BAB 12 | "Pertempuran Di Mulut Gua"
Gema suara dari dasar gua itu terdengar seperti parutan besi yang bertemu dengan batu granit. Di dalam ruangan bawah tanah yang kini terasa seperti arena gladiator, Adit, Bimo, dan Rio berdiri dalam formasi segitiga yang rapat. Cahaya bulan yang masuk dari lubang di atas kepala mereka mulai terhalang oleh bayangan-bayangan besar yang bergerak di permukaan pulau. Situasinya kini terbagi dua: mereka yang di atas sedang dikepung, dan mereka yang di bawah sedang menunggu maut jatuh dari langit-langit gua.
Bab 12: Pertempuran di Mulut Gua
"Bim, tangan lu beneran masih bisa pegang gagang kayu itu?" bisik Rio tanpa menoleh. Matanya tetap terpaku pada makhluk yang merayap di langit-langit, yang posisinya tepat di atas kepala mereka.
Bimo meringis, keringat dingin membasahi pelipisnya. Balutan perban di tangannya mulai merembes darah lagi karena ia menggenggam potongan kayu itu terlalu kuat. "Selama jantung gue masih mompa darah ke tangan ini, gue masih bisa pukul makhluk itu sampai hancur, Yo. Lu fokus aja sama jalan naik kita."
Adit menatap tali yang menjuntai. Aris baru saja sampai di atas, dan sekarang tali itu kosong. Ini adalah kesempatan mereka. "Oke, dengerin. Rio, lu naik duluan. Lu punya kelincahan paling bagus setelah Bram. Bimo dan bakal gue bantu dorong, baru gue yang terakhir."
"Nggak bisa gitu, Dit!" protes Rio pelan namun tajam. "Lu pemimpin disini, lu harus di atas buat ngatur dan jaga yang lain!"
"Nggak ada waktu buat debat, Rio!" bentak Adit, meskipun matanya berkaca-kaca. "Ini perintah. Naik!"
Di atas, suara teriakan teman-temannya terdengar. Rupanya makhluk-makhluk di permukaan mulai melakukan serangan intimidasi. Mereka berlarian di sekitar lubang, mematahkan dahan-dahan pohon untuk menciptakan kebisingan yang merusak mental.
"CEPAT NAIK, WOY! MEREKA MAKIN DEKET!" suara Bram menggema dari lubang atas.
Rio akhirnya mengalah. Ia menyambar tali itu dan mulai memanjat dengan gerakan cepat. Namun, gerakan Rio memicu insting predator di langit-langit. Makhluk itu melepaskan cengkeramannya dari batu dan jatuh bebas tepat ke tengah-tengah formasi mereka.
DEB!
Debu gua beterbangan. Makhluk itu mendarat dengan posisi jongkok yang aneh, menatap Adit dan Bimo dengan mata merah yang berpendar. Baunya kini sangat menyengat, perpaduan antara bau bangkai dan belerang.
"CEPAT, RIO! JANGAN BERHENTI!" teriak Bimo.
Bimo tidak menunggu makhluk itu menyerang. Dengan sisa tenaga atletisnya, ia menerjang maju. Tubuh besarnya yang setinggi 190 cm menghantam bahu makhluk itu. Ini adalah tabrakan antara kekuatan fisik manusia yang terlatih dengan kepadatan otot predator purba.
BRAK!
Keduanya terpental ke dinding gua. Bimo berteriak kesakitan saat bahunya menabrak granit keras, namun ia tidak menyerah. Ia mengayunkan kayu besarnya ke arah kepala makhluk itu.
Makhluk itu menghindar dengan kecepatan yang tak masuk akal, lalu membalas dengan sebuah sabetan cakar yang merobek kaos Bimo, menyisakan luka dalam di dada sang atlet.
"BIMO!" jerit Adit. Adit mencoba menusukkan pisau kecilnya, namun kulit makhluk itu terasa seperti ban truk yang sangat keras, pisau itu hampir tidak melukai, hanya meninggalkan goresan tipis.
Makhluk itu mendesis, suaranya terdengar seperti tawa yang merendahkan. Ia menyadari bahwa Bimo adalah ancaman fisik terbesar di antara mereka. Ia mulai mengabaikan Adit dan fokus sepenuhnya pada Bimo.
Di atas, Rio sudah mencapai tepian. Ia ditarik oleh Bram dan Rico. Begitu sampai di atas, Rio langsung melihat pemandangan yang mengerikan. Tiga predator lainnya berdiri melingkar, menjaga jarak sekitar lima meter dari teman-temannya. Mereka seolah sedang menunggu 'saudara' mereka di bawah menyelesaikan tugasnya sebelum mereka memulai pesta di atas.
"Tali! Turunin lagi talinya buat Adit sama Bimo!" teriak Rio histeris.
Kembali ke dasar gua, Bimo sudah tersudut. Darah dari dadanya menetes ke lantai gua. Namun, di matanya tidak ada ketakutan. Ada sebuah ekspresi yang sangat mature, sebuah kesadaran bahwa hidupnya mungkin akan berakhir di sini, dan ia sudah menerimanya.
"Dit... naik," ucap Bimo pendek.
