41. Tantangan Berhadiah
Tantangan Berhadiah
Apakah ini artinya mereka akan terus-menerus melewati jalur yang sama?
Bohong kalau Lexi tidak tertarik pada Arga. Terlebih setelah semua yang pria itu lakukan kepadanya. Akan tetapi, sebagai perempuan yang jatuh cinta Lexi juga tak ingin memaksakan diri apalagi sampai merusak batas di antara dirinya dan Arga.
Pun Lexi sudah sangat nyaman dengan semua ini. Meski tak sempurna, paling tidak perjalanannya dari Banyuwangi, Bali hingga ke Lombok nanti tak akan membosankan.
Menggunakan feri dari Padangbai ke Lembar, mereka membawa serta Tito, motor sewaan kesayangan mereka selama di Bali. Bukan apa, keduanya sudah terlalu nyaman dengan Tito. Dan sebaliknya, Tito pun tidak pernah rewel.
“Kira-kira lima jam, Bun. Kami akan berlabuh sekitar pukul empat atau lima pagi.” Lexi menerangkan kepada Bu Nurmala yang menghubunginya sebelum kedua manusia muda tersebut meninggalkan Pulau Dewata. Dan sedang duduk di pelabuhan seraya menikmati angin pantai, ditemani tahu goreng dan kopi yang ditawarkan pedagang keliling.
“Berarti antara pukul tiga atau empat di Jakarta.” Arga menambahkan, lengkap dengan mulut penuh kunyahan tahu dan cabai pedas. “Pokoknya Bunda nggak perlu khawatir. Semua aman selama ada Arga.”
Menanggapi ketengilan sahabat anaknya tersebut, Bu Nurmala hanya memasang senyuman kecut meski sebenarnya menahan tawa. “Bisa saja kamu, Ga. Ya sudah, intinya nanti begitu kalian sampai di Lombok, langsung hubungi Bunda. Jangan nanti-nanti apalagi sampai lupa. Ingat?”
“Siap, Bunda Sayang!” Lexi menempelkan tangan kanannya di kening, berpura-pura memberi hormat ala militer. Kemudian membiarkan wanita paruh baya tersebut mematikan panggilan, baru setelahnya Lexi memasukkan kembali gawainya ke dalam tas selempang yang dia bawa di pundaknya. “Aku tidak menyangka lo, Ga. Ternyata kamu kenal sama Bunda.”
Sebelum menjawab, Arga terlebih dahulu menelan tahu di mulutnya. “Bukan kenal doang, tapi akrab banget.” Dia meralat. Tangan Arga meraih gelas kertas di sebelahnya, lalu menyeruput isinya nikmat. “Setelah terbiasa minum kopi yang dibawakan Bu Suswoyo dari Banyuwangi, kok aneh ya saat menimun kopi instan?”
Lexi berdecih, dia ikut menikmati kopi. Tentu, di gelasnya sendiri. “Namanya juga kopi murni dengan kopi pabrikan yang kita tak tahu apakah ada bahan campurannya.”
“Pun, seberapa besar campurannya juga nggak jelas.” Arga menatap lautan di hadapan mereka dengan penuh semangat. Gelap tetapi penuh taburan bintang.
“Oh iya, soal Bunda. Kamu sudah lama kenal beliau?”
“Tentu!” Arga mengangguk, mantap dan tegas. “Sejak aku kenal sama adikmu.”
“Bian?”
“Ferdian,” ralat Arga, lagi. “Bianca mah jauh dari generasi kita. Kalau Ferdi kan adik kelasku pas SMA.”
Lexi manggut-manggut, sembari memakan tahu goreng yang sudah dingin di dalam plastik. “Berarti, kamu sering main ke rumah Ferdi ya?”
“Nggak sekadar main, Lex. Nggak pulang-pulang,” jawab Arga. “Terlebih rumah dia kan besar ya, jadi enak buat nginap. Plus, Bunda juga baik. Suka kasih kami makanan yang enak-enak.”
“Eh, kamu bisa saja, Ga.” Lexi terkekeh, ikut menatap lautan. “Tapi aku tidak heran sih kalau cocok berteman sama Ferdi. Soalnya, sifat kalian cukup mirip.”
