(bukan) Tentang Kita

Reads
892
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

25. Jangan Salah! Orang Bunuh Diri Sebenarnya Malah Ingin Hidup Lebih Panjang


“Mas? Mas? Mas Arga!”

Teriakan Aji seketika menyadarkan Arga dari keterkejutan. Dia menoleh, memastikan bahwa apa yang dilihatnya memang kenyataan. Dan tidak seperti dugaan, apa yang dia saksikan pagi itu asli. Bukan mimpi apalagi halusinasi. Karena kini dia bisa melihat kepanikan Aji.

“Kita harus membawanya ke rumah sakit!” Aji yang sebelumnya duduk di samping jasad –Arga tidak tahu apakah Lexi masih hidup atau sudah mati saat itu, segera berdiri dan lari ke luar kamar. Kemudian menurunkan gerobak berisi pakaian di jok belakang sebelum berteriak, lagi. “Mas, cepetan! Ayo!”

Arga yang baru paham langsung menggendong tubuh Lexi. Hangat, batinnya. Lantas berlari membawanya naik ke dalam sepeda motor.

Sesuai dugaan, kedatangan mereka yang ngebut melewati bus berisi rombongan sontak menimbulkan kegaduhan. Orang-orang berteriak mempertanyakan apa yang terjadi, tapi Aji sama sekali tak mengurangi kecepatan. Pun Arga juga diam, memegangi tubuh Lexi erat-erat agar tidak terjatuh saking menyeramkannya cara Aji mengemudi.

Mereka sampai di klinik terdekat lima belas menit kemudian. Dan di sanalah Arga yang berlarian menggendong Lexi langsung dipersilakan masuk ke ruang gawat darurat.

“Ini kenapa?” tanya seorang wanita paruh baya yang Arga duga sebagai perawat. “Ya Allah. Sini! Baringkan dia di sin!”

Arga menurut. “Tolong selamatkan Lexi ya, Bu.”

“Iya. Iya.” Perawat lain masuk, bersama perempuan yang lebih muda yang langsung Arga sadari sebagai dokter di tempat tersebut. “Sekarang Bapak keluar dulu ya.”

“Tapi Lexi –“

“Iya. Kami paham. Bapak tenang. Pasien akan segera kami tangani.”

♥♥♥

“Nggak nyangka bisa sampai di titik ini.”

Arga masih bisa mengingat dengan jelas betapa lebar senyuman Lexi ketika mereka sampai di Puncak Ijen kemarin. Tidak hanya bibir, mata gadis itu pun ikut berbinar, mengagumi betapa indah ciptaan Tuhan seiring terbangunnya matahari yang langsung menyapu kegelapan di seluruh penjuru bumi. Dan semua bisa mereka saksikan dengan jelas dari sana, di puncak ketinggian Gunung Ijen.

“Rasanya seperti mimpi.”

Ya, benar. Mimpi.

Pun kejadian pagi itu bagi Arga, tak kalah atau malah jauh lebih tak masuk akal daripada sebuah bunga tidur. Bagaimana mungkin Lexi yang tampak baik-baik saja, gadis paling ceria dan penuh semangat yang pernah dia kenal –meskipun secara teknis mereka baru saling mengenal lima hari terakhir –tiba-tiba saja melakukan percobaan bunuh diri?

Padahal menurut Arga, semalam Lexi masih berbunga-bunga. Menceritakan rencana besar untuk proyek kolaborasi mereka, keingintahuannya tentang Kemiren dan bersikeras akan ikut kelas belajar Tari Gandrung saat ke sana. Akan tetapi, alih-alih merealisasikan rencananya pagi ini, Lexi justru terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan kondisi mengenaskan.

Wanita muda itu dibaringkan di atas ranjang, perutnya baru saja dikuras oleh tim medis, dan kesadarannya pun belum pulih.

“Mas Guguh sudah ke sini?” Mbak Mawar yang baru saja selesai mengurus administrasi kembali sembari membawa keresek putih berisi sebotol air mineral, beberapa roti serta tisu dan beberapa barang lain yang dirasa perlu, kemudian meletakkannya di nakas samping ranjang.

Arga menggeleng. “Tadi sih kata Aji, Mas Guguh akan segera datang setelah mengantar yang lain ke Kemiren.”

