(bukan) Tentang Kita

Reads
904
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

36.ada Terlalu Banyak Nama Di Sana


“Total semuanya sembilan ribu, Kak.” Seorang wanita muda berseragam minimarket mengatakan total pembayaran yang harus Arga keluarkan untuk sekaleng minuman kopi dingin. Yang langsung dia bayar menggunakan satu lembar uang sepuluh ribuan. “Kembaliannya –“

“Ambil saja!” jawab Arga sambil berlalu. Dia menuju ke kursi besi di teras minimarket, mendudukkan dirinya di sana, barulah kemudian membuka penutup botol untuk bisa menikmati minuman tersebut. Itu pun harus ekstra hati-hati karena pandemi masih mengancam, mengharuskannya membuka sedikit masker di wajahnya untuk bisa benar-benar memasukkan kopi ke dalam mulut.

Kalau dipikir-pikir, sudah lama Arga tidak merasakan suasana sesantai ini di teras minimarket. Padahal dahulu hampir setiap malam dia melakukannya.

Sama seperti kebanyakan lelaki lain yang harus bekerja di kerasnya dunia, Arga tentu bersahabat dengan kursi besi minimarket. Lebih tepatnya, kursi minimarket di depan apartemen tempat tinggalnya. Yang selain bersih, bagian terbaiknya sangat jarang didatangi orang pada pagi hari. Itulah kenapa dulu Arga senang datang saat pagi, alih-alih malam. Karena ketika malam tiba, bila menginginkan jadwal terapi di kursi akan diperlukan usaha ekstra saking banyaknya pria-pria dewasa kelelahan yang mencari penghiburan di sana.

Dan kini, ketika dia akhirnya bisa menikmati suasana pagi yang cerah ditemani kopi serta kesunyian Pulau Bali, Arga merasa dia seolah-olah berada di surga. Terlebih dengan fakta bahwasanya Lexi ..., diterima.

Gadis itu sudah terlalu banyak menderita, pikir Arga.

Sudah sepantasnya Lexi menemukan kebahagiaan dalam hidup. Pun Arga sangat berharap keluarga baru dari ibu kandung gadis itu bisa menerima Lexi apa adanya. Sebagai anak. Sebagai keluarga dan bagian hidup mereka.

Maka dari itu, ketika melihat pemandangan indah di toko bunga tadi, Arga merasakan dadanya menghangat. Hatinya ikut meleleh bersama tangis ibu dan anak yang terlalu memendam rindu tersebut. Ya, Arga bisa menangkap dengan sangat jelas kerinduan menggenang di antara air mata keduanya.

Namun, belum genap sepuluh menit dia duduk, matanya sekonyong-konyong disuguhi tangis lain.

“Lex?” Arga refleks berdiri, menghampiri Lexi yang datang dari arah rumah Nurhasanah sambil menangis. Langkahnya cepat, nyaris berlari. “Kenapa?” tanya Arga lagi, yang sayangnya masih tak dapat respons kecuali gelengan kecil.

Lexi bahkan tak menoleh, melewatinya begitu saja.

Bingung, Arga berniat mengejar saat sebuah suara memanggil-manggil nama Lexi. Yang ketika Arga berbalik, tampak Nurhasanah terduduk di atas aspal dengan tangan terulur ke depan, seolah-olah hendak meraih tangan Lexi yang telah berjalan sangat jauh.

“Sayang! Sisi! Jangan pergi!”

♥♥♥

Apakah dia kejam?

Lexi tidak tahu apakah keputusannya pergi meninggalkan toko bunga tepat atau justru keliru. Karena yang jelas, semua kini tampak sangat-sangat gelap di matanya. Seperti bom atom yang dijatuhkan tepat di dadanya, meledakkan seluruh isi perut, dan perlahan-lahan menjangkit seluruh tubuh melalui aliran darahnya.

Mami?

Papi?

Sungguh, Lexi tidak pernah menyangka akan mendapatkan fakta bahwa dirinya memiliki orang tua yang lengkap. Terlebih selama bertahun-tahun lamanya, Lexi berpikir bahwa dia mungkin lahir dari hubungan gelap, dan ibunya menelantarkannya karena merasa tak sanggup membesarkan seorang anak.

Itulah mengapa bertahun-tahun menaruh benci pada ibu kandungnya sendiri. Bertahun-tahun pula dia mengutuk perempuan yang –harus bagaimana dia menyikapi semua ini?

Namun, yang paling menyakitkan dari segalanya, yang sampai kapan pun tidak akan pernah bisa Lexi maafkan adalah ..., dia memiliki seorang kakak.

Kakak.

Ya, kakak.

Bukan kakak yang dia temui di panti asuhan, atau berbagai makanan karena merasa senasib sepenanggungan. Ini kakaknya sendiri. Seorang kakak yang tidak menyerah menemukannya. Yang merindukannya. Yang mencintainya.

