(bukan) Tentang Kita

Reads
908
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

21.

Apakah Kita dikutuk? Tapi Kenapa Alam Suka Banget Mengutuk Manusia yang Baik-baik Saja? Kenapa Mereka Nggak Mengutuk Saja Para Perusak Alam Ilegal yang Jahat Pada Lingkungan? Dasar Alam! Pilih Kasih

“Awas kesambet lho! Melamun melulu!”

Kedatangan Djaya membuat lamunan Lexi buyar. Lalu, tanpa aba-aba pria berambut gondrong berjaket cokelat tersebut duduk di kursi kayu persis di sebelah Lexi. Ikut menikmati udara sore di penginapan tempat mereka beristirahat sebelum memulai pendakian esok hari.

Tidak seperti penginapan utama yang terbagi atas kamar-kamar kecil, ini merupakan rumah yang disewakan.

Namun, karena itu juga para peserta bisa lebih bersantai, meskipun artinya mereka tak bisa dapat kamar pribadi. Paling tidak, tubuh yang lelah karena berhari-hari tidur beralaskan terpal di atas tanah berpasir tersebut kini bisa bertemu dengan kasur sebelum melanjutkan perjalanan berat dini hari nanti.

“Bagaimana rasanya?” Djaya kembali bertanya, matanya melirik ke arah secangkir kopi di atas meja.

Lexi menjawab, “Enak. Mau?”

Djaya tertawa, renyah. “Nggak. Sudah. Itu kopi punyaku di ruang tamu.” Akan tetapi, detik berikutnya tawanya hilang, digantikan pertanyaan serius. “Aku perhatikan, beberapa hari belakangan ini kamu sepertinya kurang fokus. Kenapa?”

“Benarkah? Aku tidak merasa begitu!” sangkal Lexi. “Aku benar-benar menikmati perjalanan ini. Serius.” Dia memamerkan kedua telunjuk dan jari tengahnya, membentuk huruf V.

Sambil mengeluarkan sebatang tembakau dari saku, Djaya berkata, “Mungkin hanya perasaanku saja.”

“Sepertinya begitu.” Lexi mengamini.

Djaya mengisap nikotin, memainkannya di mulut sebelum dilepas ke udara lewat hidung. “Lex, kalau dia macam-macam padamu, atau membuatmu merasa buruk, jangan diam saja.”

“Maksudmu?” Lexi menautkan alis, tak paham.

“Jangan berpura-pura tidak tahu.” Djaya kembali menikmati rokoknya. “Tidak semua orang di tempat ini bisa ditipu oleh ..., tenang saja! Kalaupun di tempat ini tak ada yang memercayaimu, aku akan tetap mendukungmu.”

“Apakah yang kamu maksud adalah Arga?”

Tanpa kata, tatapan Djaya cukup memberi jawaban.

Yang sontak membuat Lexi tertawa kecil. “Tenang saja! Dia memang sedikit,” dia menempelkan telunjuk dan jempol kanannya, tetapi masih memberi jarak yang nyaris tak terlihat, “Sedikit menyebalkan. Tapi tidak sampai mengganggu. Toh, dia sudah banyak berubah dari hari ke hari.”

“Benarkah?”

Namun, belum sempat Lexi menjawab tiba-tiba saja suara Arga terdengar dari balik pintu. Pria yang hanya mengenakan kaos lengan panjang dan celana batik tipis itu tergopoh-gopoh, memanggil-manggil nama Lexi. Panik.

“Kenapa, Ga?”

“Ada yang harus kita bicarakan.”

“Apa?” Bukan hanya Lexi, Djaya ikut bertanya. Persis. Bersamaan.

Yang langsung membuat kepanikan Arga berganti tatapan tak nyaman. “Berdua. Gue butuh ngobrol berdua.”

“Kenapa nggak di sini saja?”

“Kenapa jadi lo yang sewot?” balas Arga, ketus. “Ayo, ikut gue! Penting!” Lalu, dia meraih tangan Lexi dan membawanya berlari kecil menjauhi Djaya, yang terang memberi tatapan tak kalah tajam. Hanya pada Arga.