Mbak Mawar memasang wajah bete, tetapi segera mendudukkan dirinya ke sofa panjang di dekat pintu kamar mandi. Berada di sisi lain ruangan, hingga Arga yang duduk di kursi besi di samping kanan Lexi bisa saling menatap dengan wanita yang kini merogoh tas, mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi seseorang itu. Akan tetapi, detik berikutnya Mbak Mawar kembali mencicit, kecewa.

Arga paham betapa kesal Mbak Indah. Sebab apa yang dilakukan Lexi sudah pasti merusak seluruh agenda mereka. Padahal seharusnya siang itu mereka harus mendatangi banyak destinasi, belum lagi soal pendapat publik. Sebagai ketua program, Mbak Mawar pasti harus bertanggung jawab nantinya.

“Ga.” Mbak Mawar memanggil, membuat Arga melebarkan kelopak matanya. “Lexi pernah cerita tidak tentang keluarganya atau kenalannya di Indonesia?”

Arga menggeleng. “Nggak sih, Mbak. Dia cuma cerita pernah tinggal di panti asuhan, tapi nggak cerita panti mana.”

Mbak Mawar berdecih, lalu menarik dan menghela napas panjang. Putus asa. “Terus bagaimana ini? Kalau sampai terjadi apa-apa sama dia bagaimana? Mana dia warga negara asing, pula.” Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, kemudian memijat pangkal hidung selama beberapa detik sebelum bangkit dengan cepat. “Kalau kode ponselnya? Lo pernah lihat dia buka ponselnya, nggak?”

Ragu, Arga menggeleng. Pun kalau dia tahu, tak mungkin Arga membagikan privasi orang lain. Terlalu lancang.

“Oalah,” keluh Mbak Mawar, entah kali ke berapa. “Ya sudahlah. Gue mau ke luar dulu.”

“Ke mana, Mbak?”

“Cari kopi.” Mbak Mawar berdiri. “Sambil sekalian cari cara menghubungi wali, kerabat atau siapalah yang bisa dihubungi. Tolong jagain dulu ya.”

“Hah? Kalau ada apa-apa, bagaimana?”

“Ada apa sih?” Mbak Mawar tampak sangat jengkel. “Memang kamu mau dia kenapa-kenapa? Kan tadi dokter sudah bilang, kita tinggal menunggu dia sadar doang.”

“Tapi –“

“Sudah! Sudah! Aku pusing!”

Memang dia doang yang bisa pusing? Arga merutuk dalam hati. Terlebih setelah dua jam sebelumnya dia nyaris mati terkena serangan jantung saat harus mendampingi Lexi yang sekarat di rujuk dari klinik ke rumah sakit. Sendirian. Di dalam ambulans.

Bukan hanya tidak terlupakan, pengalaman itu juga tidak terbayangkan. Sungguh, Arga tak pernah membayangkan akan ada di situasi tersebut sebelumnya. Meski hanya duduk dan menggenggam tangan Lexi, tetapi waktu di dalam ambulans berjalan sangat ..., sangat ..., dan sangat lambat.

♥♥♥

Arga bisa mendengar suara detik jam di dinding kamar, tepat di atas kepala Lexi.

Pukul setengah dua siang. Waktu di mana mereka seharusnya mengunjungi Gandrung Terakota, bila saja tidak ada tragedi. Akan tetapi, meskipun tidak bisa mengikuti agenda hari itu Arga tetap bisa menyaksikan melalui siaran langsung yang dilakukan oleh Cecillia di akun media sosial pribadinya.

Mulai dari menyusuri sawah dan memotret puluhan patung penari sembari mendengarkan pemandu yang menjelaskan sejarah serta makna tarian Gandrung, hingga menyaksikan langsung pertunjukan yang dibawakan oleh penari profesional, semua itu hanya bisa Arga saksikan lewat layar ponselnya. Membuat Arga merasakan posisi penonton, termasuk teman-temannya yang setia menonton program ini demi dirinya.

Bahkan Arga bisa langsung menemukan akun Rangga dan Rian di antara para banyaknya komentar, yang mempertanyakan keberadaannya. Tak butuh waktu lama, sebuah pesan masuk ke Direct Message Instagram Arga.

