37.
Aku Direnggut! Aku Bukan Orang Brengsek! Memang, Aku Pria Apaan?
“Bagaimana kalau mereka tidak menerima atau malah mengusirku?” Pertanyaan itu pernah Lexi ajukan kepada Arga beberapa waktu sebelumnya, lebih tepatnya pada kali kedua mereka mengunjungi air terjun rahasia bersama anak-anak di alam hutan. Namun bedanya, kali itu baik Arga maupun Lexi memutuskan untuk ikut terjun ke dasar kolam, mengingat mereka telah terlebih dahulu menyediakan pakaian ganti yang diletakkan di atas batu di tepian kolam air bersama perbekalan lainnya.
“Pergi. Memang mau bagaimana lagi?” Jawaban Arga singkat, terkesan tidak niat. Akan tetapi, tatapan serta caranya menatap memberitahu Lexi kalau Arga jelas tidak berniat mengabaikan ceritanya. Meski sesekali, Arga menenggelamkan kepalanya sendiri di dalam air guna merasakan dinginnya air pegunungan. Maklum saja, hari sedang terik siang itu. “Tapi percayalah, Lex. Itu hal terbaik yang bisa kamu rasakan.”
Lexi memainkan kakinya di dalam air, sementaranya tangannya mencoba meraih batu besar di sebelah kanannya. “Kok bisa?”
“Ya bisa.” Arga mengikuti jejak Lexi, meminggirkan tubuhnya ke tepian kolam alami tersebut. “Hei, jangan terlalu tinggi!” Dia berteriak pada anak-anak lelaki yang siap menerjunkan diri dari bagian atas air terjun, namun dasar bocah mereka malah menantang dengan bersama-sama melompat ke dalam air, membuat riak dan cipratannya ke mana-mana, termasuk mengenai Arga dan Lexi.
Alih-alih marah, Lexi malah tertawa. “Kalian ini ya. Suka banget bikin Mas Arga emosi.”
Yang dijawab tawa renyah oleh para bocah tersebut. Yang karena sadar aksinya membuat Arga bersiap menghadiahi mereka jitakan di kepala buru-buru menenggelamkan diri ke dalam air, berlari cepat menjauh sembari meledek.
Apakah Arga marah?
Tentu tidak. Mana mungkin dia bisa memarahi anak-anak kampung yang telah mengenal daerah ini melebihi siapa pun? Toh, jika ada yang perlu dicemaskan di sana tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya sendiri. Argalah satu-satunya manusia paling tidak berpengalaman. Dia bisa berenang, tapi hanya ala kasarnya saja.
Kemampuan Lexi jauh lebih baik ketimbang dirinya. Terbukti dari seberapa sering wanita di hadapannya ini bolak-balik ke tengah kolam, bahkan dua kali ikut aksi lompat dari ketinggian bersama anak-anak.
“Ga!” Lexi mengguncang bahu Arga, agak keras. “Kamu melamun ya?”
Sadar dirinya dipergoki, Arga menggeleng cepat. “Nggak kok. Aku cuma –eh, sampai mana kita tadi?”
“Soal penerimaan keluarga baru orang tuaku.”
“Ah, iya!” Arga berpura-pura menepuk kening. “Percaya sama aku, kamu akan jauh lebih sulit ketika ternyata ibumu tidak seperti bayanganmu.”
“Bayangan?” Lexi tertawa, dia memainkan lumut di permukaan batu besar yang kini menjadi tempatnya bersandar. “Tenang saja. Aku tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada wanita itu.”
“Yakin?”
“Tentu!” jawab Lexi ragu-ragu. “Kenapa pula aku harus berharap padanya? Malah, aku berharap dia akan mengusir dan memintaku menyingkir dari kehidupannya.”
“Justru itu masalahnya.”
“Masalah?”
Giliran Arga yang mengangguk, matanya yang tanpa kacamata menyipit. “Berpikir akan ditolak juga termasuk ekspektasi, kan? Ekspektasi buruk.”
“Terus, menurutmu aku harus apa?”
“Kamu betulan minta saran?”
“Kalau tidak minta saran, aku tidak akan mengajukan tanya, Argantara.” Lexi melemparkan lumut di tangannya ke arah Arga, lalu jatuh ke permukaan air, mengambang persis beberapa senti di depan dada Arga.
“Maaf! Maaf!” ucapnya tulus. “Kalau menurutku, selain mempersiapkan diri bagaimana seandainya mereka jahat, kamu juga harus mempersiapkan diri seandainya mereka menerimamu.”
“Menerima karena aku sudah besar dan tak butuh apa-apa lagi? Terlambat tidak sih? Harusnya, kalau mereka benar sayang, maka mereka tak akan membuangku.”
♥♥♥
Bila Lexi ada di posisi Nurhasanah saat itu, kira-kira apa yang akan dia lakukan?
