Chapter 17
Tahu Apa Binatang Paling Liar dan Berbahaya di Dunia?
Ya, Benar. Manusia. Yang Masih Percaya Kebohongan
Apakah ini artinya Arga benar-benar tidak percaya hal-hal berbau spiritual?
Jangankan percaya, yakin pada dirinya sendiri saja dia kesulitan. Itulah mengapa dia tidak berhenti mencari. Toh, kalau makhluk yang dicarinya nyata, bukankah akan bagus untuk tulisan mereka nanti?
Sebenarnya, Arga ingin menyampaikan idenya kepada Lexi. Hanya saja, dengan pandangan perempuan tersebut soal mistis, apa jadinya jika Arga bilang yang sebenarnya? Bisa-bisa dia dijadikan bulan-bulanan.
Terlebih Arga juga tidak mau mengganggu kencan gadis itu. Ya, sebagai pria yang terbiasa menjadi saksi cinta orang lain –Bella dan Rian, juga Anisa dan Rangga, serta cinta-cinta lainnya di sekitarnya –Arga paham betul kalau ada tatapan yang berbeda dari Djaya kepada rekan satu timnya tersebut.
Terbukti, meski Djaya dan Lebas satu tim, cowok itu tak berhenti mendekati Lexi. Dan yang paling menyebalkan, Djaya menatapnya dengan ..., cemburu? Djaya mencemburuinya? Oh ayolah, memang apa salah Arga? Dia bahkan sama sekali tidak tertarik pada Lexi.
Jelas-jelas, Lexi bukan tipenya.
Bisa dibilang, semua gadis di dunia ini, kecuali Bella, memang bukan tipe Arga.
“Kamu yakin dia teman satu timmu?”
Arga tahu ucapan Djaya ditujukan padanya. Memang siapa lagi?
Lexi menjawab sambil bercanda, “Kamu sendiri? Lebas mana?”
“Itu!” Dia menunjuk beberapa langkah di depan, tepat ke arah Lebas yang sedang berjalan pelan, membantu Merida dan Sabrina membawa tas karena kelelahan. “Kamu sendiri, mau aku bawakan tasmu?”
Lexi menggeleng, cepat. “Tidak usah. Aku bisa kok.”
♥♥♥
“Ga, kamu kenapa sih? Kamu masih marah soal semalam?” Lexi menodong, menarik tangan Arga persis ketika pemuda itu hendak meninggalkannya. “Kalau memang karena kejadian semalam, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menghina kamu tapi tolong, jangan seperti anak kecil.” Dia meminta, meski nada bicaranya menyimpan kedongkolan luar biasa. “Kita ini satu tim.”
Arga bergeming, enggan buka suara.
“Acara ini mungkin tidak penting buat kamu yang penulis terkenal, tapi buat aku? Ini sangat penting, Ga. Aku butuh uangnya untuk hidup!” lanjut Lexi, suaranya menurun, melembut.
“Bukan urusan gue!” Arga menepis tangan Lexi, kemudian melangkah cepat meninggalkan lokasi.
Tak mau menyerah, Lexi mengejarnya. “Kamu egois, Arga.”
“Bodo amat.”
“You didn’t lose Ellia because of fate or whatever —you lost her ‘cause of you, Nuga. Your own damn attitude. You’re a mess of a man, and honestly? With that ego? Bad luck’s gonna keep finding you, over and over."
Ucapan Lexi spontan membuat langkah Arga terhenti dan berbalik. “Lo bilang apa barusan?”
Lexi mendengus kecil, bibirnya tertawa tetapi matanya tidak. “You really think I don’t see it? The act? The quiet, tortured genius thing? Cute. But you’re not Candra. Not even close. You wear him like a costume, like maybe if you pretend hard enough, people will love you the same way.”
Arga bergeming, kaget.
“But guess what? You’re not him!” lanjut Lexi, penuh penekanan. “You’re Nuga! Right?” Dia menunjuk Arga. “The version you tried to bury under metaphors and dead-end plots. The one who wallows, who makes pain poetic so he never has to take responsibility.
“You don’t deserve love. You don’t even deserve admiration.”
“A –“
“And when your readers find out their precious Candra was just a mask? Just your goddamn ego in disguise? They won’t be heartbroken. They’ll be disgusted!” ungkap Lexi, sebelum akhirnya pergi dengan muka memerah, marah. Meninggalkan Arga yang terpaku menatapnya tidak percaya.
♥♥♥
Berbeda dengan hari sebelumnya, malam itu para peserta tampak jauh lebih akrab satu sama lain. Mereka bahkan berkumpul di atas tikar pandan, menikmati makan malam yang disediakan oleh panitia.
“Jarang-jarang kan kita makan makanan yang sudah menembus lebatnya hutan buat sampai ke dalam mulut,” celetukan Djaya membuat semua orang tertawa.
