26.
Bahkan Manusia Setengah Iblis Kayak Gue Saja Bisa Punya Belas Kasih
Itu benar.
Lexi sangat ingin hidup. Bahkan mungkin lebih dari siapa pun di dunia ini. Dia masih berharap bisa melanjutkan perjalanannya keliling Indonesia, menulis banyak buku dan merekam banyak dokumentasi pencarian pantai-pantai indah di dunia sepanjang hidup seperti janjinya pada sang ayah dulu.
Namun, apa yang dia lakukan pagi itu terlalu kontradiktif.
Tangannya bergetar sembari memegang erat sebotol cairan pembersih lantai. Matanya berair, sementara pandangannya lurus ke depan, ke arah cermin di meja rias yang persis berada di sebelah kasur.
Kesibukan orang-orang luar sama sekali tak membuat niatnya goyah. Dia tahu bila cairan ini masuk ke mulutnya, maka seluruh impiannya akan hilang. Karena bahkan saat dia ditemukan sore nanti, atau malah esok hari dia pasti sudah kaku.
Dia bisa mendengar suara sang ayah yang memanggilnya dari cermin. Juga kenangan masa kecilnya yang berdatangan silih berganti seperti kaset film, membujuk dan memintanya mengakhiri penderitaan.
Bukan Lexi tak bahagia, justru sebaliknya, Lexi sangat bersyukur karena Tuhan telah menganugerahkan kehidupan paling sempurna yang bisa dia dapatkan. Seorang bayi mungil yang diantarkan oleh orang tua kandungnya sendiri ke panti asuhan sebelum genap seminggu hidup di dunia, diambil dan diberi cinta luar biasa oleh sepasang suami istri yang bahkan tak punya ikatan darah dengannya. Lalu kini, di saat kondisi Marie memburuk ..., Lexi tak bisa berbuat apa-apa.
Masih pantaskah Lexi disebut sebagai seorang anak? Belum lagi panggilan yang dia dapatkan semalam, yang seketika membolak-balik kehidupannya. Membuat Lexi sadar bahwa mungkin saja dia memang lebih baik tidak hidup di dunia.
Satu-satunya yang Lexi ingat sebelum tidak sadarkan diri adalah rasa terbakar hebat di tenggorokan. Lalu, ketika matanya kembali terbuka dia disambut oleh cahaya terang yang menyilaukan. Di titik itu, Lexi telah berpikir bahwa dia mungkin sudah mati. Berada di surga. Di dimensi lain. Karena begitulah yang biasa dia lihat film-film. Apalagi matanya belum bisa benar-benar menangkap pemandangan di sekeliling, masih berkunang-kunang.
Barulah ketika Lexi mendengar suara mesin perekam detak jantung dan tetesan infus, serta aroma obat yang menyengat –dia tersadar tengah berada di rumah sakit.
Dia ..., belum mati?
Lexi mengerang, pelan. Sekujur tubuhnya terasa nyeri luar biasa. Tangannya lemas, tidak bisa digerakkan. Tapi tidak ada yang lebih menyiksa selain rasa haus tak masuk akal yang menghuni tenggorokannya. Memaksa Lexi bergerak mencari air. Dia nyaris terjatuh kalau saja pria –Lexi baru sadar di sofa seberang ranjang terdapat seorang pria yang sedang berbaring, tertidur pulas –itu tidak menghentikannya.
“Kenapa? Butuh apa?”
Lexi mengerjap, mencoba mengenali suara itu. “Arga?” tanyanya, pelan. Tapi karena saking keringnya mulut, suaranya tak bisa keluar.
“Iya. Ini gue,” jawab Arga. “Nggak usah bangun. Jangan banyak bergerak dulu. Lo masih sakit.”
Lalu, tubuh Lexi didorong agar kembali terbaring, yang jelas langsung dia lawan. “Air! Air!”
“Air? Minum?” ulang Arga, dan Lexi mengangguk. “Sebentar! Gue ambilkan!” Pria itu berjongkok, mengambil sebotol air mineral dari laci meja yang langsung diberikan kepada Lexi. “Pelan-pelan.”
Seolah tidak minum selama setahun, Lexi bisa menghabiskan seluruh isi botol kalau saja –dia merasakan dadanya panas, kemudian terbatuk-batuk hebat.
Mengira dirinya tersedak, Lexi hendak menambah air ke tenggorokan. Yang segera Arga cegah. Arga merebut airnya.
“Air! Arga, mana air?” Lexi memaksa masih dengan batuk hebat. Akan tetapi, Arga justru berlari keluar ruangan dengan panik. Merasa tak dipedulikan, Lexi hendak merangkak turun dari ranjang, meraih sendiri botol air mineral yang pemuda itu jauhkan. “Haus! Aku mau air!” lanjutnya merintih kesakitan.
“Ini, Dok!” Suara Arga kembali terdengar dari arah pintu, panik. “Dia tiba-tiba batuk darah.”
Darah? Mendengar kata darah membuat Lexi dengan cepat menengadahkan kedua tangannya ke udara. Pandangannya yang sebelumnya kabur perlahan makin jelas. Ya, benar. Dia berdarah. Tak hanya tangan, pakaian pasien yang dia kenakan pun penuh darah.
