(bukan) Tentang Kita

Reads
919
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

48.seperti Apa Rasanya Menjadi Seorang Ibu? Matahari Hampir Mencapai Ubun-ubun Saat Motor Vixion Biru Milik Arga Sampai Di Parkiran Rumah Sakit.


Dengan membawa paperbag berisi makanan dan sebuah keresek putih berlogo minimarket terkenal, Lexi mengekori Arga menuju ruang perawatan Daniar. Yang langsung disambut oleh suara rintihan balita tersebut. Di pelukan Bella, Daniar kecil menangis.

“Kamu sendirian, Bell?” tanya Arga tanpa basa-basi.

Tanpa memalingkan wajah dari buah hatinya, Bella menjawab, “Ibu baru saja pamit.”

“Ya ampun. Padahal aku sudah ngomong lho ke Mama untuk menunggu aku dan Lexi.”

“Nggak apa-apa, Mas.” Bella menoleh, tersenyum tipis pada kedua manusia dewasa yang kini berjalan mendekatinya tersebut. “Ibu kan sibuk di laundry. Lagi pula, di sini aman kok. Ada banyak dokter dan perawat.”

“Ya nggak gitu juga dong, Bell.” Arga berdecih, pelan. “Eh, sebentar! Kamu sakit?” lanjutnya dengan mata membulat, kemudian tanpa aba-aba menempelkan punggung tangannya ke kening Bella. “Badanmu pucat banget. Kamu demam?”

Bella memundurkan tubuhnya, berharap bisa berkilah. “Cuma kecapekan biasa. Nanti juga sembuh.”

“Justru karena kamu kelelahan, Bella.” Arga menarik tangan ibu muda tersebut, memintanya duduk di sofa. “Kamu ini sedang hamil. Kasihan anakmu. Sini! Biar Niar aku gendong.”

Bukan permohonan, yang Arga lakukan adalah merebut paksa. Pun Daniar juga ingin bersamanya. Menempelkan wajah pedih itu di dada Arga. Dan, secara naluriah, Arga menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sembari mengayun-ayunkan badan Daniar agar lebih nyaman.

“Harus berapa kali sih aku bilang, Bell? Kamu nggak boleh kecapekan. Kalau ada apa-apa, cerita! Jangan dipendam sendiri! Kita ini keluarga. Kamu adikku.”

“Iya, Mas.” Terlihat jelas dari jawaban Bella bahwa dia sedang tidak nyaman. Akan tetapi, dengan cepat Bella menyambar tas kecil di atas meja besi di samping kanan ranjang tempat Daniar biasa tidur, lalu berkata, “Oh iya, aku titip Niar sebentar ya.”

“Memang kamu mau ke mana, Bell?”

“Ke klinik, Lex.”

“Kita kan sedang di rumah sakit?”

“Mau ngecek adiknya Niar.” Bella mengelus perutnya yang mulai menonjol. “Sebentar kok. Toh, di sana Annisa sudah menunggu. Dia mengambil antrean untuk aku. Dari tadi pagi. Kasihan kalau kelamaan menunggu.”

“Sendirian?” tanya Arga, khawatir.

Namun, Bella menjawab dengan santai, “Aku bisa naik taksi.”

“Nggak! Aku antar ya?”

“Jangan, Mas!” tolak Bella, tegas. “Sudahlah, aku sendiri saja. Kamu temani Daniar.” Akan tetapi, menyadari lirikan mata Arga ditujukan pada Lexi membuatnya buru-buru melanjutkan, “Kalau Daniar menangis, bagaimana? Kasihan Lexi. Dia tidak akan bisa mengatasi Niar.”

“Ta –“

“Aku antar!” sela Lexi, membuat kekasih dan sahabat barunya tersebut kaget. “Tidak apa-apa kan, Bell?”

♥♥♥

Di dalam mobil sewaan yang mereka pesan melalui aplikasi, Lexi dan Bella duduk berdampingan. Menyebarkan suasana sunyi, yang sebenarnya bukan dipicu oleh rasa canggung melainkan ..., kesedihan Bella.

Meski bibirnya tersenyum, mata bengkak itu sudah cukup menggambarkan betapa besar kepedihan Bella. Juga, elusan lembut di perut yang ditutupi jaket abu-abu kebesaran, yang dari bentuknya langsung Lexi sadari merupakan milik Rian.

Bella menarik dan embuskan napas panjang, berulang. Mencoba menghilangkan sesak di dada.

