46. Ayah! Orang Yang Namanya Disebut Pertama Kali
“Jadi, apa yang mau lo katakan?” Arga menanyai Rian, yang alih-alih langsung menjawab justru menundukkan kepala dalam-dalam. Padahal suasana di lobi apartemen cukup sepi hari itu. “Tenang. Nggak akan ada yang dengar. Kalaupun dengar, orang-orang juga nggak akan peduli. Jadi, santai saja.”
Namun, Rian berdecih. Meremas kuku-kuku tangannya sendiri, sebelum akhirnya menarik napas panjang, seolah-olah apa yang hendak dia ceritakan merupakan masalah teramat sangat besar. Yang sudah pasti membuat Arga kian penasaran.
“Ian? Rian?” bentak Arga. “Jadi cerita atau nggak?”
“Jadilah, Mas!” jawab Rian, kecut. “Ini soal Bella,” katanya.
Kening Arga mengerut, mata kecilnya menyipit. “Bella? Kenapa dia?”
“Nggak kenapa-kenapa sih, cuma ....” Rian memberi jeda beberapa detik, menandakan bahasan mereka kali itu agak sensitif atau malah tidak sepatutnya dia ceritakan. Ada begitu banyak keragu-raguan di mata besar Rian. “Dia hamil.”
Arga menarik kedua ujung bibirnya ke samping, bukan senyuman. “Oalah. Iya, gue sudah tahu. Kan semalam lo cerita.”
“Ah, Mas Arga!” keluh Rian, putus asa. “Masa nggak paham? Ya justru karena itu. Aku nggak siap, Mas.”
“Hah? Maksud lo?” Arga melirik tajam. “Ya kalau nggak siap, kenapa lo bikin anak?” lanjutnya sinis.
“Bukan begitu, Mas Arga!” Rian memberi tekanan di setiap kata yang keluar dari mulutnya. “Bukan aku nggak siap punya anak lagi! Bukan! Tapi –bagaimana kalau Bella ..., aku takut kehilangan Bella, Mas!” Ada ratapan di baris terakhir pengakuan Rian. Yang segera berubah menjadi ledakan tangis.
♥♥♥
“Kalau Bella kenapa-kenapa, titip anakku ya.”
Dua bulan dari sekarang, persis empat tahun kenangan itu terjadi. Saat Arga duduk di lorong rumah sakit yang sunyi, dingin dan –diliputi kegelapan. Bedanya, bila hari ini berada di balik pintu ruang perawatan intensif, saat itu sahabatnya yang satu itu justru duduk di sebelahnya, berlinang air mata lengkap dengan wajah pucat dan tubuh yang lemas setelah tiga hati dua malam tidak tidur, makan ataupun minum.
“Cuma Mas Arga yang bisa aku percaya.” Rian meratap, matanya memerah menahan genangan air mata. “Tolong jagain Niar ya, Mas.”
“Lo ngomong apa sih, Ian?” balas Arga, ketus. “Niar nggak akan sama siapa-siapa selain orang tuanya!” tegasnya sedikit berteriak. “Dia anak lo! Jadi, lo yang harus merawatnya!”
Namun, Rian malah menggeleng. “Aku nggak bisa, Mas.”
“Nggak bisa bagaimana?” Arga mulai emosi. Lilin yang sebelumnya mati, kini diberi percikan api. “Jangan ngawur! Lo itu bapaknya, Ian.”
“Memang!” kata Rian diikuti rengekan. “Tapi aku nggak bisa hidup tanpa Bella, Mas. Aku nggak mau ditinggalin. Kalau Bella mati aku juga. Aku mau ikut –“
PLAK!
