BAB 19 | "Menyeberangi Lautan Darah"
Matahari kini tepat berada di atas kepala, membakar permukaan batu karang putih itu hingga mengeluarkan uap panas yang pedih di mata. Bau amis laut yang menguap bercampur dengan aroma busuk yang mulai keluar dari luka-luka mereka. Di kejauhan, bangkai kapal tongkang itu tampak seperti monster besi yang sedang tidur, berkarat dan penuh lubang, namun bagi delapan jiwa yang tersisa, itu adalah istana harapan terakhir.
Bab 19: Menyeberangi Lautan Darah
"Kayunya nggak bakal cukup buat kita semua sekaligus, Dit," ucap Bram sambil menyeka keringat yang bercampur jelaga di dahinya. Ia baru saja selesai mengikat empat keping papan sisa jukung menggunakan akar gantung yang sempat mereka bawa dari hutan. Hasilnya hanyalah sebuah rakit darurat yang sangat kecil, mungkin hanya kuat menahan beban tiga orang jika mereka mau bertaruh nyawa.
Adit menatap rakit itu, lalu menatap laut yang tenang namun dipenuhi sirip-sirip hitam yang berputar lambat. "Kita bagi dua gelombang. Aris, lu bawa Dina sama Lala duluan. Mereka yang paling lemas sekarang."
Aris menoleh, matanya merah karena kurang tidur dan debu mercusuar. "Terus lu gimana? Lu mau nunggu di sini sama Rico?"
"Gue bakal nyusul bareng Bram, Nadia, sama Maya di gelombang kedua," jawab Adit tegas. Ia melirik ke arah Rico yang duduk diam di bayang-bayang sebuah bongkahan karang besar.
Rico sudah tidak lagi merintih. Urat-urat hitam di wajahnya kini membentuk pola yang simetris, menjalar dari leher hingga ke pelipisnya. Sebelah matanya benar-benar putih, sementara mata lainnya masih menunjukkan warna cokelat gelap yang penuh kesedihan.
Ia memegang liontin milik Santi dengan sangat erat, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut menjadi monster sepenuhnya.
"Dit," panggil Rico. Suaranya kini terdengar ganda, ada nada manusia dan ada nada desisan yang dalam. "Jangan lama-lama debatnya. Matahari bentar lagi geser. Begitu bayangan karang ini memanjang, Tora pasti bakal keluar dari celah itu."
Benar saja, dari kegelapan lubang di bawah kaki mereka, terdengar suara kuku yang menggaruk batu. 'Tora' sedang menunggu. Ia tahu mangsanya tidak bisa lari ke mana-mana.
Nadia mendekati Rico, ia mencoba memberikan sisa air terakhir, tapi Rico menolaknya dengan halus. "Simpen buat yang lain, Nad. Gue udah nggak ngerasa haus. Gue malah... gue malah ngerasa penuh. Kayak ada sesuatu yang ngalir di perut gue dan rasanya dingin banget."
"Rico, gue bakal coba cari antiseptik di kapal itu nanti," ucap Nadia dengan suara bergetar. "Bertahan ya, please."
Rico tersenyum, dan itu adalah pemandangan paling menyedihkan yang pernah dilihat Nadia. Setengah wajah Rico tersenyum manis sebagai teman kuliah mereka, setengahnya lagi tertarik kaku oleh otot yang mengeras. "Makasih, Nad. Tapi kita semua tahu gimana akhirnya nanti."
Kilas Balik: Rahasia Terbesar Adit
Sambil menunggu Aris mempersiapkan keberangkatan gelombang pertama, Adit termenung menatap laut. Tidak ada yang tahu bahwa alasan utama Adit memilih pulau ini bukan hanya karena "jarang didatangi". Sebulan sebelum liburan, Adit menemukan catatan lama di perpustakaan pribadi kakeknya, seorang pengusaha tambang tua yang dulu punya konsesi di daerah ini.
