(bukan) Tentang Kita

Reads
901
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

42.

Siapa pun Boleh Jatuh Cinta, Perkara diterima Atau Tidak, Itu Jelas Perkara Berbeda

Gili Nanggu menjadi destinasi ke sekian yang Arga dan Lexi kunjungi setelah puas berkeliling Pulau Lombok.

Setelah melalui jalanan panjang nun berkelok-kelok, akhirnya Tito berhasil membawa mereka sampai di Pelabuhan Tawun di Sekatong Barat. Lalu, dari sana mereka menyewa perahu, yang demi menghemat pengeluaran menjadi sedikit lama sebab mereka harus mencari wisatawan lain untuk berkongsi.

Namun, berhubung alam semesta mendukung, bersama empat turis lokal lainnya, mereka akhirnya bisa mendapatkan perahu untuk menyeberang. Mengarungi lautan memesona kebiru-biruan, ditemani cuaca cerah dan langit tanpa awan. Waktu yang sangat sempurna untuk berenang.

Itulah mengapa begitu mereka sampai di Gili Nanggu, dan kaki-kaki mereka menginjakkan kaki di pasir putih pulau itu yang halus, Lexi tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengambil video. Berlarian di pantai, sebelum akhirnya menjajal snorkeling. Terlebih di Gili Nanggu terkenal dengan keindahan bawah lautnya yang banyak dihuni oleh ikan warna-warni. Dan, berhubung mereka berenang di perairan dangkal yang cukup tenang, jelas Arga tidak bisa membuang kesempatan untuk ikut terjun ke dalam air.

Masih sama seperti di Bali, pandemi membuat mereka mendapatkan alam untuk dirinya sendiri. Serasa pulau milik pribadi.

♥♥♥

Cahaya matahari menembus permukaan air, membuat dasar lautan terlihat sangat jelas. Bahkan bebatuan karang pun seolah-olah menyapa mereka dengan kilau mereka. Ditemani tarian dari aneka ikan kecil berwarna-warni di sekeliling.

Mereka menyapa, mendekatkan tubuh mungilnya kepada Lexi. Hal yang menandakan bahwa mereka, para bidadari lautan telah terbiasa dengan kedatangan para manusia. Meskipun begitu, baik Lexi maupun Arga, dan juga teman-teman satu kapal dengannya yang sama-sama menyelam, memutuskan untuk tidak membawa remah roti agar tetap menjaga ekologi.

“Kita datang untuk mengagumi, bukan merusak demi konten dan keegoisan diri,” ujar Lexi sebelumnya. Lebih tepatnya saat mereka masih berada di Bali. “Jadi, menurutku, kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan alam, bukan sebaliknya.”

♥♥♥

Tidak hanya cantik secara fisik, Lexi juga sangat berbakat hampir di segala hal. Mulai dari berselancar, menyelam, mendaki bahkan hingga bermain voli pantai bersama sesama turis sekalipun. Seolah-olah segala macam olahraga di dunia memang tercipta khusus untuk wanita berambut kecokelatan nun bergelombang, yang sayangnya hampir selalu dicepol asal tersebut.

Kulit putih bersih serta pipi Lexi yang kemerahan tiap kali terpapar sinar matahari, semakin cantik saat dia tersenyum. Membuat Arga yang menyaksikan pemandangan dari kejauhan tidak berhenti mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang satu itu.

Kenapa?

Arga sendiri juga tak mengerti mengapa dia bisa memiliki pandangan sangat berbeda terhadap Lexi kurang dari tiga bulan sejak pertemuan pertama mereka. Padahal sangat jelas betapa Arga menganggap bakat alami Lexi sebagai hal yang mengganggu di masa lalu.

Namun ....

“Bukankah begitu cara cinta bekerja?” Obrolan lamanya dengan Mbak Indah mendadak muncul di kepala Arga. “Dia bisa muncul kapan, di mana dan kepada siapa saja. Meskipun untuk memperjuangkan cinta itu diperlukan usaha nggak main-main, tentu saja.”