Memang bukan makanan mewah, hanya nasi putih, tumis daun pepaya, tongkol balado dan orek tempe kering ditemani sambal tempong yang diulek langsung oleh Mbak Mawar, tetapi mampu menggugah selera mereka semua, sampai-sampai tak ada sebutir nasi pun yang tersisa.
Semua orang termasuk panitia dengan hikmat menikmati jatah makan masing-masing, berpiringkan daun pisang, di atas tikar pandan, ditemani suara laut serta sesekali dihadiahi guguran daun ketapang kering dari atas langit, yang juga dihiasi jutaan taburan bintang. Sementara untuk penerangan, mereka hanya mengandalkan api unggun seadanya, mengingat cahaya rembulan sendiri sebenarnya sudah cukup kuat untuk membantu penglihatan mereka di malam hari.
“Mau tambah?”
Arga yang duduk di ujung tikar menoleh ke ujung lainnya, tempat di mana Lexi berada. Gadis itu pun menoleh tetapi bukan padanya, melainkan pada Djaya, lalu menggeleng. “Kan sudah habis.”
“Kalau mau, ambil saja laukku!” Djaya menawarkan, ramah dan bersiap memindahkan potongan daging ikan berbumbu merah ke daun milik Lexi.
Yang sontak membuat mata Lexi membulat, kaget. “Eh? Beneran ini?” tanyanya tak percaya. “Kamu –“
Djaya menyela, “Sudah. Makan saja. Aku sudah kenyang kok. kamu jarang makan makanan seperti ini. Kan? Mumpung di Indonesia.”
“Wah! Thank you!” Mata Lexi berbinar, dan tanpa ragu mencamplok pindang tersebut. Akan tetapi, sebelum makanan itu benar-benar masuk ke dalam mulut, tanpa disangka matanya menoleh ke arah seberang, membuat iris abu-abu itu tanpa sengaja bertatapan dengan mata cokelat tua milik Arga, yang langsung membuat pria kepala tiga itu menunduk, mengalihkan pandangannya ke arah lautan, yang ombaknya berlari-larian menyapu pasir putih.
Sadar dirinya diperhatikan, Lexi mendesis kecil. Tampak jelas kekesalan di wajahnya, tetapi detik berikutnya, persis sebelum memakan tongkol balado pedas di tangannya, bibir Lexi terlebih dahulu melukis senyum, tenang tetapi juga ..., puas. Terlebih saat mengingat betapa kaget dan tak percayanya Arga beberapa menit yang lalu. Pria itu bahkan menahan langkah Lexi, menangkap tangan berkulit putih itu persis sebelum Lexi meninggalkan sisi lain pantai, tempat mereka berdebat sebelumnya.
“Jangan sok tahu!” tegas Arga, lengkap dengan muka memerah menahan amarah sekaligus sedikit rasa malu, Lexi bisa menangkap ekspresi itu dengan sangat baik. “Lagi pula itu kan fiksi. Nggak semua cerita fiksi harus dari kenyataan. Paham?”
Lexi menangkis tangan Arga kasar, lalu mundur selangkah. “Oh ya? Tapi bukankah kamu sendiri yang –“
“Gue nggak pernah bilang kalau Candra adalah gue!” potong Arga, cepat dan suaranya meninggi.
Namun, Lexi tidak goyah. Dia justru memperlebar senyum sinisnya. “Tapi kamu tidak mengelak saat semua orang bilang demikian. Bukankah itu sama saja membenarkan?”
♥♥♥
Tidak.
Jelas itu tidak sama.
Arga diam bukan berarti dia menyetujui. Sebaliknya, dia diam justru karena tak mau menghancurkan imajinasi yang sudah kadung terbangun. Akan tetapi, bukan juga karena Arga materialistis, apalagi mengkapitalisasi para pembacanya demi marketing –meskipun tak bisa disangkal poin itu tetap ada, walau berasal dari penerbit dan bukan atas kemauannya sendiri –melainkan ini lebih kepada dirinya sendiri. Arga terlalu nyaman pada dunia alternatif yang dia bangun.
Sebab hanya di sanalah dia bisa mencintai Bella, menjadi pria paling keren yang bisa selalu ada dan diharapkan oleh Bella, bahkan menjadi pendamping hidupnya. Sebuah kenyataan yang terlalu tak jauh untuknya di dunia nyata.
Jantung Arga berdegup sangat kencang, seolah ada mesin berukuran besar nun bising yang sengaja di pasang di atas dadanya, yang tidak hanya membuatnya tak bisa fokus tetapi juga menimbulkan reaksi menyakitkan seperti dipilin pada perutnya. Pun dia tak menghabiskan makan malamnya.