"Enggak, Bim! Gue nggak bakal ninggalin lu!"
Bimo menoleh ke arah Adit, tersenyum kecil di tengah napasnya yang tersengal. "Dit, inget nggak pas kita kalah di final liga tahun lalu? Lu bilang, kapten itu orang terakhir yang ninggalin lapangan. Tapi lu lupa satu hal... center itu orang yang harus jagain ring sampai peluit terakhir bunyi."
Bimo tiba-tiba berlari ke arah Adit, bukan untuk menyerang makhluk itu, melainkan untuk mengangkat tubuh Adit dan melemparkannya ke arah tali yang menjuntai.
"NAIK SEKARANG ATAU GUE MATI SIA-SIA!" raung Bimo.
Adit menangis, tangannya gemetar meraih tali. Ia mulai memanjat dengan hati yang hancur. Dari atas tali, ia melihat Bimo berbalik menghadapi predator itu.
Makhluk itu melompat, menerjang Bimo dengan seluruh berat tubuhnya.
Bimo menangkap tubuh makhluk itu. Ia memeluknya erat-erat, menggunakan berat badannya sendiri untuk membanting makhluk itu ke lantai gua.
Mereka berguling-guling di tanah. Bimo menggunakan tangannya yang sehat untuk memiting leher makhluk tersebut, sementara tangannya yang patah ia gunakan untuk menahan rahang makhluk itu agar tidak menggigit lehernya.
"SINI LU! MAU MAKAN GUE?! SINI!" teriak Bimo dengan suara yang menggetarkan seluruh dinding gua.
Keberanian Bimo yang luar biasa ini ternyata membuat predator itu kewalahan. Makhluk itu tidak terbiasa dengan mangsa yang berani membalas dengan kekuatan fisik yang sebanding. Ia mencoba melepaskan diri, mencakar punggung Bimo berulang kali, namun Bimo tidak melepaskan pelukannya. Ia adalah seorang center sejati, ia tidak akan membiarkan lawannya mencetak angka.
Saat Adit mencapai tepian lubang dan ditarik ke atas, ia segera melihat ke bawah untuk terakhir kalinya.
Bimo mendongak, matanya bertemu dengan mata Adit. Ada pesan tersirat yang sangat dalam di sana: Jaga mereka, Dit. Bawa mereka pulang.
Tiba-tiba, makhluk itu berhasil memutar tubuhnya dan mengeluarkan kuku jempol kakinya yang besar dan tajam. Dengan satu sentakan kuat, ia merobek perut Bimo.
Suara teriakan Bimo terhenti seketika, berganti dengan suara napas yang berat dan basah. Namun, bahkan dalam detik-detik terakhirnya, Bimo masih sempat melakukan satu hal terakhir. Ia meraih botol alkohol yang terjatuh dari tas Aris tadi, menggigit tutupnya hingga terbuka, dan menyiramkan seluruh isinya ke tubuhnya sendiri dan tubuh makhluk yang memeluknya.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan korek api gas yang selalu ia bawa untuk membakar api unggun.
"BIMOOO! JANGAN!" teriak Rio dari atas.
CETREK.
Api kecil muncul, dan dalam sekejap, ledakan api biru menyambar tubuh Bimo dan predator itu. Cairan alkohol dan parfum yang menyerap di baju mereka membuat api merambat sangat cepat. Makhluk itu melengking sangat keras, sebuah suara kesakitan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Ia mencoba melepaskan diri dari Bimo yang terbakar, namun Bimo tetap memeluknya erat, membawanya ke dalam tarian maut yang membara.
Asap hitam mulai naik dari lubang gua. Cahaya api menerangi seluruh wajah teman-temannya yang berdiri di atas. Mereka semua terdiam, menangis dalam keheningan yang paling dalam. Bimo, sang atlet yang selalu mereka andalkan, telah mengorbankan dirinya dengan cara yang paling heroik sekaligus menyakitkan.
Predator di bawah akhirnya berhasil melepaskan diri setelah sebagian besar kulitnya hangus, ia melarikan diri ke dalam kegelapan lorong gua sambil terus melengking. Bimo tergeletak di lantai gua, tubuhnya dikelilingi api yang mulai meredup. Ia tidak bergerak lagi.
Tiga predator di atas, melihat salah satu kawan mereka terluka parah dan terbakar, mendadak berhenti mengintimidasi. Mereka saling berkomunikasi dengan suara desisan yang aneh, lalu secara perlahan mundur ke dalam hutan, seolah-olah mereka perlu mengatur ulang strategi menghadapi mangsa yang ternyata bisa sangat berbahaya saat terdesak.
Asap hitam yang membawa aroma daging terbakar dan alkohol pahit membubung dari lubang gua, menyapu wajah teman-temannya yang berdiri terpaku di tepian. Adit masih memegang ujung tali yang terasa panas, matanya menatap nanar ke dasar kegelapan di mana api biru perlahan mengecil. Keheningan yang menyusul setelah lengkingan predator itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan tadi.