“Berapa minggu?” tanya Lexi membuka percakapan.

Seraya membuka jaket, memamerkan kandungannya Bella menjawab, “Delapan belas minggu.”

“Laki-laki atau perempuan?” Tak mau sunyi, Lexi bertanya kembali.

“Belum tahu. Kita akan cek hari ini.”

“Kamu maunya apa? Laki-laki atau perempuan?”

“Apa saja, yang penting sehat.” Bella memaksakan senyum, kering tetapi hangat. “Zaman sekarang semua anak sama saja, Lex. Mau laki-laki, mau perempuan, tidak ada bedanya.”

Lexi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana rasanya menjadi Ibu?”

Bella agak terkejut, tetapi tetap menjawab, “Awalnya cukup kerepotan, tapi alhamdulillah. Saat anak kita tumbuh dengan baik, tidak ada yang lebih membahagiakan dari semua itu.”

“Daniar beruntung punya Ibu seperti kamu, Bell.”

“Tidak, Lexi. Aku yang beruntung menjadi ibu Daniar.”

“Kok bisa?”

“Karena dari sekian banyak manusia di dunia, dia memilihku menjadi ibunya.”

“Andai semua ibu di dunia berpikir begitu, Bell. Tapi sayangnya ....” Lexi menggeleng kecil, mengenang masa kecilnya yang tragis. “Aku merasa tidak semua ibu pantas disebut ibu, Bella.”

“Aku tahu,” respons Bella, tenang. “Tapi bukan berarti sebagai seorang anak dia tidak berharga. Sebrengsek apa pun orang tuanya, setiap anak tetap berharga, Lexi.”

"I honestly don’t know how you’ve managed to stay so strong through all of this. The weight you’ve carried is unimaginable."

Pujian Lexi membuat Bella tersentuh. “Aku tidak sekuat itu, Lex. Tapi dalam hidup, kita tidak punya cukup banyak waktu untuk meratap. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah bertahan, melewatinya dengan sebaik-baiknya. Bahkan jika itu artinya kita harus berenang di lautan penuh darah.

“Toh, aku adalah seorang Ibu, Lexi. Tidak ada tempat untukku jatuh. Bila aku larut, bagaimana nasib anakku nanti?”

♥♥♥

Bella benar.

Tidak ada waktu meratapi nasib.

Sayangnya, Lexi hanyalah seorang anak. Dia bukan istri atau ibu dari siapa pun. Namun hari itu, dia berdiri di samping ranjang tempat Bella berbaring, bersama Annisa yang juga turut memberi kekuatan pada sahabat mereka.

Tangan kiri Bella meremas jemari Annisa, sementara Lexi memegangi pundak Annisa.

Di dalam ruangan tersebut lampu sengaja diredupkan. Dokter Hamidah mengoleskan gel dingin di perut Bella, dan bersiap melakukan pemeriksaan. Meminta semua orang berfokus ke monitor USG. “Baiklah, kita lihat ..., ini janinnya.”

“Yang mana, Dok?” Annisa bertanya, penuh semangat. “Ya ampun, dia kecil sekali.”

“Ukurannya baru sebesar buah alpukat,” terang Dokter Hamidah. “Ini kepalanya.”

“Dia sehat kan, Dok?”

“Alhamdulillah, Bu Bella. Oh iya, ini tangan dan kakinya.”

“Ya ampun!” Ada rasa hangat menjalar di dada Lexi, terutama karena momen ini merupakan kali pertama dia melihat sendiri pergerakan janin manusia dengan kedua matanya, bukan di internet semata. “Lucunya.”

Annisa mencubit pipi Lexi. “Kamu juga lucu kok, Lex.”

“Nisa!” Lexi menghadiahi istri Rangga dengan pukulan pelan di bahu. “Oh iya, Dok, ini suara detak jantungnya?” lanjutnya merujuk ke suara dug-dug yang dikeluarkan oleh mesin.

Dan, Dokter mengiyakan. “Detak jantungnya normal, sekitar 150 kali per menit. Sangat sehat.”

“Syukurlah.” Bella mengusap tangan kanannya ke wajah.

“Tapi, Bu Bella,” Dokter Hamidah mengarahkan tatapannya penuh empati. “Ibu perlu lebih banyak istirahat dan jaga kesehatan. Karena saya lihat Ibu kurang tidur ya?”

“I –iya, Dok.”

