(bukan) Tentang Kita

Reads
868
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

23.

Orang Kalau Sudah Jatuh Cinta, Pasti Gila. Kalau Kamu Jatuh Cinta tapi Belum Gila, Maka Jelas Kamu Belum Sampai di Fase Jatuh, Baru Cinta Doang

Satu-satunya yang Nuga sadari saat jatuh ke dalam jurang cinta ialah ada terlalu banyak kupu-kupu di perutnya. Yang semakin hari kian membesar, membuat tubuhnya menjadi inang sempurna bagi makhluk mematikan bernama cinta. Yang bahkan setelah lima belas tahun lamanya tidak bisa dia pecahkan.

Jangankan menjawab teka-teki, mengenal dengan pasti cinta itu sendiri saja dia tidak benar-benar bisa melakukannya. Yang dia tahu, dia mencintai Ellia. Hanya itu.

“Gue kurang setuju sih sama pernyataan ini!” Rian remaja menutup draf naskah novel ke delapan Arga, yang baru saja dikirimkan oleh penerbit siang itu dengan kasar, lalu menoleh ke sisi lain sofa, tempat Arga tegah duduk sembari memangku laptop abu-abu kesayangannya.

“Kenapa?” Rangga di depan televisi menyahut, mulutnya dipenuhi popcorn pedas yang Arga beli sebelum pulang dari bioskop. “Romantis kok.”

“Romantis dari mananya, Ngga!” Rian melompat, merebut wadah popcorn dari tangan pria berdarah Jawa, Betawi dan Belanda itu. Beruntung, Rangga dengan cepat mengamankan makanannya, tidak memberi kesempatan sama sekali pada Rian untuk mengambil barang secuil. “Ya Allah, pelit banget lo. Gue doain kuburan lo sempit.”

“Bodo!” jawab Rangga pelan, meledek. “Sudah sana! Minggir! Ganggu orang nonton saja.”

Rian melipat bibir, kesal. “Muka doang bule, tontonan Mahabharata.”

“Ya kenapa memangnya? Masalah buat ente?” Rangga yang tidak terima memelototkan mata besarnya. “Mau gue nonton Mahabharata kek, Naruto kek ..., suka-suka gue. Mas Arga saja yang punya tivi nggak protes. Kenapa jadi lo yang protes?”

“Memang salahnya di mana?”

Pertanyaan Arga membuat Rian yang tadinya kesal dan bersiap menimpuk Rangga dengan bantalan sofa mengurungkan niat, kemudian meraih kembali buku bersampul putih di atas meja. “Bagaimana ya? Gue merasa apa yang dilakukan Nuga terlalu ..., tidak realistis.”

“Maksudnya?”

“Sebagai cowok, dia harusnya nggak sepecundang itu. Kalau memang dia suka sama Ellia, kenapa diam saja?” kata Rian, kesal. “Lembek banget jadi cowok.”

“Bukan lembek, Ian.” Ranggalah yang menjawab. “Masalahnya, kan lo tahu kalau Candra juga suka sama Ellia.”

“Terus? Cuma gara-gara Candra juga suka, si Nuga langsung nyerah begitu saja? Hello!” Rian memutar bola matanya, muak. “Siapa bisa suka sama siapa pun, termasuk mereka berdua ke Ellia. Toh, kan si Candra juga belum tentu diterima sama Ellia.”

Arga menutup layar laptopnya. “Jadi, menurut lo karakter Nuga harusnya dibuat lebih berani dan terang-terangan tentang perasaannya ke Ellia? Begitu?”

“Yup!” Rian mengangguk, tanpa tahu siapa yang sebenarnya mereka bahas. “Ngomong dulu. Perkara diterima atau nggak, itu belakangan. Kayak gue dong –i love you, Bella.”

Ucapan Rian membuat kedua kawannya ikut menoleh ke arah jendela, tempat Bella yang baru saja keluar dari ruang laundry berada. Di tangan Bella terdapat keranjang besar berisi pakaian kering yang siap disetrika.

“Mau dibantu, nggak?”

Bella yang tampaknya sudah sangat muak menjawab singkat, “Nggak usah.”