Catatan itu menyebutkan tentang "Pulau yang Mengubah Darah". Kakeknya menulis bahwa ada sesuatu yang berharga di sini, sesuatu yang bisa memperpanjang hidup. Adit yang saat itu merasa tertekan karena harus meneruskan perusahaan ayahnya yang sedang goyah, berpikir bahwa menemukan "sesuatu" itu bisa menjadi tiket emasnya. Ia menjebak teman-temannya dalam liburan mewah ini demi sebuah ambisi yang kini ia sesali setengah mati. Ia tidak mencari keindahan, ia mencari keajaiban yang ternyata adalah kutukan. Penyesalan ini membakarnya lebih panas dari matahari di atas karang itu.
"Oke, siap! Dina, Lala, naik!" perintah Aris.
Dina dan Lala naik ke atas rakit dengan sangat hati-hati. Wajah mereka kosong, seolah nyawa mereka sudah terbang lebih dulu. Aris turun ke air, memegang pinggiran rakit. Ia menggunakan sirip buatannya dari potongan plastik untuk membantu berenang sambil mendorong rakit.
"Sekarang, Rico!" teriak Adit.
Rico berdiri. Dengan gerakan yang patah-patah namun kuat, ia melompat ke air di sisi yang berlawanan dari arah tujuan Aris. Darah hitam dari lukanya langsung menyebar di air jernih itu seperti tinta cumi-cumi.
"SINI LU SEMUA! MAKAN GUE! GUE LEBIH ENAK DARI MEREKA SEMUA!" teriak Rico sambil memukul-mukul permukaan air.
Seketika, sirip-sirip hitam itu berbelok arah. Mereka mencium aroma "calon saudara" yang sedang terluka. Ratusan predator air itu mengerubungi Rico, menciptakan pusaran air yang ganas.
"JALAN, RIS! JALAN!" perintah Adit.
Aris mendorong rakit itu sekuat tenaga. Sementara itu, di sisi lain, Rico sedang bertarung dengan caranya sendiri. Ia tidak dimakan, para predator itu justru tampak bingung. Mereka menggigit Rico, tapi kemudian melepaskannya karena rasa dagingnya sudah terkontaminasi oleh racun mereka sendiri. Namun, gerakan massa predator itu menciptakan kekacauan yang cukup untuk mengalihkan perhatian dari rakit Aris.
"Dit... gue... gue bisa liat mereka..." teriak Rico dari tengah kepungan. "Mereka nggak jahat, Dit... mereka cuma... lapar banget..."
Tiba-tiba, dari arah celah karang tempat mereka berdiri, 'Tora' melompat keluar. Ia menyadari pengalihan perhatian itu. Dengan kecepatan luar biasa, ia merayap di atas permukaan air, bukan berenang, tapi berlari di atas air menggunakan selaput kakinya yang lebar.
"ADIT, AWAS!" teriak Maya.
Maya mengangkat dayungnya dan menghantamkan ke arah 'Tora' yang mencoba naik kembali ke karang untuk mengejar kelompok Adit.
PLAK!
Hantaman itu mengenai bahu 'Tora', tapi makhluk itu justru menangkap dayung tersebut dan mematahkannya seperti lidi. Maya terlempar ke belakang, kepalanya menghantam batu karang.
"MAYA!" Bram segera menerjang 'Tora' dengan pisau lipatnya.
Terjadi perkelahian brutal di atas karang sempit itu. Bram, dengan keahlian bela dirinya, mencoba menusuk mata 'Tora', namun kulit makhluk itu kini sudah sangat keras. 'Tora' mencengkeram leher Bram, mengangkatnya ke udara.
"Bram... ikut... kami..." desis 'Tora'.
Adit tidak punya pilihan. Ia mengambil jerigen bensin terakhir yang tadi ia bawa dari mercusuar (yang masih tersisa sedikit di dasar) dan menyiramkannya ke punggung 'Tora'. Ia menyalakan korek api gasnya.
"Maafin gue, Tora!"
WUSH!
