29. Jangan Pernah Berpikir Hidupmu Sia-sia! Kamu Berharga, Setidaknya Untuk Dirimu Sendiri! Kamu Harus Percaya Diri
Sebelum mengangkat telepon, Lexi memutuskan untuk menyeka terlebih dahulu seluruh sisa derai di wajahnya.
Setelah memastikan penampilannya di cermin yang berada di meja rias persis di seberang ranjang, dia pun memutuskan menggeser tanda hijau di layar ponselnya. Lalu, menyapa orang yang ada di sana menggunakan senyuman lebar, “Halo, Bunda.” Dia bahkan melambaikan tangannya ke kamera.
“Ya ampun, Sayang.” Ada kelegaan dari suara Bu Nurmala. “Kamu ke mana saja? Kok beberapa hari ini tidak ada kabar? Bunda, Bian dan ayahnya Alden telepon ..., nomormu juga tidak aktif.”
Lexi berdeham, mencoba menyembunyikan suaranya yang serak. “Aku baik-baik saja kok, Bun. Eh, aku memang beberapa hari ini sibuk banget. Terus, ponsel aku juga rusak. Makanya tidak bisa online.”
“Rusak?”
“Iya, Bun. Tapi sudah bisa kok. Sudah dibawa ke tempat servis.” Lexi beralasan. “Bunda sehat?”
“Alhamdulillah. Kamu yang tidak sehat ya?”
“Bagaimana, Bun?”
“Itu suaramu serak. Kamu batuk ya?”
Merasa tak perlu repot mencari alasan lain, Lexi buru-buru mengangguk. “Iya. Cuaca di sini kurang bersahabat, makanya aku flu.”
“Yakin hanya flu biasa? Bukan covid?”
“Bukan kok, Bun.”
“Sudah periksa?”
“Sudah.” Lexi merekahkan paksa senyum di bibirnya.
Bu Nurmala menghela napas lega. “Syukurlah. Bunda tidak berhenti memikirkanmu setiap hari, Sayang. Apalagi setelah katanya ..., itu ..., diberita ada peserta program yang bunuh diri –“
“Hoax itu, Bun.”
“Iya. Bunda sudah baca.”
Demi menjaga nama baik program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara, panitia dan seluruh peserta sepakat menyembunyikan aksi Lexi. Dan berhubung gagal, Lexi pun setuju. Dia merasa itu yang terbaik. Setidaknya rasa malunya cukup berhenti di sini dan tak tersebar ke seluruh Indonesia.
“—tapi kan masalahnya kamu sendiri sudah tidak bisa dihubungi, tidak muncul di vlog dan,” Bu Nurmala mengibas-ibaskan tangan kirinya cepat. “Pikiran Bunda tak tenang. Ngelantur ke mana-mana. Tidak karuan.”
“Maaf ya, Bun.”
“Eh, kenapa kamu malah minta maaf?” Bu Nurmala justru memasang air muka penuh rasa bersalah. “Kamu kan tidak salah. Bunda yang salah karena terlalu mencemaskanmu. Padahal anak Bunda sekarang sudah besar. Sudah pada jadi orang semua.”
♥♥♥
Anak Bunda?
Apakah ini artinya Bu Nurmala masih menganggapnya anak? Apakah dia masih dicintai? Tapi, kenapa?
Lexi tidak berhenti menangis malam itu. Bukan karena Arga, atau karena dia gagal berlayar bersama Djaya, melainkan merutuki dirinya sendiri yang tergesa-gesa dalam bertindak.
Arga benar, masih ada banyak orang yang mengharapkan Lexi tetap hidup. Dan seharusnya dia tidak dengan sengaja mengundang penderitaan pada orang-orang yang mencintainya.
“Kematian nggak perlu dijemput, kalau sudah waktunya pasti datang sendiri.” Itulah bagian dari ucapan Arga yang tak akan pernah Lexi lupa. “Kematian alami saja sudah cukup menyakitkan, apalagi kematian yang disengaja? Lukanya bisa berkali-kali lipat buat orang terdekat.”
