(bukan) Tentang Kita

Reads
879
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

24. Mimpi Terburuk Sepanjang Menjadi Manusia


“Cantik sekali.” Marie nyaris tidak bisa mengenali putrinya sendiri ketika mereka terhubung lewat panggilan video, beruntung Bibi Nora dengan sabar menjelaskan, hingga setelah dua jam kemudian wanita malang yang saat itu hanya bisa terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong tersebut memberi respons, menoleh dan mau menatap layar ponsel yang menampilkan wajah Lexi dengan senyuman lembut. “Putriku? Itu kamu?”

Tak kuasa menahan tangis, Lexi mengangguk. “Yes, Mom. It’s me, Alexia. Your daughter. Your little princess.”

“Oh Tuhan.” Marie menutup wajah menggunakan tangan, memperlihatkan tangan keriput yang ditusuk jarum infus. “Maafkan Mom, Sayang. Mom tidak bisa pulang malam ini. Jadi, tolong panaskan makan malam untuk ayahmu. Dia tidak suka makanan dingin. Dan jangan lupa, masukkan sepedamu ke garasi. Ada banyak pemuda nakal di luar sana yang akan mencurinya. Kita sudah dua kali membeli sepeda baru dalam sebulan ini.”

Tangis Lexi pecah, tetapi bersikeras menyembunyikan isak agar tak didengar oleh sang ibu. Bukan apa, dia tahu bahwa kesedihannya bisa membuat wanita yang paling dia cinta di dunia tersebut semakin hancur. Karena meskipun ingatan Marie terganggu, Lexi masih bisa merasakan cinta tulus dari ibunya.

“Alexia,” panggil Marie, lemah. “Jangan lupa untuk mengerjakan tugas rumah. Oh Tuhan, bagaimana aku bisa mendatangi pementasan dramamu minggu ini bila masih berada di rumah sakit?” Dia menepuk kening, lalu menoleh ke arah Bibi Nora yang duduk di sampingnya memegang ponsel. “Nora, tolong hubungi kakakmu. Minta dia meluangkan waktu sebentar untuk menggantikanku. Kalau perlu, ikutlah dengan Handrick. Katakan pada guru bahwa aku tidak bisa datang. Tidak apa kan, Sayang? Kau tidak kecewa kan pada mamamu ini?”

Bagaimana mungkin Lexi bisa kecewa?

Sebaliknya, Lexilah yang merasa telah mengecewakan kedua orang tuanya. Di saat dia bersenang-senang di sini, menuruti mimpi dan ..., dia bahkan belum menunaikan keinginan besar mereka.

Tak mampu? Atau memang tidak mau? Lexi tidak tahu yang mana yang sekarang dia hadapi.

♥♥♥

“Mamamu tidak apa-apa. Aku akan memastikan dia baik-baik saja.” Bibi Nora menenangkan, persis setelah Marie tertidur. “Bukan salahmu berada jauh di sana. Toh, bukankah sudah sering kukatakan kalau pandemi ini di luar kendalimu?”

“Tetap saja. Aku bersenang-senang di sini dan Mom –“

“Justru itulah kebahagiaan sejati ibumu, Sweetheart.” Bibi Nora menekan kalimatnya, membuat air mata Lexi semakin banjir. Di sisi lain, air mata wanita kepala lima itu pun ikut membentuk sungai di pipi. “Percayalah, tidak ada yang bisa membuat ibumu gembira di dunia selain kebahagiaanmu, Alexia.

“Kau lihat tadi! Marie sangat senang melihat gambar-gambar yang kau kirimkan. Dia bahkan bersemangat ingin sembuh hanya demi melihat rusa dan banteng. Padahal selama berada di rumah sakit, dia tidak pernah sesemangat ini.”

Lexi bergeming, matanya menatap tembok kayu sementara tangan kirinya meremas ujung bantal erat-erat, menahan tumpahan rasa nyeri yang menjalar bukan hanya di sekujur tubuhnya –karena kelelahan, tetapi juga nyeri di dadanya. Sialnya, bagian terakhir inilah yang paling menyiksa dan tak tertahankan.

“Jadi, Lex. Jangan berpikir kebahagianmu tidak penting!” terang Bibi Nora, lagi. “Selesaikan proyek menulismu. Ambil sebanyak mungkin yang bisa kau ambil dari perjalanan ini. Setelahnya, kau bisa kembali ke sini. Tapi sebelum itu, kau harus sembuh. Kau harus pulih. Karena tidak ada ceritanya seseorang yang sakit mampu merawat orang sakit.”

Lexi menggeleng, masih tanpa menatap balik sang bibi. “Aku tidak sakit, Aunt Nora.

“Oh ya? Lalu bagaimana dengan mimpi burukmu?”

“Kau tahu?”