"Bimo..." bisik Dina, suaranya pecah di tengah angin malam. Ia yang tadi paling histeris saat diseret, kini justru kehilangan kata-kata. Keberanian Bimo yang meledakkan diri bersama makhluk itu adalah sesuatu yang tidak masuk dalam logika dunianya yang selama ini hanya berisi kuliah, kafe, dan kenyamanan.
Rio jatuh terduduk di atas tanah yang lembap. Tangannya yang memegang pisau lipat berlumuran darah biru kehitaman milik predator itu. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap lubang gua. "Dia nggak seharusnya mati kayak gitu, Dit. Dia harusnya wisuda bareng kita. Dia mau ngajak nyokapnya jalan-jalan pakai uang gaji pertamanya..."
Adit tidak menjawab. Ia merasakan sebuah retakan besar di dalam jiwanya. Sebagai pemimpin kelompok, ia merasa gagal. Namun, saat ia melihat ke arah hutan, ia melihat tiga pasang mata merah itu kembali muncul di balik rimbunnya pohon pakis. Mereka tidak takut. Mereka hanya sedang menghitung sisa mangsa mereka.
"Bangun, Yo," ucap Adit. Suaranya dingin, tidak ada lagi getaran emosi yang meluap-luap, hanya ada ketegasan yang lahir dari keputusasaan. "Bimo nggak mati buat liat lu duduk nangis di sini. Dia mati buat kasih kita jalan. Kasih kita jalan untuk hidup. Bangkit Yo!"
Aris mendekati Adit, memegang pundaknya. "Makhluk yang terbakar tadi belum tentu mati. Makhluk itu punya ketahanan fisik yang di luar nalar. Kita harus menjauh dari lubang ini sebelum mereka yang di hutan sadar kalau kita kehilangan orang terkuat kita."
"Kita ke arah mana, Ris?" tanya Santi sambil merangkul Rico yang masih gemetar di sampingnya. Rico sendiri tampak seperti orang yang kehilangan jiwanya, rasa malu karena telah membiarkan Bimo dan Gilang berjuang sendirian tadi tampak menggerogoti harga dirinya di depan teman-temannya.
"Ke arah mercusuar tua di ujung timur," jawab Aris sambil menunjuk sebuah siluet bangunan tinggi yang tampak samar di bawah cahaya rembulan. "Peta Pak Darman bilang di sana ada ruang bawah tanah yang pintunya terbuat dari baja sisa zaman perang. Itu mungkin satu-satunya tempat yang nggak bisa mereka tembus dari bawah maupun atas."
Mereka mulai bergerak. Kali ini, formasinya berubah. Bram berada di paling depan, menggantikan posisi Bimo sebagai pembuka jalan. Adit berada di belakang, menjaga barisan. Mereka berjalan melewati akar-akar pohon besar yang melilit tanah seperti tentakel raksasa.
"Eh, tunggu..." bisik Lala tiba-tiba. Ia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa, La?" tanya Nadia yang selalu sigap di dekatnya.
"Gue ngerasa ada yang ngikutin kita dari atas pohon," Lala menunjuk ke arah kanopi hutan yang sangat rapat.
Mereka semua berhenti dan mendongak. Di atas sana, dedaunan bergoyang pelan, namun tidak ada angin. Suara gesekan kulit kasar dengan batang pohon terdengar sangat halus, seperti suara amplas yang digosokkan ke kayu.
Predator ini sangat cerdas, mereka tahu bahwa menyerang secara frontal di tempat terbuka bisa berisiko seperti yang dialami kawan mereka di gua. Sekarang, mereka menggunakan taktik gerilya.
"Jangan berhenti! Terus jalan!" perintah Bram.
Sambil berjalan cepat, Tora mencoba memecah kesunyian yang mencekam itu dengan suaranya yang parau. "Gue inget... Bimo pernah bilang kalau dia takut sama api. Pas kita bakar-bakar di pantai hari pertama, dia paling jauh duduknya dari api unggun. Tapi barusan..." Tora tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Dia bukan takut api, Tor," sahut Maya dengan nada mature yang mendalam. "Dia cuma menghargai hidup. Dan malam ini, dia mutusin kalau hidup kita lebih berharga dari ketakutannya sendiri."
Tiba-tiba, sebuah dahan besar jatuh tepat di tengah-tengah barisan mereka.
BRAKK!
"AAHHH!" Eka berteriak saat dahan itu hampir mengenai kepalanya.
Kepanikan kembali pecah. Barisan mereka mulai tercerai-berai. Di saat itulah, salah satu predator yang bersembunyi di atas pohon menjatuhkan diri. Namun, ia tidak menyerang manusia secara langsung. Makhluk itu menyambar tas logistik yang dibawa oleh Rico.
"TASNYA! MAKANAN KITA!" teriak Rico. Secara insting, Rico mencoba menahan tas itu, mungkin karena ia ingin menebus rasa malunya tadi. Ia menarik tali tasnya dengan kuat.
Makhluk itu mendarat di tanah, menarik tas itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang berkuku tajam terayun ke arah wajah Rico.
"RICO, LEPASIN!" teriak Santi.
Santi, tanpa pikir panjang, berlari maju dan mendorong Rico hingga terjatuh. Namun, konsekuensinya fatal. Cakar makhluk itu yang tadinya mengarah ke Rico, justru mengenai bahu Santi.
