10.
Gue Merasa Semua Orang Memang Sudah Gila!
Jalan cepat versi spiritual.
Bahkan setelah sepuluh menit, alih-alih ikut hanyut dan terbawa perasaan, Arga malah merasa bosan.
Memang apa istimewanya sebuah pantai? Dia membatin. Toh, bukankah semua pantai sama saja? Sama-sama ada pasir, laut dan angin yang sangat kencang. Ini Pantai Selatan. Ombaknya terlalu ganas untuk berenang.
Pun untuk riset novelnya, Arga biasa melakukannya lewat internet. Tidak perlu kotor-kotoran. Hanya saja ekspresi pria itu langsung berubah saat menyadari peserta lain, termasuk Lexi mendadak menangis. Terisak-isak.
“Heh! Lo kenapa?” Dia berbisik, mendekati Lexi lalu menyentuh bahu gadis itu ragu-ragu. “Lex? Lo nggak apa-apa, kan?”
Bukan Lexi yang menjawab, Mbah Rasmo lah yang berdeham di belakangnya.
“Biarkan saja. Jangan diganggu. Alam sedang mengajaknya bicara.”
♥♥♥
“Tidak semua orang terpilih untuk berbicara dengan laut. Beberapa sama sekali tidak bisa mendengar suara laut. Entah tidak bisa atau memang tidak layak.”
Arga yang sadar pria tua itu tengah menyindirnya, memilih menatap ke arah lain. Lalu, perlahan mundur ke barisan belakang.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka kini sampai di tanah lapang, lebih tepatnya di atas pasir pantai yang lebih datar dan di atasnya diberi tikar.
“Silakan duduk!” katanya. “Setelah itu kalian ambil kertas yang ada di dalam kotak!” Mbah Rasmo menunjuk kotak lain dengan bahan yang sama dengan sebelumnya, yang ada di tengah tikar. “Laut telah menerima pesan kalian. Ini saatnya kalian sampaikan kepada laut apa komitmen yang ingin kalian capai dalam program ini? Bukan hanya harapan atas ego, tetapi harapan sebenar-benarnya sebagai manusia. Setelahnya, kita akan melarungnya ke laut.”
“Maaf, Mbah!” Arga menyela, mengangkat tangan.
“Ya?”
“Tapi apakah tidak apa? Bukankah ini bisa mencemari lingkungan?”
Mbah Rasmo tampak tak senang. Jengkel, lebih tepatnya. “Tenang. Kertas ini akan larut dalam beberapa menit. Ini dibuat dari bahan khusus.”
“Oh. Oke.”
“Ada yang mau ditanyakan lagi?”
“Sebenarnya ada. Eh, bagaimana kalau kita tidak punya ..., yang harus disampaikan pada laut? Maksud saya ..., kasihan laut bila harus mendengar terlalu banyak cerita. Biarkan saya membantunya dengan mengurangi satu beban dengan tidak menulis.”
Melihat rekan satu timnya berulah, Lexi langsung mencubit lengan Arga, membuat penulis beken itu terkejut.
“Kenapa?”
“Sudah! Tulis saja!” bisik Lexi.
Arga mengerutkan kening. “Tulis apa? Orang gue nggak punya kegelisahan apa-apa.”
“Yang penting tulis! Kamu nggak lihat itu Mbah Rasmo ekspresinya sudah tidak enak?”
“Iya, iya!”
Mau tak mau, Arga membubuhkan tulisan di atas kertas:
Untuk Laut, dan siapa pun lo yang gue nggak kenal.
Gue nggak tahu mau apa, tapi karena diminta ya sudah gue tulis saja. Yang jelas, kata mereka gue harus bikin pencapaian untuk pulih. Padahal, gue nggak merasa kenapa-kenapa, kecuali bahwa gue sakit karena mencintai Bella.
Siapa Bella?
Mungkin lo akan tanya begitu. Tapi kalau lo sakti, harusnya bisa dong cari tahu sendiri siapa dia? Nggak, gue nggak sejahat itu. Gue tahu lo nggak punya perangkat buat googling.