Lexi kembali merasakan dadanya sangat nyeri. Dia terbatuk kembali. Makin parah. Yang diikuti lendir ..., merah? Apa ini? Apa yang terjadi padanya?
Panik, Lexi mengusap wajah. Membuat anyir darah makin dekat ke hidung. Setelahnya, semua kembali gelap. Mungkinkah dia benar-benar akan mati?
♥♥♥
“Kenapa dibiarkan minum?”
Arga yang dicecar Mbak Mawar hanya bergeming, menunduk dalam. Terlebih setelah menyaksikan kondisi Lexi, dan mengharuskan gadis itu kembali dimasukkan ke ruang perawatan intensif.
“Kalau anak orang mati bagaimana?” teriak Mbak Mawar. “Kan aku sudah bilang, kalau kenapa-kenapa langsung hubungi perawat. Jangan diapa-apakan dulu. Kalau sudah begini bagaimana?”
“Ya maaf, Mbak. Gue refleks.”
“Sudah! Sudah! Tidak usah bertengkar!” Mas Gugun yang pada saat kejadian sedang membeli makan siang menenangkan. Di tangannya bahkan masih ada sebungkus nasi yang dia beli dan rencananya nanti akan dimakan bersama Arga –sayangnya, kini tak akan termakan. Tak ada yang sanggup makan di tengah kondisi seperti ini.
Mbak Mawar menghela napas kasar, tak senang. “Kamu tidak dengar apa kata dokter barusan? Kalau sampai air masuk ke paru-parunya, Lexi bisa mati.”
“Iya, aku tahu, War. Tapi apa perlu marah-marah di rumah sakit? Malu lho dilihat orang.” Mas Gugun kembali menenangkan. “Yang penting kan Lexi sudah ditangani dan dia tidak kenapa-kenapa.”
“Tetap saja. Ini tidak mengubah fakta kalau dia,” Mbak Mawar menoleh ke arah Arga. “Hampir bikin anak orang mati.”
Mas Gugun menghampiri Arga, mengelus bahu pemuda itu lembut. “Sabar! Sabar! Tidak usah dibalas!” Dia berbisik kepada Arga, sebelum kembali bicara dengan Mbak Mawar. “Tanpa kamu maki-maki pun dia sudah merasa bersalah. Yang harusnya bertanggung jawab di sini kita, Mawar. Bukan malah melempar ke orang lain.”
♥♥♥
Mas Gugun benar. Tak ada yang merasa lebih khawatir pada kondisi Lexi selama di ruang intensif kecuali ..., Arga. Bahkan dia menolak untuk kembali bergabung ke program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara sekalipun panitia memintanya bergabung dengan tim lain, dan memilih menjaga Lexi di rumah sakit.
“Walau artinya lo harus didiskualifikasi?” tanya Mbak Indah, memastikan via telepon.
Arga mengangguk tanpa berani menatap layar ponselnya. “Ini soal nyawa manusia, Mbak. Tapi misalnya lo mau marah dan meminta gue membayar pinalti ..., nggak masalah. Gue akan bayar.”
“Kenapa jadi bahas uang sih, Ga?” Mbak Indah melembutkan suara, membuat Arga tak bisa mengelak lagi. “Nggak ada yang perlu dibayar. Toh, lo kan ikut program ini bukan jalur umum. Perusahaan akan membayar semuanya.”
“Serius?” tanya Arga tak percaya. Kaget, lebih tepatnya.
Mbak Indah mengangguk, senyumnya lebar. “Kemanusiaan lebih penting dari segalanya. Oh iya, bagaimana kondisinya? Apa sudah membaik?”
“Ya begitulah.” Arga menghela napas panjang. Kedua bahunya merosot. “Dia sudah sadar tapi masih harus dipantau di HCU karena ada luka internal. Belum bisa makan juga, jadi hanya lewat infus.”
“Semoga cepat sembuhlah ya.”
Arga mengamini. “Kata dokter luka fisiknya cenderung pulih dengan cepat, tapi –“
“Tapi apa?”
“Luka,” Arga kembali menjeda kalimatnya. Dia menepuk dadanya sendiri.
Yang Mbak Indah tebak, “Hati?”
“Bukan!” Arga menggeleng, kemudian meralat, “Jiwa.”
“Mental? Psikologis?”
Arga mengangguk, sedih. “Itu yang paling sulit.”
“Maksudnya?”
Arga menyandarkan punggungnya ke tembok. “Bayangkan saja, selama tiga hari dirawat dia sama sekali nggak mau ngomong apa-apa. Bahkan waktu ditanya apakah ada yang sakit atau butuh apa saja dia tetap diam.”
“Katamu, dia minta air?”
“Itu pas sadar pertama,” jelas Arga, agak jengkel. “Ini yang setelah masuk HCU.”
“Oalah. Terus bagaimana?”
“Ya nggak bagaimana-bagaimana. Setelah kondisinya membaik nanti Dokter minta agar dia dibawa ke psikiater.”
