19. Banyak Penulis Sebenarnya Tidak Bisa Menjalani Apa Yang Mereka Tulis, Jadi Jangan Mudah Tertipu
Setelah seharian mengedit konten menggunakan gawai, Arga yang kehabisan baterai memutuskan untuk meminta bantuan isi daya sebentar ke warung tempat dia dan rombongan makan siang. Dan berhubung perjalanan masih panjang, pria yang kini dibungkus jaket kotor dan sedikit apek karena tidak dicuci sejak meninggalkan penginapan itu memutuskan untuk membuang semua sari pati kehidupan, menumpang ke kamar mandi yang antreannya mengular saking banyaknya orang yang menunggu giliran.
“..., sudah pernah ke Kawah Ijen sebelumnya?”
Obrolan orang di antrean sebelah membuat Arga menoleh, meski tidak berniat menyahut.
Seorang pria paruh baya yang sepertinya warga lokal, atau pekerja di rumah makan tersebut bertanya pada Lebas dan Revon, yang tampak menikmati proses beramah-tamah. Energi keduanya sangat besar. Berbeda dengan Arga, yang jangankan mengobrol, untuk berdiri saja sudah kewalahan. Dia ingin sekali bisa cepat kembali ke penginapan, mandi dengan air hangat lalu tidur di atas kasur, bukan lagi ruang seadanya beralas terpal seperti beberapa hari terakhir.
“Belum, Pak,” jawab Lebas sembari memamerkan lesung pipinya yang dalam.
“Tapi kalau naik gunung lain, pernah, kan?” tanya si Bapak, lagi.
Giliran Revon yang merespons. “Kalau saya lumayan sering, Pak.”
Si Bapak manggut-manggut. “Mendaki ya seperti itu, yang sudah kita semua tahu ..., jaga alam, jaga sopan santun. Jangan bicara sembarangan apalagi kotor, dan jangan pernah mengambil apa pun yang bukan hak kita,” lanjutnya mendapat anggukan kompak dari kedua pria muda tersebut. “Dan satu lagi, gunung bukanlah tempat untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Alih-alih saling adu kekuatan, lebih baik kesempatan ini kalian gunakan untuk merenung. Apalagi kemarin sudah ke pantai, tho?”
“Iya, Pak.”
“Jujur saja, sejak pandemi kondisi pariwisata menjadi lesu,” ungkap si Bapak, air mukanya berubah pedih. “Semoga saja dengan adanya program ini nanti, dan setelah Covid berakhir, kita bisa kembali pulih ya, Mas. Bukan hanya pariwisatanya, tetapi juga manusianya.”
“Amin.”
“Amin, Pak.”
Lebas dan Revon kompak menjawab, tak lupa mengusap wajah lelah mereka dengan kedua tangan, penuh harap.
“Omong-omong soal pantai, kalian ke mana saja kemarin?” Pria lain muncul, bergabung dengan antrean. Kepalanya yang plontos mencolok diterpa sinar matahari siang yang mengarah langsung ke permukaan kulit tanpa anak rambut itu. “Senang tidak di Banyuwangi?”
“Senang dong, Pak.”
“Sangat senang, malah.” Lebas mengulas senyum, lebar. “Alam Banyuwangi masih banyak yang asri, indah dan menakjubkan. Tidak menyangka kalau Indonesia ternyata sekaya ini.”
“Apalagi untuk berselancar,” sahut Revon, matanya berbinar-binar. “Baru tahu kalau kita punya tempat berselancar sekeren itu. Saya sampai ketagihan. Kapan-kapan, setelah semua ini berakhir, saya pasti akan balik lagi.”
Seingat Arga, Revon memang merupakan satu dari sedikit peserta yang berani menantang ombak kemarin. Dan kemampuannya cukup bagus meski tidak seepik Djaya dan Lexi.
Omong-omong Lexi, persis ketika bayangan gadis itu muncul di kepalanya, Arga buru-buru menepis. Sudah cukup! Arga tidak mau gila dibuatnya. Semua terlalu mengada-ada, apalagi setelah mimpi tak masuk akalnya tempo hari.
Arga bergidik ngeri.
“Itulah indahnya Plengkung.” Si Pria Botak menambahkan, “Bukan hanya kaya secara alam, tetapi juga spiritual.” Dia menatap bukan hanya Revon dan Lebas, tetapi juga Arga dengan serius. “Apa kalian mengalami pengalaman aneh selama di sana?”
Yang saking kagetnya langsung Arga jawab dengan gelengan, bahkan sebelum kedua rekannya menjawab.
Si Bapak berperut buncit menjelaskan, “Bukan apa-apa. Tapi pada zaman dahulu kawasan yang kalian kunjungi itu sering dijadikan tempat orang bertirakat. Intinya, selama kalian tidak aneh-aneh, semuanya pasti aman.”
“Aman?” Arga yang sejak tadi bungkam, akhirnya mengeluarkan kata dari mulutnya.
“Nggak dapat gangguan mistis, maksudnya.” Lebas menjelaskan, agak ketus seolah Arga dibuat merasa bodoh.
Namun, Arga tidak bicara pada pemuda itu. Perhatiannya masih ditujukan pada kedua pria paruh baya di hadapannya. “Eh, memang pengalaman yang biasa dirasakan orang-orang di sana itu apa ya, Pak?”
“Macam-macam, Mas. Kadang mendengar suara gamelan, melihat sosok –kasarnya penampakan sampai dibuat tersesat.”
“Tersesat?” tanya Arga, lagi.
Si Bapak Perut Buncit mengangguk. “Benar. Tapi di sesatkan di sini tidak selalu dalam artian buruk kok. Ada juga yang sengaja disesatkan karena kepalanya terlalu penuh.”