“Sok tahu.” Lexi yang saat itu masih memakai selang infus menjawab, ketus.
“Bukan sok, tapi memang tahu.” Arga membela diri. “Kalau nggak percaya buktikan saja.”
“Ya bagaimana mau membuktikan kalau bunuh diriku saja kamu gagalkan.”
“Bukan mati beneran dong, Lex. Kalau mati mana bisa membuktikan?” Arga mendesis. Matanya menyipit. “Nggak usah kematian deh, dengan lo nggak mengangkat dan menghubungi orang-orang selama beberapa hari saja deh, lo akan tahu betapa banyak manusia yang menyayangi lo di dunia, yang menganggap kabar dan suara lo sangat berharga.”
“Kalau nggak ada?”
“Pasti ada.”
“Sayangnya, aku bukan kamu yang punya banyak teman dan sahabat.”
Arga memutar bola matanya. “Ayolah, Lex. Kalau orang kayak gue saja bisa punya teman, masa lo nggak?”
“Kok kamu berpikir begitu? Maksudku, apa kelebihanku dibanding kamu?”
“Ceria? Penuh semangat?”
“Itu dulu.”
“Justru karena dulu, harusnya banyak yang sayang. Kan sedihnya baru beberapa hari ini.”
“Bukan begitu juga, Ga.”
“Begitu!” tegas Arga. “Memang begitu. Gue saja waktu pertama kali melihat lo di kereta –lo gadis yang sangat berisik dan penuh energi.” Arga menggerakkan tangannya ke udara. “Lo sangat menonjol. Cantik. Menarik. Suka mengobrol dengan orang lain. Nggak kikuk di keramaian. Dan yang paling penting dari semua itu, lo punya bakat luar biasa.”
“Bakat apa?”
“Tulisan lo bagus, Lex.”
“Kamu baca?”
“Tentu. Kita satu tim. Ya kali aku nggak tahu tulisan rekan satu timku sendiri?” Arga mengulat pelan. Meregangkan otot punggungnya. “Belum lagi fotografi, editing video dan ..., selancar. Itu keren banget.”
♥♥♥
Muda. Liar. Dan tidak takut pada apa pun.
Merupakan pandangan awal Arga tentang perempuan yang kini menempati kamar di sebelah ruangan tempatnya menginap tersebut. Setidaknya hal tersebut dia rasakan sejak pertama kali keduanya bertemu di kereta, hingga melakukan perjalanan bersama sebagai sebuah tim yang cukup kompak.
Walau untuk disebut kompak sebenarnya Lexi lah yang aktif mengambil peran. Akan tetapi melihat Lexi bisa bertahan mengatasi tingkah buruknya –Arga baru menyadari betapa menyebalkan dirinya setelah Lexi membalasnya di hari-hari belakangan ini –sungguhpun Arga tak menyangka bila Lexi justru bisa berpikir sedemikian dangkal.
Namun, sadar tindakannya semalam keterlaluan, Arga yang baru saja keluar menghela napas panjang. Matanya yang sebelumnya memandang ke arah pintu kamar Lexi kemudian dikucek, sebelum melanjutkan paginya ke dapur untuk membuat sarapan.
Maklum saja, tanpa Bu Galuh dan Pak Agung, mereka tak bisa ongkang-ongkang kaki di sini. Apalagi pasangan Pak dan Bu Suswoyo telah meninggalkan rumah sejak pagi untuk menjadi buruh perkebunan kopi. Alhasil, mereka harus memasak sendiri bila ingin makan.
“Lalu, kenapa nggak beli saja?” Tak hanya Mbak Indah, pertanyaan yang sama sempat Arga ajukan kepada Aji saat mengantarnya ke tempat ini beberapa hari lalu.
