(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

15. Mencintai Dan Merelakan Adalah Dua Takdir Manusia Yang Paling Sering Beririsan

Peti mati sang ayah baru saja dimasukkan ke liang lahat, tetapi entah mengapa Lexi merasa seluruh dunianya ikut terkubur bersama jasad pria yang paling dia cintai. Air matanya menetes, membanjiri wajah sekuat apa pun dia menahannya. Sementara di sebelahnya, sang mama tidak berhenti meremas jemari Lexi, seolah-olah mencoba mencari kekuatan dari pahitnya kehilangan.

“Biarkan Harris tenang di sana. Kita harus kuat karena ada kehidupan yang masih akan terus berjalan ke depannya.” Ucapan Bibi Nora benar, tetapi entah mengapa terasa begitu menyakitkan di dada dua perempuan tersebut.

Lexi bahkan cuma diam, hatinya hampa dan jantungnya seperti di remas-remas, menyisakan kepingan rasa pahit yang bukannya semakin sembuh justru kian parah, menggerogotinya setiap malam dengan mimpi buruk berulang. Apalagi dengan demensia sang mama.

Lexi sungguh tak bisa membayangkan apa jadinya bila Marie tahu dia hilang di hutan. Mati dan mayatnya tidak bisa ditemukan. Pun sudah hampir satu setengah tahun mereka tidak bertemu. Paling tidak, kalau memang harus mati, Lexi ingin memeluk ibunya terlebih dahulu untuk berpamitan. Sebab ada terlalu banyak hal yang ingin dia sampaikan, termasuk permintaan maaf karena belum bisa menjadi anak baik untuk wanita malang itu.

“Pokoknya, kalau aku mati, ini semua salah kamu, Ga!” gerutu Lexi, lengkap dengan sisa-sisa isakan tangis yang membuat napasnya terputus-putus. “Aku akan gentayangi kamu.”

Beberapa meter di depan, Arga menyibak rumput yang menjadi jalur mereka dengan kayu, berharap tidak menemukan ular atau hewan melata lain yang berbahaya. “Tenang saja. Selama gue masih hidup, gue nggak akan membiarkan lo mati.”

“Tenang? Enak saja bilang tenang!” jawab Lexi, putus asa. “Masalahnya kita di tengah hutan belantara, Ga! Tanpa bekal yang cukup, tanpa alat komunikasi dan –semoga saja mereka sadar kalau kita hilang dan melakukan pencarian. Terus, semoga juga mereka bisa menemukan kita.”

“Iya. Iya. Sudah, jangan berisik!” pinta Arga. “Kita nggak tahu apa yang ada di depan sana. Kalau mendadak muncul macan atau binatang buas, kita bisa jadi sasaran empuk buat mereka.”

“Lagian, bisa-bisanya kamu malah senyam-senyum begitu di saat genting kayak begini?”

Arga berbalik, mencoba menyembunyikan ulas senyum di ujung bibirnya. “Kata siapa? Gue nggak senyum kok.”

“Bohong!” tolak Lexi. “Memang kenapa sih kamu terobsesi banget sama rusa itu? Dari kemarin lho kamu ngomongin rusa itu melulu. Jangan bilang kalau kemarin kamu tersesat juga gara-gara rusa yang sama?”

Arga tidak menjawab, dia berbalik, melanjutkan langkah. Dan itu cukup membuat Lexi paham.

“Konyol sekali!” Lexi membetulkan cepol rambutnya, lalu berhubung tak punya pilihan dia kembali mengekori Arga.

♥♥♥

“Kita berhenti sebentar.” Arga mendudukkan bokongnya ke batang pohon besar yang berlumut, melepaskan tas dan mengeluarkan sebungkus roti cokelat yang langsung dibagi menjadi dua, kemudian menyerahkan setengahnya untuk Lexi. “Sementara kita makan ini dulu.”

“Cuma ini? Tidak, aku makan punyaku saja!”

“Jangan!” Tangan Arga mencegah persis saat Lexi hendak membuka ranselnya. “Buat besok. Sementara ini dulu. Oke?”