Api berkobar di punggung Tora. Makhluk itu menjerit, sebuah lengkingan yang membuat predator air di sekitar Rico berhenti bergerak sejenak. 'Tora' melepaskan Bram dan melompat masuk ke laut untuk memadamkan api.
"Sekarang! Rakitnya udah balik!" teriak Aris yang ternyata sudah sampai di kapal tongkang dan mengirimkan rakit itu kembali ditarik dengan tali panjang yang tadi sempat ia ikatkan.
Adit, Bram, Nadia, dan Maya (yang baru siuman dengan dahi berdarah) segera naik ke rakit. Mereka ditarik dengan cepat oleh Aris dari kejauhan.
Namun, saat mereka berada di tengah-tengah antara karang dan kapal tongkang, mereka melihat pemandangan yang takkan pernah mereka lupakan. Rico, yang kini sudah dikelilingi oleh ratusan predator, perlahan mulai tenggelam. Ia tidak tenggelam karena ditarik, tapi karena ia membiarkan dirinya tenggelam.
Mata cokelat Rico yang tersisa menatap Adit untuk terakhir kalinya. Ia membisikkan sesuatu yang tidak terdengar, tapi Adit tahu itu adalah nama 'Santi'. Lalu, Rico menghilang di bawah permukaan air.
Mereka berhasil mencapai tangga besi bangkai kapal tongkang yang sudah berkarat. Satu per satu mereka memanjat ke atas dek yang miring. Begitu kaki mereka menyentuh besi kapal, rasa aman semu sempat menyapa.
Kapal tongkang ini sangat luas. Di tengahnya terdapat tumpukan pasir dan batu bara sisa yang sudah ditumbuhi lumut kering. Di bagian buritan, terdapat ruang kemudi yang jendelanya sudah pecah semua.
"Kita aman di sini... untuk sementara," ucap Aris sambil mengatur napas.
"Kita nggak bakal pernah aman, Ris," sahut Maya sambil menunjuk ke arah lubang palka kapal yang menganga gelap di tengah dek. "Lu denger nggak?"
Dari dalam palka yang gelap itu, terdengar suara ribuan kunyahan kecil. Dan bau yang keluar dari sana... adalah bau daging manusia yang baru saja dipotong-potong.
Adit menyalakan senternya ke arah palka. Di bawah sana, ia melihat ribuan telur predator yang menempel di dinding besi kapal. Dan di antara telur-telur itu, terdapat sisa-sisa pakaian manusia baju pantai, topi, bahkan sepatu yang sangat mirip dengan milik Gilang.
"Mereka bukan bawa Gilang buat dimakan," bisik Nadia dengan horor yang mendalam. "Mereka bawa Gilang buat jadi 'nutrisi' telur-telur ini."
Di tengah kengerian itu, sebuah suara tawa kecil yang familiar terdengar dari ruang kemudi di atas mereka.
"Wah, wah... tamunya nambah lagi. Padahal persediaan makanan sudah mulai menipis."
Seorang pria dengan pakaian compang-camping namun masih terlihat sisa-sisa kemewahannya muncul dari balik pintu ruang kemudi. Ia memegang sebilah parang besar dan sebuah botol wiski yang sudah kosong. Wajahnya penuh dengan bekas luka cakaran, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni.
"Selamat datang di Kapal Induk," ucap pria itu. "Nama saya Kapten Bakri... bukan Bakri yang di mercusuar itu ya. Itu adik kembar saya yang malang. Saya Bakri yang lebih cerdas. Bakri yang memilih untuk memelihara mereka daripada diburu oleh mereka."
Plot twist yang menghantam mereka lebih keras dari ombak: Pak Bakri di mercusuar ternyata punya saudara, dan mereka berdua menjalankan "bisnis" keluarga yang paling mengerikan di dunia. Satu bertugas mengarahkan mangsa, satu lagi bertugas memastikan mangsa itu "diproses" dengan benar di kapal ini.
"Konflik" di antara mereka baru saja naik ke level yang baru. Di antara ribuan telur monster yang siap menetas dan seorang pria gila yang memegang parang, tujuh mahasiswa ini harus memutuskan: apakah mereka akan melawan, atau menyerah menjadi nutrisi bagi generasi predator berikutnya?