"AGHHH!" Santi menjerit kesakitan. Darah segar menyembur, membasahi baju putih yang ia kenakan.
Rio yang berada paling dekat langsung menerjang dengan pisau lipatnya. "PERGI LU, SETAN!"
Makhluk itu mendesis, ia tidak menduga akan ada serangan balik secepat itu. Ia melepaskan tas logistik dan melompat kembali ke kegelapan pohon dengan kecepatan kilat.
Nadia segera berlari ke arah Santi. "Baringin dia! Baringin!"
Mereka berkumpul melingkari Santi di tengah hutan yang gelap. Cahaya senter diarahkan ke bahu Santi yang sobek besar. Luka itu terlihat sangat buruk, otot bahunya terlihat robek dan perdarahannya sangat hebat.
"Nad... sakit banget, Nad..." rintih Santi dengan wajah yang seketika memucat.
Nadia dengan tangan gemetar membuka tas medisnya. Ia tahu, dalam kondisi hutan seperti ini, luka terbuka adalah undangan bagi predator lain untuk mencium bau darah. "Bram, kasih gue kain bersih apa aja! Adit, jagain sekeliling!"
Rico merangkak mendekati Santi, ia menangis sejadi-jadinya. "San, maafin gue... harusnya gue yang kena... maafin gue, San..."
Santi menatap Rico dengan sisa tenaganya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan pengampunan sekaligus kesedihan. "Jangan nangis, Ric... lu harus kuat... buat kita..."
Di tengah drama emosional itu, Aris menyadari sesuatu yang mengerikan. Bau darah Santi yang segar mulai menyebar ke seluruh penjuru hutan. Dari kejauhan, terdengar suara geraman yang bersahut-sahutan. Bukan satu atau dua, tapi lebih banyak lagi.
"Darahnya..." bisik Aris. "Mereka semua manggil kawanannya. Kita harus bawa Santi sekarang juga, atau kita bakal dikepung di sini."
"Tapi dia nggak bisa dibawa lari, Ris! Perdarahannya belum berhenti!" protes Nadia sambil menekan luka Santi dengan kencang.
"Bikin tandu darurat! Sekarang!" perintah Adit.
Bram dan Tora dengan cepat memotong dua batang kayu lurus dan menggunakan kaos mereka untuk membuat tandu sederhana. Mereka meletakkan Santi di atasnya dengan sangat hati-hati.
"Kita lari ke mercusuar! Jangan liat ke belakang lagi!" teriak Adit.
Mereka kembali berlari, kali ini dengan beban tambahan dan satu orang yang terluka parah. Kecepatan mereka menurun drastis. Di atas mereka, bayangan-bayangan hitam terus meloncat dari satu dahan ke dahan lain, seolah sedang mengiringi sebuah prosesi kematian yang megah.
Pulau Seribu Hening seolah sedang menertawakan mereka. Setiap bab yang mereka lalui hanya menambah daftar luka dan kehilangan. Dan di dalam kegelapan yang pekat, sang predator puncak yang terbakar di gua tadi ternyata masih hidup. Dengan kulit yang mengelupas dan penuh luka bakar, ia merangkak keluar dari lubang gua, matanya yang merah kini hanya memiliki satu tujuan, dendam yang lebih panas dari api yang membakarnya.
Adit berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap ke arah hutan yang gelap, lalu ke arah teman-temannya yang tersisa, kini tinggal tiga belas orang.
"Kita nggak boleh diem di sini," ucap Adit dengan suara yang parau dan dingin. Tidak ada lagi keraguan di suaranya. Kematian Bimo telah membunuh sebagian dari jiwa Adit yang ragu, dan menggantinya dengan keinginan murni untuk bertahan hidup. "Bimo udah kasih kita waktu. Kalau kita cuma nangis di sini, pengorbanannya nggak ada artinya."
Bram mendekati Adit, merangkul pundaknya. "Kita harus sampai ke tempat yang dibilang Aris. Secepat mungkin."
---
Sisi Lain: Mengapa Predator Itu Ada?
Jauh sebelum pulau ini dikenal sebagai Pulau Seribu Hening, tempat ini adalah sebuah titik geografis yang aneh di mana arus laut dalam bertemu dengan terowongan vulkanik kuno. Makhluk-makhluk ini adalah hasil dari isolasi jutaan tahun. Mereka adalah Xenomorph alami bumi, predator yang tidak memiliki mata tapi merasakan panas dan getaran, yang kulitnya mengandung kadar karbon tinggi hingga sekeras baja.
Selama berabad-abad, mereka hanya memangsa ikan dan hewan laut yang tersesat di gua-gua bawah air. Namun, ketika sebuah kapal dagang Belanda terdampar di sini pada abad ke-17, mereka menemukan sumber protein baru, daging manusia.
Sejak saat itu, mereka mulai beradaptasi untuk berburu di daratan pulau, namun hanya bisa keluar saat cahaya matahari meredup karena kulit mereka sangat sensitif terhadap sinar UV yang kuat. Itulah alasan mengapa liburan "senang-senang" Adit dan teman-temannya aman di awal cerita, karena mereka selalu berada di bawah sinar matahari yang terik. Tapi sekarang, malam telah jatuh, dan para penguasa pulau telah bangun dengan rasa lapar yang terasah selama berabad-abad.