Lexi muak, tapi menurut. Dia mengambil roti cokelat, lantas duduk di sebelah Arga untuk menikmatinya. Meski sebenarnya tak benar-benar bisa. Tempat ini terlalu menyeramkan untuk dijadikan zona makan siang. Matahari pun semakin tinggi, harusnya. Kalau saja cahayanya bisa menembus ke dalam hutan. Sayangnya, di sana terlalu gelap.

Namun, baru saja Lexi hendak memasukkan potongan terakhir roti ke dalam mulutnya mendadak tangannya di tarik oleh Arga. Dia bahkan hampir tak bisa menyeimbangkan diri. Untungnya dengan sigap dia berhasil menegakkan kedua kakinya.

“Lari!” seru Arga. “Cepat!”

“Hah?”

“Jangan berbalik!” kata Arga, lagi. “Cepat! Mereka mendekat!”

“Mereka?”

Lexi menyadari dedaunan di belakangnya bergoyang, tanpa menoleh. Dan detik berikutnya terdengar suara segerombolan monyet yang berlari ke arah mereka, mengejar dan jelas ini bukan firasat bagus.

Pemandangan ini menakjubkan tetapi sekaligus menyeramkan.

Berbeda dengan Lexi, Arga yang ketakutan setengah mati mencoba mengamankan bukan hanya dirinya sendiri tetapi juga sang rekan. “Belok! Belok, Lex!”

“Ke mana?”

“Kan –“ Tanpa melanjutkan kata, Arga lebih dulu menarik Lexi. Keduanya sempat terjatuh, tapi langsung bangkit. Dan benar saja, monyet-monyet itu berlari ke arah lain. Tetap lurus dan tampaknya tidak menyadari kalau keduanya berbelok.

Arga membekap mulut Lexi, ketakutan.

Dan setelah dirasa aman, keduanya yang baru sadar tengah bertumpukan langsung saling melepaskan diri. Dan sialnya, Lexi baru mengetahui kakinya terkilir.

“Aduh!” rintih Lexi.

“Sakit ya?”

Pertanyaan Arga langsung mendapat lirikan tajam. “Kamu pikir?”

“Ya maaf!”

Lexi tidak berkomentar, dia memijat pergelangan kakinya yang nyeri sendirian sebelum akhirnya menyadari sesuatu. Dia buru-buru menatap Arga yang sepertinya juga menyadari hal yang sama.

“Ga, ini –“

Arga memintanya diam, tidak melanjutkan ucapan. Dia menggeleng lemah.

♥♥♥

Hening.

Jangankan suara serangga, dedaunan di sekeliling mereka pun seolah bungkam. Saking sunyinya, mereka bisa merasakan deru napas satu sama lain, juga suara detik jam tangan yang Arga kenakan.

“Ada apa?” tanya Lexi, tanpa suara.

Arga masih menggeleng, konsisten. Tapi dari air mukanya, Lexi bisa melihat kecemasan luar biasa di sana. Arga ketakutan.

“Ga!” Lexi kembali bicara, tanda suara.

Arga menatapnya, dalam. “Lo bisa jalan?”

“Tidak. Sakit.”

Arga mengusap wajah, semakin panik. “Gue gendong.”

“Gendong?”

“Di belakang.” Arga menunjuk punggungnya sendiri. Lalu, memindah tasnya di depan. “Kita harus secepatnya pergi.”

“Kenapa?”

“Gue nggak tahu harus jelasin dari tapi ..., kita nggak seharusnya di sini.”

“Hah? Maksud kamu?”

Arga berbalik, meminta Lexi naik ke punggungnya.

Sadar si rekan ragu-ragu, Arga buru-buru meraih tangan Lexi di pundak dan memaksa gadis itu menyilangkan kaki. Berat? Tentu saja. Tetapi mereka tak punya pilihan.

Langkah Arga sangat pelan. Dia berusaha tak mengeluarkan suara sekecil apa pun.

“Daddy?!”

Arga menoleh ke arah Lexi, di punggungnya. Mata gadis itu berbinar-binar ke arah jam sembilan, yang spontan langsung dia ikuti. Akan tetapi, di detik itu juga Arga langsung memalingkan muka, tak kuat. “Astagfirullah! Ya Allah!” ucapnya, gemetaran.