Yang langsung membuat tawa Rangga dan Arga meledak bersamaan. Akibatnya, bibir Rian yang sebelumnya dihiasi senyuman sangat lebar mendadak cemberut, lebih maju dari sebelumnya. Kesal, bukan main.

“Ian!” panggil Rangga. “Dengarkan gue! Berani sama nggak punya malu itu bedanya tipis banget.”

♥♥♥

“Kalau masih punya malu berarti belum benar-benar cinta.” Ucapan Cecillia langsung membuatnya mendapat sorakan dari para gadis, yang malam itu berkumpul di gazebo selepas makan malam, selagi menunggu acara selanjutnya yang rencananya baru akan diadakan setelah isya.

Tak mau kalah, Kamala yang duduk di sebelah gadis berwajah oriental itu buru-buru menambahkan, “Tapi memang benar nggak sih? Kalau masih belum totalitas, belum berani keluar dari topeng ..., itu artinya kita masih memberi jarak pada orang tersebut, yang artinya lagi, kita belum se-percaya itu kepada mereka.”

“Of course!” sahut Nina. “Itulah gue setuju sama pendapat Kak Sabrina tadi. Jadi perempuan nggak mudah, makanya kita nggak boleh terlalu percaya menampakkan diri di hadapan laki-laki.”

“Tapi bukan berarti boleh fake juga.” Lexi yang sejak tadi diam memakan camilan yang disediakan Bu Galuh sebagai pendamping acara, seharusnya. Dan telah ditata di dalam piring-piring kecil, ditemani es buah dan air minum gelasan.

Merina mengangguk, setuju. “Ya itu tadi. Intinya kita harus tahu batasan.”

“Tapi untuk tahu batasannya se-gimana kan sulit ya?” kata Nina, polos.

Lagi, Kamala menjadi orang pertama yang merespons. “Mudah kok. Selama lo tahu value apa yang masing-masing dari kalian miliki dan tawarkan dalam hubungan tersebut.

“Jangan sampai hanya karena kalian mau terlihat setara, lalu berpura-pura. Karena nggak jarang kepura-puraan kayak begitu malah berakhir jadi bumerang. Satu, antara kalian kelihatan konyol karena terlalu memaksakan diri untuk meninggi. Atau dua, kalian rugi karena menurunkan nilai diri,” lanjutnya mendapat sorakan manja, dan kompak dari teman-temannya.

“Sudah kayak Arga saya kata-kata lo!”

“Ya bagaimana, Kak Sab. Namanya juga kumpul sama penulis, lama-lama ikut romantis.” Kamala memakan candaan Sabrina, membuat suasana semakin malam semakin hangat dan hidup. “Eh, omong-omong, dia beneran romantis nggak sih orangnya?”

Begitu pertanyaan tersebut meluncur dari mulut Kamala, mendadak semua mata menoleh kompak ke arah Lexi. Meminta penjelasan.

“Kok aku?” tanya Lexi, bingung. Dia bahkan mengurungkan niat mencaplok semangka merah yang tadinya sudah ada persis di depan mulut. Tidak nyaman.

Merida menepuk pundak Lexi. “Kan lo teman satu timnya si Arga. Kalau bukan ke lo, mau ke siapa lagi kami bertanya? Ke Djaya juga nggak mungkin, kan? Yang ada nanti malah perang dunia ketiga.”

“Maksudnya?” Lexi semakin kebingungan. “Aku dan Djaya tidak ada hubungan apa-apa ya. Kami berteman. Sama seperti dengan kalian dan peserta lainnya. Jangan menyebar gosip.”

“Ini bukan gosip kali, Kak Lex!” Nina melempar tatapan penuh arti. “Ya, kan? Semua orang sudah tahu itu.”

Masalahnya, tak ada yang bisa memastikan kabar mana yang valid atau ngawur. Semua terlalu cepat menyebar. Bahkan seingat Lexi, sejak dia datang ke program ini, sudah sangat banyak kabar burung yang beredar. Mulai dari Arga yang dituduh masuk lewat jalur orang dalam, perselingkuhan Mbak Mawar dan Mas Joko, sampai yang terbaru ..., Djaya menyukainya?