•••
Bab 12: Pertempuran di Mulut Gua
"Bim, tangan lu beneran masih bisa pegang gagang kayu itu?" bisik Rio tanpa menoleh. Matanya tetap terpaku pada makhluk yang merayap di langit-langit, yang posisinya tepat di atas kepala mereka.
Bimo meringis, keringat dingin membasahi pelipisnya. Balutan perban di tangannya mulai merembes darah lagi karena ia menggenggam potongan kayu itu terlalu kuat. "Selama jantung gue masih mompa darah ke tangan ini, gue masih bisa pukul makhluk itu sampai hancur, Yo. Lu fokus aja sama jalan naik kita."
Adit menatap tali yang menjuntai. Aris baru saja sampai di atas, dan sekarang tali itu kosong. Ini adalah kesempatan mereka. "Oke, dengerin. Rio, lu naik duluan. Lu punya kelincahan paling bagus setelah Bram. Bimo dan bakal gue bantu dorong, baru gue yang terakhir."
"Nggak bisa gitu, Dit!" protes Rio pelan namun tajam. "Lu pemimpin disini, lu harus di atas buat ngatur dan jaga yang lain!"
"Nggak ada waktu buat debat, Rio!" bentak Adit, meskipun matanya berkaca-kaca. "Ini perintah. Naik!"
Di atas, suara teriakan teman-temannya terdengar. Rupanya makhluk-makhluk di permukaan mulai melakukan serangan intimidasi. Mereka berlarian di sekitar lubang, mematahkan dahan-dahan pohon untuk menciptakan kebisingan yang merusak mental.
"CEPAT NAIK, WOY! MEREKA MAKIN DEKET!" suara Bram menggema dari lubang atas.
Rio akhirnya mengalah. Ia menyambar tali itu dan mulai memanjat dengan gerakan cepat. Namun, gerakan Rio memicu insting predator di langit-langit. Makhluk itu melepaskan cengkeramannya dari batu dan jatuh bebas tepat ke tengah-tengah formasi mereka.
DEB!
Debu gua beterbangan. Makhluk itu mendarat dengan posisi jongkok yang aneh, menatap Adit dan Bimo dengan mata merah yang berpendar. Baunya kini sangat menyengat, perpaduan antara bau bangkai dan belerang.
"CEPAT, RIO! JANGAN BERHENTI!" teriak Bimo.
Bimo tidak menunggu makhluk itu menyerang. Dengan sisa tenaga atletisnya, ia menerjang maju. Tubuh besarnya yang setinggi 190 cm menghantam bahu makhluk itu. Ini adalah tabrakan antara kekuatan fisik manusia yang terlatih dengan kepadatan otot predator purba.
BRAK!
Keduanya terpental ke dinding gua. Bimo berteriak kesakitan saat bahunya menabrak granit keras, namun ia tidak menyerah. Ia mengayunkan kayu besarnya ke arah kepala makhluk itu.
Makhluk itu menghindar dengan kecepatan yang tak masuk akal, lalu membalas dengan sebuah sabetan cakar yang merobek kaos Bimo, menyisakan luka dalam di dada sang atlet.
"BIMO!" jerit Adit. Adit mencoba menusukkan pisau kecilnya, namun kulit makhluk itu terasa seperti ban truk yang sangat keras, pisau itu hampir tidak melukai, hanya meninggalkan goresan tipis.
Makhluk itu mendesis, suaranya terdengar seperti tawa yang merendahkan. Ia menyadari bahwa Bimo adalah ancaman fisik terbesar di antara mereka. Ia mulai mengabaikan Adit dan fokus sepenuhnya pada Bimo.
Di atas, Rio sudah mencapai tepian. Ia ditarik oleh Bram dan Rico. Begitu sampai di atas, Rio langsung melihat pemandangan yang mengerikan. Tiga predator lainnya berdiri melingkar, menjaga jarak sekitar lima meter dari teman-temannya. Mereka seolah sedang menunggu 'saudara' mereka di bawah menyelesaikan tugasnya sebelum mereka memulai pesta di atas.
"Tali! Turunin lagi talinya buat Adit sama Bimo!" teriak Rio histeris.
Kembali ke dasar gua, Bimo sudah tersudut. Darah dari dadanya menetes ke lantai gua. Namun, di matanya tidak ada ketakutan. Ada sebuah ekspresi yang sangat mature, sebuah kesadaran bahwa hidupnya mungkin akan berakhir di sini, dan ia sudah menerimanya.
"Dit... naik," ucap Bimo pendek.
"Enggak, Bim! Gue nggak bakal ninggalin lu!"
Bimo menoleh ke arah Adit, tersenyum kecil di tengah napasnya yang tersengal. "Dit, inget nggak pas kita kalah di final liga tahun lalu? Lu bilang, kapten itu orang terakhir yang ninggalin lapangan. Tapi lu lupa satu hal... center itu orang yang harus jagain ring sampai peluit terakhir bunyi."