Bella adalah matahariku.
Apakah dia alasan gue pergi? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Yang jelas, gue hanya mau jauh dari rumah.
Kalau lo maksa, gue bakal minta supaya sepulang dari sini kepala gue yang sumpek dan hampir meledak ini cepat kelar. Gue mau supaya gue nggak iri lagi ke Rian. Gue mau Nyokap nggak minta gue cari pacar lagi. Bagaimanapun caranya, gue mau sepulang dari sini nanti gue punya kehidupan yang lebih tenang dan bahagia.
Argantara Ramadhani, Januari 2021
♥♥♥
“Dia memang unik ya?” kata Kamala ketika datang ke kursi persis di sebelah Lexi, lengkap dengan sepiring makan siang. “Di saat banyak dari kita larut, dia tetap bisa berdiri kokoh di atas pendapatnya sendiri.”
“Dia –Arga, maksudnya?” tanya Lexi, tidak paham.
Kamala mengangguk, mantap. “Memang siapa lagi? Bay the way, kalian sudah tahu mau bikin karya kolaborasi seperti apa? Kan sama-sama penulis. Pasti lebih gampang dong cari kemistri? Nggak kayak gue sama Indra. Pengrajin tenun dan designer game. Ampun deh. Nggak ada nyambung-nyambungnya sama sekali.” Dia mencaplok telur ayam utuh-utuh.
Lexi tersenyum, sebab bisa dibilang sejak semalam hingga kini, baik dia maupun Arga belum terlalu banyak ngobrol serius. Apalagi soal karya kolaborasi mereka. Untungnya, sebelum sempat Lexi menjawab, Nina dan Cecillia datang menghampiri keduanya.
“Kak Arga mana?”
“Entahlah.”
“Sama cowok-cowok lainnya kali,” sahut Kamala. “Makan di luar.”
“Nggak ada tuh!” Cecillia menggeser kursi plastik di belakang Lexi supaya bisa sejajar dengan ketiga kawannya. “Apa mungkin jalan-jalan kali ya? Cari inspirasi? Soalnya, nggak mungkin banget seorang Kak Arga menyia-nyiakan kesempatan sebagus ini.”
“Maksudnya?” Lagi, Lexi mencoba mencerna ucapan para penggemar Arga.
Nina yang menjawab, “Kak Arga itu unik, Kak. Jangan Kakak kira dia bersikap kasar karena beneran kasar. Dia pasti punya rahasianya tersendiri. Kayak karakter Mas Candra dalam bukunya.”
Mulut Lexi membentuk huruf O besar. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya. Bukan karena percaya, melainkan karena dia paham betapa Arga telah berhasil mencuci otak para gadis ini.
Parahnya, sikap tidak sopan Arga berlanjut hingga ke lokasi selanjutnya. Pura Luhur Giri Salaka.
Masih seperti sebelumnya, di saat Mbah Rasmo yang ditemani pemandu lokal di pura memberi sambutan, lagi dan lagi Arga celingukan. Tidak fokus dan gelisah.
Seolah-olah iblis di dalam dirinya meronta, tidak nyaman dengan suasana syahdu di sana, kata Lexi dalam hati. Padahal hampir semua orang tampak hikmat, mengikuti instruksi.
“Masih sama seperti sebelumnya. Tujuan kalian dibawa ke sini adalah untuk membersihkan diri.” Terang Pak Wirja, pemandu lokal yang usianya lebih muda dari Mbah Rasmo. Sekitar kepala lima.
“Bisa dibilang hari pertama ini khusus untuk membersihkan jiwa kita semua sebelum nantinya benar-benar fokus membuat karya pemulihan.” Mbah Rasmo menyahut. “Karena bagaimana kalian bisa menolong orang kalau diri kalian belum tuntas? Betul atau betul?”
Para peserta kompak tertawa kecil. Mengamini.
