The Last Escape

Reads
20
Votes
7
Parts
7
Vote
Report
The last escape
The Last Escape
Penulis Ezafareza

BAB 1 | "Titik Kumpul"


---


Bab 1: Titik Kumpul


Suara mesin bus pariwisata yang menderu halus di area parkir kampus pagi itu menjadi latar musik bagi lima belas nyawa yang sedang dipenuhi euforia. Udara pagi masih terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, namun bagi Adit, hawa dingin ini adalah pembuka dari petualangan yang sudah ia rencanakan selama hampir setahun. Sebagai ketua rombongan, Adit berdiri di samping pintu bus dengan daftar nama di tangannya. Wajahnya yang tegas namun ramah tampak berseri-seri.

"Gila, akhirnya jadi juga ya, Dit?" suara berat Bram mengejutkannya dari belakang. Bram adalah sahabat Adit sejak semester satu. Tubuhnya besar, atletis, dan selalu memakai topi baseball kesayangannya. Ia adalah tipe orang yang bisa mencairkan suasana hanya dengan tawa pendeknya.

Adit menoleh dan tersenyum lebar. "Kalau bukan karena keras kepala lu buat nagih iuran tiap minggu, kayaknya kita cuma bakal wacana doang di grup WhatsApp sampai wisuda, Bram."

Bram tertawa terbahak-bahak, menepuk bahu Adit dengan keras sampai Adit agak terhuyung. "Liburan ini mahal, Dit. Kita butuh ini. Setelah skripsi dan tekanan dosen, kalau kita nggak liat laut biru sekarang, gue rasa otak gue bakal meledak."

Satu per satu, anggota rombongan mulai berdatangan. Ada Maya, mahasiswi psikologi yang selalu membawa buku catatan kecil di tangannya. Maya adalah sosok pengamat. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya seolah bisa membaca pikiran orang.

Di belakangnya, ada Rico dan Santi, pasangan yang hubungannya selalu menjadi bahan gosip di jurusan karena sering putus-nyambung, namun pagi ini mereka tampak sangat mesra, saling berbagi earphone sambil mendengarkan musik.

"Kita benar-benar bakal ke Pulau Seribu Hening?" tanya Maya pelan saat ia sampai di depan Adit.

"Iya, May. Tempat itu jarang banget dijamah turis umum. Bapak gue punya kenalan di sana. Tempatnya sederhana, cuma ada satu desa kecil, tapi pemandangannya... lu nggak bakal percaya kalau itu masih di Indonesia," jawab Adit bangga.

Rombongan itu terdiri dari latar belakang yang berbeda-beda, namun disatukan oleh satu keinginan: melarikan diri dari realitas. Ada Dina yang modis dan selalu khawatir dengan sinyal ponselnya, ada Gilang yang membawa kamera DSLR mahal yang menggantung di lehernya, dan Aris, si jenius yang pendiam namun selalu punya jawaban atas segala masalah teknis.

"Eh, denger ya semuanya!" teriak Bram ke arah teman-temannya yang sedang sibuk memasukkan tas ke bagasi. "Aturan pertama liburan ini: nggak ada yang boleh bahas soal kampus. Siapa yang ngomong 'dosen', 'tugas', atau 'revisi', harus bayar denda kopi buat satu bus!"

"Setuju!" sahut Lala, gadis paling ceria di grup itu, sambil melompat kecil. "Gue bahkan udah hapus aplikasi Microsoft dari HP gue. Bye-bye stres!"

Mereka mulai naik ke dalam bus. Kursi-kursi empuk itu segera terisi dengan obrolan yang mengalir deras. Adit memperhatikan setiap temannya. Ia merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka. Namun, di balik senyumnya, ada sedikit rasa cemas yang ia sembunyikan. Bukan karena tempat tujuan mereka berbahaya, tapi karena mengoordinasikan lima belas kepala yang berbeda sifat bukanlah perkara mudah.

Di barisan kursi tengah, Rio sedang bercanda dengan Jaka. Mereka berdua adalah "duo lawak" di rombongan ini.

"Gue denger di pulau itu nggak ada listrik kalau malam, bener nggak Dit?" tanya Jaka dengan nada skeptis.

