(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

54. Mungkinkah Ini Akhir Cerita Cinta Kita?


Sementara di Bali, Arga masih terus melakukan pencarian. Tak peduli se-clueless apa situasinya saat itu.

“Lo sudah coba lapor polisi?” tanya Mbak Indah melalui sambungan telepon. Hanya dialah satu-satunya teman Arga bercerita sekarang.

Apalagi sejak Rian meninggal, suasana di grup sangat sepi. Bukan karena mereka tak saling peduli lagi, melainkan karena interaksi lebih banyak dilakukan di dunia nyata.

“Belum sih,” jawab Arga, lirih. “Kalaupun lapor, gue juga nggak yakin laporan akan diterima. Terlebih Lexi orang dewasa. Dia juga pergi atas keinginannya sendiri.”

“Betul juga.” Mbak Indah mengetuk-ketuk meja kerjanya menggunakan pensil, menghasilkan bunyi dinamis yang bisa didengar hingga di seberang telepon. “Kalau mencoba menghubungi kenalan? Atau malah orang tua kadungnya? Sudah lo coba?”

Arga lagi-lagi menggeleng.

“Kenapa?”

“Gue takut dianggap lancang.”

“Lancang gundulmu?” umpat Mbak Indah. “Yang ada ini merupakan usaha. Toh, nggak ada salahnya, kan? Siapa tahu Lexi pulang ke sana.”

“Tapi kayaknya nggak mungkin deh, Mbak.”

“Kenapa nggak mungkin?”

“Karena Lexi nggak belum begitu bisa menerima keluarganya.”

“Itu kan dulu, sekarang bisa jadi berbeda. Karena setiap manusia itu unik, Ga. Mereka terus berubah seiring waktu.”

♥♥♥

Mbak Indah benar, tidak ada yang abadi dari manusia termasuk perasaan mereka. Buktinya, Arga yang hampir seumur hidup mencintai Bella, kini pada akhirnya justru jatuh ke lubang yang berbeda, ke tempat bernama Alexia Renata.

Maka dari itu, setelah hampir delapan hari berkeliling Bali, akhirnya dia memberanikan diri menemui orang tua kandung Lexi.

Berbekal kenekatan dan keyakinan, dia berjalan kaki dari penginapan menuju Toko Bunga Cantika. Suasana di sana cukup ramai, tetapi masih cukup lenggang. Seperti yang dikatakan Nurhasanah pada Lexi dahulu, mereka lebih banyak melayani pembelian daring sejak pandemi.

Di sisi lain, Nurhasanah yang melihat kedatangan pria tak asing itu di mulut pintu toko miliknya pun buru-buru melepaskan celemek, dan memberikan meja kasir pada karyawannya. “Sari, tolong saya sebentar.”

“Baik, Bu,” jawab gadis muda berambut pendek tersebut, bersiap menggantikan posisi majikannya.

Setelah memastikan meja kasir terjaga, wanita berambut panjang tersebut pun buru-buru menghampiri Arga dan menyapanya, “Hai. Ada yang bisa kubantu?”

“Apakah Lexi berada di sini?” tanya Arga terus terang.

♥♥♥

Sapaan Arga membuat mata Lexi mendadak berkaca-kaca. Akan tetapi, dengan cepat dia memalingkan muka. Berbalik, lebih tepatnya. Menolak menatap langsung ke wajah tampan pria tiga puluh satu tahun tersebut.

“Kenapa kamu ada di sini?” Hanya itulah kata yang bisa Lexi keluarkan dari bibirnya. Dingin, sekaligus penuh harapan.

Arga tidak langsung menjawab. Pria itu malah mendekat, menyentuh tangan kanan Lexi dengan jemarinya. “Aku minta maaf ya, Lex.”

“Untuk apa?” kata Lexi, diiringi gelengan kecil. “Kamu tidak punya kesalahan apa pun padaku. Malah, aku yang bersalah karena terlalu berekspektasi.”

Arga menggeleng, mendekap jari-jari Lexi lebih erat. “Kamu nggak salah sama sekali menaruh ekspektasi. Akulah yang tidak punya cukup kemampuan untuk merealisasikan ekspektasimu.”

Lexi bergeming, diam sambil sesekali menyeka air di ujung matanya dengan tangan kiri.

“Alexia,” panggil Arga. “Aku mohon beri aku kesempatan.”

“Tidak, Ga.”

“Kamu nggak mau kasih aku kesempatan?”

“Bukan!” Lexi berbalik, menatap lurus ke arah kedua mata indah Arga yang bersembunyi di balik kaca mata. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa memberimu kesempatan, bila kamu sendiri bahkan tidak memberi dirimu kesempatan, Argantara.”

