The Last Escape

Reads
273
Votes
24
Parts
24
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 23 | "Desa Lumbung Pangan"

Puncak tebing itu terasa seperti panggung teater yang sunyi, di mana para penontonnya adalah ribuan mata kuning yang mengintai dari kegelapan hutan di belakang mereka, dan ribuan sirip hitam yang memecah ombak di bawah sana. Enam pasang kaki yang letih berpijak di atas batu karang yang tajam, napas mereka memburu, menciptakan uap kecil di udara malam yang mulai mendingin.

Bab 23: Desa Lumbung Pangan

"Jangan lengah," bisik Adit. Ia berdiri paling depan, memegang potongan besi tajam yang kini ujungnya sudah menghitam terkena darah predator. "Bram, lu jaga belakang. Aris, lu bareng gue di depan. Cewek-cewek di tengah. Kita jalan perlahan ke arah lampu itu."

Aris mengusap keringat di dahinya yang bercampur dengan air laut. "Lampu itu... kalau itu desa nelayan, kenapa nggak ada suara mesin kapal? Kenapa kayak ga ada kehidupan?"

"Mungkin mereka lagi tidur, Ris," sahut Nadia pelan, mencoba menghibur dirinya sendiri meski tangannya gemetar saat menggandeng Dina.

Maya mendengus dingin, ia mengasah parang Kapten Bakri ke permukaan batu karang sambil berjalan. "Nelayan itu bangun paling pagi. Ini jam tiga subuh. Harusnya udah ada aktivitas. Tapi liat deh, lampu-lampu itu... itu bukan lampu listrik. Itu obor minyak."

Mereka melangkah menuruni jalan setapak yang sempit dari puncak tebing menuju lembah di mana sebuah desa kecil berada. Desa itu terdiri dari rumah-rumah panggung kayu yang sederhana, berjajar di pinggir pantai. Semakin dekat mereka melangkah, semakin kuat rasa janggal itu merayap di kulit mereka. Tidak ada gonggongan anjing. Tidak ada suara ayam. Hanya suara angin yang bersiul di sela-sela dinding kayu yang mulai lapuk.

Keenam orang ini bukanlah lagi sekumpulan anak kuliah yang sibuk memikirkan feed Instagram atau nilai IPK. Kematian teman-teman mereka sebelumnya telah memaksa mereka tumbuh dewasa dalam hitungan hari. Mereka tidak lagi saling menyalahkan.

Saat Dina tersandung akar pohon, Bram dengan sigap menangkapnya tanpa sepatah kata pun, hanya memberikan anggukan kecil yang berarti, "Gue jaga lu."

"Makasih, Bram," bisik Dina. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan rasa panas di lengannya yang tadi sempat terpapar lendir. Ia tahu ia harus bertahan. Jika ia menyerah sekarang, maka pengorbanan Lala akan menjadi sia-sia.

"Denger," ucap Adit tiba-tiba, mengangkat tangannya menyuruh semua berhenti.

Dari salah satu rumah panggung yang paling besar, terdengar suara gesekan. Srak... srak... srak... Suara itu mirip seperti seseorang yang sedang menyeret karung goni di atas lantai kayu.
"Ada orang?" tanya Aris dengan nada penuh harap yang tipis.

"Atau ada 'sesuatu' yang lagi makan," sahut Maya ketus. Ia melangkah lebih dulu, parangnya sudah siap di depan dada. "Gue nggak mau mati penasaran. Kita butuh air minum dan senjata yang lebih kuat."

Mereka mendekati rumah itu dengan sangat hati-hati. Adit menaiki tangga kayu yang berderit. Begitu ia sampai di teras, ia mencium bau yang sangat ia kenal, bau amis dan bau bahan kimia alami yang keluar dari pori-pori para predator.

Adit mengintip melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Di dalam sana, di bawah cahaya obor yang redup, ia melihat sebuah pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti.

Seorang nelayan tua duduk di kursi kayu. Namun, ia tidak sedang makan atau tidur. Ia sedang "dibersihkan" oleh dua ekor predator kecil. Makhluk itu menjilati luka-luka di tubuh nelayan itu, seolah sedang mengawetkan dagingnya agar tetap segar. Dan nelayan itu... dia masih hidup. Matanya bergerak-gerak mengikuti gerakan predator tersebut, namun ia tidak bisa bicara. Lidahnya sudah dipotong dan digantikan oleh semacam parasit berbentuk tentakel kecil yang berfungsi sebagai alat komunikasi bagi para predator.

"Astaga..." Nadia menutup mulutnya agar tidak berteriak.

"Mereka nggak bunuh semua orang sekaligus," bisik Adit, turun kembali ke bawah tangga dengan wajah pucat. "Mereka ternak manusia di sini. Desa ini... Kayaknya lumbung pangan cadangan mereka."

Kilas Balik: Strategi Sang Pemimpin

Jauh di dalam benak Adit, ia mulai menyambung semua potongan teka-teki. Mengapa predator ini begitu cerdas? Kenapa mereka bisa mengelola sebuah desa nelayan sebagai lumbung?

Ini bukan sekadar alien liar. Ini adalah entitas yang telah belajar dari peradaban manusia selama berabad-abad. Mereka melihat bagaimana manusia memelihara sapi dan ayam, dan mereka menirunya. Sang Pemimpin Predator, yang selama ini merasa bosan dengan keabadiannya, telah menciptakan sebuah ekosistem kecil di mana manusia adalah komponen utamanya.