“I’ts you, Dad?” teriak Lexi, semakin bersemangat. “Ga, bisa kita ke sana? Itu papaku, Ga!”

Arga bergeming, menggeleng. Rahangnya mengeras, kakinya menapak makin kuat.

Lexi yang tak sabar menepuk punggung Arga, kuat. “Ga, tolong bawa aku ke sana! Itu papaku!”

“Nggak! Nggak, Lex!” Arga berbalik, membawa Lexi berlari secepat yang dia bisa. Sialnya, saking gemetarnya dia justru jalan di tempat. Yang membuat Lexi dengan cepat bisa melompat turun, memaksa menghampiri sosok –yang menurut Arga berdarah-darah di sana, menatap mereka dengan sangat mengerikan. “I miss you, Dad! Daddy!”

Tak punya pilihan, Arga menarik tas Lexi. Yang langsung membuat punggung gadis itu menghantam tanah.

“Ga, apa-apaan sih? Itu pa –“

“Lex! Sadar!” Arga menampar pipi Lexi, kuat-kuat. “Itu bukan bapakmu! Kita di hutan! Mana mungkin bapakmu di Amerika bisa ke sini?”

“Papaku tidak di Amerika?”

“Hah?”

“Dia di surga.”

“Lah, sama saja?” Arga kembali menoleh, memastikan sosok yang dimaksud masih ada di sana. “Itu demit, Lexi! Demit!” Dia berteriak, suaranya menggema di seluruh hutan. “Ya Allah, tolong hambamu!” Dia mengangkat kedua tangan ke udara. Lalu, mengusap sisa doa ke wajah dengan kasar. “Ayo!” Dia berjongkok, meminta Lexi naik ke punggungnya. “Kita harus pergi.”

“Tidak! Aku mau papaku!”

“Astagfirullah, Lexi! Itu bukan bapakmu!” Arga yang gemas membanting tasnya, dan dengan sisa tenaga dia membawa Lexi di pundaknya. Langkahnya masih gemetar, tapi paling tidak lebih ringan dan lebih cepat dari sebelumnya.

♥♥♥

Haus, lelah dan lapar.

Napas Arga seolah tinggal sesenti saat akhirnya mereka sampai di tempat yang lebih terbuka. Ada sinar matahari di sana, tetapi suasana di sekeliling masih hening. Sementara di sebelahnya, Lexi masih menangis.

“Daddy! Maafkan aku!” Gadis itu acak-acakan, sementara kakinya yang terkilir telah Arga bungkus dengan kayu dan rumput liar agar aman. Setidaknya, Arga tak mau manusia yang dia bawa ini mengalami kerusakan kaki lebih parah. Sialnya, kini mereka kehausan. Tanpa perbekalan sama sekali. “Ini semua gara-gara kamu, Ga! Harusnya tadi kita datangi Daddy. Dia pasti jauh-jauh datang ke sini buat bertemu denganku!”

“Gila lo!” Bibir Arga semakin kering. “Sudah dibilang kalau itu setan, masih saja ngeyel.” Dia menelan ludah yang tidak tersisa, berusaha menemukan kesegaran meski nihil. “Masih untung gue tolongin.”

Setelah memastikan kunang-kunang di matanya berkurang, Arga mencoba berkeliling sebentar untuk menemukan sumber air. Yang sayangnya, entah kebetulan atau bagaimana malah tak ada. Tak mau mati konyol, dia mencoba kembali ke lokasi di mana dia meninggalkan tasnya. Berharap makhluk menyeramkan itu telah tiada, tetapi isi tas juga telah berhamburan.

Monyet hutan? Arga membatin. Lalu, memungut barang-barang yang tersisa. Untungnya, air minumnya aman. Meski roti dan bekal lainnya sudah raib tak tersisa.

“Untuk sementara ini dulu.” Arga mempersilakan Lexi meminum isi botol lebih dulu. “Gue akan berusaha cari makanan. Lo sini saja ya, jangan ke mana-mana.”