“Mirip, apanya?”
“Ya itu.” Lexi menoleh, melemparkan tatapan penuh arti kepada pria berjaket tebal di sebelahnya. “Jaim.”
“Ih, jaim?” Arga memutar bola mata, kemudian menyeruput kopinya lagi. “Enak saja.”
“Justru aku heran, kok kamu bisa sih berteman sama Rangga dan Rian? Padahal kan secara kepribadian kalian beda banget. Maksudku, kamu sama Ferdi kok bisa mengikuti keabsurdan mereka?”
“Kita jadi orang harus terbuka, Lex. Berteman dengan siapa saja, tanpa pandang bulu.” Arga tertawa, menjawab menggunakan nada penuh canda. “Meskipun ....”
“Meskipun?”
“Sebenarnya terpaksa.”
“Hah?”
Menahan tawa, Arga melanjutkan, “Ya bagaimana lagi? Si Rangga keponakan aku. Ibunya sepupuku. Ke mana pun aku pergi, dia ngintilin kayak kunci sama gantungannya.”
“Kalau Rian?”
“Dia lebih absurd lagi.” Arga menepuk kening, seolah menegaskan tak hapus pikir pada sahabatnya satu itu. “Setiap hari dia datang ke rumah buat ngapelin Bella. Kalau aku usir, dia bisa nangis-nangis kayak bocah. Gulung-gulung di depan rumah. Alhasil, sama Mama disuruh membiarkan saja. Eh, malah keterusan sampai sekarang. Walau kadang ...,” Arga menutup wajahnya menggunakan sebelah tangan. “Aku malu mengakuimu sebagai adik iparku!” Kata itu ditujukan kepada Rian, lengkap dengan nada mengejek yang biasa Rian berikan padanya.
Lexi tertawa, semakin keras. “ Oh, aku paham sekarang.”
“Apa?”
“Kamu mengambil karakter Candra itu –“
Ucapan Lexi seketika membuat Arga terdiam. Serius. Apakah Lexi sudah mengetahui semuanya? Bisa membaca polanya?
Arga menegang, memasukkan potongan tahu utuh di dalam mulut dan memalingkan muka ke arah lain. Ke kesibukan pelabuhan menjelang tengah malam. Di bawah kegelapan malam yang diterangi lampu-lampu besar nun kuat yang menyilaukan mata.
“Berdasarkan gabungan dari teman-temanmu, kan?” tebak Lexi.
Yang seketika membuat jantung Arga entah mengapa terasa begitu lega. Dan, dia mengangguk. “Kok kamu selalu tahu sih?” Sekali lagi, dia mengajak bercanda.
♥♥♥
Matahari belum sepenuhnya terbangun ketika Arga dan Lexi turun dari kapal.
Namun, itu sama sekali tidak menyurutkan niat keduanya melanjutkan perjalanan. Pun waktu lima jam di atas kapal sudah cukup untuk memberi mereka jeda beristirahat. Maka, dengan semangat pagi, bersama Tito yang melaju santai menembus jalanan, keduanya segera meninggalkan Lembar, menuju ke arah Mataram.
Tidak lupa, keduanya mampir ke warung makan untuk mengisi perut. Persisnya di dekat Pasar Cakranegara.
Setelah puas menyantap Nasi Puyung dan Sate Pusut, keduanya pun melanjutkan perjalanan ke arah Barat. Lalu, kembali berhenti begitu sampai di Taman Sangkareang. Selain untuk menikmati segarnya udara pagi, mereka juga tak mau buru-buru ke penginapan sebelum jam check-in tiba. Dan seolah tidak pernah kenyang, Lexi kembali membeli gorengan, dan dua gelas kopi yang masing-masing untuk dirinya sendiri dan Arga.
“Jujur, sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka jajan.” Arga menerangkan, sambil mencomot pisang goreng hangat di depannya.
“Berarti buat sendiri?”
“Buat sendiri?” Arga mengulang ucapan Lexi, diiringi tawa renyah, serenyah pisang goreng yang dia makan. “Nggak lah. Wong aku nggak bisa masak.”
