35. Dunia Penuh Gedebrak-gedebruk-gubrak! Tuhan Memang Pemilik Plot Twist Paling Tak Masuk Akal Di Alam Semesta
“Bagaimana kalau kedatanganku justru merusak kebahagiaan mereka?”
Pertanyaan Lexi seketika membuat Arga bergeming, tidak tahu harus merespons bagaimana mengingat dia tak pernah berada di situasi sedemikian rumit. Namun, sambil mengaduk-aduk kopi panas di pangkuannya, Arga setia mendengarkan.
“Aku tak mau apa yang terjadi padaku terjadi juga pada mereka,” lanjut Lexi, pilu. “Apalagi kamu lihat sendiri kan tadi? Dia terlihat sangat bahagia dengan suami dan anak-anaknya.”
“Tapi kamu bilang, Lex, dia mencarimu, kan?”
“Itu dulu, Ga. Ketika aku remaja.” Lexi menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal. “Sudah sepuluh tahun berlalu. Mungkin dia sudah melupakanku. Dan –“ Dia diam sebentar, menarik napas panjang nun dalam sebelum menghelanya pelan lewat mulut. “Dad harusnya tidak perlu merasa bersalah sampai harus memintaku datang mencari wanita itu. Karena semua telah terlambat.”
Arga meletakkan gelas kopinya ke atas lantai keramik. Lantas, dengan sangat penuh kehati-hatian menyentuh tangan bahu Lexi. “Siapa kamu bisa menilai sesuatu terlambat atau tidak?”
“Hah?”
“Memang, kamu pemilik waktu?” tambah Arga, serius. “Lex, dengar!” Arga berubah menggenggam jemari Lexi dengan kedua tangannya, dan memberikan tatapan tepat di kedua mata wanita muda di hadapannya. “Kamu manusia. Kamu berhak bahagia. Kamu berhak sembuh. Dan kamu nggak harus selalu memikirkan perasaan orang lain, apalagi kalau itu menyakitimu.
“Oke. Aku akui aku memang terkadang masih sering mengorbankan kebahagiaanku demi manusia lain, tapi –bagaimanapun juga kamu adalah seorang anak. Kamu berhak mendapatkan jawaban dari orang tuamu.”
“Tapi ....“
“Kalau kamu nggak mau menghancurkan keluarga baru ibumu, maka kamu tinggal jangan muncul di depan mereka,” tegas Arga. “Kamu hanya perlu menunjukkan dirimu di depan ibumu. Setelahnya, kita lihat bagaimana dia akan memperlakukanmu. Kita lihat dulu responsnya ke kamu.”
“Aku ....”
“Kita sudah sejauh ini, Lex.”
“Masalahnya, aku takut, Ga.”
“Nggak apa-apa.” Arga menggeleng, lemah. “Kamu manusia. Takut itu manusiawi. Yang perlu kamu tahu, ada aku di sini.”
Lama, Lexi terdiam. Menatap wajah tampan Arga, yang dihiasi hidung mancung dan mata sendu itu cukup lama sebelum akhirnya bertanya, “Boleh aku peluk kamu?”
Kaget, Arga tersentak sebentar sebelum akhirnya mengangguk dan membuka kedua tangannya lebar, memberi Lexi kesempatan menubruk dadanya sebagai ..., seorang teman.
Teman?
♥♥♥
“Apa ini akan berhasil?”
Meski tidak bisa menjamin, Arga yang sedari tadi memperhatikan pemandangan di dalam toko dari seberang jalan setia menanti. Hingga kemudian dia melihat ibu dan anak tersebut membatu, mematung tanpa mengalihkan pandang dari muka masing-masing. Di sanalah Arga sadar bahwa Lexi berhasil.
“Si –Sisi?” panggil Nurhasanah, lirih.
Yang dijawab anggukan kecil oleh putrinya tersebut. Air mata Lexi tergenang di pelupuk mata, menandakan kepedihan luar biasa. “Ya, Bu. Ini aku.”