Arga diam, mematung. Tidak sanggup membalas, lebih tepatnya.

“I love you,” kata Lexi, sungguh-sungguh. “Aku sangat menyayangimu tapi apakah kamu juga menyayangiku?”

“Tentu saja aku menyayangi kamu, Lexi.”

Lexi malah tertawa. “Bella? Kamu juga sayang dia, kan?”

“Ya. Aku menyayangi Bella,” jawab Arga tanpa keraguan, membuat senyum Lexi hampir hilang. Namun, sebelum bunga yang mekar itu benar-benar layu, Arga lebih dulu melanjutkan, “Sayangku padanya sama seperti pada Annisa, Rangga dan Ferdi. Tapi kamu –“ Dia berpindah menyentuh pipi kiri Lexi. “Aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Kini, giliran Lexi yang tak berkutik.

“Aku tahu ini aneh atau malah terlalu ..., lebai. Hanya saja, aku tahu pasti apa yang hatiku butuhkan.” Arga menunduk, menahan air di pelupuk matanya. “Kamu memberiku kehidupan, Lex. Kehidupan yang sebenar-benarnya. Yang belum pernah aku miliki sebelumnya.”

“Ga –“

“Aku mohon, Lex!” Arga tidak mengizinkan kata apapun keluar dari mulut kekasihnya. “Aku mohon, jangan pernah meninggalkanku lagi.”

“But, ....”

“Maukah kamu menikah denganku?”

Pernyataan Arga kali itu tidak pernah terbayangkan oleh Lexi, dan sukses membikin gadis itu melongo. “Hah?”

“Aku tahu ini tidak tepat tapi ...,” Arga merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sekotak cincin emas bermata biru yang langsung dia pasangkan di jari manis Lexi. Yang sayangnya, terlalu kecil. “Kalau begitu, di kelingking saja ya?” lanjutnya tanpa menunggu konfirmasi.

Lexi mau tak mau tertawa. “Ini lamaran betulan?”

“Menurutmu?”

“Aku bahkan belum bilang iya lho.”

“Tapi kamu diam.”

“Lalu?”

“Diam berarti iya, kan?”

“Kata siapa?”

“Rian.”

Lexi tersenyum. Dia menggeleng kecil, sebelum kejutan lain muncul. Lebih tepatnya saat tiba-tiba saja Arga menyentuh kedua pipinya dan memberikan kecupan manis di bibir mungilnya.

Mata Lexi bisa dipastikan membulat, tidak percaya. Terlebih saat Arga tidak kunjung melepaskan dirinya.

“Ciye ..., ciye ....!”

Fahra dan kawan-kawan bertepuk tangan dari tengah lapangan. Yang seketika membuat Arga melepaskan tubuh Lexi.

“Heh, balik! Balik nggak kalian! Gue sunat kalian ya.” Dengan pipi memerah, Arga mengusir bocah-bocah. Dia mengambil ranting kecil di sekitar, kemudian bersiap mengejar, membuat anak-anak berlari kocar-kacir meninggalkan lapangan. “Astaga! Bisa-bisanya aku nggak sadar ada mereka!” keluh Arga.

♥♥♥

“So, does this mean I get to call you my fiancé now? Or should I say ..., My Future Husband?” Lexi mengangkat tangan kirinya, memamerkan cincin emas bermata biru pemberian Arga di kelingking mungilnya, menggoda.

Arga yang berjalan beberapa meter di belakang Lexi hanya bisa tersenyum kecil, menahan malu. Bukan apa, dia tidak menyangka akan menjadi tontonan anak-anak. Yang seketika membuat adegan lamaran tersebut terlihat terlalu konyol.

Tak mau melewatkan kesempatan, Lexi malah berbalik. Dia melangkah mundur sambil melempar senyuman tengil ke arah Arga. “Omong-omong, hebat juga kamu bisa menemukanku di sini.”

“Jelas!” jawab Arga, bangga. “Ke mana pun kamu pergi, aku pasti akan selalu menemukanmu.”

“Oh ya?” Lexi menyipitkan matanya. “Tapi, kenapa lama sekali? Apakah itu artinya kamu tidak segera mencariku?”

Arga memperlebar langkah, dia mengeluarkan kedua tangannya yang sebelumnya tertahan di kedua saku celananya. “Aku minta maaf ya, Lex.”

“Kan tadi sudah dimaafkan. Kenapa malah minta maaf lagi?”

“Ini untuk perkara lain.”

“Apa?”

Belum sempat Arga menjawab, suara teriakan seseorang terdengar dari ujung lain jalan. Memanggil nama Lexi. Yang sudah bisa dipastikan segera menarik Lexi untuk menoleh.

