Chapter 49
Seorang wanita muda berambut panjang berlari tergesa-gesa menembus derasnya hujan sambil sesekali menoleh ke belakang, memastikan seseorang yang mengejarnya tidak segera menemukannya, setidaknya tak dalam waktu dekat. Seraya mengeratkan genggaman tangannya pada bocah kecil di sebelahnya, dia kian mempercepat langkah, tak peduli rengekan memelas dari bocah delapan tahun tersebut yang mengaduh tidak tahan kelelahan.
“Sebentar lagi, Sayang. Sebentar lagi kita akan sampai,” kata si Ibu, menguatkan meski sebenarnya dia sendiri pun tidak yakin. Suaranya yang pilu bersembunyi di balik suara hujan, begitu pula dengan air mata di pipinya, luruh bersama guyuran air. “Sedikit lagi. Kamu tahan ya.”
♥♥♥
Lexi menatap pantulan samar dirinya sendiri di kaca jendela rumah sakit sembari harap-harap cemas menanti hasil tes kesehatan, sebab kini nasibnya sepenuhnya bergantung pada selembar surat tersebut sebagai bekal sekaligus syarat utama agar bisa menyeberang. Tanpanya, Lexi tak akan mendapat tiket. Dan harus menunggu lebih lama supaya bisa sampai ke Pulau Dewata. Dan sungguhpun dia tak ingin merepotkan orang-orang lebih lama lagi.
Cukup sudah Bu Galuh dan Pak Agung membantunya selama ini, juga Aji yang setia mengantar jemputnya untuk datang ke poli jiwa, atau kemurahan hati keluarga Siswoyo dan warga desa yang sudi memberinya tumpangan selama masa-masa sulit ini.
Lexi tidak ingin terus-menerus menjadi beban.
“Tenang.” Suara Arga membuatnya menoleh, di atas kursi panjang ruang tunggu pria berkacamata itu tersenyum, mencoba melukis senyum di balik masker, yang sayangnya tidak cukup untuk membuat Lexi lega.
Berdecih kecil, Lexi meremas kedua tangannya kuat-kuat. Lalu, menghampiri ruang kosong di sebelah Arga. Tentu dengan membiarkan tanda silang ada di antara mereka. “Deg-degan,” katanya menepuk dada. “Ya meskipun aku sudah vaksin, tapi tetap saja rasanya takut. Ditambah yang sudah kena vaksin pun tetap bisa kena juga, kan?”
“Nggak apa-apa.” Arga membetulkan posisi masker yang dia kenakan agar lebih nyaman, sebab suka tidak suka, mau tidak mau memakai alat ini cukup mengganggu kenyamanannya kacamata. Membuat kaca di matanya lebih sering berembun. “Nanti andaikan positif pun paling cuma dikarantina.”
“Cuma?” Lexi menyipitkan mata, lalu bersiap memukul pundak Arga saking kesalnya tapi urung karena menyadari suasana di sekitar mereka cukup ramai. Ada banyak orang yang menunggu hasil pemeriksaan yang sama. Dia kemudian berbisik, “Pokoknya kalau aku positif dan dikarantina, kamu harus ikut.”
“Heh? Kok begitu? Kalau aku negatif, bagaimana?”
“Tak mungkin!” tegas Lexi, penuh keyakinan. “Kita tinggal serumah. Kalau aku kena, kamu pasti juga kena.”
Arga menegakkan punggung, kedua tangannya menyilang di dada. “Berlaku sebaliknya?”
“Tentu!” Lexi menjawab cepat. “Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkan temanku sendirian. Selama sama aku, kamu pasti aman.”
Bukannya terbalik? Arga membatin. Mata beriris kecokelatannya menatap dalam ke arah Lexi yang kini telah sepenuhnya pulih. Tiga minggu tampaknya cukup untuk membuat gadis itu utuh menjadi Lexi yang dia kenal di awal ekspedisi.
Cerita. Hidup dan berbinar-binar.
Yang sangat bersemangat dengan petualangan baru. Yang mengatur dengan cerewet barang-barang mereka sebelum sepenuhnya meninggalkan kediaman Bu Suswoyo. Juga berteriak dengan panik membangunkan Arga pagi-pagi sekali supaya segera mandi karena mereka harus membuat surat tes kesehatan bebas Covid di rumah sakit.
Tak ada yang lebih menyenangkan dari melihat perempuan dipenuhi energi.
♥♥♥
“Jangan lupa, begitu sampai di seberang segera hubungi Aji.” Pak Agung memperingatkan persis sebelum kedua manusia muda tersebut masuk ke atas feri.
“Tidak ada yang tertinggal, kan?” Bu Galuh menepuk-nepuk tas besar Lexi dan Arga, memastikan bawaan tak ada yang tertinggal. “Pastikan semua aman. Oh iya, makanannya kalau bisa dihabiskan untuk makan siang saja. Ibu masak pagi, soalnya. Kalau untuk makan malam takut basi.”
Lexi dan Arga mengangguk, kompak. Keduanya merasa kembali menjadi anak-anak di mata keluarga ini.
“Dan Mas Arga!”
“Iya, Pak?”
“Pastikan semua berjalan baik.” Pak Agung menepuk bahu Arga, kuat dan penuh penekanan. “Kalau ada apa-apa jangan sungkan mengabari. Bapak pasti akan membantu.”
Arga menjawab tak kalah yakin, “Insya Allah, Pak. Doakan perjalanan kami lancar ya, Pak.”
“Iya. Sampai bertemu lagi ya.”