Bibi Nora menghela napas pendek, kecewa. “Zoya menelepon dan mengabariku kemarin. Dia bilang kau kembali bermimpi buruk.”

“Zoya memberitahumu?” Alih-alih sekadar pertanyaan, Lexi menodong. Matanya membulat, kaget sekaligus curiga. Dan begitu Bibi Nora mengangguk, bahu Lexi yang sebelumnya menegang langsung melorot. “Bukankah seharusnya seorang psikiater dilarang membuka privasi pasiennya?”

“Dia tidak bicara sebagai psikiatermu, tetapi sebagai sahabatku,” kilah Bibi Nora. “Sweetheart, tolong! Aku mohon berhenti bermain-main dengan mimpi burukmu.”

“Bermain-main?”

“Ya, apakah aku salah? Kau terlalu menyepelekan mimpi burukmu. Kau berpikir semua akan baik-baik saja padahal tubuhmu sedang digerogoti dari dalam.”

“Digerogoti? Ayolah, Aunt Nora. Kau berlebihan.”

“Justru kau yang tidak peduli pada dirimu sendiri!” Bibi Nora akhirnya menaikkan nada bicaranya. Membentak. “Kau pikir aku tidak tahu jika kau terus menyalahkan diri sendiri sejak ayahmu meninggal? Padahal apa yang terjadi –dengar! Tidak semua hal di dunia bisa kau kendalikan. Dan aku sama sekali tidak mau merawat dua orang sakit sekarang. Cukup! Aku hanya mampu merawat kakak iparku saja, tidak dengan keponakanku.”

“Bibi pikir aku –“

“Ya! Benar sekali!” jawaban menyela dari Bibi Nora sontak membuat mulut Lexi bungkam. “Kau masih sangat muda. Kau masih punya masa depan. Tapi bila kau memang mau tenggelam dalam kubangan selamanya, tidak apa. Silakan! Aku tidak bisa melarangmu. Tapi ingat, jangan pernah menghubungiku lagi.”

“Aunt?”

“Jangan anggap aku sebagai bibimu. Lagi.”

Klik.

Sambungan diputus paksa. Bahkan sebelum Lexi memberikan sepatah kata pun untuk menjelaskan. Akan tetapi, bukan marah dia justru menjatuhkan dirinya di atas kasur, meringkuk dan melanjutkan tangis. Semakin keras. Tersedu-sedu.

♥♥♥

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya yang mengharuskan para peserta bangun pagi buta dan membawa banyak barang sebagai perbekalan, kali itu mereka bahkan cukup meninggalkan penginapan dengan tas mungil dan barang seperlunya.

Arga seperti biasa mengenakan kaos putih dan kemeja biru kesayangannya. Sebuah tas selempang untuk menyimpan ponsel serta dompet, dua nyawa vital yang tak boleh tertinggal ketika mengunjungi peradaban, juga buku dan kamera.

Namun, begitu sampai dalam bus kursi yang biasa dia duduki masih kosong. Padahal biasanya Lexi akan tiba lebih dulu, mengomel dan memintanya segera duduk karena bus akan segera berangkat. Akan tetapi, setelah sekian menit ditunggu, dan satu per satu peserta masuk guna mengisi kursinya masing-masing, Lexi tak juga muncul.

Bahkan Djaya yang biasanya mengikuti ke mana pun gadis itu pergi muncul dari pintu bus sendirian. Kemudian menempati kursi yang persis di sebelah tempat yang harusnya menjadi tempat duduk Lexi.

“Alexia mana?” Arga bertanya, pelan.

Yang meskipun lirih langsung membuat Djaya menoleh. “Lo ngomong sama gue?”

“Bukan. Sama monyet. Ya iyalah. Memang sama siapa lagi?” Arga terdengar sebal. Marah sebab dia tahu betul kalau sejak awal Djaya memang tak menyukainya.

Tatapan Djaya penuh ledekan. Jelas sekali dia meremehkan Arga. “Kenapa tanya gue? Bukannya dia satu tim sama lo?”

Tak mau suasana makin keruh, Arga akhirnya memutuskan berdiri. Dia berjalan ke luar dari pintu belakang, mencari Lexi ke kamar.

Siapa tahu Lexi ketiduran?

Walau sangat tak masuk akal mengingat dia merupakan salah satu manusia paling produktif di program ini. Selama kamping di pantai berhari-hari kemarin saja, Lexi masuk jajaran manusia paling sering terjaga tapi bangun awal. Mengimbangi para pendamping.

Apakah jangan-jangan Lexi sakit perut?

Ini bisa jadi karena saat makan bersama semalam, Arga melihat Lexi memakan banyak sekali sambal.