“Selamat malam semuanya.” Mbak Mawar kembali menyapa para peserta, persis setelah mereka menghabiskan makan malam dan duduk membelakangi lautan, menatap panggung kecil yang terbuat dari kain putih yang diikat seadanya dan disenteri lampu darurat tempatnya berdiri. “Bagaimana? Apakah kalian masih semangat hari ini?”
Semua orang kecuali Arga menjawab dengan kompak, “Masih dong.”
“Bagus.” Mbak Mawar tersenyum, lebar. “Seperti yang sudah kita agendakan sebelumnya, malam ini, setelah seharian berkelana menikmati keindahan Savana Sadengan, kita akan masuk ke sesi penting,” dia menjeda kalimatnya sebentar guna menatap satu per satu dari peserta yang duduk bersiap memperhatikannya, “yaitu menampilkan proses kreatif. Tapi tenang! Kalian tidak perlu terburu-buru karena perjalanan kita masih sangat panjang.”
“Karya yang baik bukan karya yang lahir dengan terburu-buru.” Mas Joko menyahut dari sisi lain panggung, seraya melangkah mendekati rekannya. Mbak Mawar mundur, membiarkan pria itu melanjutkan, “Meski terlihat sederhana tetapi sesi kali ini merupakan saat yang sangat penting. Kalian akan diminta maju dan menjelaskan rencana, ide atau apa pun –yang telah kalian tangkap dari perjalanan kita seharian tadi. Termasuk menjelaskan mengapa kalian memilih untuk merekam sesuatu tersebut. Bagaimana? Siap?”
“Siap, Kak.” Lagi, hanya Arga yang masih bungkam.
“Ya sudah, kalau begitu langsung saja kita undi siapa yang maju duluan.” Mbak Mawar membawa botol kecil di tangannya untuk dikocok, dikeluarkan selembar kertas dari dalamnya dan membacakan untuk mereka. “Sabrina dan Cecillia.”
Yang dipanggil maju, penuh semangat. Seperti sebelumnya, tim Cecillia ikut mengabadikan momen untuk ditayangkan di akun Youtube pribadi gadis itu.
“Siapa yang mau menjelaskan?” tanya Mas Joko.
Cecillia angkat tangan. “Saya, Kak.”
♥♥♥
Cahaya dari api unggun menari-nari, membentuk bayangan pada masing-masing wajah peserta yang serius mendengarkan. Suara desir ombak dan gesekan antar ranting pohon seolah menjadi musik latar, mengiringi keseriusan aktor teater dan Youtuber berbakat di podium.
“..., bisa dibilang film dokumenter ini akan menjadi panggung teater sempurna untuk memotret keindahan merak.”
“Kak Sabrina benar,” Cecillia menyambung. “Kami juga sudah mengabadikan beberapa footage untuk menjadi bahan utama dari karya ini. Yang kekurangannya akan coba kami genapi seiring perjalanan kita ke depannya.”
Angin laut berembus ringan, lagi dan lagi membawa daun ketapang jatuh ke atas tangan Lexi yang dengan cepat mengamankan segelas teh hangat –yang sudah tidak hangat –agar tidak kotor.
Jam semakin malam, tetapi alih-alih menyeramkan keindahan malam justru kian terpancar. Langit bangun, menabur lebih banyak bintang. Angin laut membawa lebih banyak aroma garam. Dan ide-ide brilian semakin sering terdengar.
“..., banteng jantan lebih tepatnya.” Giliran Djaya dan Lebas akhirnya tiba. Pria berambut gondrong itu sesekali melirik ke arah Lexi, yang mendapat balasan senyuman tak kalah lebar. “Bukan hanya karena binatang ini paling mencolok di padang savana, tetapi juga karena kami melihat dia memiliki kekuatan magis yang mampu menarik semua binatang untuk tunduk pada kekuasaannya.”
“Tapi, bukan berarti kami berniat sekadar memamerkan kegagahannya semata.” Lebas ikut bicara, penuh semangat. “Melainkan mengeksplorasi betapa banteng jantan yang kuat ini justru terjebak dalam kesunyian.”
Lexi dan peserta lain manggut-manggut.
“Dan berhubung kami memiliki kecocokan sebagai musisi dan videografer. Maka, saya dan Lebas berniat mengombinasikan dua unsur ini dalam sebuah musik video. Yang tidak hanya enak didengar dan dilihat, karya ini juga mengajak penonton untuk merefleksikan rasa takut dan kehilangan yang mereka alami sepanjang pandemi.”
“Bahkan rencananya, kami berniat mengajak teman-teman untuk memberikan rekaman suara secara sukarela untuk mengisi beberapa bagian di dalam karya ini,” tambah Lebas. “Tapi tenang saja, kami tidak memaksa!” Dia meralat. Yang dibalas tawa kecil oleh yang lainnya.
