(bukan) Tentang Kita

Reads
914
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

28. Orang Yang Beneran Peduli, Nggak Akan Pernah Biarkan Lo Merasa Sendiri. Camkan Itu!


"You both kept it from me?" Lexi masih ingat dia berteriak histeris kepada bibinya melalui sambungan telepon. Dan berhubung mereka terkoneksi panggilan video, dia pun bisa turut menyaksikan kegetiran yang diberikan oleh Bibi Nora kepadanya. “My whole life—one giant lie.”

“Sweetheart, it wasn’t a lie.” Bibi Nora meralat, suaranya pelan dan sedikit bergetar. “We just –we waited for the right time."

“Oh my God!” Lexi menepuk kening, tidak habis pikir. “’The right time?’ Are you kidding me? He died, and I never got the truth from him."

"Alexia, he wanted to tell you. He was going to—he just never got the chance,” bela Bibi Nora.

"No!” Lexi menggeleng, kecewa. “He had years. You both did. And you still chose silence." Air matanya perlahan jatuh, membasahi pipi kemerahannya.

“Oh, Alexia. I’m so sorry.” Bibi Nora ikut terisak, hatinya terkoyak.
"Your Dad ..., he loved you. We loved you. He was afraid ..., afraid that telling you would change everything."

"Well guess what—it did change everything. And now he's gone, and I’m stuck with all these questions and no one to answer them."

Bibi Nora menggeleng, tegas. "I know you're angry. I’d be angry too. But don’t make it seem like he didn’t care. He loved you like you were his own."

Lexi menyeka air matanya cepat, lalu menatap sang bibi tajam. "Yeah? Then maybe he should’ve trusted me enough to know the truth."

Lagi, Bibi Nora tidak langsung menjawab. Dia diam sejenak, mengalihkan pandang ke arah lain dan dengan penuh kehati-hatian berkata,
"He was protecting you, Alexia.”

"No!” sela Lexi, cepat. “He was protecting himself.”

“Dia hanya terlalu takut kehilangan kamu, Sayang.”

♥♥♥

“Berarti sekarang kalian tinggal di hotel?”

Pertanyaan Mbak Indah dijawab gelengan oleh Arga yang sore itu tengah duduk di ruang tamu sebuah rumah sederhana berbahan kayu sembari menikmati secangkir teh hangat. “Sebenarnya kurang tepat kalau ini disebut hotel. Mereka bahkan nggak menyewakan kamar. Cuma, karena kondisi Lexi yang nggak memungkinkan, Aji akhirnya meminta pamannya, Pak Suswoyo, untuk menampung kami di rumahnya.”

“Oh. Berarti sekarang lo tinggal di rumah itu sama keluarga si Pak Suswoyo itu dong?”

Arfa kembali menggeleng. “Nggak. Pak Suswoyo dan istrinya tinggal di rumah depan. Yang dekat jalan.”

“Lho?”

“Ini rumah anaknya,” jelas Arga. Dia menyeruput teh, menghangatkan badan sekaligus menumpahkan lelah setelah berhari-hari tinggal di rumah sakit. Punggungnya tidak punya tempat selain bantalan sofa di kamar rawat Lexi yang keras, beraroma obat-obatan dan yang terburuk dari semua itu ..., menyaksikan lalu lalang kematian nyaris sepanjang waktu. “Tapi karena anaknya kerja di Surabaya, alhasil rumahnya kosong.”

Mbak Indah manggut-manggut dengan mulut membentuk huruf o besar. “Terus, Lexi bagaimana? Dia beneran sudah sembuh?”

“Alhamdulillah sih. Kondisinya cukup stabil. Meskipun harus tetap dipantau ketat. Dokter juga melarang kami meninggalkannya sendirian terlalu lama, karena selain takutnya dia nekat lagi, fisiknya pun kadang masih sering oleng.”

“Oleng?” Mbak Indah memiringkan kepala.

Arga mengalihkan wajah dari layar ponsel untuk meraih pisang goreng di atas meja. “Dia sering pusing secara tiba-tiba. Tadi pagi saja waktu ke kamar mandi hampir saja terpeleset. Untung ada Bu Suswoyo yang memergoki.”