Sesampai di bungalow Lexi, Arga buru-buru mendekat tetapi segera mengurungkan niat mengetuk pintu. Dia mengeluarkan ponsel, membuka grup chat program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara, menggulir kontak yang berada di sana dan baru berhenti setelah melihat nama Lexi. Kemudian menekan tombol panggilan.

Terdengar suara dering telepon di dalam ruangan, menandakan pemiliknya memang masih berada di sana. Namun, setelah beberapa kali mencoba, belum ada tanda-tanda si pemilik akan menjawab. Malah, bisa dibilang tidak ada respons sama sekali. Seolah pemilik nomor tidak berada di sana.

“Lex?” Barulah Arga berteriak, memanggil. “Lexi? Lo di dalam, kan?”

Dia menoleh ke arah rak sepatu. Masih ada, batinnya. Sandal dan sepatu Lexi ada di sana. Tapi kenapa nggak ada jawaban?

Merasa ada yang tidak beres, Arga mencoba mengintip ke jendela. Sayangnya, seperti dugaannya, kelambu membuat pandangannya terhalang. Akan tetapi, berhubung kelambu tersebut terbuat dari bahan yang tak begitu tebal, jika diperhatikan dengan sangat detail, Arga masih bisa melihat sedikit suasana di dalam ruangan.

Tidak ada keanehan.

Ranjang. Lemari kecil. Kamar mandi. Sama persis dengan isi kamarnya di seberang. Tak ada beda sama sekali. Kecuali ..., Arga berjingkat ketika bahunya ditepuk dari belakang.

“Aji?” Arga berteriak, kaget. “Ngagetin saja lo.” Dia mengelus dada. “Hampir saja gue jantungan.”

Aji tersenyum kecut. “Lagian, Mas Arga. Bukannya bus sudah mau berangkat? Ngapain malah di sini? Jangan bilang kalau Mas Arga –“ dia menjeda ucapannya sebentar, kemudian memasang air muka curiga. “Saya laporkan ke panitia ya!”

“Eh, jangan!” Arga dengan cepat menahan tangan Aji yang hendak berbalik. “Ini nggak seperti yang lo pikirkan.”

Setelah mendengarkan cerita Arga, barulah kecurigaan Aji hilang. “Oalah. Mungkin Mbak Lexi masih tidur.”

“Nggak ada. Gue sudah coba lihat tapi di kasurnya nggak ada orang. Pintu kamar mandinya juga terbuka. Lihat saja!”

“Berarti Mbak Lexi lewat jalan lain. Mungkin malah sudah di bus.”

“Kan gue sudah bilang tadi kalau HP-nya di dalam.”

Aji diam, keningnya berkerut. “Sebentar!” Dia memberikan setumpuk pakaian bersih yang telah di laundry yang sedari tadi dia bawa kepada Arga, kemudian merogoh saku celana dan mengeluarkan gombyokan gembok yang salah satunya langsung dimasukkan ke lubang pintu.

“Bagaimana, Ji?”

Tidak menjawab, Aji malah berlari ke samping bangunan. Mengintip dari jendela lain yang sebelumnya tidak datangi karena letaknya memang agak tinggi.

Aji berlari ke arah lain, membuat Arga semakin kebingungan tetapi segera kembali membawa tangga bambu. Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung menaikinya, mengintip melalui angin-angin kecil di atas jendela. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya Arga menyadari perubahan ekspresi Aji.

Mata Aji membulat, seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.

“Kenapa?” tanya Arga penasaran. “Ji, ada apa di dalam? Lexi nggak kenapa-kenapa, kan?”

Masih dengan wajah ketakutan, Aji melompat turun dari tangga. Kemudian balik ke bagian depan bangunan sebelum mendobrak pintu cukup keras. Sayangnya, tidak seperti di film dan drama, percobaan pertama gagal. Kekuatan Aji tidak sanggup membuka pintu.

Bingung, Arga yang menyusul kembali bertanya, “Kenapa? Lexi kenapa?”

“Bantu aku buka pintunya, Mas! Cepat!” Aji berteriak, panik. Tubuhnya bergetar.

Arga yang masih tak paham menurut. Setelah meletakkan pakaian bersih ke lantai, dia bersama-sama dengan Aji mendobrak pintu. Sakit, tentu saja. Tapi melihat keadaan Aji membuat Arga mau tak mau tetap melakukannya.

Setelah dua hingga empat kali percobaan, akhirnya pintu terbuka. Baru di sanalah Arga tahu apa yang terjadi, ketika matanya menangkap sosok Lexi yang terbaring di atas lantai kamar dalam kondisi tak sadarkan diri.

Mulut Lexi berbusa, sementara di sebelahnya tampak sebotol cairan pembersih kamar mandi yang tergeletak dengan isi berceceran membasahi lantai kamar.

Tubuh Arga membatu.


Other Stories
Koper Coklat Ibu

Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Download Titik & Koma