"Ada, Jaka. Tapi emang dibatasi. Justru itu seninya. Kita bisa liat bintang tanpa polusi cahaya. Lu bakal ngerasa kayak lagi di planet lain," jelas Adit dari kursi depan.

"Planet lain? Asal jangan ketemu alien aja sih gue," timpal Rio yang disambut tawa oleh yang lain.

Percakapan mengalir lambat seiring bus mulai meninggalkan area kampus. Mereka mulai bercerita tentang ekspektasi masing-masing. Dina sibuk mengeluh soal *sunblock*-nya yang tertinggal, sementara Aris malah sibuk menjelaskan cara kerja kompas manual yang ia bawa, meski tidak ada yang benar-benar mendengarkan.

"Lu kenapa diam aja, Dit?" tanya Bram yang duduk di sebelahnya.

Adit menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. "Gue cuma mikir, ini mungkin terakhir kalinya kita kumpul lengkap kayak begini. Habis ini kita bakal mencar, cari kerja, atau mungkin nikah. Gue cuma pengen momen ini sempurna."

Bram terdiam sejenak, menatap jalanan di luar jendela. "Momen sempurna itu nggak dicari, Dit. Momen sempurna itu terjadi secara nggak sengaja. Tenang aja, kita semua di sini buat senang-senang kok."

Bus terus melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Di dalam bus, kehangatan pertemanan terasa begitu nyata.

---

Bus pariwisata itu terus melaju, membelah kemacetan pinggiran kota yang mulai merayap. Di dalam, suasana justru semakin hidup. Bau pengharum ruangan jeruk yang khas beradu dengan aroma kopi dari botol tumbler yang dibawa masing-masing anak.

Tidak ada kesan terburu-buru. Adit sengaja menyewa bus ini untuk waktu yang lebih lama agar mereka bisa menikmati setiap detil perjalanan darat sebelum menyeberang.

Dina sedang sibuk dengan cermin kecilnya, membetulkan tatanan rambutnya yang sebenarnya sudah sempurna. "Dit, serius ya, kalau di sana nanti nggak ada sinyal sama sekali, gue bakal post semua foto gue sekaligus pas pulang. Jangan ada yang protes kalau story Instagram gue isinya foto-foto gue semua!"

Rio yang duduk di belakangnya menyahut sambil tertawa, "Din, lu ke pulau mau liburan apa mau pamer portofolio model? Lagian, di sana itu tempatnya buat *healing*, bukan buat pusing mikirin likes."

"Sirik aja lu, Yo! Gue kan butuh kenang-kenangan biar estetik gitu," balas Dina sambil menjulurkan lidah, namun tetap tertawa.

Di sudut lain, Santi menyandarkan kepalanya di bahu Rico. Mereka berdua adalah gambaran pasangan yang sudah melewati banyak badai. Rico mengusap rambut Santi pelan, gerakan yang sangat dewasa dan penuh perlindungan.

"Capek ya?" tanya Rico lembut.

"Nggak, cuma... tenang aja. Akhirnya nggak ada suara notifikasi grup kelas yang isinya tagihan tugas mulu," jawab Santi sambil memejamkan mata, menikmati ayunan bus yang ritmis.

Percakapan mengalir ke mana-mana. Mereka mulai membicarakan masa depan, tentang mimpi-mimpi yang sering mereka diskusikan di kantin kampus.

Gilang, si fotografer, mulai mengeluarkan kameranya dan memotret momen-momen kandid. Ia menangkap tawa Lala yang sedang berusaha membuka bungkus keripik yang alot, hingga wajah serius Aris yang sedang membaca peta fisik bukan Google Maps karena ia bersikeras bahwa membaca peta kertas adalah "seni yang hilang".

"Hari gini masih pakai peta kertas?" goda Jaka sambil melempar kacang ke arah Aris.

Aris memperbaiki letak kacamatanya, tidak merasa terganggu sama sekali. "Teknologi itu bisa mati. Baterai bisa habis, satelit bisa gangguan. Tapi tinta di atas kertas? Selama lu punya mata dan cahaya, lu nggak bakal tersesat. Lagipula, Pulau Seribu Hening ini koordinatnya agak unik di peta ini."

"Unik gimana?" Adit yang duduk di depan mulai tertarik.

