bergabung di sesi setelahnya. “Apakah kalian bisa mendengarnya?”
Arga melirik ke arah peserta lain. Mereka tampak hikmat sedangkan entah mengapa dirinya sendiri justru merasa bingung. Padahal setiap kali menulis cerita untuk bukunya, instruksi macam ini biasa diberikan guru kepada tokoh utama. Yang sayangnya, Arga sendiri justru kebingungan saat dihadapkan pada situasi yang sama.
“Laut tidak pernah melihat siapa kalian. Ia tidak peduli siapa, dari mana dan bagaimana latar belakang kalian. Dia menerima kalian seolah-olah kalian adalah anak kandungnya.
“Bila kalian merasa marah, marah saja. Bila kalian sedih dan ingin menangis, tumpahkan saja. Tidak perlu ragu atau malu. Kita semua sama di mata laut. Dan jangan kalian pikir ombak tidak mengerti perasaan kalian. Karena laut bagaimanapun juga jauh lebih sering terluka.”
Omong-omong terluka, Lexi tiba-tiba saja dibawa melompat jauh ke masa dia masih kanak-kanak. Saat untuk pertama kalinya, dia yang sebelumnya hanya bisa melihat anak-anak lain datang bersama orang tua mereka untuk merayakan kegembiraan bersama keluarga, mendapatkan ayah dan ibu dalam hidupnya.
Kedatangan Handrick dan Marie siang itu menjadi langkah awal yang tak akan pernah dia lupakan.
“Mereka orang tuamu sekarang.” Bu Nurmala memeluknya untuk terakhir kali, berderai air mata. “Kamu jaga diri baik-baik ya.”
Lexi kecil mengangguk, tangisnya terisak. “Bunda, jangan menangis. Nanti kita ketemu lagi. Aku akan telepon Bunda dan teman-teman setiap akhir pekan. Iya kan, Mom? Dad?”
Marie yang bergandengan dengan suaminya mengangguk. “Tentu saja, Sayang.”
Yang kemudian segera mengabur. Kabut hitam memakan kenangan tersebut. Menggantinya dengan suara sirene mobil ambulans yang membawa tubuh ayahnya. Lexi memeluk tubuh sang mama yang gemetaran, sementara Handrick yang tak sadarkan diri tengah berjuang di dalam ruang gawat darurat.
“Dad pasti kuat, Mom. Dad berjanji akan pulang malam ini. Kita akan baik-baik saja.”
Marie menggeleng, mengusap kepala putrinya. “Ayahmu .... Seharusnya aku tidak mengizinkannya menyetir sendiri. Ini semua salah Mom, Sayang. Andai Mom tidak memintanya menjemput pamanmu di penjara, mungkin semua tidak akan begini.”
“Ini bukan saatnya saling menyalahkan, Mom.”
“Tapi –“
“Dengan keluarga Tuan Harris?”
“Ya. Saya putrinya.” Lexi berdiri, mendekati dokter.
Wanita berkulit hitam itu menatapnya iba. Memberi Lexi informasi tanpa bicara bahwa ayahnya telah tiada.
“Tidak! Tidak mungkin!” Lexi berlari, menerobos ke ruangan dan mendapati tubuh ayahnya terbaring. Masih dengan peralatan medis yang belum sepenuhnya terlepas, Lexi mengguncang tubuh ayahnya. “Dad, please! Dad!”
Other Stories
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...
Daisy’s
Kisah Tiga Bersaudari ...