Namun, ada satu lagi kenyataan yang membuatnya semakin terluka. Mengapa? Ya, mengapa Mom dan Dad yang dia percaya tidak pernah bercerita padanya mengenai surat dari Niko?
Kenapa baik Mom maupun Dad tidak pernah menyebut nama Niko sama sekali?
Padahal sepuluh tahun lalu, Lexi sudah cukup layak untuk mengetahui hal sepenting ini dalam hidupnya.
Lexi masih setia dalam isak, dia meremas sarung bantal kuat-kuat sebelum pintu yang tertutup itu tiba-tiba saja terbuka. Arga muncul, berdiri di sana dengan Bli Indra, penjaga penginapan. Yang langsung Lexi sadari bahwa mereka baru saja menggunakan kunci cadangan.
Namun, alih-alih marah, Arga justru diam.
Benar-benar diam. Menatap Lexi dalam, sebelum akhirnya menarik napas panjang. Sangat panjang seolah mengumpulkan sabar. Setelah cukup, dia menghelanya lewat mulut. Mempersilakan Bli Indra pergi, lalu mendekati ranjang Lexi.
“Kamu kenapa nggak angkat teleponku?” Adalah pertanyaan pertama yang Arga ajukan padanya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Lexi menutup wajahnya sendiri. Dia melanjutkan tangis. Bedanya diiringi raungan keci. “Ga!”
Spontan, Arga meraih tubuh Lexi. Memeluknya. Membiarkan gadis itu menangis di pelukannya. “Sudah! Sudah! Nggak apa-apa!”
“Aku jahat ya, Ga?” kata Lexi tanpa mengangkat wajahnya dari dada Arga, sementara kedua tangannya mencengkeram pakaian pria itu kuat-kuat. “Aku tak tahu harus apa.”
“Kamu nggak harus berbuat apa-apa.” Arga menggosok punggung Lexi, lembut. Menenangkan. “Nggak apa, nangis saja.”
Jemari Lexi semakin mengerat, membuat kaos hitam polos milik Arga basah oleh air matanya. “Aku bingung, Ga!”
“Iya. Iya.”
“Kenapa semua orang yang aku percaya membohongi aku? Kenapa juga –aku punya Kakak, Ga! Aku harusnya bisa ketemu sama kakakku!”
Arga mengangguk-anggukkan kepalanya, seraya menahan air yang hampir jatuh dari ujung matanya. Tangisan pilu Lexi perlahan menyayat hatinya, entah bagaimana.
♥♥♥
“Kamu siapanya Lexi?”
Pertanyaan Nurhasanah di minimarket sebelumnya membuat Arga tercekat, tetapi dengan cepat menjawab, “Teman.”
“Bisakah kamu mengantar saya kepadanya?”
Sayangnya, Arga memutuskan menggeleng. Bukan karena dia tak mau membantu, sebaliknya, Arga mencium terlalu banyak hal tidak bagus di sana. Itulah kenapa dia berkata, “Biar saya bicara dulu dengannya. Kalau dia mau, saya akan mengajaknya kembali menemui Anda.”
“Tapi Lexi anak saya.”
“Iya, saya tahu. Justru karena itulah Anda sebaiknya tidak memaksanya. Saya mengenak Lexi. Dia tidak suka dipaksa.”
♥♥♥
Tidak ada yang lebih Arga cemaskan saat dalam perjalanan pulang ke penginapan dan tidak kunjung dibukakan pintu tadi selain takut Lexi akan nekat lagi.
Sudah cukup baginya pernah menyaksikan gadis itu jatuh di HCU dalam keadaan tak mengenaskan. Dan itu cukup membuatnya trauma parah. Maka, begitu mendapati suasana kamar sepi, Arga yang panik buru-buru meminta Indra membuka kamarnya menggunakan kunci cadangan. Tidak peduli meskipun dia harus membangunkan pria kepala empat tersebut dari tidur nyenyaknya di pos jaga.
“Tolong, Bli.” Air muka Arga yang pucat membuatnya semakin memelas. “Ini gawat! Jangan sampai teman saya kenapa-kenapa.”
Dan untungnya, dugaan Arga salah.
Setidaknya, meskipun masih dihujani tangis, Lexi masih bernyawa. Gadis itu duduk di sebelahnya, memeluk tubuh Arga seolah tak berniat melepaskan.
“Jangan tinggalkan aku ya, Ga.”
Arga mengangguk, cuma itu yang bisa dia lakukan. “Aku kan sudah janji.”
"I don’t even know who to trust anymore. Mom, Dad, that woman –everyone’s driving me insane."
Arga diam, mengelap keringat di kening Lexi dengan tangannya. “Dunia memang kadang gila, Lex.”