"Garis pantainya di peta lama ini beda dikit sama yang di satelit. Mungkin karena abrasi atau pasang surut yang ekstrem. Tapi itu yang bikin dia eksotis, kan? Belum banyak dirusak tangan manusia," jelas Aris dengan nada bicara yang tenang dan sangat terpelajar.

Bus kemudian berhenti di sebuah *rest area* yang cukup besar. Ini adalah ritual wajib. Mereka semua turun dengan semangat, meregangkan otot-otot yang kaku.

"Bram, cari sate maranggi dong! Gue laper banget!" teriak Bimo, anggota tim yang paling tinggi dan paling besar nafsu makannya. Bimo adalah atlet basket kampus yang ikut rombongan karena diajak Jaka. Orangnya sangat santai dan tidak banyak menuntut.

Mereka berkumpul di satu meja panjang di pujasera. Suasana sangat hangat. Tidak ada sekat di antara mereka. Meski ada yang pintar, ada yang kaya, ada yang sederhana, di meja itu mereka hanya sekumpulan anak muda yang sedang merayakan kebebasan.

"Gue pesenin minum ya," ujar Nadia, gadis pendiam lainnya yang sangat perhatian. Nadia adalah tipe orang yang selalu membawa kotak P3K lengkap di tasnya. Ia berkeliling menanyakan keinginan teman-temannya satu per satu dengan sabar.

Sambil menunggu makanan, Maya memperhatikan interaksi mereka. Ia tersenyum kecil melihat bagaimana Bram berusaha melucu di depan Lala, atau bagaimana Adit diam-diam mencatat pengeluaran di buku kecilnya agar tetap sesuai anggaran.

"Lu terlalu serius, Dit," tegur Maya lembut.

Adit menoleh, lalu menghela napas sambil menutup bukunya. "Gue cuma mau semua berjalan lancar, May. Kalian sudah bayar mahal buat semua ini."

"Kita bayar buat pengalamannya, bukan buat lihat lu stres sendiri. Simpan bukunya, makan satenya, dan nikmatin udaranya," ucap Maya dengan empati yang begitu terasa.

Makanan datang, dan seketika itu juga suasana menjadi riuh dengan bunyi denting sendok dan tawa. Bimo bahkan sempat-sempatnya melakukan tantangan makan cabai rawit dengan Rio, yang berakhir dengan keduanya kelimpungan mencari air minum sambil tertawa meski air mata menetes karena pedas.

"Sumpah, ini baru di jalan aja udah seru gini," kata Eka, mahasiswi seni yang sejak tadi sibuk menggambar sketsa wajah teman-temannya di buku gambar kecil. "Gue nggak bisa bayangin gimana nanti pas kita nyampe di dermaga dan liat air lautnya."

"Katanya sih, airnya bening banget sampai kita bisa liat karang tanpa harus nyelam," tambah Tora, yang sejak tadi asyik mendengarkan podcast. Tora adalah orang yang paling *update* soal tempat-tempat tersembunyi.

Setelah hampir dua jam beristirahat, mereka kembali ke bus. Perjalanan berlanjut menuju wilayah pesisir yang lebih terpencil. Jalanan mulai mengecil, berkelok-kelok di antara hutan jati dan ladang penduduk. Matahari mulai condong ke barat, memberikan warna keemasan yang indah di cakrawala.

Di dalam bus, suasana menjadi lebih tenang. Sebagian mulai terlelap karena kenyang. Suara musik akustik dari speaker bus terdengar sayup-sayup. Adit menatap keluar jendela, melihat rumah-rumah penduduk yang semakin jarang. Ada perasaan bangga sekaligus haru melihat teman-temannya bisa tertidur pulas dan merasa aman di bawah pengawasannya.

"Dit," bisik Bram yang belum tidur. "Makasih ya udah mau repot-repot ngurusin ini semua."

Adit menepuk lengan Bram. "Sama-sama, Bram. Kita butuh ini. Semuanya butuh liburan ini."

Bus terus melaju, semakin jauh dari peradaban kota, menuju sebuah tempat yang hanya ada di dalam peta-peta lama milik Aris.

---






Other Stories
Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Mauren Lupakan Masa Lalu

Mauren menolak urusan cinta karena trauma keluarga dan nyaman dengan tampilannya yang mask ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Melupakan

Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...

Bungkusan Rindu

Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...

Dari 0 Hingga 0

Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...

Download Titik & Koma