(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

53. Sampai Keujung Dunia Pun Akan Kucari


Tidak langsung berangkat di hari yang sama, tetapi Arga tetap berhasil mendarat di Pulau Dewata dengan selamat dua hari setelah obrolan singkat bersama sang papa.

Meskipun sebenarnya Arga sendiri tidak yakin berada di mana kekasihnya itu. Mengingat ada terlalu banyak tempat yang bisa Lexi datangi di sana, terutama yang berkaitan dengan lokasi yang sebelumnya pernah menjadi tapak tilas keduanya beberapa bulan sebelumnya. Maka dari itu, berbekal bantuan dari Bli Indra, yang kemarin telah dia kirimi pesan permintaan tolong, Arga mencoba mencari keberadaan Lexi.

Kedua pria dewasa tersebut berboncengan menggunakan sepeda motor tua milik Bli Indra. Menembus sibuknya jalanan di Pulau Bali dari mulai perkotaan hingga lokasi-lokasi yang kemungkinan didatangi Lexi. Tidak memberi satu kesempatan pun untuk lolos.

“Yakin dia masih di sini?” tanya Bli Indra saat mereka berhenti di mini market untuk mengisi tenggorokan. “Siapa tahu dia sudah lanjut ke pulau lain. Kan Mas Arga juga yang tempo lalu bilang kalau mau ke Indonesia Timur.”

“Kayaknya nggak mungkin deh, Bli!” sangkal Arga, tidak begitu yakin. “Aku yakin dia masih di Bali.”

“Ya sudah, kalau begitu kita lanjut cari lagi ya?” Bli Indra membuang botol minum kosong ke tong sampah besi di samping pintu minimarket. Lalu, mengajak Arga berjalan kembali ke arah sepeda motor CB cokelat di parkiran. “Saya oke saja. Yang penting kan dibayar,” lanjutnya menghibur Arga.

♥♥♥

“Mbak Alex, bangun! Sudah siang! Dicariin Mbah Uti!”

Suara teriakan Fahra segera membuat Lexi terbangun. Akan tetapi, sebelum membuka kedua matanya terlebih dahulu dia mengulat, mencoba merenggangkan otot tubuhnya yang sudah semalaman terbaring di atas kasur kapuk.

Entah mengapa meskipun pernah menempati, tetapi seminggu terakhir Lexi tidak benar-benar bisa beristirahat dengan nyenyak. Padahal sebelumnya baik-baik saja.

Barangkali kasur di rumah Bu Nurmala yang empuk terlalu membuatnya terlena, batin Lexi.

“Mbak Alex! Mau ikut ke kebun atau tidak?” tanya Fahra, lagi. Lebih kencang dan diiringi gedoran pada daun pintu.

Alhasil, Lexi yang tidak mau rumah Pak Suswoyo rusak mau tak mau bangkit. “Iya. Tunggu sebentar!” jawabnya sedikit berteriak. “Kamu nggak sekolah?” Dia bertanya sambil memutar kunci, menyapa Fahra yang sudah tampil memesona dengan kaos merah muda bergambar Puteri Aurora yang Lexi belikan dalam perjalanan kemari.

Mumpung berhenti di pasar. Tidak ada salahnya menyenangkan anak-anak. Pun anggap saja ini oleh-oleh darinya untuk Fahra dan kawan-kawan, mengingat konten-konten yang dia ambil di perjalanan sebelumnya, yang menampilkan keseruan anak-anak, mendapat respons positif dari warganet. Dan jelas ada pundi-pundi royalti di dalamnya dari pembagian komisi iklan di Youtube.

♥♥♥

“Sarapan dulu, Mbak.” Bu Siswoyo meletakkan dua piring nasi jagung dan urap sayur, ditemani tempe goreng dan sambal ke atas meja. Satu untuk Lexi, dan satu untuk Fahra yang sejak tadi telah menunggu.

“Terima kasih, Bu,” ucap Lexi. Dia meraih piring bagiannya untuk dimakan menggunakan sendok, sementara Fahra langsung memakannya tanpa menggunakan bantuan alat makan. “Sudah cuci tangan?”

Fahra mengangguk, bangga. “Sudah dong.”

“Sesuai tahap mencuci yang Kak Alex contohkan?”

“Iyalah,” jawab Fahra dengan mulut penuh makanan. “Mbak Alex berapa lama di sini?”

“Memang kenapa tanya begitu?” Bu Suswoyo menyahut, sambil mengaduk-aduk isi wajan di atas kompor.

“Nggak apa-apa. Aku senang saja kalau Mbak Alex tinggal di sini. Jadi ada teman.” Gadis kecil itu meringis, lalu mengisi kembali mesin gilingnya dengan makanan. “Tapi sayang banget.”

“Sayang kenapa?”

“Mas Arga nggak diajak,” kata Fahra, kecewa. “Padahal dia juga asyik lho. Meskipun lebih banyak menyebalkan sih.” Dia memasukkan potongan ikan asin ke dalam mulut, mengunyah kasar. “Mbak Alex putus saya sama Mas Arga?”

“Fahra!” Bu Suswoyo menyahut, menatap cucunya dengan tatapan tajam. “Kenapa tanya begitu? Ndak boleh ah! Sudah, makan saja makananmu.”

♥♥♥

Apakah mereka putus?