Bimo tiba-tiba berlari ke arah Adit, bukan untuk menyerang makhluk itu, melainkan untuk mengangkat tubuh Adit dan melemparkannya ke arah tali yang menjuntai.
"NAIK SEKARANG ATAU GUE MATI SIA-SIA!" raung Bimo.
Adit menangis, tangannya gemetar meraih tali. Ia mulai memanjat dengan hati yang hancur. Dari atas tali, ia melihat Bimo berbalik menghadapi predator itu.
Makhluk itu melompat, menerjang Bimo dengan seluruh berat tubuhnya.
Bimo menangkap tubuh makhluk itu. Ia memeluknya erat-erat, menggunakan berat badannya sendiri untuk membanting makhluk itu ke lantai gua.
Mereka berguling-guling di tanah. Bimo menggunakan tangannya yang sehat untuk memiting leher makhluk tersebut, sementara tangannya yang patah ia gunakan untuk menahan rahang makhluk itu agar tidak menggigit lehernya.
"SINI LU! MAU MAKAN GUE?! SINI!" teriak Bimo dengan suara yang menggetarkan seluruh dinding gua.
Keberanian Bimo yang luar biasa ini ternyata membuat predator itu kewalahan. Makhluk itu tidak terbiasa dengan mangsa yang berani membalas dengan kekuatan fisik yang sebanding. Ia mencoba melepaskan diri, mencakar punggung Bimo berulang kali, namun Bimo tidak melepaskan pelukannya. Ia adalah seorang center sejati, ia tidak akan membiarkan lawannya mencetak angka.
Saat Adit mencapai tepian lubang dan ditarik ke atas, ia segera melihat ke bawah untuk terakhir kalinya.
Bimo mendongak, matanya bertemu dengan mata Adit. Ada pesan tersirat yang sangat dalam di sana: Jaga mereka, Dit. Bawa mereka pulang.
Tiba-tiba, makhluk itu berhasil memutar tubuhnya dan mengeluarkan kuku jempol kakinya yang besar dan tajam. Dengan satu sentakan kuat, ia merobek perut Bimo.
Suara teriakan Bimo terhenti seketika, berganti dengan suara napas yang berat dan basah. Namun, bahkan dalam detik-detik terakhirnya, Bimo masih sempat melakukan satu hal terakhir. Ia meraih botol alkohol yang terjatuh dari tas Aris tadi, menggigit tutupnya hingga terbuka, dan menyiramkan seluruh isinya ke tubuhnya sendiri dan tubuh makhluk yang memeluknya.
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan korek api gas yang selalu ia bawa untuk membakar api unggun.
"BIMOOO! JANGAN!" teriak Rio dari atas.
CETREK.
Api kecil muncul, dan dalam sekejap, ledakan api biru menyambar tubuh Bimo dan predator itu. Cairan alkohol dan parfum yang menyerap di baju mereka membuat api merambat sangat cepat. Makhluk itu melengking sangat keras, sebuah suara kesakitan yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Ia mencoba melepaskan diri dari Bimo yang terbakar, namun Bimo tetap memeluknya erat, membawanya ke dalam tarian maut yang membara.
Asap hitam mulai naik dari lubang gua. Cahaya api menerangi seluruh wajah teman-temannya yang berdiri di atas. Mereka semua terdiam, menangis dalam keheningan yang paling dalam. Bimo, sang atlet yang selalu mereka andalkan, telah mengorbankan dirinya dengan cara yang paling heroik sekaligus menyakitkan.
Predator di bawah akhirnya berhasil melepaskan diri setelah sebagian besar kulitnya hangus, ia melarikan diri ke dalam kegelapan lorong gua sambil terus melengking. Bimo tergeletak di lantai gua, tubuhnya dikelilingi api yang mulai meredup. Ia tidak bergerak lagi.
Tiga predator di atas, melihat salah satu kawan mereka terluka parah dan terbakar, mendadak berhenti mengintimidasi. Mereka saling berkomunikasi dengan suara desisan yang aneh, lalu secara perlahan mundur ke dalam hutan, seolah-olah mereka perlu mengatur ulang strategi menghadapi mangsa yang ternyata bisa sangat berbahaya saat terdesak.
Asap hitam yang membawa aroma daging terbakar dan alkohol pahit membubung dari lubang gua, menyapu wajah teman-temannya yang berdiri terpaku di tepian. Adit masih memegang ujung tali yang terasa panas, matanya menatap nanar ke dasar kegelapan di mana api biru perlahan mengecil. Keheningan yang menyusul setelah lengkingan predator itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan tadi.
"Bimo..." bisik Dina, suaranya pecah di tengah angin malam. Ia yang tadi paling histeris saat diseret, kini justru kehilangan kata-kata. Keberanian Bimo yang meledakkan diri bersama makhluk itu adalah sesuatu yang tidak masuk dalam logika dunianya yang selama ini hanya berisi kuliah, kafe, dan kenyamanan.
Rio jatuh terduduk di atas tanah yang lembap. Tangannya yang memegang pisau lipat berlumuran darah biru kehitaman milik predator itu. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatap lubang gua. "Dia nggak seharusnya mati kayak gitu, Dit. Dia harusnya wisuda bareng kita. Dia mau ngajak nyokapnya jalan-jalan pakai uang gaji pertamanya..."