“Masalahnya, kenapa duniaku terlalu gila? Kenapa Tuhan sejahat ini ke aku, Ga? Kenapa?” Lexi menyedot ingus yang hampir jatuh di ujung hidung, lalu ngusapnya menggunakan punggung tangannya sendiri. “Dari dulu aku ingin punya saudara. Dari dulu aku mengira aku sendirian, Ga. Dan sekarang? Di saat semuanya jelas, kakakku malah sudah pergi meninggalkan aku, Ga.
“Kenapa juga Dad baru bilang sekarang? Kenapa dia minta aku mencari orang tuaku setelah semuanya yang terjadi? Kenapa dia tidak sekalian mengubur semuanya saja? Kenapa? Kenapa, Arga?”
Meski tubuhnya diguncang dan dipukul beberapa kali, menjadi samsak hidup bagi kesedihan Lexi tetapi Arga masih setia berada di sana. Dengan sabar mendengarkan curahan amarah wanita yang ujung hidungnya memerah itu. Saking pedihnya, muka Lexi nyaris membengkak akibat tangis. Cukup untuk memberi Arga alasan tidak meninggalkannya.
“Jawab, Ga! Jawab! Kenapa Tuhan jahat sama aku!” ulang Lexi, lebih emosional. “Arga jangan diam saja!”
“Aku juga nggak tahu, Lex. Aku bukan Tuhan,” jawab Arga mencoba bersabar. “Kita semua hanya manusia. Pengetahuan kita terbatas. Tapi kamu harus tahu kalau di dunia ini ada banyak manusia yang sangat mencintai dan menginginkanmu hidup.”
“Tapi cinta itu juga lah yang menghancurkan hidupku, Ga!” rintih Lexi, sekali lagi. “Sekarang kamu bayangkan,” dia menjeda kalimatnya sejenak untuk menelan ludah, yang entah bagaimana seperti terhenti di ujung kerongkongan, nyeri bukan main. “Aku! Aku yang ini! Aku bahkan tidak tahu harus ke mana melampiaskan kemarahanku sekarang, Ga!
“Aku sayang pada Mom dan Dad. Mereka segalanya buat aku. Tapi, apa yang merela lakukan –andai dulu aku tahu lebih cepat! Andai aku tidak membenci orang tuaku! Andai aku pernah sekali saja penasaran dan mencari mereka mungkin.”
“Hsst!” Arga mendekap tubuh Lexi yang meronta. Lalu, membelai rambut kecokelatannya dengan lembut. Pelan. Dan dipenuhi kekuatan. “Kamu nggak boleh nyalahin diri sendiri, Lex. Yang sudah terjadi biarlah terjadi.”
“Tapi sakit, Ga.”
“Iya. Iya. Aku paham.”
“Kamu tidak mengerti. Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah mengerti.”
Arga menutup kelopak matanya sejenak seiring dihelanya napas panjang lewat mulut. Dia ingat betul apa yang dikatakan dokter pada sesi-sesi terapi panjang yang mereka lewati selama di Banyuwangi, “Kondisi Lexi sangat rumit. Dia bukan hanya mengalami trauma setelah kematian ayahnya, tetapi juga trauma lama yang tersimpan sepanjang masa kecilnya. Perasaan tidak diinginkan, perasaan tidak berdaya dan ketakutan pada masa depan. Jadi, kami sarankan keluarga dan orang terdekat untuk tidak membiarkannya sendirian.”
♥♥♥
“Apa aku berhak bahagia, Ga?” Setelah hampir tiga jam menangis, Lexi akhirnya mereda. Dia menatap Arga yang masih setia duduk di sebelahnya dengan serius.
Arga mengangguk, tentu saja. “Kenapa tanya begitu? Semua manusia berhak bahagia, Lex.”
“Kamu cuma kasihan, kan?”
“Hah?” Pertanyaan Lexi membuat Arga terkejut, tidak menyangka. Tetapi sebelum dia mengeluarkan sepatah kata apa pun dari mulutnya, tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat persis di bibirnya.
Mata Arga membuat. Nyaris terlepas dari kelopaknya. Beruntung, sebelum Lexi melumat habis bibirnya, Arga segera mundur. Mendorong tubuh Lexi ke belakang.
“Kenapa? Kamu takut kena sial gara-gara aku?” todong Lexi.
Gemetar, Arga menjawab, “Kamu bicara apa sih, Lex! Aku nggak ngerti.”
“Jangan pura-pura, Ga!”
“Pura-pura apa?” balas Arga, tegas.
“Itu kan yang kamu mau?” sentak Lexi. “Kamu ada di sini karena kamu mau ini, kan? Kenapa? Kamu jijik sama aku?”
“Astaga!” Arga menepuk wajahnya sendiri. “Sumpah demi Tuhan aku nggak pernah berpikir sebrengsek itu! Kalau memang aku mau, aku nggak akan pernah melakukannya pada perempuan yang tidak sadar!”
Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali
menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...
Kamera Sekali Pakai
Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Pacar Sewaan
Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...