Kenapa pula Lexi harus terseret dalam gosip semacam ini? Padahal seingatnya, dia sudah sangat berusaha bersikap wajar. Kepada siapa pun. Akan tetapi sayang sekali, itu tak cukup untuk menyelamatkannya.

♥♥♥

Memang, dari sekian banyak pria yang berada di dalam acara –baik peserta maupun panitia –Djaya merupakan salah satu dari sekian banyak yang dekat dengan Lexi. Selain karena mereka cukup mirip terutama sama-sama terobsesi pada laut dan selancar, Djaya juga suka menolong.

Seperti hari itu, ketika mereka dalam pendakian malam ke Kawah Ijen, Djaya menawarkan diri untuk membawakan perbekalan Lexi. Yang tentu saja langsung ditolak oleh pemilik barang. “Tidak usah. Perbekalan adalah nyawa pendaki. Jadi, biarkan aku membawa nyawaku sendiri.”

“Baiklah. Hanya saja, kalau kamu lelah dan butuh bantuan, jangan pernah sungkan. Aku akan selalu berada di sini. Di belakangmu.”

“Terima kasih, tapi daripada mengkhawatirkanku lebih baik kamu tawarkan saja bantuanmu pada orang lain yang lebih membutuhkan.”

“Siapa?”

“Itu!” Lexi dengan cepat menunjuk ke barisan belakang, tempat Arga yang telah ngos-ngosan mencoba menyeimbangkan diri di tengah kesulitan mereka menuruni gunung. Keringat membanjiri bukan sekadar kening, melainkan sekujur tubuh pria muda tersebut. “Kalau tak kuat, kita bilang ke panitia saja. Bagaimana?”

Namun, Arga menggeleng. Dia tidak bersuara. Langkahnya cukup teratur meski napasnya tinggal sesenti.

Djaya berdecih, lalu memalingkan muka kembali ke arah depan. “Padahal ini tinggal turun lho. Kalau mau capek kenapa tidak pas naik saja? Atau dari kemarin, saat kita membelah hutan belantara berjam-jam.”

Mendengar pernyataan Djaya, Arga yang sebenarnya tak nyaman memutuskan tetap menghemat energi dengan menghindari perdebatan yang percuma. Hanya saja, sebagai sesama pria dewasa ..., Arga sangat menyadari betul pria di hadapannya cukup atau malah sangat tidak menyukainya. Padahal menurut Arga, dia tidak pernah menyenggol apalagi mencari masalah dengan orang lain.

Jangankan mencari, tanpa dicari pun masalah hidupnya sudah cukup banyak. Dari yang sederhana seperti diteror naskah baru oleh Mbak Indah, sampai ditanya kapan kawin oleh sang mama. Itu sudah sangat cukup, bahkan berlebih untuk membuatnya gila.

♥♥♥

“Gue sudah lama gila, cuma belum masuk RSJ saja!” Ucapan tersebut kerap dia lemparkan kepada Mbak Indah, dalam obrolan ringan mereka di malam hari.

Namun, berhubung telepon tersambung pagi-pagi sekali, persis setelah Arga mengirimkan video matahari terbit di puncak Ijen, Mbak Indah yang langsung menelepon balik tampak sangat sibuk dengan rutinitas paginya. Memasak, menyiapkan seragam sekolah anak-anak, sampai merapikan dasi suaminya. Semua terekam jelas di kamera.

“Makanya punya istri. Biar ada yang memasangkan dasi,” ledek Mas Wahab, suami Mbak Indah, saat lehernya dipasangi dari kerja berwarna merah menyala. “Enak lho, Ga.”

Mbak Indah spontan memukul dada sang suami, sampai pria berkelapa botak itu meringis kesakitan. “Enak bagimu, tapi nggak enak bagiku. Sudah, sana cepat makan! Jangan lupa isi bensin. Jangan sampai mobil kering. Masa isi bensin saja harus menunggu aku yang gerak?” omelnya. “Oh iya, Ga. Pokoknya, kalau nanti lo jadi suami, please banget, jangan jadi beban istri.”

“Beban?”