•••
Bab 19: Menyeberangi Lautan Darah
"Kayunya nggak bakal cukup buat kita semua sekaligus, Dit," ucap Bram sambil menyeka keringat yang bercampur jelaga di dahinya. Ia baru saja selesai mengikat empat keping papan sisa jukung menggunakan akar gantung yang sempat mereka bawa dari hutan. Hasilnya hanyalah sebuah rakit darurat yang sangat kecil, mungkin hanya kuat menahan beban tiga orang jika mereka mau bertaruh nyawa.
Adit menatap rakit itu, lalu menatap laut yang tenang namun dipenuhi sirip-sirip hitam yang berputar lambat. "Kita bagi dua gelombang. Aris, lu bawa Dina sama Lala duluan. Mereka yang paling lemas sekarang."
Aris menoleh, matanya merah karena kurang tidur dan debu mercusuar. "Terus lu gimana? Lu mau nunggu di sini sama Rico?"
"Gue bakal nyusul bareng Bram, Nadia, sama Maya di gelombang kedua," jawab Adit tegas. Ia melirik ke arah Rico yang duduk diam di bayang-bayang sebuah bongkahan karang besar.
Rico sudah tidak lagi merintih. Urat-urat hitam di wajahnya kini membentuk pola yang simetris, menjalar dari leher hingga ke pelipisnya. Sebelah matanya benar-benar putih, sementara mata lainnya masih menunjukkan warna cokelat gelap yang penuh kesedihan.
Ia memegang liontin milik Santi dengan sangat erat, seolah-olah benda itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut menjadi monster sepenuhnya.
"Dit," panggil Rico. Suaranya kini terdengar ganda, ada nada manusia dan ada nada desisan yang dalam. "Jangan lama-lama debatnya. Matahari bentar lagi geser. Begitu bayangan karang ini memanjang, Tora pasti bakal keluar dari celah itu."
Benar saja, dari kegelapan lubang di bawah kaki mereka, terdengar suara kuku yang menggaruk batu. 'Tora' sedang menunggu. Ia tahu mangsanya tidak bisa lari ke mana-mana.
Nadia mendekati Rico, ia mencoba memberikan sisa air terakhir, tapi Rico menolaknya dengan halus. "Simpen buat yang lain, Nad. Gue udah nggak ngerasa haus. Gue malah... gue malah ngerasa penuh. Kayak ada sesuatu yang ngalir di perut gue dan rasanya dingin banget."
"Rico, gue bakal coba cari antiseptik di kapal itu nanti," ucap Nadia dengan suara bergetar. "Bertahan ya, please."
Rico tersenyum, dan itu adalah pemandangan paling menyedihkan yang pernah dilihat Nadia. Setengah wajah Rico tersenyum manis sebagai teman kuliah mereka, setengahnya lagi tertarik kaku oleh otot yang mengeras. "Makasih, Nad. Tapi kita semua tahu gimana akhirnya nanti."
Kilas Balik: Rahasia Terbesar Adit
Sambil menunggu Aris mempersiapkan keberangkatan gelombang pertama, Adit termenung menatap laut. Tidak ada yang tahu bahwa alasan utama Adit memilih pulau ini bukan hanya karena "jarang didatangi". Sebulan sebelum liburan, Adit menemukan catatan lama di perpustakaan pribadi kakeknya, seorang pengusaha tambang tua yang dulu punya konsesi di daerah ini.
Catatan itu menyebutkan tentang "Pulau yang Mengubah Darah". Kakeknya menulis bahwa ada sesuatu yang berharga di sini, sesuatu yang bisa memperpanjang hidup. Adit yang saat itu merasa tertekan karena harus meneruskan perusahaan ayahnya yang sedang goyah, berpikir bahwa menemukan "sesuatu" itu bisa menjadi tiket emasnya. Ia menjebak teman-temannya dalam liburan mewah ini demi sebuah ambisi yang kini ia sesali setengah mati. Ia tidak mencari keindahan, ia mencari keajaiban yang ternyata adalah kutukan. Penyesalan ini membakarnya lebih panas dari matahari di atas karang itu.