“Maksudnya?” Arga yang masih polos saat itu bertanya dengan sangat kebingungan.

“Sama seperti kisah Candra dan Ellia. Candra mencintai Ellia itu alami, tapi Candra mendapatkan Ellia ..., jelas butuh perjuangan. Kan?”

Di sisi lain, Lexi yang berada di tengah pasir pantai untuk memukul bola mendadak menghentikan permainan. Lalu, memberikan gilirannya pada orang lain dari rombongan, yang sebelumnya duduk memperhatikan dan menunggu giliran.

Mata Lexi tidak berhenti melirik ke arah Arga. Mencoba menangkap apa yang sekiranya dipikirkan oleh sang rekan. Yang entah mengapa sejak kemarin, Lexi terus melihat pria bermata minus itu terus terlihat ..., linglung. Seolah ada beban besar yang sedang ditimpakan di atas pundaknya.

Apakah mungkin Arga tidak senang berada di sana? Apakah seharusnya mereka mencari pulau lain selain Gili Nanggu?

Memang, keputusan menyeberang ke Gili Nanggu diambil sepihak oleh Lexi. Meskipun sebelum berangkat dia sudah menanyai Arga, tetapi bisa saja kan pria itu menangguk karena tak enak? Toh, bukankah banyak orang Indonesia seperti itu? Terlalu tidak berani bilang tidak.

Lexi berjalan mendekati Arga, kemudian menepuk bahu kokoh pria itu lembut. Yang anehnya, Arga malah berjingkat. “Kamu melamun?” tanyanya menodong.

Arga gelagapan menjawab, “Nggak kok.”

“Masa?” Lexi duduk di sebelah Arga, menyelonjorkan kaki. “Kalau ada apa-apa itu cerita. Jangan dipendam sendiri.”

“Aku baik-baik saja.” Arga menundukkan kepalanya, menarik napas sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan Lexi sendirian.

Yang karena kebingungan, Lexi buru-buru bertanya dengan agak berteriak, “Mau ke mana, Ga?”

♥♥♥

Bukan maksud Arga ingin terus berlari apalagi menyangkal perasaan. Kalau boleh memilih, tentu dia tidak ingin merasa selemah dan sepengecut ini. Hanya saja, sebagai manusia dewasa nahas yang sama sekali belum pernah mengungkapkan perasaan pada satu manusia pun, bahkan setelah dia menulis beratus-ratus lembar romansa remaja hingga dewasa muda, Arga pun tak paham mengapa berhadapan langsung dengan cinta bisa membuat sekujur tubuhnya tak berdaya.

Tidak hanya tubuh yang gemetaran, jantung dan telapak tangannya pun ikut tak karuan. Seolah-olah memahami betapa pelik situasinya saat itu.

Ada terlalu banyak kata bagaimana di sana. Mulai dari bagaimana bila pernyataan cintanya ditolak? Bagaimana Lexi akan meresponsnya? Atau malah, apakah Lexi justru akan menampar dan menganggapnya tidak sopan? Semua berdesak-desakan sampai-sampai membuat perut Arga mual.

Parahnya, kopi dan permen min tidak mampu mengobati hasrat Arga untuk muntah. Belum lagi perasaan melilit –perutnya seakan dipilin kuat-kuat.

“Apa wajar kayak begini?” Pertanyaan itu diajukan oleh Arga pada Ferdi, satu-satunya manusia paling normal di antara teman-teman terdekatnya, yang meskipun hanya melalui sambungan suara tanpa video, Arga bisa menyadari pria muda itu tersenyum. Bukan mengejek.

“Mas, tenang!” kata Ferdi. “Tarik napas, kemudian keluarkan pelan-pelan,” lanjutnya memberi instruksi, yang langsung Arga turuti. “Lagi. Tarik napas dalam-dalam, keluarkan perlahan. Bagaimana?”

Arga menjawab, “Lumayan.”