“Astaga!” Nurhasanah menutup mulut, masih tak bisa percaya. Namun detik berikutnya, dia berputar memutari meja hanya untuk menyentuh wajah Lexi, ragu-ragu. “Alexia? Sisi? Anakku?” Yang tanpa perlu jawaban, langsung membuatnya meledakkan tangis. “Ya Tuhan, Sisi!”
Tak tahu apakah harus membalas atau tidak, Lexi membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh Nurhasanah. Seolah tak akan membiarkannya lepas. Dan dititik itulah, saat kepalanya menyentuh dada ibunya, mendadak Lexi tak lagi bisa menahan diri untuk tak menangis.
Aroma ini.
Aroma tubuh ini, mengapa seolah begitu dia kenali?
“Oh, Tuhan. Ini anakku! Ini benar anakku!” Suara Nurhasanah begitu pilu. “Maafkan Mami, Sayang. Maafkan Mami.”
♥♥♥
“An, bisa kamu antarkan minuman ini ke depan?”
Andaikan dia tahu bahwa segelas kapucino tersebut mampu mengubah kehidupannya sedemikian dahsyat, sudah pasti Nurhasanah alias Ana tidak akan pernah sudi mengangkat cangkir putih yang disodorkan sang kakak dan membawanya ke meja nomor dua belas, tempat seorang pria tampan yang duduk menyendiri sembari membaca buku tersebut. Atau paling tidak, dia tak akan pernah berbasa-basi, menanyakan buku apa yang si pria baca, dan meladeni ajakannya mengobrol, yang kemudian berlanjut menjadi surat-menyurat.
Sebab, di sanalah semua bermula.
Dari sahabat pena, kekasih dan berlangsung menjadi kisah cinta yang tidak-tidaknya pada mulanya teramat manis, hingga gadis yang sebenarnya pada saat itu tengah menempuh pendidikan sebagai seorang guru di salah satu universitas bergengsi di Jakarta tersebut melepas kuliahnya demi menikah muda. Meski jelas, hubungan tersebut dianggap terlarang dan mendapat penolakan tegas dari kedua orang tuanya di kampung halaman.
Namun, dasar cinta keduanya tetap melangsungkan pernikahan. Tanpa saksi, tanpa restu apalagi doa dari keluarga kedua mempelai. “Semua terjadi begitu cepat, seperti bermimpi,” terang Nurhasanah kepada satu-satunya putri yang dia miliki, sambil memegang erat tangan Lexi, dia membawa kenangan ke masa lalu. “Semua berjalan sangat indah waktu itu. Seperti dongeng, Mami merasa dunia terlalu sempurna saat itu.
“Mami bahkan berpikir, bila kakek dan nenekmu terlalu egois karena menghalangi kisah cinta kami. Padahal, apa yang salah? Sampai kemudian hari itu tiba.”
“Hari apa?”
Tak langsung menjawab, Nurhasanah menatap wajah sembab Lexi dan menyentuh pipi kemerahan itu lembut. Lalu, menoleh pada Arga yang sejak cerita di mulai duduk mendengarkan keduanya dari kursi kayu di teras toko. “Tidakkah kita perlu mengajaknya masuk?”
“Nggak usah, Tante. Saya di sini saja,” sahut Arga, menegaskan. Bukan apa, dia hanya tak ingin merusak momen ibu dan anak yang jelas sudah sangat diidam-idamkan baik oleh Lexi maupun Nurhasanah sendiri. Karena merasa tak enak, dia pun berdiri.
“Mau ke mana, Ga?” tanya Lexi, cemas.
Arga menjawab, “Aku mau ke minimarket sebentar. Kalian lanjutkan saja.”
Sadar Arga hanya mencari alasan, Lexi memilih tidak mencegahnya. Dan kembali menyambung obrolan, “Sampai apa tadi?”
“Sampai kemudian,” Nurhasanah memberi jeda sebentar untuk menarik napas panjang dan dalam, “kalian lahir.”
“Hah? Kalian?”
Nurhasanah mengangguk, lagi. Tapi lebih pedih. “Mami tidak tahu apa salah Mami hingga papimu memperlakukan kita seperti itu, Sayang. Mami sudah berusaha membuat semuanya berjalan baik tapi –Mami terlalu lemah. Mami terpaksa menitipkan Niko ke rumah Kak Salman.”