"Oke, siap! Dina, Lala, naik!" perintah Aris.
Dina dan Lala naik ke atas rakit dengan sangat hati-hati. Wajah mereka kosong, seolah nyawa mereka sudah terbang lebih dulu. Aris turun ke air, memegang pinggiran rakit. Ia menggunakan sirip buatannya dari potongan plastik untuk membantu berenang sambil mendorong rakit.
"Sekarang, Rico!" teriak Adit.
Rico berdiri. Dengan gerakan yang patah-patah namun kuat, ia melompat ke air di sisi yang berlawanan dari arah tujuan Aris. Darah hitam dari lukanya langsung menyebar di air jernih itu seperti tinta cumi-cumi.
"SINI LU SEMUA! MAKAN GUE! GUE LEBIH ENAK DARI MEREKA SEMUA!" teriak Rico sambil memukul-mukul permukaan air.
Seketika, sirip-sirip hitam itu berbelok arah. Mereka mencium aroma "calon saudara" yang sedang terluka. Ratusan predator air itu mengerubungi Rico, menciptakan pusaran air yang ganas.
"JALAN, RIS! JALAN!" perintah Adit.
Aris mendorong rakit itu sekuat tenaga. Sementara itu, di sisi lain, Rico sedang bertarung dengan caranya sendiri. Ia tidak dimakan, para predator itu justru tampak bingung. Mereka menggigit Rico, tapi kemudian melepaskannya karena rasa dagingnya sudah terkontaminasi oleh racun mereka sendiri. Namun, gerakan massa predator itu menciptakan kekacauan yang cukup untuk mengalihkan perhatian dari rakit Aris.
"Dit... gue... gue bisa liat mereka..." teriak Rico dari tengah kepungan. "Mereka nggak jahat, Dit... mereka cuma... lapar banget..."
Tiba-tiba, dari arah celah karang tempat mereka berdiri, 'Tora' melompat keluar. Ia menyadari pengalihan perhatian itu. Dengan kecepatan luar biasa, ia merayap di atas permukaan air, bukan berenang, tapi berlari di atas air menggunakan selaput kakinya yang lebar.
"ADIT, AWAS!" teriak Maya.
Maya mengangkat dayungnya dan menghantamkan ke arah 'Tora' yang mencoba naik kembali ke karang untuk mengejar kelompok Adit.
PLAK!
Hantaman itu mengenai bahu 'Tora', tapi makhluk itu justru menangkap dayung tersebut dan mematahkannya seperti lidi. Maya terlempar ke belakang, kepalanya menghantam batu karang.
"MAYA!" Bram segera menerjang 'Tora' dengan pisau lipatnya.
Terjadi perkelahian brutal di atas karang sempit itu. Bram, dengan keahlian bela dirinya, mencoba menusuk mata 'Tora', namun kulit makhluk itu kini sudah sangat keras. 'Tora' mencengkeram leher Bram, mengangkatnya ke udara.
"Bram... ikut... kami..." desis 'Tora'.
Adit tidak punya pilihan. Ia mengambil jerigen bensin terakhir yang tadi ia bawa dari mercusuar (yang masih tersisa sedikit di dasar) dan menyiramkannya ke punggung 'Tora'. Ia menyalakan korek api gasnya.
"Maafin gue, Tora!"
WUSH!
Api berkobar di punggung Tora. Makhluk itu menjerit, sebuah lengkingan yang membuat predator air di sekitar Rico berhenti bergerak sejenak. 'Tora' melepaskan Bram dan melompat masuk ke laut untuk memadamkan api.
"Sekarang! Rakitnya udah balik!" teriak Aris yang ternyata sudah sampai di kapal tongkang dan mengirimkan rakit itu kembali ditarik dengan tali panjang yang tadi sempat ia ikatkan.