Mas Wahab yang tidak terima langsung disumpal menggunakan roti tawar oleh Mbak Indah, persis sebelum mengeluarkan lebih banyak kata dari mulut besarnya.

“Makan! Aku bilang, makan!” lanjut wanita berambut cepol itu penuh ancaman. Lalu, setelah memastikan suaminya mengangguk, dia kembali mengambil ponselnya dari atas meja, membawa benda pipih tersebut kembali ke dapur. “Hampir saja gosong.”

“Masak apa lo?” tanya Arga, mencoba mengalihkan obrolan sebelum Mbak Indah semakin menjadi.

Seolah paham, Mbak Indah meredam emosi dengan memamerkan sosis goreng yang baru saja dia angkat dari wajan. “Baru. Gue coba beli dari Tiktok. Rasanya lumayan enak lho. Pokoknya, lo harus cobain. Nanti kalau sudah balik ke Jakarta, gue kirimi.”

Arga mengacungkan jempol kanan. “Siap. Tinggal makan doang, kan?”

“Tinggal goreng. Masukin airfryer doang. Eh, omong-omong, setelah gue mendengar cerita yang lo katakan semalam ..., entah kenapa gue jadi kepikiran sesuatu deh, Ga.”

“Apa?”

“Sebentar!” Mbak Indah meletakkan ponsel ke atas meja, miring, tetapi masih bisa merekam aktivitas sahabatnya itu saat mengangkat wajan bekas penggorengan ke meja cuci piring. Karena masih panas, Mbak Indah hanya meletakkan benda itu di sana dan tidak langsung membasuhnya dengan air dan sabun. Lalu, dia kembali berlari ke gawainya. “Sorry. Sampai mana tadi? Oh iya, cerita di hutan. Entah kenapa gue kepikiran soal takdir.”

“Takdir?” Kening Arga berkerut, sebelah alisnya dinaikkan. “Takdir apaan? Ini bukan novel atau film ya, Mbak.”

“Justru karena itu, Ga. Lo belum tahu sih, kadang dunia nyata bisa lebih mengejutkan daripada fiksi.”

“Hah?”

“Biasa saja. Nggak usah memasang muka jelek begitu. Nggak pantes.” Mbak Indah mengibaskan tangan kanannya ke udara, seolah memberi peringatan. “Apalagi ya, Ga,” dia mendekatkan wajahnya ke kamera ponsel, agak berbisik. “Gue sudah baca-baca soal hutan di Alas Purwo. Tempat itu jelas bukan tempat sembarangan. Gue yakin –“

“Yakin apa?”

“Alam sedang berusaha mengajak lo bicara.”

“Soal?”

“Semuanya. Apa saja. Yang jadi kegelisahan lo, mungkin?”

Arga yang muak memutar bola matanya kasar. “Sudahlah, Mbak. Jangan kebanyakan takhayul.”

“Memangnya lo nggak mau kalau ternyata berjodoh sama doi?”

Arga tertawa kering, meledek. “Kenapa jadi ngomongin jodoh-jodohan sih? Kami saja baru kenal.”

“Ya justru itu. Kenalan lebih dalam dong. Memang lo pikir orang yang sekarang jadi suami dan istri ..., semuanya langsung kenal dari lahir? Nggak ya. Nggak semua seberuntung Rangga sama Anisa. Beberapa orang perlu belajar juga. Salah satunya ..., Candra dan Ellia. Kan?”

“Mbak In!”

“Kenapa? Memang benar, kan?” lanjut ibu tiga anak tersebut dengan tatapan penuh ledekan. “Sebagai penulis, tentu lo tahu bahwa mereka nggak akan pernah bersama kalau –“ Dia diam, meminta Arga melanjutkan kalimatnya.

“Kalau Candra tidak cukup gila buat ngejar Ellia.” Arga menyambung, dingin.

Mbak Indah tersenyum, lebar dan puas. “Bagus. Itu lho tahu. Jadi, sebagai penulis, kenapa lo nggak mempraktikkan pemikiran Candra? Mau sampai kapan ingin terjebak dalam diri Nuga?”

Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Cinta Satu Paket

Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Desviar : Libur Dari Kata-kata

Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Download Titik & Koma