BAB 15 | "Rahasia Pak Bakri"
Cahaya mercusuar yang baru saja menyala itu perlahan-lahan meredup, berkedip-kedip seperti jantung yang sedang sekarat, sebelum akhirnya padam total. Kegelapan kembali menelan Pulau Seribu Hening dengan lebih rakus dari sebelumnya. Di pelataran luar, sebelas pasang kaki berlari serabutan menanjak ke arah bukit karang, mengikuti bayangan punggung Pak Bakri yang bergerak lincah meski usianya sudah senja.
Bab 15: Rahasia Pak Bakri
"Jangan ada yang menyalakan senter! Ikuti suara langkah kaki di depan kalian saja!" teriak Adit dengan napas yang memburu. Tangannya menggenggam erat lengan Nadia, memastikan gadis itu tidak tertinggal saat mencoba menyeimbangkan langkah sambil membawa tas medisnya yang mulai terasa berat.
Di belakang mereka, Bram dan Tora masih memikul tandu Santi. Keringat mereka bercampur dengan debu semen dari mercusuar. Rico berjalan tepat di samping tandu, wajahnya tertunduk, tidak berani menatap ke arah tangga mercusuar yang baru saja menjadi saksi bisu pengorbanan Rio. Keheningan di antara mereka begitu tajam, lebih tajam dari duri pandan yang tadi merobek kulit mereka.
Mereka sampai di sebuah celah sempit di balik tebing granit. Pak Bakri berhenti, memutar tubuhnya, dan memberikan isyarat agar semua orang masuk ke dalam celah yang tertutup oleh jalinan akar pohon beringin tua.
"Masuk ke dalam. Jangan bicara. Apalagi menangis," bisik Pak Bakri. Suaranya dingin, tanpa ada sedikit pun empati atas hilangnya Rio beberapa menit yang lalu.
Satu per satu mereka masuk ke dalam sebuah ruang sempit yang ternyata adalah mulut dari sebuah sistem gua yang berbeda dari yang mereka lalui tadi. Ruangan ini kering, baunya bukan lagi tanah basah, melainkan bau apek kain tua dan... minyak kelapa.
Begitu semua sudah di dalam, Pak Bakri menyalakan sebuah lampu minyak kecil. Cahaya temaramnya menyinari ruangan yang dipenuhi oleh barang-barang yang tidak seharusnya ada di pulau tak berpenghuni. Ada tumpukan koper tua, jam tangan yang berkarat, sepatu-sepatu yang sudah hancur, dan yang paling mengerikan: deretan dompet yang disusun rapi di atas sebuah meja kayu.
Aris melangkah maju, kacamata retaknya memantulkan cahaya lampu minyak. Ia mengambil salah satu dompet. Isinya adalah kartu identitas dari tahun 1995. "Pak Bakri... ini apa?"
Pria tua itu duduk di sebuah kursi bambu, meletakkan senapannya di pangkuan. Ia menatap Aris dengan mata butanya yang putih. "Kalian pikir kalian adalah orang pertama yang datang ke sini untuk 'liburan mahal'?" Ia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Pulau ini punya daya tarik. Airnya yang bening, pasirnya yang lembut seperti bedak. Tapi pulau ini punya pemilik. Dan pemiliknya butuh asupan baru setiap beberapa tahun agar mereka tidak perlu keluar ke pulau seberang."
"Maksud Bapak... Bapak sengaja membiarkan kami di sini?" tanya Maya dengan suara gemetar. Ia melangkah mendekati meja itu, jemarinya menyentuh sebuah kalung perak yang tampak familiar.
"Saya tidak mengundang kalian," balas Pak Bakri. "Tapi saya yang memastikan kalian tetap di sini. Mesin perahu kalian? Saya yang menyumbat saluran bensinnya dengan kain sutra. Pak Darman yang membawa kalian ke sini? Dia adalah sepupu saya. Dia butuh uang untuk biaya rumah sakit anaknya, dan saya butuh kalian agar makhluk-makhluk itu tetap kenyang dan tenang di dalam sarangnya."
Seketika, atmosfer di dalam ruangan itu meledak. Bram melepaskan tandu Santi dan menerjang Pak Bakri, mencengkeram kerah bajunya yang kumal.
"LU GILA YA?! TEMEN-TEMEN GUE MATI! JAKA, BIMO, GILANG, RIO... MEREKA SEMUA MATI GARA-GARA LU?!" teriak Bram dengan urat leher yang menegang.