Penjelasan kedua pemuda tampan itu mendapat sorakan keras dari semua orang, seperti sebelumnya, kecuali Arga. Malah, bisa dibilang kali itu Arga merasakan lonjakan isi perutnya semakin menjadi-jadi. Tak hanya karena sebentar lagi sesi terakhir yang artinya giliran dia dan Lexi untuk maju, tetapi juga karena tatapan mata Djaya.
Arga merasa pria itu memandangnya begitu jijik, seolah Arga makhluk melata yang tak layak hidup.
Kenapa? Padahal Arga tak merasa punya salah dengannya. Apakah karena Lexi telah memberitahukan apa yang dia ketahui pada pacarnya itu?
Arga tak tahu apakah mereka benar-benar berpacaran, yang jelas keduanya sangat dekat. Alih-alih duduk bersamanya yang merupakan rekan satu tim, Lexi malah duduk berdekatan di baris depan dengan Djaya.
“Selanjutnya, tim terakhir!” panggil Mbak Mawar.
Arga masih bergeming, kedua kakinya mendadak kaku. Perutnya semakin tak karuan.
“Hei, ayo!” panggil Lexi, sedikit berteriak.
Tak ada pilihan, Arga merangkak sebelum bisa benar-benar berdiri.
“Silakan,” ujar Mbak Mawar seperti sebelumnya.
“Lo saja,” kata Lexi sembari mendorong tubuh Arga ke depan. Membuat pria itu kelabakan. Karena dia sama sekali tak tahu apa-apa. Konsep? Persetan dengan konsep, Arga bahkan tak tahu hewan apa yang Lexi pilih.
Arga menelan ludah kasar, tetapi dengan kemampuannya sebagai penulis –yang tak jago-jago amat public speaking –dia mencoba mengatur emosinya. “Kami berencana ..., membuat kolaborasi ..., buku semi fiksi. Ya kan, Lex?”
Yang ditanya mengangguk. “Ya.”
“Dan –“
“Dan apa?” sahut Mirabel dari bangku penonton membuat konsentrasi Arga semakin buyar.
“Dan kami akan mencoba menggali titik emosional manusia dan kerusakan alam dalam fiksi dan memoar yang jujur serta mendalam.” Lexi yang tak sabar menyambar.
“Ya, itu dia!” kata Arga, kikuk.
Semua orang manggut-manggut, setuju. Tampaknya reputasinya sebagai penulis masih bagus. Dan bisa menyelamatkannya, batin Arga.
“Lalu, hewan apa yang kalian pilih?” tanya Mbak Mawar, penasaran.
Lexi kembali bungkam, memberi kode supaya Arga yang menjawab. Akan tetapi, lagi pria itu diam. Bingung. Tak tahu. Tapi akhirnya mengeluarkan sebuah kata dari mulutnya, “Ru –rusa.”
“Burung bondol haji!” ucap Lexi cepat, sebelum mulut Arga benar-benar buka suara. “Kami memilih burung bondol haji.”
Mata Arga membulat. “Yang mana itu?”
Semua peserta tertawa, menganggap Arga sedang bercanda.
“Burung kecil yang kepalanya putih, Arga. Yang tadi siang aku rekam. Kamu lupa?”
Meski tak ingat, atau lebih tepatnya tak tahu, Arga mengangguk saja. “Oh.”
“Kenapa kalian memilih burung itu?” tanya Djaya.
Lexi menjawab, “Karena burung Bondol Haji sangat sederhana. Dia tidak mencolok, tidak kuat seperti banteng, tidak memesona seperti merak. Tapi dia sangat nyata. Dia apa adanya.”
Arga menoleh cepat, rahangnya menegang. Tunggu? Apakah Lexi sedang menyindirnya?
“Dia tidak sibuk membangun citra diri sebagai makhluk yang terlihat penting. Dia tidak memasang topeng. Dia bisa menangkap keindahan dirinya sendiri tanpa harus ikut-ikutan yang lain.”
Suasana mendadak sunyi. Semua orang ingin mendengar kelanjutan dari penjelasan Lexi, kecuali Arga yang lagi, lagi dan lagi menelan ludah kasar.
Lexi tersenyum, dan terlibat begitu licik di mata Arga. “Karena di era sekarang ini banyak dari kita yang terlalu percaya pada tokoh, pada citra dan pada fiksi. Kita dibuat lupa bertanya siapakah yang sebenarnya sedang berdiri di depan kita. Apakah dia sungguh manusia yang nyata, atau justru topeng semata.”
Other Stories
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Jatuh Untuk Tumbuh
Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...
The Fault
Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...
Cerita Pendekku
Firman salah satu tipe orang yang belum berani mengunkapkan perasaan yang dimiliki kepada ...
Di Luar Rencana
Hubungan Hening sedang tidak akur dengan Endaru, putri semata wayangnya, namun mereka haru ...