“Bagus.” Suara Ferdi terdengar sangat lembut. “Mas Arga, dengar! Yang Mas rasakan itu sangat wajar. Semakin Mas Arga gerogi, artinya semakin besar perasaan sayang Mas ke Lexi.”

“Tapi rasanya kayak mau mati, Fer.”

“Nggak ada sejarahnya orang mati gara-gara gerogi menyatakan cinta, Mas Arga!” Ferdi terkekeh, tapi bukan menertawakan kondisi Arga. “Yang ada, orang mati bunuh diri karena menyesal. Tenggelam dalam perasaan bersalah akibat penyesalan ..., terlambat mengungkapkan.”

“Masalahnya gue nggak tahu caranya, Fer.”

“Caranya?” Lagi, Ferdi tertawa. “Ya ngomong, Mas. Atau, Mas Arga mau gue dan Bian saja yang ngomong –“

“Jangan! Jangan!” cegah Arga, panik. “Gila lo! Nanti Lexi mikir gue cowok apaan?”

“Kalau begitu pilihannya hanya satu. Mas Arga harus menyatakan perasaan ke Lexi. Berani atau tidak berani. Secepatnya, sebelum Lexi bertemu pria lain yang lebih berani.”

“Tapi gue –“

“Mas Arga!” sela Ferdi, kali itu lebih tegas. “Mas nggak perlu aneh-aneh. Mas hanya perlu bicara. Biarkan Lexi yang menilai. Mas nggak usah meraba-raba. Karena yang dibutuhkan oleh perempuan itu kepastian, bukan sekadar kata-kata puitis dan romantis.”

♥♥♥

Angin sore bertiup lembut ketika perahu yang mereka tumpangi kembali mendarat di Pulau Lombok.

Setelah menyempatkan diri membeli makan siang di sekitar pelabuhan, keduanya memutuskan untuk mencari penginapan di dekat pantai. Selain untuk mengistirahatkan diri setelah seharian menjelajah pulau kecil, mereka juga masih harus mengecek hasil rekaman, mengedit lalu mengunggahnya di sosial media.

Pekerjaan yang paling tidak Arga suka, tetapi sebaliknya, Lexi selalu berhasil tenggelam dalam aktivitasnya membuat konten. Malah, dia bisa berjam-jam duduk di depan laptop, ditemani camilan dan segelas es jeruk segar.

“Kamu semakin jago deh, Ga. Cocok jadi kameramenku.”

Candaan Lexi membuat Arga yang baru kembali ke dalam kamar setelah mencuci tubuhnya guna menghilangkan sisa garam di kulit menghentikan langkah. “Baguslah kalau begitu.”

“Sini!” Lexi menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya, memberi perintah agar Arga duduk. “Lihat deh!” Kemudian sedikit memiringkan komputer jinjingnya agar Arga bisa melihat gambar pada layar. “Lucu ya?”

Arga sedikit mendorong kacamata di hidungnya agar tidak melorot, dan bisa melihat hasil jepretannya yang menampilkan gambar penyu kecil berenang di kejauhan. “Astaga! Aku baru sadar kalau ada penyu.”

“Kan!” Lexi berseru, gembira. “Padahal kata orang-orang, cukup sulit menemukan penyu lewat di sana.” Lantas mengembalikan kamera ke posisi semula, ke pangkuannya. “Kita sangat beruntung.”

“Kamu benar.” Arga mengeratkan kedua tangannya, meremas jari-jari tangannya sendiri.

Menyaksikan pemandangan ganjil tersebut, sontak Lexi meletakkan laptopnya di meja kecil persis di samping ranjang sambil bertanya, “Kamu kenapa sih, Ga?” Lalu, menempelkan tangannya di kening Arga, sementara matanya menatap serius. “Sakit?”

Arga menggeleng. “Aku sehat.”

“Terus, kenapa sejak tadi pagi kelihatan bad mood?” Lexi membetulkan posisi duduknya agar mereka bisa benar-benar berhadapan. Dia jelas ingin memastikan ucapan Arga melalui tatapan mata di balik kacamata tebal yang nangkring di hidung mancung Arga. “Kamu marah?”