Adit tidak menjawab. Ia merasakan sebuah retakan besar di dalam jiwanya. Sebagai pemimpin kelompok, ia merasa gagal. Namun, saat ia melihat ke arah hutan, ia melihat tiga pasang mata merah itu kembali muncul di balik rimbunnya pohon pakis. Mereka tidak takut. Mereka hanya sedang menghitung sisa mangsa mereka.
"Bangun, Yo," ucap Adit. Suaranya dingin, tidak ada lagi getaran emosi yang meluap-luap, hanya ada ketegasan yang lahir dari keputusasaan. "Bimo nggak mati buat liat lu duduk nangis di sini. Dia mati buat kasih kita jalan. Kasih kita jalan untuk hidup. Bangkit Yo!"
Aris mendekati Adit, memegang pundaknya. "Makhluk yang terbakar tadi belum tentu mati. Makhluk itu punya ketahanan fisik yang di luar nalar. Kita harus menjauh dari lubang ini sebelum mereka yang di hutan sadar kalau kita kehilangan orang terkuat kita."
"Kita ke arah mana, Ris?" tanya Santi sambil merangkul Rico yang masih gemetar di sampingnya. Rico sendiri tampak seperti orang yang kehilangan jiwanya, rasa malu karena telah membiarkan Bimo dan Gilang berjuang sendirian tadi tampak menggerogoti harga dirinya di depan teman-temannya.
"Ke arah mercusuar tua di ujung timur," jawab Aris sambil menunjuk sebuah siluet bangunan tinggi yang tampak samar di bawah cahaya rembulan. "Peta Pak Darman bilang di sana ada ruang bawah tanah yang pintunya terbuat dari baja sisa zaman perang. Itu mungkin satu-satunya tempat yang nggak bisa mereka tembus dari bawah maupun atas."
Mereka mulai bergerak. Kali ini, formasinya berubah. Bram berada di paling depan, menggantikan posisi Bimo sebagai pembuka jalan. Adit berada di belakang, menjaga barisan. Mereka berjalan melewati akar-akar pohon besar yang melilit tanah seperti tentakel raksasa.
"Eh, tunggu..." bisik Lala tiba-tiba. Ia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Ada apa, La?" tanya Nadia yang selalu sigap di dekatnya.
"Gue ngerasa ada yang ngikutin kita dari atas pohon," Lala menunjuk ke arah kanopi hutan yang sangat rapat.
Mereka semua berhenti dan mendongak. Di atas sana, dedaunan bergoyang pelan, namun tidak ada angin. Suara gesekan kulit kasar dengan batang pohon terdengar sangat halus, seperti suara amplas yang digosokkan ke kayu.
Predator ini sangat cerdas, mereka tahu bahwa menyerang secara frontal di tempat terbuka bisa berisiko seperti yang dialami kawan mereka di gua. Sekarang, mereka menggunakan taktik gerilya.
"Jangan berhenti! Terus jalan!" perintah Bram.
Sambil berjalan cepat, Tora mencoba memecah kesunyian yang mencekam itu dengan suaranya yang parau. "Gue inget... Bimo pernah bilang kalau dia takut sama api. Pas kita bakar-bakar di pantai hari pertama, dia paling jauh duduknya dari api unggun. Tapi barusan..." Tora tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Dia bukan takut api, Tor," sahut Maya dengan nada mature yang mendalam. "Dia cuma menghargai hidup. Dan malam ini, dia mutusin kalau hidup kita lebih berharga dari ketakutannya sendiri."
Tiba-tiba, sebuah dahan besar jatuh tepat di tengah-tengah barisan mereka.
BRAKK!
"AAHHH!" Eka berteriak saat dahan itu hampir mengenai kepalanya.
Kepanikan kembali pecah. Barisan mereka mulai tercerai-berai. Di saat itulah, salah satu predator yang bersembunyi di atas pohon menjatuhkan diri. Namun, ia tidak menyerang manusia secara langsung. Makhluk itu menyambar tas logistik yang dibawa oleh Rico.
"TASNYA! MAKANAN KITA!" teriak Rico. Secara insting, Rico mencoba menahan tas itu, mungkin karena ia ingin menebus rasa malunya tadi. Ia menarik tali tasnya dengan kuat.
Makhluk itu mendarat di tanah, menarik tas itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang berkuku tajam terayun ke arah wajah Rico.
"RICO, LEPASIN!" teriak Santi.
Santi, tanpa pikir panjang, berlari maju dan mendorong Rico hingga terjatuh. Namun, konsekuensinya fatal. Cakar makhluk itu yang tadinya mengarah ke Rico, justru mengenai bahu Santi.
"AGHHH!" Santi menjerit kesakitan. Darah segar menyembur, membasahi baju putih yang ia kenakan.
Rio yang berada paling dekat langsung menerjang dengan pisau lipatnya. "PERGI LU, SETAN!"
Makhluk itu mendesis, ia tidak menduga akan ada serangan balik secepat itu. Ia melepaskan tas logistik dan melompat kembali ke kegelapan pohon dengan kecepatan kilat.