“Kalau di Laut sebelumnya kalian fokus bicara pada diri sendiri, di sini kita membawa doa dan rasa malu.” Pak Wirja menjeleskan. “Akui niat kalian. Akui luka yang sudah terang itu. Dan dengan begitu kita akan selesai dengan diri sendiri ....”
“Gue heran kenapa orang-orang di sini semuanya bersikap sok sakral. Memang nggak ada ya acara yang lebih menarik? Padahal gue berpikir tadinya acaranya nggak akan seperti ini,” bisik Arga persis di sebelah Lexi. Muka pria itu semakin tak tenang. “Mana banyak nyamuk pula.”
“Nggak usah banyak ngeluh! Eh, kamu mau ke mana?” Lexi memanggil, panik saat Arga tiba-tiba saja berdiri dan pergi meninggalkan tempat tersebut. “Arga?”
“Maaf, Pak!” Yang dipanggil maju. “Saya mau izin ke toilet.”
Bohong!
Lexi bisa mencium itu dari ekspresi Arga. Dan tampaknya, disadari juga oleh Mbah Rasmo dan Pak Wirja.
“Silakan.”
Arga tersenyum. Langkahnya mantap menjauhi lokasi.
Namun, baru beberapa meter pria itu berjalan, Pak Wirja kembali berkata, “Siapa pun yang datang ke tempat ini dengan kesombongan, maka dia akan pulang membawa kegelisahan yang jauh lebih berat.”
“Siapa yang sombong?” Arga berbalik. Merasa dirinya disindir.
Pak Wirja menggeleng. Tatapannya tajam tetapi senyum di wajah tampannya membuatnya kontras. “Tidak ada. Lupakan saja. Bukankah kamu bilang hendak ke toilet?”
♥♥♥
“Saya terima nikah dan kawinnya Bella Arianti binti Joko Suseno dengan maskawin tersebut dibayar tunai!”
Mantap. Tanpa keraguan. Dan satu tarikan napas. Rian menjawab kalimat ijab yang disampaikan oleh penghulu siang itu, yang langsung disambut kata sah –bukan hanya oleh Pak Lukman dan kakak ipar Rian sebagai saksi, tetapi juga tamu lain yang duduk di barisan belakang.
Lima tahun telah berlalu, tetapi tidak sehari pun ingatan tersebut mampu Arga hapus dari kepalanya. Membuat rasa bersalah di dadanya semakin besar. Bukan hanya kepada Bella dan Rian, tetapi juga dirinya sendiri.
Kenapa? Kenapa begitu sulit melepaskan Bella? Padahal, seharusnya ..., demi kebahagiaan Bella ..., Arga tidak boleh mengkhianati persahabatan mereka. Toh, Rian mampu membahagiakan Bella. Tak ada alasan bagi Arga untuk menjadi duri dalam daging di pernikahan mereka.
Jika Pak Wirja menyebutnya sombong karena menolak menulis surat, maka Arga akan dengan lantang menyebut dirinya sebagai bajingan, yang tidak hanya sombong tetapi juga penuh dusta. Arga hanyalah pengecut yang enggan mengakui kekalahannya, dan malah membuat skenario palsu atas hidup untuk dijual kepada para pembaca setianya. Ironis.
“Tetapi paling tidak lo nggak rugi-rugi amat,” kata Mbak Indah setiap kali Arga menceritakan masalah ini. Dan memang benar, Arga mendapat ratusan juta rupiah dari tulisannya. Itu pun masih berlangsung hingga sekarang. Menjadikannya salah satu dari sangat sedikit penulis terkaya di Indonesia.
Hanya saja, yang Mbak Indah dan para pembaca tidak ketahui, menulis tidak lebih dari pelarian instan, yang alih-alih memberi solusi justru membuat Arga semakin terjebak dalam kegelapan.
Dia tersesat.
Tidak! Tidak! Ini bukan kiasan, melainkan dalam arti sebenarnya. Arga benar-benar tersesat. Dia baru menyadari ketika matanya menatap ke sekeliling dan tak ada pemandangan apa pun kecuali hutan di sepanjang mata memandang.