“Serius?”
“Mungkin bukan nggak bisa, lebih tepatnya masakanku nggak enak.” Arga meralat ucapannya sendiri. “Setidaknya menurut orang-orang. Soalnya, aku sendiri memang jarang masak.”
“Lah?” Lexi mengerutkan kening, bingung. “Tidak suka jajan di luar, tapi juga jarang masak? Terus, kalau mau makan bagaimana? Bukannya kamu bilang selama ini tinggal di apartemen?”
Arga mengangguk, kembali menggigit pisang goreng di tangannya. “Kenapa harus masak kalau setiap hari ada kiriman makanan? Tunggu kiriman dari Mama, kalau nggak begitu ya dari Bella. Gampang, kan?”
“Ya ampun, Arga!” Lexi geleng-geleng. “Definisi anak pertama yang pemalas kamu ya.”
“Sebenarnya aku bukan anak pertama lho, Lex.”
“Oh ya?”
Arga mengangguk, lagi. “Aku punya satu kakak.”
“Laki-laki atau perempuan?”
“Perempuan. Cuma, dia sekarang tinggal di Malaysia.” Arga menyudahi gorengannya dengan mengelap tangan menggunakan tisu. “Ikut suaminya. Sudah dua tahun ini.” Dia meraih gelas kertas untuk kopi, tapi sebelum menyeruput lebih dulu melanjutkan, “Itu. Mamanya di David.”
“David?” Lexi mencoba mengingat, mencerna dari daftar orang-orang yang pernah Arga ajak video call sepanjang mereka bersama, “Ah! Yang malam-malam telepon kamu bilang minta izin buat sepeda motor itu, kan?”
“Nah, tepat sekali.” Arga menjentikkan jari. “Itu bocah memang harus bilang dulu –dia manut banget sama aku.”
“Oh ya?” Lexi bisa membayangkan betapa harmonis keluarga Arga. Betapa indah andai saja Niko, kakak yang bahkan belum pernah dia temui itu tidak meninggal. Barangkali, Lexi bisa merasakan keindahan keluarga utuh macam ini dalam hidupnya. “Tapi kok David kayak blesteran ya, Ga?”
“Memang bapaknya bule,” jawab Arga, cepat. “Entahlah. Aku juga bingung, kenapa banyak orang di keluarga besarku –nggak Kak Manda, nggak Mbak Yuni –semua pada kecantol bule KW.”
“Bule KW, apa?”
“Orang berdarah campuran.”
“Kamu juga, kan?”
“Apa?”
“Kamu juga, kan?” ulang Lexi, berhasil membuat Arga seketika bergeming. Sadar muka kawan perjalanannya memucat, Lexi malah menempelkan tangan di dada. “Aku?”
Yang seketika membuat Arga bangkit.
“Ga, mau ke mana?”
“Toilet!” Arga menjawab sambil berlari menjauh.
♥♥♥
“Jelas! Itu kode, Mas Arga!” Dari nada bicaranya, tampak sekali kalau Rangga sangat muak. Lebih tepatnya gemas. Sebab, Arga bisa melihat pria berbaju koko cokelat tua lengkap dengan peci dan sarung di seberang telepon tersebut meremas udara, seakan siap mencekik Arga hidup-hidup.
“Benar!” Ferdi yang biasanya sering absen, kini hadir di panggilan video. “Karena aku kenal, Lexi. Dia nggak akan main-main dengan perasaan orang lain. Apalagi cuma buat menggoda Mas Arga. Itu sangat tidak mungkin.”
“Sudahlah, Mas!” Tidak mau kalah, Rian terlibat memberi nasehat. “Tunggu apa lagi? Mending lo tembak si Lexi sekarang. Mumpung dia belum sadar.”
“Maksud lo?” Arga mengerutkan kening.
Disusul Rangga, “Maksud dirimu, Lexi sekarang sedang kena pelet, apa bagaimana?”