Dan dengan tawa kecil Aji menjawab, “Jauh. Mas kan tahu tempat ini di pedesaan. Pasar terdekat sih ada, tapi mau naik apa? Pakde cuma punya satu motor yang dibawa kerja setiap pagi. Tapi Mas tenang saja, tadi aku sudah pesan ke Bude untuk membelikan kalian bahan masakan yang bisa kalian ambil di kulkas kalau mau. Mi instan juga ada itu di keresek.” Dia menunjuk plastik putih berlogo minimarket terkenal di atas koper. “Umpama Mas lapar malam-malam bisalah dimasak sendiri.”
♥♥♥
Beberapa butir telur dan seperangkat sayur sop –dua butir kentang mungil, tiga buah wortel seukuran telunjuk orang dewasa, seperempat potong kubis seukuran kepalan tangan, seujung daun bawang, dan dua batang seledri tua menjadi penghuni kulkas Bu Siswoyo pagi itu.
Yang karena dia tidak terlalu bisa memasak, Arga yang sebenarnya bisa saja merebus dan menaburkan garam ke dalam sup ala-ala seperti biasanya dia memasak memutuskan untuk meminta bantuan. Sebab dia terlalu kasihan dengan Lexi.
Bagaimanapun juga Lexi harus makan. Setidaknya agar obat-obatan yang diresepkan oleh dokter bisa dia minum dengan aman. Dan berhubung makanan enak buatan Bu Galuh yang dikirim Aji semalam saja tidak Lexi makan, lalu apa kabar bila Arga benar-benar hanya membuatkannya sayur rebus?
Bisa-bisa Lexi mati kelaparan, pikir Arga.
“Nggak usah dikupas nggak apa-apa. Cukup bersihkan sampai tanah di kulitnya hilang.”
Daripada mengajari, suara Rian lebih terdengar seperti menghakimi di telinga Arga yang sedang sibuk mencuci sayuran di wastafel. Sesekali dia menoleh ke arah gawai yang dia letakkan di atas meja makan persis di belakangnya.
Di seberang telepon tampak Rian tengah sibuk memandikan putri kecilnya. Lengkap dengan cipratan air dan suara teriakan bocah berusia tiga tahun tersebut.
“Ya Allah, Daniar. Jangan dimainkan airnya. Basah semua Ayah, Sayang,” keluh Rian. “Masyaallah, Cantik. Ayo cepetan, nanti Bunda keburu pulang lho. Biarin. Nanti kalau Bunda balik dari pasar dan Niar belum selesai mandi, biar ditinggal.”
Daniar merengek, membuat Arga ikut tersenyum. Maklum saja, sudah sangat lama dia tidak melihat anak itu. Bocah yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
“Kok nangis? Nggak boleh nangis. Nanti digigit Om Arga lho.”
“Heh, jangan fitnah!” Arga buru-buru kembali ke meja makan, meraih ponsel dan mengklarifikasi. “Sejak kapan gue suka gigit Nia? Yang ada lo yang gue gigit, Ian.”
“Om Aga idak gigit Ia?” Daniar muncul dari samping, tangannya yang basah hampir menutupi kamera. Tetapi detik berikutnya dia sudah dibungkus handuk, sementara rambut pendeknya basah meneteskan air. “Om Aga macak?”
“Iya. Om Aga masak sup!” Tangan Rian mengusap wajah mungil Daniar, sebelum menggendong putri semata wayangnya itu di samping. “Kita ganti baju dulu ya? Dan Om Aga!” Dia menoleh ke kamera yang kini dipegang menggunakan tangan kiri. “Bagaimana? Sudah benar-benar bersih?”
“Sudah. Ini!” Arga mengangkat wadah plastik berisi sayur di tangannya. Menunjukkan pada sang master.
Rian mengangguk, bangga. “Bagus. Sekarang bumbunya diulek dulu.”
“Bumbu –“ Arga menengok satu per satu bahan di atas meja kebingungan. “Bumbu yang mana?”