Secara teknis tidak, sebab tak pernah ada sepatah kata pun yang membahas perkara ini di antara mereka. Akan tetapi, Lexi bahkan tidak paham apakah dia masih dianggap kekasih oleh Arga? Terlebih setelah pesan yang dia kirimkan tidak pernah dibalas oleh pria itu. Tak hanya tidak dibalas, Lexi dibiarkan menunggu selama dua jam dalam keadaan harap-harap cemas di stasiun. Dan, pengalaman tempo hari tersebut sudah cukup meyakinkan Lexi untuk setidaknya memberi ruang di antara mereka.

Antara titik dan koma, Lexi tak pernah benar-benar bisa memastikan mana yang akan menjadi pelabuhan kisah keduanya.

Kini, ditemani Fahra, Lexi kembali menyusuri perkebunan. Menyapa para tetangga dan anak-anak, serta mengabadikan momen menggunakan lensa kameranya. Bedanya, bila dulu dia melakukan perjalanan berdua dengan Arga, sekarang seolah-olah dia ditarik kembali ke masa-masa sebelum mengikuti program Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara. Seru, tapi tidak maksimal. Seperti ada yang hilang.

Malah bisa dibilang salah satu alasan mengapa Lexi mengurungkan niatnya melanjutkan perjalanan keliling Indonesia, atau setidaknya menundanya tanpa batas waktu, ialah karena kekosongan tersebut. Maka, dengan sisa tenaganya, Lexi yang pada waktu itu telah berada di tepi pelabuhan dan siap berlayar memilih menghanguskan tiket, barulah kemudian menelepon Aji.

“Kok mendadak sekali, Mbak?” tanya Aji pada saat itu. Serius tetapi juga sedikit bumbu candaan. “Kalau saja Mbak mengabari dari kemarin, pasti aku masakkan makanan enak.”

“Kalau ngomong dulu bukan kejutan dong?” jawab Lexi tidak terus terang. “Tapi ada kamar kosong, kan?”

“Waduh. Sayang sekali, tidak ada,” jawab Aji. “Penginapan sedang disewa oleh pemerintah untuk program lain. Tapi kalau Mbak mau, bisa menginap di rumah saja. Kalau hanya satu atau dua malam, bisa.”

Tidak masalah. Karena tujuan utama Lexi memang bukan penginapan keluarga Aji.

♥♥♥

“Ada agenda apa kita hari ini?” tanya Fahra sambil menggandeng tangan Lexi. Keduanya berjalan kecil menyusuri jalanan setapak, menuju ke arah sekolahan. “Bagaimana kalau main bola?”

Lexi tidak langsung menjawab, terlebih dahulu dia menempelkan telunjuk di dagu, seolah tengah berpikir sebelum akhirnya mengatakan, “Apa tidak lebih baik main kasti saja? Lebih seru.”

Sebenarnya telah banyak cara yang Lexi lakukan untuk menghabiskan waktu selama di Banyuwangi. Mulai dari berkebun, membaca buku sampai bermain bersama para anak –untuk poin terakhir meskipun ampuh, sayangnya, hanya bisa dilakukan setelah jam sekolah berakhir, atau ketika libur tiba seperti hari ini. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hatinya Lexi tidak pernah benar-benar bisa lari.

Bayang-bayang Arga masih sering datang, bergentayangan mengejar dirinya di antara pepohonan kopi dan cokelat. Tersenyum, melambaikan tangan hingga memotret dirinya dari kejauhan. Dan itu cukup membuat Lexi merasa gila.

Kenapa? Kenapa dia harus jatuh cinta pada Arga?

Seperti siang itu, di tengah serunya bermain bola bersama anak-anak, Lexi yang kelelahan memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir lapangan. Dia meraih botol air mineral yang tersimpan rapi di dalam tas miliknya di bawah pohon sawo besar, satu-satunya tempat berteduh yang mereka miliki di tengah teriknya sinar matahari.

Lexi meneguk setengah isi botol, menyeka mulut kemudian mendudukkan bokongnya langsung di atas tanah, tanpa alasan. Lalu, dia menyelonjorkan kaki jenjangnya agar tidak kram. Sementara mata keabu-abuan miliknya mengedar ke sekeliling, memperhatikan permainan anak-anak sambil bersorak, “Ayo! Ayo, lebih cepat! Fahra, oper bolanya! Roni, jangan mau kalah!”

Namun, senyum yang mengembang di bibir Lexi mendadak buyar saat tiba-tiba saja bayangan Arga kembali datang. Muncul di balik semak-semak biasa mereka berjalan untuk sampai ke lapangan.

Arga mengenakan kaos putih polos dengan kemeja kotak-kotak biru kesayangannya. Pakaian yang biasa dia kenakan sepanjang liburan dulu.

Tak mau larut dalam imajinasi, Lexi buru-buru mengucek kedua matanya. Berharap sosok yang dimaksud akan hilang seperti bayangan-bayangan sebelumnya. Akan tetapi, kali itu berbeda. Karena Arga justru menyapanya.

“Hai, Lex?”


Other Stories
Seoul Harem

Raka Aditya, pemuda tangguh dari Indonesia, memimpin keluarganya memulai hidup baru di gem ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Jjjjjj

ghjjjj ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Hotel De Rio

Di balik kemewahan Hotel De Rio, Bianca terjebak dalam pengkhianatan saat Dante, pria dari ...

Download Titik & Koma