“Tunggu! Siapa itu?”
“Kak Salman? Kakak Mami.”
“Lalu, Niko?”
Wajah Nurhasanah kembali memucat, menahan tangis. “Ka –kakakmu.”
Mata Lexi membulat, kaget. “Aku punya Kakak?”
“Iya, Sisi.” Nurhasanah mengangguk, semakin tak berdaya. Ada rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. “Dia delapan tahun lebih tua dari kamu. Dia anak yang sangat manis. Dia pasti akan sangat senang melihatmu di sini.”
Apa yang –semua terlalu membingungkan.
Mengejutkan.
Dan, bagaimana Lexi harus memproses semua ini?
“Lalu, di mana dia sekarang?”
Nurhasanah menggeleng, meremas ujung pakaiannya sendiri kuat-kuat. “Ketika Mami tahu kamu ada di perut Mami, sejujurnya, Mami tidak pernah ingin kehilangan kalian. Itulah kenapa Mami memutuskan untuk meninggalkan Papi.
“Mami yang salah. Andai Mami bisa lebih kuat. Tapi, tidak!” Dia menggeleng, mencoba menepis ingatan buruk dari kepalanya. “Mami tidak sanggup, Sayang. Kalau Mami yang dipukul, Mami nggak masalah. Mami ikhlas.
“Hanya saja, Mami tidak rela melihat Niko dan kamu –yang bahkan belum lahir dianiaya oleh Yovan.”
Lexi mencoba mencerna kembali, meski isi kepalanya nyaris meledak saking penuhnya.
“Mami membawa Niko yang saat itu baru saja merayakan ulang tahun ke delapan ke rumah Kak Salman. Dengan harapan ..., papimu tidak akan menemukan kami.”
“Lalu?”
Ya, lalu ..., semua terlalu pahit dan menakutkan untuk dikenang.
Sebab, sungguh Nurhasanah tak akan bisa mengenang semua dengan baik. Bukan tak mau, tapi tidak mampu.
Bahkan setelah tiga puluh tahun berlalu, dia masih bisa mengingat semua dengan sangat baik detik-detik Yovan datang menerobos rumah kakaknya. Merebut Niko kecil dari pangkuannya dan, “Itu adalah kali terakhir Mami bertemu dengan kakakmu.”
“Papi membawanya?”
“Ya. Dan dia berjanji akan mengambilmu juga saat kau lahir.”
“Dan itulah alasan Mami membuangku ke panti asuhan?”
Pedih, Nurhasanah mengangguk. “Agar tidak diambil oleh papimu.”
♥♥♥
Oh ayolah! Alasan macam apa ini?
“Papimu orang yang gila, Si!” Nurhasanah kembali bersikeras. “Dia bisa melakukan apa pun hanya untuk menghancurkan Mami. Dia bahkan membiarkan kakakmu mati overdosis sepuluh tahun lalu tanpa memberinya kesempatan bertemu dengan Mami dan kamu, adik yang sangat dia cintai.”
“Dia mengenalku?”
“Ya, Sayang. Dia sangat mengenalmu.” Suara Nurhasanah berubah, memelan. Tanda makin tak sanggup. Ingus mengalir dari hidungnya, yang buru-buru dia seka menggunakan tisu. “Bahkan dialah yang selalu mencarimu selama ini. Tepat sebulan sebelum dia meninggal, Niko menghubungi Mami lewat email dan berkata telah menemukanmu. Tapi sebelum sempat Mami menerima alamat darinya ..., Niko meninggal.”
Air mata Lexi yang sebelumnya coba dia tahan kini benar-benar tak mampu lagi dibendung. Dia merasakan sekujur tubuhnya melayang. “Ya Tuhan.”
“Tapi Mami yakin kamu pasti akan mencari Mami!” Nurhasanah memeluk Lexi, lagi. “Karena Niko bilang, dia sudah mengirimkan surat padamu. Cepat atau lambat, kamu pasti akan mencari Mami. Meskipun Mami tahu, kamu mungkin membenci kami.”
Other Stories
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Dante Fairy Tale
“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...