BAB 18 | "Karang Peristirahatan Terakhir"
Matahari mulai merangkak naik, namun sinarnya tidak membawa kehangatan yang melegakan. Sebaliknya, cahaya fajar itu justru menelanjangi kengerian yang ada di atas perahu jukung yang kini terombang-ambing di tengah laut lepas. Bunyi mesin tok-tok-tok yang tadi menjadi melodi harapan, tiba-tiba berubah menjadi suara batuk yang parau, sebelum akhirnya mati total dengan suara desisan uap panas.
Bab 18: Karang Peristirahatan Terakhir
"Ris? Aris! Kenapa mesinnya?" suara Adit pecah, membelah kesunyian laut yang kini terasa sangat menekan.
Aris tidak menjawab. Tangannya yang berlumuran oli mencoba menarik tali starter berkali-kali. Srett... srett... namun mesin itu tetap bisu. Ia memukul kap mesin dengan kepalan tangannya hingga kulitnya lecet. "Bensinnya ada, tapi salurannya mampet! Cairan hitam dari makhluk-makhluk itu... kayaknya masuk ke tangki pas Tora sama Santi melompat tadi!"
Di dek perahu, situasi semakin kritis. Rico tergeletak dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Urat hitam di lengannya bukan lagi sekadar garis, tapi mulai timbul seperti akar pohon yang menjalar di bawah kulitnya. Di depannya, Nadia masih mencoba meraih tubuh Santi yang mengapung di sekitar mereka, meskipun Santi sudah tidak lagi tampak seperti manusia yang mereka kenal.
"Nad, jauhi dia," bisik Maya. Ia berdiri memegang dayung, matanya tidak lepas dari sosok Santi yang terus mengerang rendah.
"Dia masih temen kita, May! Gue nggak bisa biarin dia mati kehausan!" Nadia berteriak, air matanya jatuh yang kini terasa sedingin es.
"Nad... dengerin gue," ucap Bram sambil merangkul bahu Nadia dan menariknya menjauh secara perlahan. "Santi yang lu kenal udah nggak ada di situ. Liat matanya. Itu bukan tatapan orang yang butuh minum. Itu tatapan pemangsa yang lagi nunggu waktu buat gigit leher lu."
Santi mendongak. Matanya yang putih bersih tanpa pupil itu memantulkan sinar matahari pagi. Ia tidak menyerang, tapi ia mengeluarkan suara lengkingan yang sangat panjang, sebuah sinyal yang langsung dijawab oleh riak air di sekeliling perahu.
Kilas Balik: Mimpi Kecil Dina dan Lala
Di pojok haluan, Dina dan Lala masih saling berpelukan. Mereka adalah dua sahabat yang paling dekat di kelompok ini. Dina adalah mahasiswi sastra yang selalu bermimpi menulis novel tentang perjalanan hebat, sementara Lala adalah mahasiswi desain yang ingin melihat dunia melalui sketsa-sketsanya.
Alasan mereka ikut liburan ini sederhana: mereka ingin merayakan berakhirnya ujian semester yang melelahkan. Dina ingin mencari inspirasi, dan Lala ingin menggambar senja di pulau terpencil.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa "perjalanan hebat" Dina akan ditulis dengan darah teman-temannya sendiri, dan sketsa terakhir Lala hanyalah bayangan monster yang merobek langit-langit gua. Ketulusan persahabatan mereka kini menjadi satu-satunya benteng pertahanan mental yang tersisa.
"Dit, liat!" Itu suara Aris yang menunjuk ke arah depan.
Sekitar seratus meter di depan mereka, sebuah gugusan karang raksasa mencuat dari permukaan laut. Karang itu berwarna putih pucat, berbentuk seperti gigi-gigi naga yang tidak beraturan. Tidak ada pohon, hanya batu tajam yang menumpuk.
"Kita harus ke sana! Perahu ini bakal tenggelam kalau terus dihantam dari bawah!" seru Adit. Ia melihat lubang di lantai perahu mulai mengeluarkan air. Makhluk air di bawah sana mulai merobek kayu jukung itu sedikit demi sedikit.
"Pakai dayung! Semuanya!" perintah Bram.
Adit, Bram, Aris, dan bahkan Maya mulai mendayung dengan tenaga sisa. Setiap kayuhan terasa sangat berat karena arus laut seolah-olah ingin menyeret mereka kembali ke Pulau Seribu Hening. Sementara itu, Rico mulai meracau dalam tidurnya.
"Jangan... jangan ambil Santi... gue yang salah..." Rico menggumam dengan suara yang serak dan dalam.