Pak Bakri tidak melawan. Ia hanya menatap Bram dengan tenang. "Kalau mereka tidak makan kalian, mereka akan berenang ke pulau utama. Di sana ada ribuan orang. Lebih baik lima belas orang hilang di sini daripada seribu orang mati di sana. Itu matematika sederhana, anak muda."
"MATEMATIKA MATAMU!" Adit berteriak sambil menarik Bram mundur agar tidak melakukan hal gegabah. "Kita bukan angka, Pak! Kita punya keluarga! Kita punya masa depan!"
"Masa depan kalian sudah habis saat kalian menginjakkan kaki di pasir pulau ini," ucap Pak Bakri sambil menepis tangan Bram. "Tapi sekarang ada masalah baru. Makhluk yang terbakar di gua tadi adalah 'pangeran' mereka. Dia tidak mati. Dia terluka parah, dan sekarang seluruh kawanan sedang marah besar. Mereka tidak akan menunggu malam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan mencari celah untuk masuk ke sini karena bau darah gadis itu sudah memenuhi seluruh pelosok gua."
Pak Bakri menunjuk Santi yang masih pingsan. Nadia segera memeriksa balutan luka Santi. "Perdarahannya berhenti, tapi dia butuh bantuan medis beneran. Dia nggak bisa di sini terus."
"Dengerin saya," Pak Bakri berdiri, suaranya kini terdengar sangat mature dan serius. "Ada sebuah perahu jukung tua di sisi balik bukit ini. Perahu itu punya mesin yang masih bagus, saya yang merawatnya. Itu satu-satunya jalan keluar. Tapi ada satu pilihan sulit yang harus kalian ambil."
"Apa pilihannya?" tanya Aris.
"Seseorang harus tinggal di sini untuk meledakkan tangki minyak di bawah mercusuar," kata Pak Bakri. "Mercusuar itu berdiri di atas titik pertemuan saluran udara gua. Kalau tangki itu meledak, seluruh sistem gua di bawah pulau ini akan runtuh. Makhluk-makhluk itu akan terkubur hidup-hidup. Tanpa ledakan itu, mereka akan mengejar perahu kalian di air. Dan percayalah, mereka jauh lebih cepat di air daripada di darat."
Keheningan kembali melanda. Pilihan itu adalah misi bunuh diri. Siapa yang mau tinggal dan mati demi yang lain setelah mereka melihat betapa mengerikannya kematian teman-teman mereka?
Rico tiba-tiba berdiri. Wajahnya yang tadinya penuh ketakutan kini tampak mengeras oleh sesuatu yang sulit dibaca. "Bapak bohong, kan? Ini cuma cara Bapak buat ngurangin beban biar perahu itu lebih ringan?"
"Saya tidak butuh perahu itu," jawab Pak Bakri. "Saya sudah memilih untuk mati di pulau ini sejak lama. Tapi saya tidak bisa meledakkan tangki itu sendirian. Butuh dua orang, satu untuk memicu pemantik di bawah, dan satu lagi untuk memastikan pintu ventilasi tetap terbuka dari luar agar oksigen masuk dan ledakan terjadi."
Adit menatap teman-temannya satu per satu. Ia melihat ketakutan di mata Dina, kesedihan di mata Lala, dan kelelahan yang amat sangat di mata Tora dan Bram. Ia merasa berat di dadanya semakin menekan.
"Gue yang bakal tinggal," ucap Adit pelan.
"Enggak, Dit! Lu harus pimpin mereka keluar!" sahut Nadia.
"Gue yang ngerencanain liburan ini, Nadia," kata Adit dengan nada yang sangat emosional. "Gue yang maksa kalian ikut ke pulau yang 'jarang didatangi' ini cuma buat pamer. Ini tanggung jawab gue."
"Gue bakal temenin Adit," suara itu datang dari tempat yang tak terduga. Rico.
Semua orang menoleh ke arah Rico. Santi, yang baru saja siuman sedikit, menatap pacarnya dengan mata sayu. "Rico... jangan..."
Rico berlutut di samping Santi, memegang tangannya yang dingin. "Santi... maafin gue buat semuanya. Maafin gue karena tadi gue jadi pengecut. Gue harus lakuin ini. Bukan buat jadi pahlawan, tapi biar gue bisa liat muka gue sendiri di cermin kalau seandainya gue selamat nanti."
Rico menatap Adit. Ada sebuah pengertian dewasa di antara dua pria yang biasanya selalu bersaing dalam hal kemewahan ini. Di titik terendah hidup mereka, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: martabat.
"Rico... lu serius?" tanya Bram dengan suara serak.