♥♥♥

Entah setan atau apa, Lexi tidak peduli.

Dia hanya ingin bertemu ayahnya.

Tangisan Lexi baru mereda saat matahari benar-benar tenggelam. Dan menyadari bahwa satu-satunya rekan yang dia punya dalam perjalanan ini tidak kunjung kembali. Berbekal korek api yang ada di dalam tasnya, Lexi membakar beberapa ranting di sekitar, meski kakinya tak bisa dipakai berjalan. Dia berharap sedikit cahaya bisa memberitahu Arga posisi di mana dia berada. Siapa tahu Arga tersesat di dalam gelap dan tak bisa kembali.

Benar saja, dari arah tak disangka pria itu muncul. Pakaiannya telah dilepas dan digunakan sebagai pembungkus sesuatu. Lebih tepatnya banyak buah mungil berwarna gelap yang langsung dia letakkan di tanah. Lalu, mengambil baju lain yang ada di dalam tasnya.

“Makan!” kata Arga.

Lexi menatap ragu. “Apa ini?”

“Buah.”

“Iya, tahu. Tapi aman tidak?”

Arga berpikir sejenak, tapi mengangguk kemudian. “Harusnya.”

“Harusnya?”

“Tadi gue lihat ada monyet makan itu. Jadi, harusnya aman ya.” Dia duduk persis di sebelah Lexi, mengambil banyak buah dan langsung dimasukkan ke dalam mulut. “Nggak mau? Ya sudah, silakan saja kalau mati kelaparan.”

Lexi mengambil sebutir.

“Bagaimana? Enak?”

“Lumayan.”Lexi tersenyum kecut. “Sudah lama aku tidak bertemu Papa.”

Arga yang mau memasukkan buah lagi, memilih urung. Matanya menatap wajah lusuh Lexi, dalam. Membiarkan gadis itu melanjutkan ceritanya.

“Kalau pun makhluk tadi bukan papaku ..., aku cuma mau memeluk Papa.” Dia kembali meneteskan air mata. “Terima kasih karena kamu sudah peduli ke aku. Tapi kalau nanti Papa muncul lagi, tolong biarkan aku sendiri.”

Arga yang muak melempar buah kembali ke atas baju. “Jangan gila, Lex! Di dunia ini bukan hanya lo yang kehilangan! Gue memang belum pernah kehilangan orang tua, tapi hidup harus terus berjalan!”

"It’s easy for you to say you’ve let go. But you haven’t really moved on from the past, have you, Nuga?"

“Kenapa jadi bawa-bawa Nuga sih?” keluh Arga. “Lo pikir gue nggak berusaha buat ikhlas? Buat merelakan Ellia dan Candra bahagia? Kalau gue nggak berusaha, sudah pasti gue nggak begini. Sudah gue obrak-abrik kehidupan mereka. Tapi gue masih waras.”

Lexi meremas rumput di sampingnya. “Kehilangan pasangan dan kehilangan orang tua itu beda, Ga.”

“Memang. Nggak ada yang bilang sama.” Arga menyandarkan punggungnya ke batang pohon kokoh di belakangnya. Pandangannya lurus ke arah kegelapan di depannya. Cahaya api unggun sangat terbatas. “Tapi bukankah semua manusia memang membawa lukanya masing-masing?”

Lexi memakan lagi buah mirip beri itu. “Memang sedalam itukah perasaanmu pada Ellia?”

Arga menoleh, mengangguk sangat lemah. “Dia hidup gue.” Tawanya pecah, kering dan kosong. “Buat orang yang sering jatuh cinta mungkin akan menganggap gue gila, tapi sayangnya, gue merasa Ellia itu seperti –“

“Nadi.” Lexi menyambung ucapan Arga, persis seperti dialog dalam buku yang pria itu berikan. “Kamu bilang, dia nadimu. Kamu bilang, dia napasmu. Kamu bilang, dia detak jantungmu. Karena itu kamu merelakannya bersama Candra. Bukan karena kamu lemah, melainkan karena kamu sadar Ellia akan mati tanpa mataharinya.”


Other Stories
Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Ijr

hrj ...

Download Titik & Koma