Arga kembali menggeleng.

“Tidak senang dengan perjalanan kita?”

“Senang kok!” jawab Arga, cepat. Akan tetapi, sadar perempuan di hadapannya tak bisa menunggu, dia pasrah.

Arga menarik napas panjang, kuat-kuat sebelum membuangkan pelan lewat mulut. Berulang seperti yang Ferdi perintahkan. Sampai kemudian, dengan sisa keberanian yang berhasil dia kumpulkan, Arga berkata, “Sebenarnya, ada yang mau aku sampaikan ke kamu.”

“Apa?”

“Tapi kamu jangan marah ya.”

“Tunggu! Kenapa tanya begitu? Memang kamu punya salah apa?” Lexi memberi tatapan penuh selidik. “Kamu tidak melakukan hal aneh-aneh, kan?”

Senyum Arga semakin palsu. Dia paksa kedua ujung bibirnya naik ke atas guna menyembunyikan debar tak karuan di dalam dadanya. “Eh, aku nggak tahu apakah ini bisa dibilang aneh atau tidak, tapi yang jelas ....”

Lexi menunggu. Tatapannya meminta Arga tidak berhenti bicara.

“Aku boleh nggak suka ke kamu?”

“Hah?” Mata Lexi membulat, kaget.

Arga yang panik buru-buru meralat. “Tapi kalau kamu nggak suka nggak apa-apa kok, Lex. Aku ..., aku bisa mengerti. Eh, lagi pula siapa yang –“

“Boleh kok!” Jawaban spontan Lexi membuat Arga semakin meninggikan kedua ujung bibirnya. Dia juga kaget. Akan tetapi, kalimat selanjutnya membikin bahu pria itu turun, “Tak ada yang bisa melarang manusia jatuh cinta ke manusia lain.”

“Eh, iya. Kamu benar!” Arga buru-buru bangkit, hendak pergi sebelum tangan Lexi mencegahnya.

Lexi menyahut tangan kanan Arga. Menggenggam dan meremasnya kuat-kuat. “Mau ke mana?”

“Aku –“

“Kamu kan belum dengar isi hatiku.”

“Eh?”

“Memang kamu tidak penasaran perasaan aku ke kamu seperti apa?” Lexi meringis, membuat Arga yang membeku semakin tak bisa berkata apa-apa. Mata besar Arga seolah hampir lepas di sana. “Duduk dulu.”

Lexi menarik Arga, memaksa pria berwajah pucat tersebut kembali duduk.

“Kenapa kamu barusan mau pergi?” tanya Lexi, lagi.

Arga tersenyum kikuk. “Karena aku lancang?”

“No!” Lexi malah tertawa, keras. Tapi detik berikutnya berubah serius. “No guy’s ever told me how he feels like this before. I mean, I’m honestly really flattered.”

“Jadi, apakah ini artinya –?”

“Yeah!” Lexi menggenggam tangan Arga. “I feel the same way. I love you too. And I’m willing to be not just your travel partner, but also your girlfriend.” Sebelum dengan tiba-tiba menjatuhkan ciuman di pipi Arga.

Jantung Arga seketika meleleh. Dia merasa seluruh dunianya ...., benteng es yang berdiri di sana, mendadak retak dan berubah menjadi pecahan-pecahan tak beraturan. Lalu, dengan ragu dia bertanya, “Can I kiss you?”

Meski terkejut, Lexi mengangguk. Bahkan dia mendekatkan wajahnya. Di sisi lain, Arga menelan ludah kasar. Dia bisa merasakan betapa lembut embusan napas Lexi, juga aroma buah segar yang berasal dari pelembab bibir Lexi.

Manis.

Manis sekali.

Juga, sangat lembut.


Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Just Open Your Heart

Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...

Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

JEJAK SENI BUDAYA DI TANAH BADUY

Dua mahasiswa antropologi dengan pandangan yang bertolak belakang harus mengesampingkan eg ...

Download Titik & Koma