“Sisi!” Nurhasanah berlari, menghampiri dan menerjang tubuh Lexi. Menghadiahkan pelukan erat penuh rasa syukur. “Untunglah kamu baik-baik saja. Mami sangat mencemaskanmu.”

♥♥♥

Lexi tidak pernah membayangkan bisa bertemu kembali dengan perempuan yang seharusnya dia panggil ibu tersebut, terlebih di tengah indahnya alam Banyuwangi.

“Saat Arga datang dan mengatakan kamu menghilang, sungguh! Mami berpikir kita tidak akan pernah bertemu kembali.” Nurhasanah menggenggam erat tangan Lexi, sambil sesekali mencium punggung tangan gadis itu. “Jangan seperti ini lagi ya, Sayang. Mami tidak bisa kehilanganmu untuk kedua kali.”

Bila di perjumpaan pertama mereka dipenuhi ledakan emosi, entah mengapa di pertemuan kali itu Lexi mendadak merasakan hatinya menghangat. Dia bahkan menggenggam balik tangan ibunya. Menghadiahkan kecupan yang sama di punggung tangan wanita paruh baya tersebut.

Bukan apa, Lexi merasa sudah seharusnya dia membuka hatinya. Memberi kesempatan pada Nurhasanah untuk menebus dosa-dosanya. Pun sebenarnya semua bukan sepenuhnya kesalahan wanita ini.

Seperti kata Bella tempo hari, “Terkadang sebagai ibu, seseorang perlu mengambil langkah berani.”

“Kenapa, Bella?”

“Kenapa, apa?”

“Kenapa kamu bisa memaafkan ibumu?”

“Karena aku tidak akan pernah bisa menjadi manusia utuh sebelum memaafkan ibuku. Aku ingin menjadi Bella. Aku ingin menjadi pasangan dari suamiku. Dan aku juga ingin menjadi seorang ibu bagi anak-anakku. Aku ingin ..., tidak mengulangi kesalahan ibuku.

“Dia mungkin bukan ibu yang sempurna, Lex. Akan tetapi, dia jalan yang sempurna untuk membentuk aku yang sekarang.”

♥♥♥

Nurhasanah terkejut saat Lexi memeluknya, mendekap tubuhnya sedemikian erat seraya berbisik, “Thanks, Mami.”

“Oh Tuhan!” ucap Nurhasanah tak percaya. “Sama-sama, Sayang. Maafkan Mami yang belum bisa menjadi orang tua sempurna untukmu.” Dia mengelus rambut cokelat Lexi, penuh kasih. “Mami berjanji akan menebus semuanya.”

Lexi melepaskan dekapan sang bunda, kemudian menggeleng. “Tidak ada yang perlu ditebus. Bukankah kamu sendiri yang bilang bila kau terpaksa? Itu sudah cukup menjelaskan semuanya.”

“Oh, Anakku!” Nurhasanah kembali memeluk Lexi.

“Wiat!” Bukan menolak, Lexi menahan tubuh sang ibu sebentar. “Kenapa kau bisa berada di sini? Dan, kalian –“ dia menoleh ke arah Arga. “Mengapa kalian bisa bersama?”

Pertanyaan tersebut sukses membuat Arga dan Nurhasanah tersenyum lebar. Mengingat kembali hari-hari pencarian mereka atas Lexi sebelum ini. Terlebih setelah laporan yang keduanya ajukan kepada polisi justru tidak berjalan dengan baik.

Itulah mengapa, berbekal bantuan detektif swasta yang Peter sewalah mereka bisa mendapatkan lokasi terakhir Lexi. Banyuwangi. Rumah Aji.

“Ya ampun!” Lexi menepuk mukanya sendiri dengan tangan sesaat setelah pengungkapan tersebut.

“Ya habisnya, kenapa kamu tidak bisa dihubungi?” ujar Arga, tidak terima.

Lexi menjawab, “Karena aku tidak mau sakit hati menunggu pangeran berkuda putihku tidak menelepon. Itu sepadan.”

“Sepadan?” Arga tidak terima.

“Ya!” Lexi mengangguk, lebih yakin. “Mami,” dia menoleh kembali pada ibunya. “Mom, was the man you once chose better than the one standing before me now? If so, then he’s the one I’ll marry.”


Other Stories
Menjelang Siang

Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...

Way Back To Love

Karena cinta, kebahagiaan, dan kesedihan  datang silih berganti mewarnai langkah hidup ki ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Hujan Dan Lagu-lagu Tentang Rindu

Randy sekarat, dan seorang malaikat maut memberinya pilihan untuk meminta maaf pada para p ...

Download Titik & Koma