"Jagain Santi buat gue, Bram. Bawa dia pulang," Rico tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya.
Pak Bakri mengangguk. "Waktu kita tidak banyak. Matahari akan muncul dalam dua jam. Kalian yang lain, ikuti jalan di belakang lemari ini. Jalan itu tembus ke pantai timur tempat perahu berada. Adit, Rico, ikut saya ke ruang bawah tanah."
Perpisahan itu terjadi dengan sangat cepat dan penuh air mata. Lala memeluk Adit dengan kencang, Dina menangis di bahu Tora, dan Nadia memberikan tas medis cadangannya kepada Adit, berharap itu tidak akan pernah digunakan.
"Kita bakal ketemu di dermaga utama kalau semuanya lancar, kan?" tanya Eka dengan nada naif yang menyedihkan.
Adit tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, meski ia tahu peluangnya sangat kecil.
Saat kelompok besar mulai menghilang di lorong rahasia, Adit dan Rico berdiri bersama Pak Bakri di tengah ruangan. Pak Bakri mengambil dua buah jerigen bensin yang tersembunyi di bawah lantai papan.
"Kalian tahu," ucap Pak Bakri sambil menyerahkan jerigen itu, "makhluk-makhluk itu... mereka sebenarnya bukan monster. Mereka adalah hasil dari keserakahan manusia di masa lalu yang membuang limbah ke laut ini. Mereka hanya beradaptasi. Mereka hanya ingin bertahan hidup, sama seperti kalian."
Adit menatap jerigen itu. "Bertahan hidup tidak harus dengan memangsa orang lain, Pak."
"Dunia tidak sesederhana itu, Nak," balas Pak Bakri.
Mereka mulai berjalan kembali menuju arah mercusuar melalui jalan pintas bawah tanah. Di dalam kegelapan, Adit sempat bertanya pada Rico, "Rico, kenapa lu tiba-tiba berubah pikiran?"
Rico menghela napas, suaranya bergema di lorong sempit. "Pas gue liat Bimo bakar dirinya sendiri... gue sadar satu hal, Dit. Selama ini gue punya segalanya, tapi gue nggak punya apa-apa yang layak buat diperjuangin sampai mati. Sekarang gue punya. Gue punya kalian."
Di tengah percakapan itu, mereka tidak menyadari bahwa di atas langit-langit lorong tersebut, 'pangeran' predator yang terbakar itu sedang merayap dengan sisa-sisa kulitnya yang menggantung, mengikuti aroma dendam yang terpancar dari tubuh Adit. Ia tidak akan membiarkan tangki minyak itu meledak begitu saja.
Sisi Lain: Kisah Sang Predator (Pangeran yang Terluka)
Makhluk ini dulunya adalah yang terkecil di kawanannya. Ia sering mendapatkan sisa-sisa makanan dan sering dipukuli oleh pejantan dominan. Namun, hal itu membuatnya belajar untuk lebih cerdas, lebih licik, dan lebih sabar. Ia belajar cara menjebak mangsa di sudut-sudut gua yang tidak terpikirkan oleh yang lain.
Luka bakar yang diberikan Bimo tidak hanya merusak fisiknya, tapi juga meruntuhkan statusnya di dalam kawanan. Kini, untuk mendapatkan kembali kehormatannya, ia harus membawa kepala orang yang paling bertanggung jawab atas serangan itu. Dan baginya, Adit si pemberi perintah adalah buruan utamanya. Ia membiarkan teman-temannya yang lain mengejar kelompok besar ke pantai, karena ia ingin menyelesaikan urusannya sendiri di ruang bawah tanah mercusuar.
•••
Bab 15: Rahasia Pak Bakri
"Jangan ada yang menyalakan senter! Ikuti suara langkah kaki di depan kalian saja!" teriak Adit dengan napas yang memburu. Tangannya menggenggam erat lengan Nadia, memastikan gadis itu tidak tertinggal saat mencoba menyeimbangkan langkah sambil membawa tas medisnya yang mulai terasa berat.
Di belakang mereka, Bram dan Tora masih memikul tandu Santi. Keringat mereka bercampur dengan debu semen dari mercusuar. Rico berjalan tepat di samping tandu, wajahnya tertunduk, tidak berani menatap ke arah tangga mercusuar yang baru saja menjadi saksi bisu pengorbanan Rio. Keheningan di antara mereka begitu tajam, lebih tajam dari duri pandan yang tadi merobek kulit mereka.
Mereka sampai di sebuah celah sempit di balik tebing granit. Pak Bakri berhenti, memutar tubuhnya, dan memberikan isyarat agar semua orang masuk ke dalam celah yang tertutup oleh jalinan akar pohon beringin tua.