“Oalah.” Mbak Indah yang malam itu memang tengah bekerja sesekali melirik ke arah komputer jinjingnya, tetapi tidak mengabaikan Arga. “Lalu mengenai keluarga? Dia betulan sebatangkara di Indonesia?”

“Katanya sih begitu,” jawab Arga tidak begitu yakin. “Dia memang punya beberapa teman dari panti asuhan, tapi menolak menghubungi.”

“Kenapa?” Mbak Indah menoleh, cepat. Menatap layar gawai yang dia sandarkan ke tumpukan buku di sebelahnya.

“Takut merepotkan.” Dari cara bicaranya, kental ketidakpahaman dari diri Arga. “Ini orang memang susah banget disuruh minta tolong. Seolah-olah semua mau dimakan sendiri sama dia.”

Mbak Indah berhenti mengetik. Lantas memandang penuh arti ke arah Arga.

“Apa?”

“Kayak Bella dong?”

Arga tertawa. “Mana ada? Bella nggak pernah kepikiran bunuh diri. Dia kuat. Sementara Lexi? Dia terlalu memaksakan diri. Sok kuat padahal nggak mampu. Gengsinya gede mampus.”

“Oh, berarti mirip lo.”

“Maksudnya?” Arga tidak terima. “Gue nggak pernah sok kuat ya? Enak saja.”

Namun, Mbak Indah justru memasang memasang ekspresi meledek dengan menyipitkan mata diiringi seringai kecil di ujung bibir. “Masa? Kemarin siapa itu yang hampir putus asa gara-gara –“

“Mbak In!” Arga memperingatkan. “Itu persoalan lain. Stop! Gue nggak mau lagi membahasnya. Cukup!” lanjut Arga, kesal. “Lagian sekarang gue ada di sini karena apa? Karena gue menerima saran dari lo, kan? Artinya, apa? Gue mencari pertolongan.”

“Iya deh, iya.”

“Memang benar kok. Eh, Mbak, sebentar ya.”

“Kenapa, Ga?”

“Nanti gue telepon lagi.” Arga mematikan panggilan bahkan sebelum Mbak Indah menjawab, kemudian memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku. “Lex?”

♥♥♥

Lexi berhenti, meremas tali tas jinjingnya erat-erat ketika Arga memanggil namanya.

“Mau ke mana?” tanya Arga seraya berjalan menghampiri perempuan berambut panjang tergerai, mengenakan kaos over sise dan celana pendek berwarna hitam tersebut. Akan tetapi yang paling mencolok dari penampilan Lexi malan ini ialah ransel besar dan kamera di leher.

Ragu, Lexi hanya tertunduk. Mulutnya tidak memberi jawaban satu patah kata pun.

“Alexia?” ulang Arga, lebih tegas. “Ini sudah malam lho. Kamu mau ke mana?”

“Eh, aku –“

“Lex? Lexi?” Arga meraih kedua bahu Lexi, kuat. “Sekali lagi aku tanya, kamu mau ke mana malam-malam begini? Terus, ini kenapa barang-barangmu dibawa semua?”

Bukannya menjawab, Lexi malah tertunduk semakin dalam. Menggigit bibirnya sendiri.

“Lexi, dengar! Kita sekarang tinggal di sini. Kamu nggak usah khawatir. Aku sudah membayar biaya sewanya. Kalau mau pergi, besok kan bisa. Ya? Yang penting jangan malam ini. Badanmu saja lho baru sehat.”

Namun, Lexi justru menangkis tangan Arga kasar. “Tidak, Ga.”

“Tidak bagaimana? Lha aku saja sudah telanjur bayar biaya sewanya.”

“Terima kasih untuk itu, tapi masalahnya aku tak bisa menginap di sini.”

“Hah?” Mata Arga membulat, tapi sedetik kemudian menyipit. “Kenapa nggak?”

Lexi menarik napas panjang, punggungnya ditegakkan. Matanya yang keabu-abuan menatap balik Arga. “Karena kapalnya akan segera berangkat.”

“Ka –kapal?”

“Ya. Kapal.”