Arga berjalan terlalu jauh.
“Ya Tuhan!” ucap Arga. “Gue di mana?” lanjutnya seraya merogoh kantong celana, mengeluarkan benda pilih berwarna putih yang begitu dinyalakan tidak menangkap sinyal. “Sialan!” Dia mendesis, lalu memasukkan kembali benda itu ke tempat semula.
Tak mau berpangku tangan, Arga berbalik dan mencoba menelusuri kembali ke arah dia berasal. Akan tetapi, semakin dia melangkah, kian bingung juga dia pada situasi di sana. Bahkan menurutnya, dia terus berputar-putar di tempat yang sama.
“Jangan panik, Ga! Jangan panik!” Dia meyakinkan dirinya sendiri, lalu berhenti sejenak untuk duduk di bawah pohon. “Lo pasti mengalami looping behavior, makanya nggak bisa ketemu jalan pulang. Lagian, mana ada setan? Ini sudah 2021.”
Tepat ketika Arga hendak berdiri guna melanjutkan perjalanan, tiba-tiba saja dia merasakan sesuatu bergerak dari atas pepohonan. Matanya dengan awas mencoba mencari, tetapi sebelum bisa menemukan apa pun, insting manusianya memberitahu agar dia segera kabur.
♥♥♥
Mom, Dad, aku berharap kalian tahu betapa besar aku mencintai kalian. Tidak peduli sejauh apa aku berada, seperti apa kehidupan yang memisahkan kita, bahkan bila kehidupan di masa depan ada, aku akan meminta Tuhan untuk kembali mempertemukan kita dengan cara yang sama.
Sekalipun aku tidak pernah menyesali jalan kehidupan ini. Satu-satunya yang menyiksaku adalah bahwa aku tidak pernah bisa mencegah kematianmu, Dad.
Andai, andai saja aku tahu hari itu kau akan pergi untuk selamanya, maka akan kuhabiskan lebih banyak waktu bersamamu. Akan kubuat lebih banyak kenangan. Dan yang terpenting, akan kukatakan sejuta kali lebih sering bahwa aku sangat mencintaimu.
Adalah sepenggal kalimat dari surat panjang yang Lexi tulis sore itu. Setelah melipat dan memastikan suratnya rapi, dia mengumpulkannya bersama surat-surat milik peserta lain untuk dikembalikan kepada alam, dikubur di dalam tanah bersama bibit tanaman yang mereka bawa dari bawah.
Tidak lupa, sebelum acara berakhir panitia mengambil gambar para peserta. Mengabadikan momen tersebut sebelum akhirnya kembali ke turun ke pantai. Namun, persis ketika foto terakhir di jepret, Lexi celingukan ke sekeliling, mencari keberadaan kawan satu timnya yang hingga beberapa jam lalu belum juga kembali.
“Mungkin dia sudah turun duluan,” kata Djaya, menebak.
“Dia pamit ke toilet, kan?” Mbak Susan, salah satu panitia mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi seseorang sebelum akhirnya menanyai kawannya yang lain. “Siapa yang nganterin dia ke toilet?”
Mas Tono menjawab, “Nggak ada. Dia nggak nyamperin panitia kok.”
“Lah? Kok bisa? Terus dia di mana?”
“Permisi, Kak!” Lexi yang melihat raut cemas di wajah para panitia, mendekat. “Apakah ada masalah?”
Mbak Susan menggeleng. “Tidak apa! Kalian silakan turun lebih dulu.”
“Tapi, apakah Arga –“
“Kami akan mencarinya. Mungkin dia sudah turun.”
“Mungkin?”
Mungkin?
Bagaimana mungkin mereka berkata ..., mungkin?
Lexi tidak berhenti mondar-mandir, bahkan setelah mereka sampai di kamp. Ponselnya pun terus mencoba menghubungi Arga, yang sayangnya masih belum aktif. Ditemani para peserta serta panitia perempuan. Sementara para pria, baik peserta, panitia dan dibantu petugas tengah berusaha melakukan pencarian.