“Niko lah selama ini tidak menyerah untuk menemukanmu.” Ingatan soal pernyataan sang ibu sebelumnya kini berubah menjadi mata pisau di hati Lexi, menggores sedemikian cepat dan membabi-buta. “Mami minta maaf karena berhenti mengirimi kamu pesan setelah ulang tahunmu yang ke tiga. Tapi sungguh, bukan berarti Mami tidak mencintaimu. Sebaliknya, Mami sangat takut Papi bisa melacak keberadaanmu.

“Selama ini Mami selalu mengawasimu dari jauh. Mami sering diam-diam datang ke panti hanya untuk melihatmu. Mami bahkan punya video penampilanmu di hari Kartini saat kelas dua SD dulu. Saat kamu menangis, meminta digandeng oleh Bu Nurmala, sampai akhirnya berani membaca puisi dengan lantang. Mami merekam semuanya, Sayang.”

Tapi, kenapa Mami tidak datang?

Kenapa baru sekarang?

Padahal waktu itu, Lexi sangat butuh dukungan seorang ibu. Lexi ingin disayang oleh orang tuanya sendiri, bukan pengurus panti yang bergantian mengurus anak lain.

“Apakah kamu tidak pernah berniat mengambilku kembali?”

Pertanyaan Lexi membuat Nurhasanah diam sejenak, tetapi kemudian menggeleng. “Tentu Mami ingin, Sayang. Selama lebih dari delapan tahun Mami bekerja sebagai asisten rumah tangga di Singapura untuk mengumpulkan uang. Supaya Mami bisa menyediakan kehidupan yang layak untuk kamu dan Niko tapi sayangnya ....”

“Sayangnya apa?”

“Kamu telanjur diadopsi.”

Adopsi adalah mimpi terbesar semua anak-anak di panti asuhan. Sebab hanya di sanalah mereka punya kesempatan memiliki keluarga yang utuh, termasuk Lexi.

Hampir setiap malam Lexi kecil berdoa minta dianugerahkan keluarga baru. Orang tua yang mencintai dan menerimanya apa adanya. Tanpa tahu bahwa dia juga telah memiliki orang tersebut di hidupnya.

“Saat mendengar kamu diadopsi, Mami langsung pulang ke Indonesia,” ungkap Nurhasanah sambil menyeka air mata di wajahnya. Matanya menatap lurus ke iris Lexi, dengan kedua tangan menempel di pipi anak perempuannya tersebut. “Mami berniat menemuimu. Mami ingin menemuimu setidaknya untuk terakhir kali.”

“Lalu, kenapa kamu tidak menemuiku?” Nada bicara Lexi meninggi.

“Karena Mami terlambat! Mami terlambat menyadari kepergianmu!” isak Nurhasanah semakin sesak. “Mereka bilang kamu dibawa ke Amerika. Itu saja. Dan Mami menghabiskan bertahun-tahun hidup Mami untuk menemukanmu sampai akhirnya Mami bertemu dengan Peter.”

“Peter?”

“Ya. Suami Mami yang sekarang.”

♥♥♥

“Ayah tiri kamu. Ayah dari adik-adik kamu.”

Oh, ayolah!

Belum selesai otak Lexi mencerna siapa saja nama-nama baru yang sebelumnya hadir di dalam kehidupannya, kini dia harus menerima kenyataan bahwa dirinya, Alexia Renata –tanpa Harris –adalah seorang adik sekaligus kakak bagi saudaranya-saudara yang bahkan tidak dia kenal sama sekali?

Seraya melempar tas ke surut ruangan, Lexi melompat ke atas ranjang. Kemudian menumpahkan air matanya di permukaan bantal yang sudah tiga hari belakangan menjadi teman tidurnya selama di Bali.

Sesak dan agak apek, tetapi paling tidak benda tersebut bisa membantu membuatnya tenang.

Meringkuk, tubuh Lexi bergulung mengikuti arah tangan-tangannya yang setia memeluk bantal bersarung bunga-bunga. Layaknya bayi dalam rahim bunda, Lexi yang dilanda badai merasa sendirian.

Sepi.

Sunyi.

Dan, hampa.

Sampai tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar.

♥♥♥

“Apa Anda terluka?”

Nurhasanah menjawab pertanyaan Arga dengan gelengan. Lalu, membiarkan pemuda itu membantunya berdiri. Tanpa ada sepatah kata pun. Sama sekali. Bukan tak mau, hanya saja dia tak mampu. Tubuhnya terlalu lemah, dan mulutnya yang kelu tidak bisa mengeluarkan apa-apa kecuali isak tangis.

“Ya ampun, kaki Anda berdarah,” ujar Arga membuat Nurhasanah ikut menoleh ke arah kaki kanannya sendiri, tempat di sisa gesekan aspal menyisakan luka kemerahan di permukaan kulit. “Kita ke minimarket dulu ya. Kita obati.”

“Tidak perlu!” sela Nurhasanah, cepat. “Tolong kejar Sisi. Anak saya.”


Other Stories
Cerita Pendekku

Firman salah satu tipe orang yang belum berani mengunkapkan perasaan yang dimiliki kepada ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Testing

testing ...

Titik Nol

Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...

Test

Test ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Download Titik & Koma