“Bisa dibilang, mereka yang ada di sini membantu orang-orang tersebut untuk membersihkan diri agar tidak membawa energi negatif ke kawasan sakral. Ya, Pak Yanto?”
Pria botak yang ternyata bernama Yanto itu pun mengangguk. “Benar, Pak Jainal.”
♥♥♥
Apakah dia sedang dibersihkan?
Yang jelas apa yang terjadi kemarin terang-terangan telah menyentil sisi terdalam Arga bukan hanya sebagai seorang pria, tetapi juga manusia secara utuh. Maka, di sisa perjalanan dari Licin menuju Paltidung, dia tidak berhenti mengulas senyum seraya menikmati pemandangan di luar mobil dengan penuh kekaguman, sesuatu yang jelas-jelas tidak bisa dia lihat saat pertama kali memulai perjalanan bersama rombongan.
Arga bahkan membiarkan Lexi –yang kini duduk di sebelahnya –tertidur, dan menyandarkan kepala di bahunya. Bukan apa, ini semata-mata menghargai sesama manusia, kawan se-perjalanan sekaligus rekan satu tim. Arga paham, atau lebih tepatnya mencoba memaklumi betapa perjalanan kemarin telah menguras energi gadis berdarah campuran tersebut.
Mata Lexi yang beriris abu-abu terpejam, napasnya juga tenang. Sementara tubuhnya mengeluarkan sisa aroma angin laut, yang juga bisa Arga dapatkan dari kulitnya sendiri.
Udara dataran rendah yang sebelumnya hangat, kini perlahan berganti dengan suasana pegunungan yang lebih dingin, tetapi tidak menusuk. Cukup untuk memberi Arga, yang memang terbiasa dengan panasnya ibu kota, dan baru saja kembali dari teriknya pantai, perlu mengenakan jaket.
Terakhir kali Arga mendaki adalah saat usianya baru dua puluh tahun, itu berarti sepuluh tahun yang lalu. Itu pun bukan atas keinginan pribadi, melainkan dipaksa setengah mati oleh Rangga dan Ferdi, yang memang hobi mendaki. Ke Gunung Papandayan. Dan tidak sama seperti pendakian sebelumnya, suasana di sini jauh lebih—bisa dibilang mistis. Entah karena memang begini adanya, atau dampak pandemi Covid.
“Ga!” Suara Merida yang duduk di sebelah Lexi membuat Arga sedikit melongokkan kepalanya, lalu dilihatnya si perempuan yang kini rambutnya ditutupi kupluk merah menyala itu memberinya sebungkus permen jahe. “Mau?”
Sebagai satu dari sedikit orang yang masih berjaga di dalam mobil, Arga menerima tawaran itu. Sesuatu hal asing, belum pernah dan agaknya tak bakal dilakukan oleh Arga versi sebelumnya. “Terima kasih –eh, siapa namamu?”
“Hah?” Mata Merida agak membulat, tapi gadis itu maklum. “Merida. Gue Merida. Panggil saja Meri atau Rida.”
Arga tersenyum kikuk, tak enak. “Sorry, gue –“
“Nggak apa-apa kok. Gue kadang juga sering lupa nama orang,” kata Merida, yang tampak jelas kalau dia sedang mencoba menjaga perasaan Arga agar tidak terlalu malu. “Omong-omong, lo punya paket internet, nggak? Paket gue habis. Mau buka aplikasi ..., nggak bisa.”
Tidak langsung menjawab, Arga menatap perempuan itu dalam, menganalisis apakah dia akan memberinya bantuan atau tidak. Akan tetapi, sadar bahwa Merida butuh dan akan sangat kecewa serta malu bila ditolak, Arga akhirnya mengangguk. “Ya sudah, nggak apa-apa,” jawabnya seraya membuka tas pinggang, mengeluarkan gawai yang ternyata baru dia sadari belum dinyalakan sejak dari warung tempat mereka maka siang tadi.
Aneh. Arga sendiri tidak tahu kenapa dia mau menolong, terlebih Merida dan semua orang di mobil yang sekarang mereka naiki, juga di bus besar yang sekarang di parkir di bawah, tidak seorang pun punya ikatan emosional dengannya.
♥♥♥
“Bukan siapa-siapa?” Ucapan sinis itu biasanya akan dikatakan oleh teman-temannya. “Ya ampun, Mas. Di dunia ini nggak ada yang ujug-ujug jadi sahabat atau keluarga. Semua perlu melewati masa menjadi ..., orang asing dulu sebelum dekat.”
“Ada kok!” Rian yang biasanya akan membela tapi sebelum bibir Arga mengembangkan senyum, dia akan terlebih dahulu melanjutkan dengan, “Kecuali kalian saudara kandung.”
“Saudara kandung pun tetap butuh penyesuaian.” Rangga meralat.
“Yang nggak perlu kayaknya cuma saudara kembar identik ya, Mas?” tanya Ferdi dengan air muka serius. Yang langsung dijawab anggukan tak kalah meyakinkan oleh Rangga, akan tetapi detik berikutnya kedua manusia yang pada waktu itu masih remaja tersebut buru-buru menatap Arga, lagi. “Padahal ya, Mas, kalau kita baik ke orang lain, maka kebaikan akan lebih mudah datang ke kita.”
Rangga menepuk-nepuk bahu Ferdi, bangga.
“Perasaan yang penulis gue deh, Fer. Kenapa malah lo yang sok bijak.”
“Karena Ferdi beneran bijak,” bela Rangga. “Nggak kayak lo, pintarnya cuma di atas kertas. Kenyataannya? Nol besar.”
Other Stories
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Kk
jjj ...
Membabi Buta
Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...
Aku Versi Nanti
Mikha, mahasiswa design semester 7 yang sedang menjalani program magang di sebuah Agency t ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...