Pak Agung dan Aji merangkul Arga bergantian, sementara Bu Galuh memberi pelukan perpisahan yang hangat kepada Lexi, yang selama sebulan terakhir telah menjadi putri keluarga mereka. Selain karena kasihan, Bu Galuh sebenarnya memang menantikan anak perempuan dalam keluarga mereka. Dan Lexi yang cantik, supel serta senang membantu adalah anak yang cocok untuk itu.
Yang sayangnya, seperti siklus takdir ..., cepat atau lambat seorang anak akan meninggalkan rumah. Pun dengan Lexi yang siang itu menyeberangi Selat Bali. Meninggalkan pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk.
Disaksikan angin segar dan arus deras pemisah antara Jawa dan Bali, Lexi melambaikan tangan penuh semangat ke pada keluarga barunya. Yang meskipun tak bisa saling melihat wajah masing-masing karena masker tebal, mereka tetap bisa menangkap maksud masing-masing.
Karena satu-satunya yang Lexi tidak bisa tangkap dalam hidup hanyalah ..., perempuan itu.
♥♥♥
Melihat Lexi masih terdiam di luar dek kapal, Arga yang sebelumnya telah duduk di kursi dalam ruangan sembari membaca memilih menutup kembali novel di tangannya. Dia berjalan mendekat, menepuk bahu dan membersamai Lexi.
“Kenapa nggak masuk?” tanyanya sambil memegang besi pinggiran kapal. Matanya menatap ke bawah, ke buih-buih bekas terjangan kapal feri besar yang mereka tumpangi. “Dingin lho di sini.”
Lexi menggeleng kecil. Dia sempat menoleh sebentar, tapi kemudian kembali ke arah laut. “Aku tidak tahu apakah keputusanku benar. Maksudku, semuanya terlalu ..., bagaimana bila dia tidak mengenaliku?”
“Ya berarti kamu yang mesti memperkenalkan diri,” jawab Arga diplomatis.
“Ga!” Lexi berpura-pura cemberut. “Aku merasa semua terlalu aneh.”
Arga memiringkan kepala. “Apanya?”
“Semuanya.” Tanpa melepaskan tangan, Lexi memutar badannya menghadap ke arah Arga. “Di satu titik, aku merasa perlu mengenalnya. Ingin menemuinya. Ingin bertanya banyak hal padanya. Tapi di kesempatan yang lain, aku mendadak ragu.”
“Terus, kenapa?”
“Tidak konsisten, kan?” Lexi bertanya, tapi malah mendapatkan tawa renyah dari Arga. “Aku serius. Tidak lucu, Ga.”
Menyadari kacamatanya berair, Arga melepas dan mengusapnya menggunakan sapu tangan di saku kemejanya. “Wajar kali, Lex.” Setelah kering, dia kembali memasangnya. Memberi matanya kesempatan memandang keindahan ciptaan Tuhan di hadapannya. “Bimbang itu sikap dasar manusia. Nggak konsisten itu bawaan lahir manusia. Itulah kenapa kalau kamu nggak pernah bingung ..., malah nggak normal.”
♥♥♥
Apakah memang begitu?
Sayangnya, Lexi pun tidak tahu.
Namun, dia paham betul kalau pria yang kini bersamanya ini benar-benar berniat menolong. Tanpa pamrih.
Lexi ingat beberapa hari lalu, ketika dia hampir mati kebosanan tinggal di dalam hutan –Lexi baru menyadari betapa terpelosok kediaman keluarga Suswoyo ketika akhirnya keluar rumah di hari keempat. Bukan hanya berada di atas bukit, rumah tersebut bahkan tidak punya tetangga. Satu-satunya rumah terdekat hanyalah rumah yang saat itu dia tinggali, dan rumah kerabat lain yang jaraknya kurang lebih seratus meter dari rumah utama.
Tidak ada yang bisa dia temukan di sana kecuali pohon kopi, kakao, karet dan cengkeh.
Jangankan kendaraan umum seperti ojek atau angkutan kota, jalanan di depan rumah pun hanya berupa tanah rata tanpa aspal. Yang semakin dia berjalan dengan kameranya untuk mengambil gambar, kian banyak pula jalanan cabang yang ukurannya tak sampai satu meter, hanya cukup dilewati satu kendaraan.
Akan tetapi, dia tahu masyarakat tetap bisa lewat langsung di bawah pepohonan perkebunan tersebut. Yang rindang dan ..., beraroma kopi.
♥♥♥
“Kampung terdekat jaraknya kurang lebih tiga kilo meter.” Bu Dartik, keponakan Pak Suswoyo sekaligus satu-satunya tetangga yang Lexi miliki di sana menjelaskan sambil menyuapi anak kecil dua tahunan di gendongan. “Kalau mau ke sana bisa ikuti jalanan ini. Lurus, nanti juga sampai. Tapi kalau mau lebih cepat bisa lewat perkebunan.”
“Apa tak bahaya?”
“Bahaya apanya?” Bu Dartik malah tertawa, mengejek. “Di kebun jam segini banyak pekerja. Tapi sebagai orang baru, Mbak memang jangan lewat sana,” lanjutnya serius. “Daripada tersasar.”
Lexi mengangguk, setuju.
“Eh, tapi misalnya Mbak takut, nanti saja tunggu anak saya. Biar dia yang antar Mbak ke sana.” Bu Dartik menjejalkan makanan ke mulut anak bungsunya, Aisyah, yang dengan lahap memakan nasi dan ayam telur orak-raik buatan sang ibu. “Sebentar lagi Fahra pulang kok, Mbak. Sekalian nanti ikut dia mengantar bekal bapaknya.”
Other Stories
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Kumpulan Cerpen
cerpen yang unik unik aja tanpa ada batas ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...