Arga sadar betul saat akhirnya sebuah tamparan dia daratkan di pipi Rian, membuat sahabatnya itu seketika diam. Lalu, Arga berdiri. “Dasar goblok!” umpatnya. “Bella itu istri lo, Ian! Dia baru saja melahirkan anak kalian, dan sekarang,” tangan Arga menunjuk ke arah pintu di seberang mereka duduk, yang otomatis membuat keduanya menjadi bahan penarik perhatian. Seluruh orang di depan ruang perawatan intensif tersebut menatap keduanya, bingung. Akan tetapi, Arga tidak peduli. “Bella sedang berjuang hidup dan mati. Dokter sedang berusaha menghentikan pendarahannya dan lo ..., sebagai suaminya malah berpikir Bella akan mati? Gila lo, Ian.”
“Bukan begitu, Mas.”
“Terus apa?” bentak Arga. “Pakai berpikir mati segala.”
Rian mengusap air matanya sendiri dengan lengan, kemudian terisak, napasnya pendek. “Bella. Maafin aku.”
“Rian, dengar!” Arga menarik kerah baju Rian, membuat pria itu mendongak dan menatap matanya. “Lo bapaknya Niar! Lo bukan lagi bocah ingusan yang bisa jadikan kematian sebagai ancaman! Sekali lagi gue dengar lo jadikan kematian sebagai bercandaan, gue sendiri yang akan membunuh lo! Paham?”
♥♥♥
“Kalau Bella pendarahan lagi, bagaimana?” lanjut Rian, membuat suasana di lobi mendadak dingin.
Arga bungkam, mencoba menghilangkan nostalgia buruk tentang hari kelahiran Daren dan Daniar jauh-jauh dari kepalanya. Kemudian, menjawab, “Insya Allah nggak, Ian. Bella pasti sehat. Toh, dua kali melahirkan, dia juga selamat, kan?”
“Ya justru karena itu, Mas Arga.” Rian menyeka air matanya, lebih tegar tetapi tetap terlihat rapuh. “Nggak ada keberuntungan yang berkali-kali. Oke, aku tahu anak rezeki. Nggak semua orang dikasih anak sama Tuhan, tapi –kenapa sih Bella harus ingin punya anak lagi?”
“Terus, kenapa lo nggak menolak waktu Bella minta anak?”
“Ya kan aku nggak tega!” jawab Rian, merasa bersalah. “Dia bilang, Daniar butuh teman. Daniar nggak boleh sendirian tapi ..., aku juga nggak nyangka secepat ini.”
Arga menarik napas panjang, bingung. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah melirik ke sekeliling untuk memastikan situasi. Begitu yakin suasana sepi perlahan dia menggeser posisi duduknya, menduduki kursi bertanda silang untuk memeluk Rian. “Sudah! Nggak apa-apa! Lo berdoa saja, semoga Bella baik-baik saja. Semoga anak kalian lahir dalam kondisi yang sehat. Ya?”
“Pasti. Tapi masalahnya, Bella –“
“Nggak, Ian! Nggak!” Arga menggeleng, menepuk punggung besar Rian pelan. “Jangan berpikir yang belum pasti. Sekarang yang harus lo lakukan adalah memberi yang terbaik untuk Bella, Niar dan calon bayi kalian. Apa pun hasilnya biar Allah yang menentukan.”
“Aku nggak mau lihat Bella kesakitan, Mas.”
“Bella akan baik-baik saja.”
“Dia hidupku.”
“Iya, Rian. Semua orang tahu itu.”
“Dia duniaku.”
♥♥♥
“Mas Arga?” panggil Ferdi dari ujung lorong, membuat Arga spontan menoleh dan mengulas senyuman kecil. “Mas Rangga mana?” lanjut pria berkulit putih dan bermata indah itu sembari duduk di kursi besi yang sama tempat Arga duduk.
Arga menjawab, “Dia ke toilet.”
“Pak Lukman?”
“Lagi ngobrol sama bokapnya Rian.”
“Sudah datang?” tanya Ferdi, lagi. Yang begitu Arga jawab dengan anggukan segera dilanjutkan dengan, “Mamanya juga?”
“Nggak. Bokap dan kakaknya doang.” Arga menarik dan menghela napas panjang lewat mulut, kemudian menegakkan punggungnya yang sedari tadi terus menunduk. “Bella dan Niar bagaimana?”