“Bukankah sudah jelas? Mereka baru dari Banyuwangi, lalu mendadak kakak kita satu ini –yang sudah menjomlo sejak zaman Pithecanthropus masih ngekos di Batavia sampai Indonesia hampir seratus tahun merdeka –mendadak disukai cewek secantik Lexi. Tidakkah perlu dicurigai?”
“Matamu, Ian!” umpat Arga memecah tawa keempat pria dewasa tersebut. “Kurang ajar. Kuwalat lo. Gue doain jadi lo berubah jadi jambu mete.”
“Nggak akan mempan!” balas Rian, meledek. “Makanya, kalau lo memang berani ..., tunjukkan dong kejantanan lo.”
“Kata-katamu, Ian.” Rangga tergelak. “Tapi benar lho, Mas. Meski agak gesrek, kadang Rian ada benarnya. Janganlah melihat siapa yang berbicara, tapi dengarkan apa yang dia katakan.”
“Masyaallah, Pak Ustaz!” sahut Ferdi. “Atau begini saja deh, kalau Mas Arga berani menembak Lexi dan diterima, gue akan memberikan kalian tambahan uang saku untuk proyek keliling Indonesia.”
“Berapa?”
“Lima puluh juta.”
“Astagfirullah!” Rian dan Rangga mengucap kompak. Mata keduanya membulat, tak percaya.
“Kok istigfar?” Giliran Ferdi yang kebingungan. “Masyaallah dong.”
“Oh iya, masyaallah!” Rian mengelus dada. “Lumayan, Mas Arga.”
“Bukan lumayan lagi, Ian!” Rangga menelan ludah. “Itu mah rezeki nomplok. Eh, gue juga mau kasih hadiah.”
“Apa?” Arga bertanya, antara kesal dan penasaran.
Rangga menjawab, “Kalau lo beneran diterima dan berhasil menikahi Lexi ..., gue akan membelikan lo kambing.”
“Kambing?”
“Iya, Rian. Kambing. Wedhus. Tiga. Buat pesta.”
“Oke, aku juga!” Rian ikut menambahkan. “Gue belikan kambing 2 buat lo, dan 2 buat Lexi. Bagaimana?”
“Nggak!” Arga menggeleng. “Khusus lo, Ian. Gue nggak terima kalau cuma kambing.”
“Terus, apa?”
Arga menyandarkan punggungnya ke tembok. “Gue minta bakso.”
“Bakso?” Semua melongo.
Namun, Arga mengangguk tanpa keraguan. “Bakso sapi. Bakso yang lo bikin sendiri. Dua kilo. Beserta bumbunya. Kirim ke sini.”
“Ya Allah, Mas Arga. Kapan gue bikinnya? Niar saja nggak mau pisah dari gue.”
“Nggak mau tahu!” Arga meringis, licik. “Harus lo yang bikin. Jangan Bella! Atau gue akan meminta Sella dan David untuk menjadi mata-mata.”
Meski kesal, Rian menyanggupi. “Oke. Jadi, kapan lo mau nembak Lexi?”
“Ya nanti dulu!” Arga mendesis, pelan. “Itu kan hadiah kalau diterima, kalau ditolak? Gue nggak mau mengambil risiko kehilangan teman perjalanan.”
“Ngelunjak ini tua bangka!” ungkap Rangga.
“Umroh!” Lagi dan lagi, Ferdi menjawab tanpa berpikir. Yang langsung membuat Rian dan Rangga melongo.
“Nggak salah, Fer? Dia saja nggak pernah salat!”
“Lambemu, Ngga!” Arga mendelik. “Gue salat ya! Meskipun bolong-bolong.”
“Mending buat aku, Fer!” Rangga ganti memelas. “Aku lho belum pernah.”
“Ya sudah, kita umrah bareng berempat. Bagaimana?”
“Beneran? Oke!” Rangga berdiri, saking semangatnya.
Yang langsung disela oleh Rian dengan pertanyaan, “Sebentar! Sebentar! Tunggu dulu! Jadi, ini kita bagaimana? Kira harus berdoa supaya Mas Arga diterima, atau ditolak?”
Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Awan Favorit Mamah
Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO
Damar, seorang Petani, terpanggil untuk berjuang mengusir penjajah Belanda dari tanah airn ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...