♥♥♥

“Maafkan Arga ya, Ma. Selama ini Arga belum bisa jadi anak yang baik buat Mama dan Papa. Arga punya banyak salah, suka melawan dan kadang bikin kalian kecewa.

“Harusnya Arga nggak pergi begitu saja. Harusnya Arga mendengarkan semua perkataan Mama. Tapi ..., Arga benar-benar nggak menyangka kalau akhirnya akan menjadi seperti ini.” Rekaman terjeda, berganti dengan isak tangis si pemilik suara. “Arga sudah nggak kuat, Ma. Sebentar lagi Arga akan meninggal.

“Arga takut, Ma. Arga takut mati. Arga takut nggak bisa ketemu Mama lagi. Arga ingin memeluk Mama sekali lagi.” Terdengar suara ingus di sedot kasar, tanda bahwa yang bicara sedang menangis hebat, lengkap dengan isak yang begitu pilu. “Arga benar-benar minta ampun. Ampuni Arga ya, Ma. Arga sayang banget sama Mama.

“Dan ..., dan kalau nanti mayat Arga nggak bisa ditemukan –tolong nggak usah dicari ya, Ma. Daripada buang-buang uang, kan? Mending uangnya buat Mama saja. Buat Mama buka umrah kek, buat –oh satu lagi, surat mobil dan apartemen Arga ada di lemari. Terus untuk pin ATM dan segala macamnya ada di buku catatan kecil di tas yang Arga taruh di lemari kecil dekat meja TV.

“Arga benar-benar minta maaf. I love you.” Sekali lagi, si perekam terisak, tetapi kali itu sembari menahan napasnya supaya tidak semakin sesak.

Klik.

Lexi hanya bisa melongo saat mendengar rekaman yang ditunjukkan oleh pria di hadapannya. Jelas. Jernih. Dan dia ingat betul kalimat itu persis sebagaimana yang diambil oleh Arga di dalam mimpinya?

Tapi, bagaimana bisa? Bukankah semua itu –apakah ini artinya apa yang dia lalui kemarin benar-benar terjadi? Dan bukan sekadar imajinasi atau imajinasi?

Tak cuma Lexi, Arga yang dua jam lalu disemprot sang Mama karena dianggap membuat orang tua cemas dan nyaris jantungan di telepon pun ikut bergeming, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar.

“Jadi –“ Lexi sengaja tidak melanjutkan kata-katanya, lebih tepatnya tak tahu kalimat apa yang cocok untuk menyambung, tapi itu cukup untuk membuat lawan bicaranya mengerti.

Arga mengangguk sembari menelan ludah kasar. “Ini terlalu gila.”

“Bukan gila lagi, tapi tidak masuk akal,” timpal Lexi sembari menjatuhkan bokongnya ke atas kursi kayu yang persis berada tak jauh dari posisi awal dia berada.

♥♥♥

“Apa kamu berpikir kita sedang dikutuk?”

Pertanyaan Lexi membuat Arga yang tampak frustrasi menoleh sebentar, sebelum menjawab ala kadarnya menggunakan gelengan kecil. Kalau saja pertanyaan itu Lexi ajukan sebelum dia menerima salinan rekaman yang dia kirimkan kepada sang Mama, Arga sudah pasti dengan percaya diri akan menjawab, bahwa tidak ada yang nama kutukan di dunia ini. Hal mistis yang ada di bumi cuma karangan dukun supaya bisa mendapat uang dari orang-orang bodoh dan konyol yang rela merogoh kocek demi mendengar ocehan penderita skizofernia. Tapi masalahnya ini benar suaranya.

“Atau jangan-jangan ini editan?”

Beda dengan sebelumnya, pernyataan Lexi kali itu segera membuat Arga menoleh. “Ya kali? Jangankan mengedit suara, membedakan suara mesin pencari dan suara manusia asli saja dia nggak bisa.”

“Ya maaf. Terus, bagaimana?”

“Apanya?”

“Kita.”

“Kita, apa?”