“Ya yang sudah lo bersihkan tadi dong, Mas Arga.” Rian terdengar sangat kesal, tetapi kamera yang beberapa detik lalu oleng sekarang sudah stabil. Arga meletakkannya di kasur. Rian bisa melihatnya. Bahkan dia bisa melihat Daniar kecil di dudukkan di sana juga. Menunggu diganti pakaian. “Apa saja itu tadi? Coba?”
“Bawang putih?” Arga mengambil tiga siung dan mendapat angguk pembenaran dari sang guru. “Bawang merah? Dan –merica?”
“Sip!” Rian memberi jempol. Lalu, berpindah ke lemari kayu di belakangnya. “Niar mau pakai baju yang mana? Unicorn atau yang Barbie?”
Daniar menoleh, mengusap ujung hidung mungilnya sambil menyedot ingus sisa dingin. “Ebi.”
“Barbie?” Rian mengayunkan baju berwarna merah muda ke depan, seolah menegaskan dan karena Daniar kecil mengangguk, dia langsung meletakkannya ke atas kasur, sebelum memakaikan pakaian itu ke tubuh anaknya terlebih dahulu dia memasukkan kembali baju Unicorn ke lemari. “Sudah bisa milih baju sendiri dia. Kalau nggak sesuai nggak mau.”
“Pintar dong berarti,” kata Arga seraya mengulek seluruh bumbu menggunakan cobek. “Ian, kok nggak bisa halus ya?”
“Apanya?” Rian memangku Daniar, bersiap mendandani putrinya.
Arga menjawab, “Merica.”
“Lo ulek merica bareng bawang?” Ekspresi Rian datar, seolah kehabisan kesabaran. “Mas Arga, oh Mas Arga. Di mana-mana orang ngulek merica itu duluan. Nggak dicampur sama bumbu lain.”
“Masa?”
“Ya elah, dibilangi nggak percaya.” Rian masih tak berpaling dari Daniar. “Matanya ditutup dulu,” katanya persis saat hendak memasukkan kerah baju ke kepala Daniar. “Iya. Pintar.”
“Ayah, bebek.”
“Bebek? Oh masih di kamar mandi. Basah. Nggak boleh main bebek.” Setelah memastikan baju terpasang, Rian ganti mengeringkan rambut basah putrinya menggunakan handuk. Dan, menyisirnya. “Ya sudah, sekarang ulek saja sampai halus. Memang agak lama, tapi nggak apa-apa.”
“Oh. Oke.” Arga menurut. “Setelahnya apa?”
“Ditumis sebentar.”
“Apanya?”
“Bumbunya dong, Mas Arga. Masa dirimu yang ditumis.”
“Om Aga umis?” Daniar meniru, senyumnya lebar. “Ayah. Ayah. Ia mamam.”
“Iya, habis ini.”
“Setelah ditumis, apa?”
“Sudah. Tumis dulu saja. Instruksi berikutnya menyusul.”
Arga menaikkan sebelah bibirnya, cemberut. Tetapi menurut dengan mengambil wajan kecil yang tercantol di dinding.
“Ini tumis lho. Bukan goreng. Jadi, minyaknya sedikit saja.”
“Iya, Ian. Iya. Gue nggak segoblok itu juga kali.” Arga hampir melempar irus ke arah Rian, tapi karena sadar ponselnya terlalu berharga, dia urung. “Tahu begini gue lihat Youtube saja. Menyesal gue telepon lo.”
Rian malah tertawa. “Ya salah sendiri. Ya, Sayang?” Dia berpindah ke Daniar, mencium pipi gembul anaknya gemas. “Ih, wanginya. Cantik sekali Anak Ayah.”
Other Stories
Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai
Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...
Kau Bisa Bahagia
Airin Septiana terlahir sebagai wanita penyandang disabilitas. Meski keadaannya demikian, ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Erase
Devi, seorang majikan santun yang selalu menghargai orang lain, menenangkan diri di ruang ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...