Saat perahu semakin dekat dengan karang, mereka menyadari sesuatu yang mengerikan. Di sela-sela batu karang yang tajam itu, terdapat ratusan lubang kecil yang mengeluarkan gelembung udara. Ini bukan sekadar karang; ini adalah "apartemen" bawah air bagi para predator larva yang sedang menunggu proses perubahan.
"Jangan mendarat di situ, Dit! Itu keliatannya sarang mereka juga!" teriak Nadia.
"Kita nggak punya pilihan, Nad! Perahu ini udah mau karam!" balas Adit sambil menunjuk air laut yang sudah setinggi mata kaki di dalam dek.
KRETEK... BYUR!
Bagian belakang perahu hancur total. Aris melompat ke arah depan tepat sebelum mesin jukung itu tenggelam ke dasar laut. Perahu mereka kini miring tajam.
"LOMPAT! SEKARANG!" raung Bram.
Satu per satu mereka melompat ke arah batu karang yang licin. Adit menggendong Rico di pundaknya, sementara Bram membantu menarik Dina dan Lala. Nadia dan Maya berusaha menyeret Santi, namun Santi tiba-tiba memberontak. Dengan kekuatan yang tidak masuk akal, Santi melompat sendiri ke arah celah karang yang gelap dan menghilang di dalamnya.
"SANTI!" teriak Rico yang baru saja mendarat di atas batu tajam.
Mereka berkumpul di titik tertinggi karang tersebut. Di sekeliling mereka, laut dipenuhi oleh sirip-sirip hitam yang berputar-putar. Makhluk-makhluk itu tidak berani naik ke atas karang karena sinar matahari yang mulai terik. Ternyata, selain api, sinar matahari langsung adalah racun bagi kulit sensitif mereka.
"Kita terjebak," bisik Lala, ia melihat perahu jukung mereka perlahan tenggelam sepenuhnya, menyisakan beberapa keping kayu yang terbawa arus. "Kita di tengah laut, di atas tumpukan batu, tanpa air, tanpa makanan."
"Dan dengan satu orang yang sebentar lagi bakal berubah jadi monster," sahut Maya sambil menatap Rico.
Rico duduk bersandar di batu karang yang panas. Urat hitam di wajahnya kini sudah mencapai matanya. Sebelah matanya mulai memutih. Ia menatap Adit dengan sisa-sisa kesadarannya. "Dit... ambil pisau lu."
"Enggak, Ric. Belum waktunya," jawab Adit, suaranya bergetar hebat.
"Sekarang, Dit... sebelum gue lupa siapa kalian..." Rico mengambil sebuah kalung dari lehernya, sebuah kalung emas dengan liontin inisial 'S'. "Kasih ini ke orang tua Santi kalau lu selamat. Bilang kalau gue... gue sayang banget sama dia sampai akhir."
Di tengah momen yang penuh emosi itu, sebuah suara tawa kering terdengar dari arah bawah karang. Itu bukan suara hewan. Itu suara manusia.
Mereka semua menoleh ke bawah celah karang yang gelap. Dari sana, muncul sosok yang sangat mereka kenal. Tora.
Tapi itu bukan Tora yang mereka kenal di kampus. Wajahnya sudah setengah hancur, kulitnya bersisik hitam, namun ia masih bisa bicara dengan bahasa manusia yang terbata-bata.
"Lapar... dingin... Dit... bantuin...bantuin gue..." ucap 'Tora' dengan nada yang sangat menyayat hati.
"Tora?" Dina melangkah maju dengan wajah penuh empati, namun Bram segera menahannya.
"Itu jebakan, Din! Dia bukan Tora lagi! Dia cuma pakai suara Tora buat mancing kita!" teriak Bram.
'Tora' merangkak keluar dari celah. Gerakannya seperti laba-laba, patah-patah dan cepat. Di belakangnya, muncul sosok-sosok lain yang lebih kecil namun sama ngerinya. Mereka adalah predator-predator muda yang lahir dari inang manusia di masa lalu.
"Kalian... tidak akan... pulang..." desis 'Tora'. Matanya yang putih menatap mereka satu per satu. "Kalian... adalah... keluarga... baru..."
Konflik memuncak. Mereka harus bertahan di atas karang yang panas membara di bawah terik matahari, sambil menjaga agar teman mereka yang berubah tidak menyeret mereka ke bawah. Di saat yang sama, rasa haus mulai menyerang.
Aris melihat sesuatu di cakrawala. Sebuah titik hitam kecil. "Kapal! Ada kapal di sana!"
