(bukan) Tentang Kita

Reads
871
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

22.

Manusia Selalu Penuh Tanda Tanya, Kenapa?

“Kalau kehidupan kedua ada, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan menjelang detik kematian tersebut kembali datang di kepala Arga, menghantui malam panjang yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat sebelum dini hari nanti menyongsong pendakian ke puncak Ijen. Akan tetapi, bahkan setelah jam di dinding menunjukkan pukul setengah sebelas malam, matanya tak kunjung bisa dipejamkan, terlebih suara dengkuran Revon di ranjang sebelah benar-benar mengganggu, jauh lebih berisik ketimbang rengekan serangga dan binatang malam di hutan di luar penginapan, sampai-sampai Arga harus menyumpal wajah dan telinganya menggunakan bantal.

Sayangnya, bukan itu masalah utamanya. Melainkan fakta bahwa apa yang dia bicarakan dengan Lexi, perempuan itu memang rekan perjalanannya tetapi mereka tetap saja orang asing, dan Arga sudah terlalu banyak bercerita kepada gadis itu. Padahal sebagai orang dewasa dia harus bisa mengontrol diri ..., dan mulutnya.

“Kamu tidak penasaran rasanya berciuman?” Entah karena efek buah beri yang mereka telan atau bagaimana, pertanyaan itu keluar dari mulut Lexi, yang sontak membuat Arga menoleh, lebih tepatnya melirik menggunakan ekor matanya, sebab leher dan kepalanya sudah nyaris tak bisa digerakkan, sama sekali. “Maksudku, kamu akan mati sebagai orang ..., suci?”

“Kita hampir mati dan lo masih punya tenaga membahas hal begituan?” Arga mendengkus seraya mencoba menggerakkan ujung jarinya yang mulai kaku. “Ayolah, kita sebentar lagi dipanggang di neraka.”

Lexi berdecih, menggerakkan ujung kakinya seolah hendak menendang tubuh Arga yang memang ada tak jauh dari kaki kanannya. “Kamu percaya surga dan neraka juga ternyata.”

“Tentu saja. Gue menghabiskan lima belas tahun awal hidup untuk mempelajari agama setiap sore!” Arga membela diri. “Meskipun nggak alim-alim banget, tapi paling nggak gue masih tahu batasan. Gue cukup sadar betapa menyedihkannya hidup –“ Dia berhenti, matanya terpejam dan memberi kesempatan paru-parunya untuk mengambil udara sebanyak yang dia bisa. Dadanya mulai sesak. “Kenapa? Lo mau cium gue?”

“Kenapa mendadak tanya begitu?” Giliran Lexi yang tertawa. “Betulan tidak mau mati sia-sia kah?”

Arga lagi dan lagi tertawa, racun di dalam tubuhnya memberi reaksi seolah dia adalah orang gila. Dua manusia tak waras di tengah halusinasi akan kematian. “Gue merasa kosong sekarang. Jauh lebih kosong dari sebelumnya.”

“Aku mau!” seru Lexi. “Tapi sayangnya, tubuhku terlalu kaku untuk digerakkan.” Yang terakhir jelas sekali hanya candaan, karena setelahnya mereka kompak tertawa meski tidak sekeras sebelumnya, menandakan tubuh keduanya semakin melemah. “Aku diadopsi.”

“Hah?”

Mata Lexi memerah, meski tak yakin gadis itu menangis tetapi Arga bisa merasakannya dari suara serak yang dia keluarkan. “Mom dan Dad mengajarkanku tentang cinta. Bahwa cinta sejati tidak lahir dengan alasan, tetapi di sisi lain tidak juga tanpa alasan.”

♥♥♥

Setelah diangkut menggunakan minibus ke Paltidung sekitar tengah malam, rombongan akhirnya bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pos 1. Tempat di mana pepohonan pinus berdiri di kanan dan kiri jalur pendakian, yang tidak begitu curam tetapi sudah cukup untuk memberi tekanan bagi mereka, meskipun jalurnya tentu jauh lebih mudah ketimbang yang harus mereka lalui di dalam hutan tempo hari.

Setidaknya jalurnya sudah ditentukan, tidak perlu membuat jalur baru. Pun tampak sangat jelas berbedaan tempat yang pernah dan belum pernah dijamah peradaban, walau pandemi telah membuat banyak orang urung mendaki.

“Biasanya jalur ini jauh lebih ramai dari ini,” ujar Mbak Mawar, memberi penjelasan kepada para peserta yang jalan beriringan dan hanya menggunakan lampu tempel di kepala sebagai penerangan.

Udara dingin menembus jaket tebal mereka, membuat uap air tampak keluar dari deru napas mereka masing-masing, terlebih setelah sampai di Pos 1 dan harus melanjutkan ke jalur yang lebih menanjak. Tubuh semakin lelah, udara semakin dingin, gelap dan sunyi. Pun aroma belerang, dan suara sibuk penambangan terdengar jelas dari kejauhan, menyambut kedatangan mereka.