Nadia segera berlari ke arah Santi. "Baringin dia! Baringin!"
Mereka berkumpul melingkari Santi di tengah hutan yang gelap. Cahaya senter diarahkan ke bahu Santi yang sobek besar. Luka itu terlihat sangat buruk, otot bahunya terlihat robek dan perdarahannya sangat hebat.
"Nad... sakit banget, Nad..." rintih Santi dengan wajah yang seketika memucat.
Nadia dengan tangan gemetar membuka tas medisnya. Ia tahu, dalam kondisi hutan seperti ini, luka terbuka adalah undangan bagi predator lain untuk mencium bau darah. "Bram, kasih gue kain bersih apa aja! Adit, jagain sekeliling!"
Rico merangkak mendekati Santi, ia menangis sejadi-jadinya. "San, maafin gue... harusnya gue yang kena... maafin gue, San..."
Santi menatap Rico dengan sisa tenaganya. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan pengampunan sekaligus kesedihan. "Jangan nangis, Ric... lu harus kuat... buat kita..."
Di tengah drama emosional itu, Aris menyadari sesuatu yang mengerikan. Bau darah Santi yang segar mulai menyebar ke seluruh penjuru hutan. Dari kejauhan, terdengar suara geraman yang bersahut-sahutan. Bukan satu atau dua, tapi lebih banyak lagi.
"Darahnya..." bisik Aris. "Mereka semua manggil kawanannya. Kita harus bawa Santi sekarang juga, atau kita bakal dikepung di sini."
"Tapi dia nggak bisa dibawa lari, Ris! Perdarahannya belum berhenti!" protes Nadia sambil menekan luka Santi dengan kencang.
"Bikin tandu darurat! Sekarang!" perintah Adit.
Bram dan Tora dengan cepat memotong dua batang kayu lurus dan menggunakan kaos mereka untuk membuat tandu sederhana. Mereka meletakkan Santi di atasnya dengan sangat hati-hati.
"Kita lari ke mercusuar! Jangan liat ke belakang lagi!" teriak Adit.
Mereka kembali berlari, kali ini dengan beban tambahan dan satu orang yang terluka parah. Kecepatan mereka menurun drastis. Di atas mereka, bayangan-bayangan hitam terus meloncat dari satu dahan ke dahan lain, seolah sedang mengiringi sebuah prosesi kematian yang megah.
Pulau Seribu Hening seolah sedang menertawakan mereka. Setiap bab yang mereka lalui hanya menambah daftar luka dan kehilangan. Dan di dalam kegelapan yang pekat, sang predator puncak yang terbakar di gua tadi ternyata masih hidup. Dengan kulit yang mengelupas dan penuh luka bakar, ia merangkak keluar dari lubang gua, matanya yang merah kini hanya memiliki satu tujuan, dendam yang lebih panas dari api yang membakarnya.
Adit berdiri, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap ke arah hutan yang gelap, lalu ke arah teman-temannya yang tersisa, kini tinggal tiga belas orang.
"Kita nggak boleh diem di sini," ucap Adit dengan suara yang parau dan dingin. Tidak ada lagi keraguan di suaranya. Kematian Bimo telah membunuh sebagian dari jiwa Adit yang ragu, dan menggantinya dengan keinginan murni untuk bertahan hidup. "Bimo udah kasih kita waktu. Kalau kita cuma nangis di sini, pengorbanannya nggak ada artinya."
Bram mendekati Adit, merangkul pundaknya. "Kita harus sampai ke tempat yang dibilang Aris. Secepat mungkin."
---
Sisi Lain: Mengapa Predator Itu Ada?
Jauh sebelum pulau ini dikenal sebagai Pulau Seribu Hening, tempat ini adalah sebuah titik geografis yang aneh di mana arus laut dalam bertemu dengan terowongan vulkanik kuno. Makhluk-makhluk ini adalah hasil dari isolasi jutaan tahun. Mereka adalah Xenomorph alami bumi, predator yang tidak memiliki mata tapi merasakan panas dan getaran, yang kulitnya mengandung kadar karbon tinggi hingga sekeras baja.
Selama berabad-abad, mereka hanya memangsa ikan dan hewan laut yang tersesat di gua-gua bawah air. Namun, ketika sebuah kapal dagang Belanda terdampar di sini pada abad ke-17, mereka menemukan sumber protein baru, daging manusia.
Sejak saat itu, mereka mulai beradaptasi untuk berburu di daratan pulau, namun hanya bisa keluar saat cahaya matahari meredup karena kulit mereka sangat sensitif terhadap sinar UV yang kuat. Itulah alasan mengapa liburan "senang-senang" Adit dan teman-temannya aman di awal cerita, karena mereka selalu berada di bawah sinar matahari yang terik. Tapi sekarang, malam telah jatuh, dan para penguasa pulau telah bangun dengan rasa lapar yang terasah selama berabad-abad.
•••
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Tersesat
Qiran yang suka hal baru nekat mengakses deep web dan menemukan sebuah lagu, lalu memamerk ...
Hellend (noni Belanda)
Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...