Semua orang berdiri, berteriak, dan melambaikan tangan dengan sisa tenaga mereka. Namun, titik hitam itu tetap diam. Itu bukan kapal penyelamat. Itu adalah sebuah bangkai kapal tongkang yang sudah lama karam dan tersangkut di dangkalan pasir.
"Harapan palsu," gumam Maya. Ia terduduk lemas.
Adit berdiri tegak, memandang ke arah 'Tora' yang masih mengawasi mereka dari bayang-bayang celah karang. "Kita nggak bisa cuma diem di sini sampai malem. Kalau matahari tenggelam, mereka bakal naik ke sini dan habisin kita semua."
"Terus kita harus gimana, Dit?" tanya Nadia.
"Kita harus ke bangkai kapal itu," jawab Adit tegas. "Bangkai kapal itu punya dek yang lebih tinggi dan mungkin ada sisa air atau suar di dalamnya. Kita harus berenang."
"Berenang?! Lu liat sirip-sirip mereka di bawah sana kan, Dit?!" teriak Lala histeris.
"Kita nggak berenang biasa. Kita bakal bikin jembatan apung pakai kayu-kayu sisa perahu yang masih ada di sekitar sini," jelas Adit. "Dan satu hal lagi... kita butuh pengalih perhatian."
Semua mata tertuju pada Rico. Rico tersenyum lemah, ia seolah sudah tahu apa yang akan diminta.
"Gue bakal jadi umpannya," ucap Rico pelan. "Gue bakal masuk ke air duluan. Bau darah hitam gue bakal bikin mereka bingung. Mereka nggak bakal tahu gue ini kawan atau lawan."
"Enggak, Ric! Itu bunuh diri!" tangis Nadia.
"Gue emang udah mati, Nad," balas Rico. Ia berdiri dengan susah payah, kakinya yang patah ia seret. "Seenggaknya, biarin kematian gue punya arti."
Di bawah sinar matahari yang membakar, rencana gila itu mulai disusun. Sebuah rencana yang lahir dari keputusasaan, keberanian, dan pengorbanan yang sangat mature. Mereka mulai mengumpulkan potongan kayu jukung yang terbawa arus ke pinggir karang.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka sadari. Di dalam bangkai kapal tongkang yang mereka tuju, sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua dari predator mana pun sedang menunggu. Sesuatu yang menjadi alasan mengapa predator-predator ini tidak pernah meninggalkan wilayah laut ini.
•••
Bab 18: Karang Peristirahatan Terakhir
"Ris? Aris! Kenapa mesinnya?" suara Adit pecah, membelah kesunyian laut yang kini terasa sangat menekan.
Aris tidak menjawab. Tangannya yang berlumuran oli mencoba menarik tali starter berkali-kali. Srett... srett... namun mesin itu tetap bisu. Ia memukul kap mesin dengan kepalan tangannya hingga kulitnya lecet. "Bensinnya ada, tapi salurannya mampet! Cairan hitam dari makhluk-makhluk itu... kayaknya masuk ke tangki pas Tora sama Santi melompat tadi!"
Di dek perahu, situasi semakin kritis. Rico tergeletak dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Urat hitam di lengannya bukan lagi sekadar garis, tapi mulai timbul seperti akar pohon yang menjalar di bawah kulitnya. Di depannya, Nadia masih mencoba meraih tubuh Santi yang mengapung di sekitar mereka, meskipun Santi sudah tidak lagi tampak seperti manusia yang mereka kenal.
"Nad, jauhi dia," bisik Maya. Ia berdiri memegang dayung, matanya tidak lepas dari sosok Santi yang terus mengerang rendah.
"Dia masih temen kita, May! Gue nggak bisa biarin dia mati kehausan!" Nadia berteriak, air matanya jatuh yang kini terasa sedingin es.
"Nad... dengerin gue," ucap Bram sambil merangkul bahu Nadia dan menariknya menjauh secara perlahan. "Santi yang lu kenal udah nggak ada di situ. Liat matanya. Itu bukan tatapan orang yang butuh minum. Itu tatapan pemangsa yang lagi nunggu waktu buat gigit leher lu."
Santi mendongak. Matanya yang putih bersih tanpa pupil itu memantulkan sinar matahari pagi. Ia tidak menyerang, tapi ia mengeluarkan suara lengkingan yang sangat panjang, sebuah sinyal yang langsung dijawab oleh riak air di sekeliling perahu.