“Kapal apa?” Merasa gadis di hadapannya kembali tidak waras, Arga melembutkan suara, “Alexia, dengar! Besok kapalnya datang lagi. Kita akan naik kapal besok. Sekarang kamu tidur dulu ya?”

“Aku tidak gila, Ga!” bentak Lexi. “Aku tidak bisa berangkat besok. Djaya tak mungkin mau tunggu.”

“Djaya?” Mendengar nama itu disebut, Arga segera arah pembicaraan mereka. “Kamu jadi mau ikut Djaya ke Bali? Malam ini?”

Lexi mengangguk lemah. “Iya. Dia sudah tunggu di pelabuhan.”

“Dan lo!” Arga melipat kedua tangan di dada. “Lo di suruh ke pelabuhan malam-malam sendirian? Dengan kondisi lo sekarang?” Suaranya meninggi.

Tak bisa mengelak, Lexi menjawab ketus, “Aku yang butuh dia. Bukan dia yang butuh aku.”

“Astaga!” Arga menggaruk rambut, kemudian menghela napas diiringi tawa kering.

“Dia mau bantu aku cari ibuku, Ga.”

“Dengan nyuruh lo ke pelabuhan sendirian?”

“Dia sering ke Bali. Dia tahu tempat-tempat di Bali.”

“Dengan menyuruh lo ke pelabuhan sendirian? Malam-malam?” ulang Arga, penuh penekanan.

“Itu karena aku baru menghubunginya lagi!” Suara Lexi ikut meninggi. “Coba saja kalau aku menghubunginya lebih cepat. Dia pasti menjemputku ke sini.”

Arga menyeka wajah kasar. “Lex, gue ini peduli sama lo. Kalau lo masih percaya sama gue, jangan berangkat!”

“Kenapa?”

“Ya karena Djaya nggak akan nolongin lo!”

“Tapi dia –“

“Nggak akan!” Arga mengatakannya tanpa keraguan. “Dengan menyuruh lo ke pelabuhan malam-malam ..., sendirian ..., itu sudah cukup membuktikan kalau dia nggak akan membantu lo.”

“Ga, dia –“

“Kalau dia niat mau menolong lo, kenapa dia nggak telepon gue dulu?” todong Arga.

Lexi diam. Suasana hening sesaat.

“Kamu bahkan bukan siapa-siapa aku, Ga.”

“Oke.” Arga kembali menghela napas panjang. “Gue memang bukan siapa-siapa lo, tapi gue tanya, selama lo sakit, siapa yang membantu merawat lo? Apa Djaya datang ke rumah sakit? Nggak, kan? Dia bahkan nggak menelepon dan menanyakan kondisi lo sama sekali. Dan lo ..., sekarang lebih memilih percaya ke Djaya daripada gue?”

Masih bergeming, Lexi merasakan matanya memanas.

“Kalau ngomongin teman, mana yang lebih teman? Gue atau Djaya?”

♥♥♥

Jangankan teman, orang yang paling Lexi percaya di dunia pun mengkhianatinya.

Kembali ke kamar, Lexi meletakkan barang-barangnya di lantai sebelum melompat ke atas ranjang. Menumpahkan tangis dia tas bantal bersarung hijau khas dengan motif bunga berlatar putih di bagian tengah, senada dengan seprai dan sarung guling.

Lexi tahu keputusannya salah. Tapi entah mengapa perkataan Arga terdengar sangat menyakitkan di hatinya. Barangkali karena dirinya memang sedang kondisi yang tak bagus. Akan tetapi, Lexi juga tak mau hal ini terjadi.

Dia mengacak rambutnya sendiri, menggaruk keras sampai membuat kuku-kukunya berdarah.

Tak lama, terdengar suara dering ponsel dari dalam tas. Lexi dengan buru-buru mengambil untuk melihat nama siapa yang ada di sana. Djaya?

Bukan. Itu bukan Djaya.


Other Stories
Buku Mewarnai

ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...

Kesempurnaan Cintamu

Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Tilawah Hati

Terinspirasi tilawah gurunya, Pak Ridwan, Wina bertekad menjadi guru Agama Islam. Meski be ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Download Titik & Koma