“Parah berarti ya?” Mbak Indah manggut-manggut. “Berarti sampai sekarang kalian belum ada yang tahu dong alasan dia bundir kenapa?”
“Ya belum. Orangnya saja nggak bisa diajak bicara.”
Mbak Indah meneguk segelas es kopi di tangannya. “Jujur gue nggak menyangka sih. Soalnya di hari-hari awal program dia kelihatan paling bersemangat. Paling hidup dibandingkan yang lain. Kan?”
“Ya. Begitulah. Kadang yang terlihat baik-baik saja justru yang paling nggak baik-baik saja.” Arga menatap ke langit-langit di atasnya. Mencoba menenangkan diri di tengah seram dan sepinya lorong tunggu di depan HCU. “Kayaknya memang paling mending jadi orang kayak gue deh, Mbak.”
“Maksudnya?”
“Biarpun kalian bilang gue suram dan menyedihkan –dua orang yang gue kenal dan pernah mencoba mengakhiri hidup justru orang-orang paling bersinar.”
“Siapa?”
“Lexi dan Rian.”
“Rian?” Mbak Indah spontan tertawa. “Dia mah bukan putus asa, tapi memang goblok saja.”
Arga ikut tertawa, tapi tetap melanjutkan, “Ya Allah, Mbak. Kok ngomong begitu sih? Dia teman gue lho. Nggak ada dia, nggak dapat cuan kita.”
“Benar juga!” Mbak Indah semakin terkekeh. “Kurang ajar lo, Ga! Sudah dulu ya. Gue mau lanjut kerja. Sudah ditunggu yang lain. Mau rapat bahas buku baru.”
“Iya. Makasih ya.”
“Sama-sama. Pokoknya, kalau ada perkembangan apa pun itu, jangan lupa kabari. Gue pasti akan bantu. Oke?” Mbak Indah memberi jempol.
Arga membalas dengan jempol juga. “Sip.”
♥♥♥
“Sudah membaik kok.”
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Arga kepada teman-teman satu program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara yang menghubunginya via telepon. Selain karena malas menjelaskan, dia juga mereka tidak benar-benar peduli.
Namun di sisi lain, Arga juga paham jadwal yang padat membuat rekan-rekannya tersebut tidak punya cukup waktu untuk datang ke rumah sakit. Pun di tengah situasi pandemi seperti sekarang, ada begitu banyak orang yang ketakutan hanya dengan mendengar kata rumah sakit.
Kalau bukan karena beban moral sebagai rekan satu tim sekaligus yang memperburuk kondisi Lexi, mana mungkin Arga mau berada di sana?
Terlebih Lexi sebatang kara di sini. Tanpa keluarga, teman atau kerabat yang bisa dihubungi. Karena bahkan setelah keluar dari HCU pun, Lexi belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Tubuhnya terlalu lemah. Dan, menyedihkan.
Jangankan beraktivitas normal, Lexi bahkan tidak mampu duduk sendiri. Arga dan Mas Gugun lah pada akhirnya yang harus bertanggung jawab membantunya tiap kali hendak pindah posisi.
“Ga, aku mau ke penginapan dulu ya.” Mas Gugun meraih jaket kulit yang tergeletak di atas sofa dan memakainya. “Sebentar kok. Mau laporan dulu.”
“Iya, Mas.”
“Kamu mau diambilkan apa? Sekalian nanti aku bawakan.”
“Paling baju kotor ini saja sih.” Dia menyerahkan sebungkus pakaian yang dia simpan di laci kepada Mas Gugun. “Sama, tolong mintakan yang bersih ke Aji.”
Mas Gugun menerima dan mengangguk. “Siap. Ada lagi?”
“Nggak.” Arga mengantar Mas Gugun sampai ke luar bilik. Memastikan pria berjanggut tebal itu menghilang begitu melewati lorong. Lalu, kembali ke kamar tempat Lexi masih murung. “Mau makan? Sekalian latihan menelan, seperti perkataan dokter kemarin.” Dia bertanya dengan sangat lembut, penuh bujukan sembari melirik semangkuk bubur di atas meja kecil di samping ranjang. “Buburnya lembut kok. Nggak sakit. Mau ya?”
Alih-alih menjawab, Lexi mengalihkan muka ke arah lain.
Arga menarik napas panjang. Mencoba memelihara sabar di dadanya. “Tahu nggak, kemarin teman-teman ke pantai lagi lho. Mereka menyelam. Seru banget kelihatannya. Kapan-kapan lo harus ke sana.”
Lexi masih bergeming. Meremas ujung bantal yang dia gunakan untuk mengganjal kepala erat-erat. Matanya memerah.
“Ya sudah kalau lo belum mau ngomong, tapi jangan lama-lama. Kasihan badan lo.” Arga menepuk kaki Lexi. “Gue ada di sini. Kalau butuh apa-apa, bilang saja. Nggak usah malu. Kita teman. Lo nggak sendirian,” lanjutnya sebelum mendudukkan diri di atas sofa putih.
Membuat tangis Lexi perlahan pecah.
Other Stories
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Horor
horor ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...