Adit, Bram, Nadia, dan Maya (yang baru siuman dengan dahi berdarah) segera naik ke rakit. Mereka ditarik dengan cepat oleh Aris dari kejauhan.
Namun, saat mereka berada di tengah-tengah antara karang dan kapal tongkang, mereka melihat pemandangan yang takkan pernah mereka lupakan. Rico, yang kini sudah dikelilingi oleh ratusan predator, perlahan mulai tenggelam. Ia tidak tenggelam karena ditarik, tapi karena ia membiarkan dirinya tenggelam.
Mata cokelat Rico yang tersisa menatap Adit untuk terakhir kalinya. Ia membisikkan sesuatu yang tidak terdengar, tapi Adit tahu itu adalah nama 'Santi'. Lalu, Rico menghilang di bawah permukaan air.
Mereka berhasil mencapai tangga besi bangkai kapal tongkang yang sudah berkarat. Satu per satu mereka memanjat ke atas dek yang miring. Begitu kaki mereka menyentuh besi kapal, rasa aman semu sempat menyapa.
Kapal tongkang ini sangat luas. Di tengahnya terdapat tumpukan pasir dan batu bara sisa yang sudah ditumbuhi lumut kering. Di bagian buritan, terdapat ruang kemudi yang jendelanya sudah pecah semua.
"Kita aman di sini... untuk sementara," ucap Aris sambil mengatur napas.
"Kita nggak bakal pernah aman, Ris," sahut Maya sambil menunjuk ke arah lubang palka kapal yang menganga gelap di tengah dek. "Lu denger nggak?"
Dari dalam palka yang gelap itu, terdengar suara ribuan kunyahan kecil. Dan bau yang keluar dari sana... adalah bau daging manusia yang baru saja dipotong-potong.
Adit menyalakan senternya ke arah palka. Di bawah sana, ia melihat ribuan telur predator yang menempel di dinding besi kapal. Dan di antara telur-telur itu, terdapat sisa-sisa pakaian manusia baju pantai, topi, bahkan sepatu yang sangat mirip dengan milik Gilang.
"Mereka bukan bawa Gilang buat dimakan," bisik Nadia dengan horor yang mendalam. "Mereka bawa Gilang buat jadi 'nutrisi' telur-telur ini."
Di tengah kengerian itu, sebuah suara tawa kecil yang familiar terdengar dari ruang kemudi di atas mereka.
"Wah, wah... tamunya nambah lagi. Padahal persediaan makanan sudah mulai menipis."
Seorang pria dengan pakaian compang-camping namun masih terlihat sisa-sisa kemewahannya muncul dari balik pintu ruang kemudi. Ia memegang sebilah parang besar dan sebuah botol wiski yang sudah kosong. Wajahnya penuh dengan bekas luka cakaran, namun matanya memancarkan kegilaan yang murni.
"Selamat datang di Kapal Induk," ucap pria itu. "Nama saya Kapten Bakri... bukan Bakri yang di mercusuar itu ya. Itu adik kembar saya yang malang. Saya Bakri yang lebih cerdas. Bakri yang memilih untuk memelihara mereka daripada diburu oleh mereka."
Plot twist yang menghantam mereka lebih keras dari ombak: Pak Bakri di mercusuar ternyata punya saudara, dan mereka berdua menjalankan "bisnis" keluarga yang paling mengerikan di dunia. Satu bertugas mengarahkan mangsa, satu lagi bertugas memastikan mangsa itu "diproses" dengan benar di kapal ini.
"Konflik" di antara mereka baru saja naik ke level yang baru. Di antara ribuan telur monster yang siap menetas dan seorang pria gila yang memegang parang, tujuh mahasiswa ini harus memutuskan: apakah mereka akan melawan, atau menyerah menjadi nutrisi bagi generasi predator berikutnya?
•••
Other Stories
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
My 19 Story
Di usia sembilan belas, Liora dikhianati dan melarikan diri ke Jakarta, tempat seorang pri ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...