Ferdi tidak langsung menjawab, matanya menatap dinding di seberang dengan intens, yang memberi isyarat pada Arga kalau semua tak berjalan sesuai keinginan mereka. “Sewaktu aku pergi pulang tadi pagi, dia belum sadar. Tapi semalam ..., dia nyariin Mas Rian terus.”
“Ya Allah.” Arga tak bisa menahan luruhnya air dari kedua matanya. Jatuh seperti hujan, membasahi kacamatanya. “Kenapa kalian nggak mengabari aku? Kalau nggak ada David, aku nggak tahu. Tega kalian. Tega.”
“Semua orang panik semalam, Mas.”
“Sepanik-paniknya orang –gue ini kakak kalian. Kan?”
Pernyataan Arga berhasil membungkam Ferdi.
“Jadi, bagaimana mungkin seorang kakak nggak dikabari saat adiknya kecelakaan?” lanjut Arga, diiringi tawa kecil. Sindiran. “Misal ..., bukan aku mau bicara buruk tapi andaikan semalam Rian lewat ..., aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri, Ferdian.”
“Maaf, Mas.”
“Dan Bella, aku nggak bisa membayangkan dia sehancur apa.”
♥♥♥
“Aku tidak apa-apa, Mas Arga!”
Meskipun ditemani senyuman, tetapi Bella gagal menutupi kepedihan di kedua matanya. Bibir bisa bohong, tapi mata tidak akan bisa menipu.
“Yang terpenting Daniar dan Mas Rian selamat.” Bella mengelus perutnya, yang mulai terlihat membesar di balik kaos berwarna biru tersebut. “Aku yakin Mas Rian akan selamat. Dia orang yang kuat. Dia juga nggak pernah sakit selama ini. Kan?”
Keteguhan hati Bella itulah yang berhasil menghancurkan Arga seperti debu. Sehancur-hancurnya. Terlebih setelah menyaksikan betapa tegar wanita yang dahulu pernah sangat dia cinta itu mengurus Daniar, yang tidak berhenti menangis, merengek dan mengulat ke sana-ke mari, minta infus di tangan mungil itu dilepaskan.
“Ia, idak mau ini! Lepas, Bunda! Ia idak mau! Aki Ia atit! Angan Ia atit! Temua atit!” Daniar meronta, menampar wajah Bella yang memangkunya keras-keras dengan tangan yang lain.
“Jangan, Sayang! Jangan ya! Niar harus dirawat biar sembuh!”
“No!” Daniar berteriak, histeris. Lalu, mencakar wajah Bella. “Ia idak mau di tini! Ia mau pulang! Ia mau Ayah!”
“Iya, nanti kalau Niar sudah sembuh ya,” bujuk Bu Fatima, di samping mereka. “Kalau belum sembuh, Niar nggak boleh pulang.”
“Oma akal!” kata Daniar. “Ayah mana? Ayah Ia mana? Ia mau Ayah!”
“Ayah masih sakit, Sayang.” Jawaban Bella terdengar menyakitkan di telinga Arga, padahal wanita itu amat tegar.
Daniar mendadak berhenti, dia menoleh kepada Arga. “Om Aga.”
“Iya, Sayangku?”
“Endong Ia!” Uluran tangan Daniar membuat Arga langsung paham bila gadis kecil itu minta digendong. Persis setelah itu, Daniar menyandarkan kepalanya di dada Arga, lalu menunjuk ke luar. “Atal Ia ke Ayah, Om Aga. Ia mau Ayah.”
“Eh?”
Daniar meremas baju Arga. “Ayah tiup kaki Ia. Bial idak atit.”
“Boleh Om saja yang tiup kaki Niar? Sama saja kok. Ya?”
Daniar tegas menggeleng. “Ayah atit. Ia mau tiup Ayah. Nanti Ayah tembuh. Tiyus, kita pulang. Luca tunggu Ia di lumah.”
Other Stories
Kidung Vanili
Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Nafas Tahun Baru
Maren pindah ke apartemen kecil di lantai paling atas sebuah gedung yang hampir kosong men ...
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...