Lexi terdiam, tak kalah bingung. Arga benar, memang mereka harus apa? Toh semua sudah telanjur terjadi. Dan mereka juga tidak mati. “Apa ini artinya kamu mau kita melupakan semua pengalaman spiritual kemarin begitu saja? Maksud aku, kamu tidak penasaran mengapa itu bisa terjadi? Kamu sungguh tidak mau mencari tahu misteri di baliknya?”

Bohong kalau Arga bilang tidak. Karena jujur saja, dia sangat penasaran mengapa sosok yang menemuinya justru sahabatnya sendiri? Bukan orang yang sudah mati seperti yang dialami oleh Lexi? Mungkinkah rasa bersalahnya kepada Rian telah membuatnya jatuh begitu dalam?

Sudah tentu, Arga paham mencintai Bella adalah kesalahan. Dan dia pun ingin sekali berhenti andaikan bisa. Sayangnya, cinta tidak punya rem. Cinta datang begitu saja, menggerogoti seluruh jiwanya secara membabi-buta. Akan tetapi, dari semua itu, yang paling merobek perasaan Arga ialah fakta bahwa Rian merupakan salah satu manusia, sahabatnya, yang dia sayangi sebagaimana adik kandungnya sendiri, dan selalu berdiri di belakangnya.

Bahkan di telepon beberapa jam lalu saja, Rian masih sempat menasihatinya. “Gue nggak tahu masalah apa yang lo hadapi, tapi tenang saja. Nggak usah takut apalagi sampai kepikiran mati. Orang akan mati kalau sudah waktunya. Orang akan dapat jodoh kalau sudah waktunya. Takdir nggak bisa diburu-buru.”

“Kayak orang benar saja lo, Ian!” Seperti biasa, sebagai orang paling tua di antara kawan-kawannya, meski setuju Arga akan bersikap seolah ketiga pria di seberang telepon terlalu sok tahu dibanding dirinya.

“Dibilangi juga!” Rian bersikeras, mencoba meyakinkan. Sementara Ferdi dan Rangga tertawa cekikikan, karena bisa-biasanya Rian termakan umpan Arga. “Daripada lo ngirim rekaman nggak masuk akal kayak tadi dan bikin Bu Ima jantungan, mending lo habiskan waktu buat hal bermanfaat.”

“Misalnya?” sahut Rangga.

“Ngga, bisa diam nggak lo! Jadi nggak serius ini nanti,” keluh Rian. “Gue ngomong begini bukan karena gue merasa paling ngerti, paling oke atau apalah. Tapi karena gue peduli. Gue nggak mau di antara kita ada yang mati konyol, apalagi gara-gara bunuh diri.”

“Idih! Sekarang lo bisa ngomong begitu.”

Rian memasang senyuman kecut. “Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Nggak bisa disama-samakan. Manusia berubah.”

“Bisa saja Mas Rian.” Ferdi ikut tertawa, kepalanya menggeleng-geleng pelan.

Rian menegakkan bahu. “Tapi serius, Mas Arga. Gue ngomong begini karena gue sayang sama lo.”

“Ih, jijik banget. Sori, gue bukan gay.”

Rian langsung mengangkat bantal sofa di depannya, mengarahkan ke kamera seolah siap menimpuk si lawan bicara. “Untung jauh, dekat sudah gue bikin perkedel lo ya. Anjing.”

“Ayah!” Suara Daniar membuat keempatnya terdiam. Gadis mungil itu muncul lagi, membawa botol air yang isinya tinggal setengah, lalu menggerakkan telunjuk kanannya ke udara. “No! No! Idak boleh omong anjing te manucia!”

Rian melirik sebentar ke layar ponselnya, lalu meraih tubuh putrinya untuk dipangku. “Oh iya. Ayah lupa. Maaf ya, Cantik.”

“Heeh. Ia maafkan.”

“Oh, terima kasih.” Rian mencium pipi tembam Daniar, gemas. “Maaf ya, Om Arga. Ayah nggak maksud bilang begitu,” lanjutnya menggunakan bahasa bayi. “Ayah janji nggak ngomong begitu lagi deh. Ya, Niar?”


Other Stories
Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Di Luar Rencana

Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...

7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Download Titik & Koma