Kilas Balik: Mimpi Kecil Dina dan Lala
Di pojok haluan, Dina dan Lala masih saling berpelukan. Mereka adalah dua sahabat yang paling dekat di kelompok ini. Dina adalah mahasiswi sastra yang selalu bermimpi menulis novel tentang perjalanan hebat, sementara Lala adalah mahasiswi desain yang ingin melihat dunia melalui sketsa-sketsanya.
Alasan mereka ikut liburan ini sederhana: mereka ingin merayakan berakhirnya ujian semester yang melelahkan. Dina ingin mencari inspirasi, dan Lala ingin menggambar senja di pulau terpencil.
Mereka tidak pernah membayangkan bahwa "perjalanan hebat" Dina akan ditulis dengan darah teman-temannya sendiri, dan sketsa terakhir Lala hanyalah bayangan monster yang merobek langit-langit gua. Ketulusan persahabatan mereka kini menjadi satu-satunya benteng pertahanan mental yang tersisa.
"Dit, liat!" Itu suara Aris yang menunjuk ke arah depan.
Sekitar seratus meter di depan mereka, sebuah gugusan karang raksasa mencuat dari permukaan laut. Karang itu berwarna putih pucat, berbentuk seperti gigi-gigi naga yang tidak beraturan. Tidak ada pohon, hanya batu tajam yang menumpuk.
"Kita harus ke sana! Perahu ini bakal tenggelam kalau terus dihantam dari bawah!" seru Adit. Ia melihat lubang di lantai perahu mulai mengeluarkan air. Makhluk air di bawah sana mulai merobek kayu jukung itu sedikit demi sedikit.
"Pakai dayung! Semuanya!" perintah Bram.
Adit, Bram, Aris, dan bahkan Maya mulai mendayung dengan tenaga sisa. Setiap kayuhan terasa sangat berat karena arus laut seolah-olah ingin menyeret mereka kembali ke Pulau Seribu Hening. Sementara itu, Rico mulai meracau dalam tidurnya.
"Jangan... jangan ambil Santi... gue yang salah..." Rico menggumam dengan suara yang serak dan dalam.
Saat perahu semakin dekat dengan karang, mereka menyadari sesuatu yang mengerikan. Di sela-sela batu karang yang tajam itu, terdapat ratusan lubang kecil yang mengeluarkan gelembung udara. Ini bukan sekadar karang; ini adalah "apartemen" bawah air bagi para predator larva yang sedang menunggu proses perubahan.
"Jangan mendarat di situ, Dit! Itu keliatannya sarang mereka juga!" teriak Nadia.
"Kita nggak punya pilihan, Nad! Perahu ini udah mau karam!" balas Adit sambil menunjuk air laut yang sudah setinggi mata kaki di dalam dek.
KRETEK... BYUR!
Bagian belakang perahu hancur total. Aris melompat ke arah depan tepat sebelum mesin jukung itu tenggelam ke dasar laut. Perahu mereka kini miring tajam.
"LOMPAT! SEKARANG!" raung Bram.
Satu per satu mereka melompat ke arah batu karang yang licin. Adit menggendong Rico di pundaknya, sementara Bram membantu menarik Dina dan Lala. Nadia dan Maya berusaha menyeret Santi, namun Santi tiba-tiba memberontak. Dengan kekuatan yang tidak masuk akal, Santi melompat sendiri ke arah celah karang yang gelap dan menghilang di dalamnya.
"SANTI!" teriak Rico yang baru saja mendarat di atas batu tajam.
Mereka berkumpul di titik tertinggi karang tersebut. Di sekeliling mereka, laut dipenuhi oleh sirip-sirip hitam yang berputar-putar. Makhluk-makhluk itu tidak berani naik ke atas karang karena sinar matahari yang mulai terik. Ternyata, selain api, sinar matahari langsung adalah racun bagi kulit sensitif mereka.
"Kita terjebak," bisik Lala, ia melihat perahu jukung mereka perlahan tenggelam sepenuhnya, menyisakan beberapa keping kayu yang terbawa arus. "Kita di tengah laut, di atas tumpukan batu, tanpa air, tanpa makanan."
"Dan dengan satu orang yang sebentar lagi bakal berubah jadi monster," sahut Maya sambil menatap Rico.
Rico duduk bersandar di batu karang yang panas. Urat hitam di wajahnya kini sudah mencapai matanya. Sebelah matanya mulai memutih. Ia menatap Adit dengan sisa-sisa kesadarannya. "Dit... ambil pisau lu."
"Enggak, Ric. Belum waktunya," jawab Adit, suaranya bergetar hebat.