“Tenang. Mungkin Mas Arga tersesat.”
“Kamala!” Merida berpura-pura memukul lengan gadis berambut keriting tersebut, lengkap dengan tatapan tak suka. “Ya justru karena dia tersesat, makanya kita cemas.”
“Apalagi sebelum pergi Mas Arga berbuat nggak sopan begitu!” Nina menambahkan.
Cecillia yang menggigiti kuku jari tangannya sendiri menimpali, “Apa jangan-jangan dia diculik roh penunggu hutan?” Dia menepuk mukanya sendiri, cukup keras. “Ya ampun, Mas Arga! Mana dia ganteng.”
“Jadi, maksud lo kalau jelek boleh diculik?” Kamala menyipitkan alis.
Cecillia menghela napas panjang. “Ya bukan begitu. Mau dia ganteng atau kayak pantat sapi ..., nggak ada yang boleh hilang.”
“Sudah! Sudah! Tidak usah membicarakan yang tidak perlu!” Mbak Mawar, petugas yang bertahi lalat di pipi memotong obrolan. “Mending sekarang kalian bantuin aku mindahin makanan ke sini. Biar nanti saat para pria datang, kita bisa langsung makan malam.” Dia menunjuk ke arah pos yang cukup jauh, tempat di mana mobil pengantar makanan akan segera datang untuk membawakan menu makan malam mereka.
Namun, sebelum sempat para gadis melangkah terdengar suara dari HT yang Mbak Mawar bawa.
“Halo? Ya? Bagaimana?”
Terdengar suara Mas Gugun dari seberang sambungan. “Sudah ketemu. Ini. Tolong panggil tim medis.”
♥♥♥
Cukup beruntung, karena saat ditemukan Arga masih dalam kondisi hidup. Hanya saja, dia tampak lemas dan ketakutan. Tubuhnya kotor, pakaiannya lusuh dan terdapat sobekan di beberapa bagian, seolah baru saja dikoyak sesuatu, atau mungkin hanya sisa goresan ranting yang tak sengaja terkena saat dia berlari. Tidak ada yang bisa memastikan karena pemuda itu bahkan belum bisa ditanyai sama sekali.
Arga menggigil kedinginan. Didudukkan di atas kursi kain yang berada di dekat api unggun. Sementara di tangannya terdapat segelas teh hangat yang sesekali dia seruput pelan.
“Kamu ke mana saja sih, Arga?” Mbak Mawar mengomel. “Kan sudah dikasih tahu semalam, kalau mau ke toilet ini bilang ke petugas yang jaga. Jangan ngide turun sendirian. Kalau sudah begini, bagaimana? Untung kamu tidak mati kedinginan atau dimakan hewan buas.”
Arga diam. Dia akui dia memang ceroboh. Tetapi, bukan berarti semua orang bisa memperlakukannya tanpa empati begini, katanya dalam hati.
“Mbak, jadi nggak ini dibawa ke rumah sakit?”
“Nggak usah!” sahut Arga, pelan. “Gue nggak kenapa-kenapa kok. Cuma kecapekan doang.”
“Yakin?”
“Iya. Lagian ini sudah malam. Kasihan sopirnya.”
“Bisa ya ngomong kasihan ke orang lain setelah bikin mereka masuk hutan malam-malam?” sindir Djaya, membuat mata Arga melirik. “Makanya, Bro. Jangan terlalu jemawa. Ini hutan.”
Tak mau ribut, Arga memilih diam. Dia melepaskan selimut yang menutup tubuhnya, kemudian berjalan meminta diantar oleh salah seorang panitia untuk mengambil barang di bus.
Mandi. Arga hanya ingin mandi.
Other Stories
Melinda Dan Dunianya Yang Hilang
Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...
Namaku Amelia
Amelia, seorang anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, harus menghadapi hari-hari sulit di ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Daisy’s
Kisah Tiga Bersaudari ...