Namun, Sang Pemimpin membuat kesalahan kecil: ia meremehkan daya tahan emosi manusia yang saling mencintai. Ia tidak pernah menduga bahwa rasa kehilangan bisa berubah menjadi senjata yang lebih tajam dari kuku-kuku mereka.

"Kita harus bakar tempat ini," ucap Maya tiba-tiba. Matanya berkilat menatap rumah-rumah panggung itu. "Kalau kita hancurin lumbung mereka, mereka bakal panik. Dan pas mereka panik, mereka bakal buat kesalahan."

"May, di dalem masih ada orang hidup!" protes Nadia. "Kita nggak bisa bakar mereka hidup-hidup!"

"Nad, dengerin gue," Maya memegang bahu Nadia, menatapnya tajam. "Orang-orang itu udah nggak punya jiwa. Mereka cuma wadah telur. Kalau lu mau nyelametin mereka, cara satu-satunya adalah kasih mereka kematian yang cepat sebelum larva itu pecah dari dalem perut mereka."

Nadia terdiam. Logika Maya sangat dingin, sangat matang, namun sangat menyakitkan.

Bram mendekati Adit. "Dit, gue liat ada gudang di ujung sana. Bau bensinnya kenceng banget. Kayaknya nelayan di sini nyimpen stok bahan bakar buat kapal motor mereka."

"Bagus," Adit mengangguk. "Aris, lu bareng Bram ke gudang bensin. Maya sama Nadia, cari makanan atau obat-obatan di rumah yang paling ujung, kayaknya itu toko kelontong. Gue sama Dina bakal jaga di tengah jalan ini buat kasih kode kalau ada predator yang keluar dari hutan."

"Hati-hati, Dit," ucap Aris sambil mengepalkan tangan, sebuah fist bump kecil antara sahabat yang sedang berada di gerbang kematian.

Strategi mulai dijalankan. Mereka bergerak seperti bayangan. Meskipun mereka lelah, koordinasi mereka sangat rapi. Predator-predator yang ada di desa itu ternyata sangat sombong; mereka merasa sudah menjadi penguasa tunggal sehingga mereka tidak berjaga-jaga. Mereka menganggap enam manusia ini hanyalah "ternak yang melarikan diri" dan akan tertangkap dengan sendirinya.
Namun, predator itu salah besar.

Saat Aris dan Bram berhasil mencapai gudang bensin, mereka menemukan bukan hanya jeriken, tapi juga tabung gas elpiji yang menumpuk.

"Bram, kepikiran apa yang gue pikirin?" tanya Aris dengan senyum miring yang jarang terlihat.

"Bom waktu," jawab Bram singkat.
Di sisi lain, Nadia dan Maya berhasil masuk ke sebuah toko kecil. Di sana, Nadia menemukan botol-botol alkohol murni dan kain kasa.

Sementara Maya menemukan sesuatu yang lebih berharga: sebuah senapan rakitan yang biasa digunakan nelayan untuk menembak babi hutan, lengkap dengan beberapa butir pelurunya.

"Nah... sekarang kita punya kesempatan buat ngelawan beneran," gumam Maya sambil mengokang senapan itu.

Namun, keheningan desa itu pecah saat Dina yang sedang berjaga bersama Adit melihat sesuatu yang aneh di pasir pantai. Ratusan predator air mulai naik ke darat, tapi mereka tidak menyerang. Mereka membentuk barisan panjang, seolah sedang menyambut kedatangan seseorang yang sangat agung.

Dari tengah laut, Sang Pemimpin Predator muncul sepenuhnya. Tingginya mencapai lima meter, kulitnya memantulkan cahaya obor dengan warna ungu kehitaman. Ia berjalan ke pantai dengan langkah perlahan, memandang ke arah Adit.

"Dia mau bicara lagi," bisik Dina. "Entah kenapa dari tatapan matanya... Gue bisa ngerasain isi kepalanya... dia keliatan sedih, Dit."

Adit menggenggam besi tajamnya lebih erat. "Kalau dia mau selesai, dia harus hadapi kita dulu. Aris! Bram! SEKARANG!"

BOOOOOOMMMMM!

Ledakan hebat mengguncang gudang bensin. Api membubung tinggi ke langit, menyinari seluruh desa nelayan itu. Teriakan-teriakan melengking dari para predator terdengar dari segala penjuru. Kekacauan yang direncanakan Maya mulai membuahkan hasil.

Namun, di tengah kobaran api itu, Sang Pemimpin tetap berdiri tenang. Ia tidak takut pada api. Ia hanya menatap Adit, seolah sedang berkata: "Tunjukkan padaku... apakah kalian pantas menjadi pembunuhku?"

Enam orang itu berkumpul kembali di tengah jalan desa, dikelilingi oleh api yang mulai merembet ke rumah-rumah panggung. Mereka berdiri bahu-membahu, siap menghadapi pertempuran paling berdarah dalam hidup mereka. Mereka sulit mati, mereka cerdik, dan mereka sekarang memiliki senjata.

"Jangan ada yang mati di sini," tegas Adit. "Kita harus hidup sampai akhir."

•••

Other Stories
Kacamata Kematian

Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...

Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Bayang Bayang

Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Download Titik & Koma