"Sekarang, Dit... sebelum gue lupa siapa kalian..." Rico mengambil sebuah kalung dari lehernya, sebuah kalung emas dengan liontin inisial 'S'. "Kasih ini ke orang tua Santi kalau lu selamat. Bilang kalau gue... gue sayang banget sama dia sampai akhir."
Di tengah momen yang penuh emosi itu, sebuah suara tawa kering terdengar dari arah bawah karang. Itu bukan suara hewan. Itu suara manusia.
Mereka semua menoleh ke bawah celah karang yang gelap. Dari sana, muncul sosok yang sangat mereka kenal. Tora.
Tapi itu bukan Tora yang mereka kenal di kampus. Wajahnya sudah setengah hancur, kulitnya bersisik hitam, namun ia masih bisa bicara dengan bahasa manusia yang terbata-bata.
"Lapar... dingin... Dit... bantuin...bantuin gue..." ucap 'Tora' dengan nada yang sangat menyayat hati.
"Tora?" Dina melangkah maju dengan wajah penuh empati, namun Bram segera menahannya.
"Itu jebakan, Din! Dia bukan Tora lagi! Dia cuma pakai suara Tora buat mancing kita!" teriak Bram.
'Tora' merangkak keluar dari celah. Gerakannya seperti laba-laba, patah-patah dan cepat. Di belakangnya, muncul sosok-sosok lain yang lebih kecil namun sama ngerinya. Mereka adalah predator-predator muda yang lahir dari inang manusia di masa lalu.
"Kalian... tidak akan... pulang..." desis 'Tora'. Matanya yang putih menatap mereka satu per satu. "Kalian... adalah... keluarga... baru..."
Konflik memuncak. Mereka harus bertahan di atas karang yang panas membara di bawah terik matahari, sambil menjaga agar teman mereka yang berubah tidak menyeret mereka ke bawah. Di saat yang sama, rasa haus mulai menyerang.
Aris melihat sesuatu di cakrawala. Sebuah titik hitam kecil. "Kapal! Ada kapal di sana!"
Semua orang berdiri, berteriak, dan melambaikan tangan dengan sisa tenaga mereka. Namun, titik hitam itu tetap diam. Itu bukan kapal penyelamat. Itu adalah sebuah bangkai kapal tongkang yang sudah lama karam dan tersangkut di dangkalan pasir.
"Harapan palsu," gumam Maya. Ia terduduk lemas.
Adit berdiri tegak, memandang ke arah 'Tora' yang masih mengawasi mereka dari bayang-bayang celah karang. "Kita nggak bisa cuma diem di sini sampai malem. Kalau matahari tenggelam, mereka bakal naik ke sini dan habisin kita semua."
"Terus kita harus gimana, Dit?" tanya Nadia.
"Kita harus ke bangkai kapal itu," jawab Adit tegas. "Bangkai kapal itu punya dek yang lebih tinggi dan mungkin ada sisa air atau suar di dalamnya. Kita harus berenang."
"Berenang?! Lu liat sirip-sirip mereka di bawah sana kan, Dit?!" teriak Lala histeris.
"Kita nggak berenang biasa. Kita bakal bikin jembatan apung pakai kayu-kayu sisa perahu yang masih ada di sekitar sini," jelas Adit. "Dan satu hal lagi... kita butuh pengalih perhatian."
Semua mata tertuju pada Rico. Rico tersenyum lemah, ia seolah sudah tahu apa yang akan diminta.
"Gue bakal jadi umpannya," ucap Rico pelan. "Gue bakal masuk ke air duluan. Bau darah hitam gue bakal bikin mereka bingung. Mereka nggak bakal tahu gue ini kawan atau lawan."
"Enggak, Ric! Itu bunuh diri!" tangis Nadia.
"Gue emang udah mati, Nad," balas Rico. Ia berdiri dengan susah payah, kakinya yang patah ia seret. "Seenggaknya, biarin kematian gue punya arti."
Di bawah sinar matahari yang membakar, rencana gila itu mulai disusun. Sebuah rencana yang lahir dari keputusasaan, keberanian, dan pengorbanan yang sangat mature. Mereka mulai mengumpulkan potongan kayu jukung yang terbawa arus ke pinggir karang.
Namun, ada satu hal yang tidak mereka sadari. Di dalam bangkai kapal tongkang yang mereka tuju, sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih tua dari predator mana pun sedang menunggu. Sesuatu yang menjadi alasan mengapa predator-predator ini tidak pernah meninggalkan wilayah laut ini.
•••
Other Stories
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Puzzle
Ros yatim piatu sejak 14 tahun, lalu menikah di usia 22 tapi sering mendapat kekerasan hin ...
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...