“Kurang tidur bisa mempengaruhi stamina. Dan jangan lupa makan makanan yang bergizi. Ya?”

“Baik, Dok.” Bella meremas tangan Annisa, semakin kuat.

“Oh iya, jenis kelaminnya?” Annisa menyela. “Cowok atau cewek, Dok?”

“Laki-laki!” Dokter menjawab sambil menunjukkan buktinya di monitor. “Ini penisnya. Kelihatan jelas.”

♥♥♥

“Laki-laki, seperti dugaan Mas Rian.” Ada tarikan napas sangat berat pada Bella saat mengeluarkan perkataan tersebut dari bibir pucatnya. “Dia pasti akan sangat senang saat mengetahuinya.”

“Pasti, Bell. Pasti.” Arga mengangguk sambil menepuk-nepuk punggung Daniar di pelukannya. “Rian itu sayang banget sama kalian.”

Bella menggenggam tangan Annisa yang duduk persis di sebelahnya, kemudian berpindah ke arah Lexi di kursi besi samping ranjang, dan berpindah lagi ke arah Arga yang berdiri antara mereka. “Tapi yang aku takutkan ..., bagaimana reaksi Mas Rian saat tahu kondisi Niar nanti? Dia pasti akan sangat hancur.”

“Jangan berpikir kayak begitu, Bella.” Annisa memeluk sahabatnya erat. “Bagaimanapun kondisi Daniar, Rian pasti akan menerimanya.”

“Nggak ada yang berpikir Rian akan meninggalkan Daniar karena itu, Nis.” Arga mendesis, tidak menyukai kesalahpahaman istri dari keponakannya tersebut. “Kalau itu sih semua orang juga tahu. Yang kita bahas ini, tentang reaksi Rian. Jujur, gue takut dia akan gila dan nggak bisa memaafkan dirinya sendiri.”

“Sayang, kok kamu ngomong begitu sih?” Lexi mencubit perut Arga, dan berhasil membuatnya mengaduh kesakitan. “Namanya juga musibah. Siapa yang menyangka, kan? Paling tidak, Daniar bisa pakai kaki palsu setelah cukup besar nanti.”

“Nggak semudah itu, Lex. Di negara ini, masih banyak stigma pada disabilitas.”

“Tapi bukan berarti kita harus terus meratap, kan?”

“Tapi sulit, Lex.”

“Tapi bukan nggak mungkin, Annisa?”

“Ya, tapi nggak segampang itu, Lex.”

“Husst!” Desisan Arga sontak membuat Lexi dan Annisa diam, menoleh menatap Arga kebingungan. Yang tanpa sepatah kata pun, Arga memberi kode pada keduanya untuk melihat ke arah Bella.

Bella tertunduk. Air matanya jatuh, bersembunyi di balik kedua tangan yang menutup wajah lelahnya.

Kompak, ketiganya memeluk tubuh ringkih Bella.

♥♥♥

Adalah perjudian terbesar sekaligus terberat yang pernah Arga hadapi sebagai manusia, apakah Rian bisa kembali?

Terlebih setelah dokter menyampaikan vonis siang itu, ketika mendung tebal menyelimuti Ibu Kota, ditemani rintik gerimis yang seolah-olah sengaja dikucurkan Tuhan untuk membalut luka di keluarga. “Glasgow Coma Scale pasien berada di angka 3. Nyaris mendekati vegetatif.”

“Apakah Mas Rian masih bisa bangun, Dok?” tanya Bella, penuh pengharapan.

Pria muda ber-tag nama Subroto di seberang meja tidak langsung menjawab, matanya mengedar, menatap satu per satu orang di dalam ruangan sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Secara teori, masih bisa. Akan tetapi, kemungkinannya sangat kecil dan jarang terjadi.”

“Ya Tuhan.”

“Kalaupun pun bisa, kecil kemungkinan pasien bisa pulih sepenuhnya seperti sebelumnya.”

“Maksudnya, Dok?” Meski tahu betul apa yang pria berjas putih itu bahas, akan tetapi entah bagaimana Arga justru bertanya demikian. Seakan hendak menyangkal apa yang sudah tertulis di kepalanya. “Adik saya ....”

“Benar, Pak. Ada kemungkinan saat tersadar nanti Pak Rian akan mengalami gangguan berbicara, motorik, atau malah kelumpuhan.” 


Other Stories
Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Hold Me Closer

Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

DAISY’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Beyond Two Souls

Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...

Download Titik & Koma