Meski belum bicara lagi sejak sore tadi, Arga tidak berhenti memperhatikan langkah Lexi. Tak seperti di hutan kemarin yang penuh semangat dan banyak bicara, malam itu Lexi jauh lebih banyak diam. Sesekali dia menggosok kedua permukaan tangannya, mencoba menghangatkan diri. Akan tetapi, dia sunyi. Tak satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Mungkinkah Lexi sama malunya dengan dirinya?

Arga tidak tahu pasti.

Sementara itu, Lexi yang merasa ngos-ngosan justru mempercepat langkah. Dia merasa dunianya hancur terlebih setelah mendapat pesan dari sang bibi dua jam sebelumnya, “Mamamu masuk rumah sakit. Kondisinya jauh lebih buruk dari yang bisa kita perkirakan.”

♥♥♥

Jalur paling curam ialah dari Pos 2 menuju Puncak Bibir Kawah. Selain berbatu, asap dari belerang membuat para peserta harus menutup hidung dengan masker. Akan tetapi, kemerlip lampu para penambang di kejauhan yang diadu dengan gelapnya malam telah menciptakan lukisan luar biasa.

Beberapa peserta memutuskan untuk turun ke dasar kawah guna melihat keindahan api biru, tetapi beberapa memutuskan diam di puncak. Untuk Arga sendiri seperti biasa tidak punya cukup banyak energi, sebab untuk tiba di puncak saja rasanya sudah luar biasa.

“Tumben nggak ikut?” tanya Arga setelah lama menimbang, memberanikan diri untuk menghampiri Lexi yang menatap kawah dengan penuh kepedihan.

Gadis itu menoleh, menatapnya menggunakan senyuman yang dipaksakan. “Sedang tidak ingin saja.”

“Biasanya lo suka tantangan.”

“Kita bukan kucing. Tidak ada sembilan nyawa. Ingat?”

Arga mengangguk, setuju. “Jadi, kenapa? Ada yang bisa gue bantu?”

“Kamu? Bantu aku?” Lexi mengerutkan kening, kaget. “Apakah sihir hutan sudah membuat kepalamu berubah?”

“Gue serius, Lex.”

Lexi menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan lewat mulut. “Terlalu banyak yang aku takutkan, Ga.” Dia memeluk tubuhnya sendiri, menyilangkan kedua tangan di dada. “Apa menurutmu aku perlu menemui ibu kandungku?”

“Untuk mewujudkan wasiat mendiang ayahmu?”

“Entahlah –“

“Kalau tujuan lo hanya itu, mending jangan. Karena akan percuma. Malah mungkin memperburuk keadaan,” terang Arga. “Tapi kalau tujuan lo adalah untuk menyelesaikan masa lalu, untuk diri lo sendiri, kenapa tidak?”

Tanpa disangka, Lexi yang sebelumnya diam mendadak merengkuh tubuh Arga. Gadis itu memeluk Arga, menempelkan kepalanya di dada pria berjaket tebal itu penuh kehangatan. “Makasih ya, Ga.”

Kaget. Bingung. Tidak tahu harus bagaimana.

Arga membatu.

Namun, sebelum dia berhasil memberi reaksi apa pun, Lexi telanjur melepaskan pelukannya. Lalu, menarik Arga untuk melihat matahari terbit.

“Lihat! Di sana!” Seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya, Lexi tersenyum lebar sembari menunjuk arah sang fajar. “Tolong fotokan aku. Aku akan mengirimkannya ke Mom. Dia pasti akan sangat senang melihatku.”

Tak mau membuang momen, Arga menyalakan kameranya. Membidik Lexi, yang tanpa aba-aba malah memaksanya ikut ke dalam frame. “Apa-apaan?”

“Tidak apa-apa. Sekali saja. Cheese!

♥♥♥

Matahari sudah benar-benar tinggi saat mereka kembali tiba di penginapan. Setelah mandi, makan dan mengemas kembali barang-barang bawaannya, mereka bersiap masuk ke dalam bus untuk pulang ke penginapan utama.

Setidaknya, perlu bagi mereka untuk mengistirahatkan tubuh barang sehari sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya. Pun para peserta juga butuh otak yang segar untuk mengolah data dan segala macam inspirasi yang telah dikumpulkan beberapa hari belakangan ini.

Jika sebelumnya tak saling menyapa, siang itu Arga membalas lambaian tangan Lexi persis sebelum keduanya berpisah di teras kamar masing-masing.

Setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam bungalow-nya, barulah Arga masuk ke kamar istirahatnya. Melempar jaket dan pakaian kotor ke pojok ruangan, kemudian melompat ke atas kasur. 


Other Stories
Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini

Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...

Final Call

Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan

Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...

Nala

Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...

Download Titik & Koma