“Lo nggak kenapa-kenapa kan, Mas? Katanya ada yang bunuh diri, memang benar? Itu bukan lo, kan?” Walau berupa teks, tapi Arga bisa membayangkan ekspresi berlebihan Rian dengan hanya membacanya. “Jawab dong! Ini beneran Mas Arga kan yang pegang HP-nya? Kalau bukan, tolong kabarin ya. Ini adiknya.”

Arga tertawa kecil, pindah ke pesan lain. Dari Rangga.

“Rian ngeyel kalau yang coba bundir itu lo.”

“Bukan.”

“Terus siapa?”

Jemari Rian urung mengetik jawaban. Dia menatap wajah lelah Lexi, lalu dengan penuh rasa iba menghapus nama gadis itu dari papan ketik. “Nanti saja tunggu pengumuman resmi.”

“Kebiasaan. Suka banget bikin orang penasaran. Terus kenapa lo nggak ikut?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Sakit?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Nggak kenapa-kenapa.”

Rangga memberi emotikon wajah datar, tidak habis pikir. “Kebiasaan. Jadi orang selalu bertindak suka-suka.”

Pindah ke aplikasi WA, Arga menggulir kontak Rian dan mengirimkan pesan pribadi, lagi. “Ian, kenapa orang bisa bunuh diri?”

“Maksudnya?” Rian membalas menggunakan pesan suara. “Kenapa Mas Arga tanya begini? Jadi benar kalau ada yang bunuh diri? Mas Arga bunuh diri? Ya Allah. Istigfar, Mas.”

Arga yang muak menjawab, “Kenapa disimpulkan begini sih, Ian? Nggak! Bukan gue yang bunuh diri.”

“Bohong!” Rian masih menjawab dengan pesan suara. “Jangan-jangan ini orang lain yang membalas. Ini pasti bukan Mas Arga.”

“Ya Tuhan, ini gue Arga.”

“Coba balas pakai suara.”

Arga meremas udara, geram. Tetapi mau tak mau menurut. Dia mendekatkan ponsel ke bibir. Tak mau mengganggu istirahat Lexi, dia berbisik, “Gue masih sehat ya, Anjing.”

“Alhamdulillah,” ucap Rian, lega. “Tapi kenapa ada bunyi alat tut-tut. Lo di mana? Di rumah sakit kah?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Nggak kenapa-kenapa, Rian.”

“Bohong. Gue bilangin Bu Ima ya?”

“Jangan!” Arga menyesal sudah menghubungi sahabat sialannya ini. Lalu, menjawab dengan suara dongkol, “Nungguin yang bunuh diri. Puas?”

“Oalah.” Rian terkekeh. “Bikin salah paham saja. Lagian kenapa lo tanya soal bunuh diri ke gue?”

“Soalnya kan lo dulu pernah. Bahkan sampai masuk rumah sakit juga, kan?”

Rian diam, mungkin sedang mengingat. “Oh itu. Sebenarnya bukan beneran mau bunuh diri sih. Cuma mengancam, niatnya. Tapi nggak sengaja jatuh, terus kebentur meja. Daripada malu, gue pura-pura pingsan.”

“Beneran?”

Rian malah tertawa, malu-malu. “Maaf.”

“Bocah kurang ajar!” rutuk Arga. “Padahal gue dulu percaya.”

Lama, tak ada balasan tapi ada tanda Rian sedang mengetik. Arga hendak menutup pesan sebelum notifikasi baru datang. Dia urung dan membaca kalimat lanjutan yang sahabatnya tersebut berikan. “Mas, orang yang bunuh diri itu sebenarnya nggak benar-benar ingin mati. Gue pun dulu nggak ingin mati. Terima kasih karena dulu lo sudah membantu gue sembuh. Kalau bukan karena lo, gue mungkin sudah mati waktu itu.

“Gue nggak tahu apa yang sekarang sedang lo lakukan, tapi percayalah bahwa nggak ada orang yang benar-benar siap mati. Mereka hanya ingin lari dari rasa sakit. Mereka ingin dan butuh ditolong. Jadi, kalau bisa tolonglah selagi bisa.

“Sekarang, di saat bunuh diri memang tragedi. Tapi setelah rasa sakitnya hilang, bunuh diri bisa jadi pengalaman lucu yang nggak terlupakan.” Rian melengkapi pesannya dengan emotikon hati. 


Other Stories
Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Ijr

hrj ...

Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Erase

Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...

Testing

testing ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Download Titik & Koma