"Masuk ke dalam. Jangan bicara. Apalagi menangis," bisik Pak Bakri. Suaranya dingin, tanpa ada sedikit pun empati atas hilangnya Rio beberapa menit yang lalu.
Satu per satu mereka masuk ke dalam sebuah ruang sempit yang ternyata adalah mulut dari sebuah sistem gua yang berbeda dari yang mereka lalui tadi. Ruangan ini kering, baunya bukan lagi tanah basah, melainkan bau apek kain tua dan... minyak kelapa.
Begitu semua sudah di dalam, Pak Bakri menyalakan sebuah lampu minyak kecil. Cahaya temaramnya menyinari ruangan yang dipenuhi oleh barang-barang yang tidak seharusnya ada di pulau tak berpenghuni. Ada tumpukan koper tua, jam tangan yang berkarat, sepatu-sepatu yang sudah hancur, dan yang paling mengerikan: deretan dompet yang disusun rapi di atas sebuah meja kayu.
Aris melangkah maju, kacamata retaknya memantulkan cahaya lampu minyak. Ia mengambil salah satu dompet. Isinya adalah kartu identitas dari tahun 1995. "Pak Bakri... ini apa?"
Pria tua itu duduk di sebuah kursi bambu, meletakkan senapannya di pangkuan. Ia menatap Aris dengan mata butanya yang putih. "Kalian pikir kalian adalah orang pertama yang datang ke sini untuk 'liburan mahal'?" Ia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Pulau ini punya daya tarik. Airnya yang bening, pasirnya yang lembut seperti bedak. Tapi pulau ini punya pemilik. Dan pemiliknya butuh asupan baru setiap beberapa tahun agar mereka tidak perlu keluar ke pulau seberang."
"Maksud Bapak... Bapak sengaja membiarkan kami di sini?" tanya Maya dengan suara gemetar. Ia melangkah mendekati meja itu, jemarinya menyentuh sebuah kalung perak yang tampak familiar.
"Saya tidak mengundang kalian," balas Pak Bakri. "Tapi saya yang memastikan kalian tetap di sini. Mesin perahu kalian? Saya yang menyumbat saluran bensinnya dengan kain sutra. Pak Darman yang membawa kalian ke sini? Dia adalah sepupu saya. Dia butuh uang untuk biaya rumah sakit anaknya, dan saya butuh kalian agar makhluk-makhluk itu tetap kenyang dan tenang di dalam sarangnya."
Seketika, atmosfer di dalam ruangan itu meledak. Bram melepaskan tandu Santi dan menerjang Pak Bakri, mencengkeram kerah bajunya yang kumal.
"LU GILA YA?! TEMEN-TEMEN GUE MATI! JAKA, BIMO, GILANG, RIO... MEREKA SEMUA MATI GARA-GARA LU?!" teriak Bram dengan urat leher yang menegang.
Pak Bakri tidak melawan. Ia hanya menatap Bram dengan tenang. "Kalau mereka tidak makan kalian, mereka akan berenang ke pulau utama. Di sana ada ribuan orang. Lebih baik lima belas orang hilang di sini daripada seribu orang mati di sana. Itu matematika sederhana, anak muda."
"MATEMATIKA MATAMU!" Adit berteriak sambil menarik Bram mundur agar tidak melakukan hal gegabah. "Kita bukan angka, Pak! Kita punya keluarga! Kita punya masa depan!"
"Masa depan kalian sudah habis saat kalian menginjakkan kaki di pasir pulau ini," ucap Pak Bakri sambil menepis tangan Bram. "Tapi sekarang ada masalah baru. Makhluk yang terbakar di gua tadi adalah 'pangeran' mereka. Dia tidak mati. Dia terluka parah, dan sekarang seluruh kawanan sedang marah besar. Mereka tidak akan menunggu malam lagi. Begitu matahari terbit, mereka akan mencari celah untuk masuk ke sini karena bau darah gadis itu sudah memenuhi seluruh pelosok gua."
Pak Bakri menunjuk Santi yang masih pingsan. Nadia segera memeriksa balutan luka Santi. "Perdarahannya berhenti, tapi dia butuh bantuan medis beneran. Dia nggak bisa di sini terus."
"Dengerin saya," Pak Bakri berdiri, suaranya kini terdengar sangat mature dan serius. "Ada sebuah perahu jukung tua di sisi balik bukit ini. Perahu itu punya mesin yang masih bagus, saya yang merawatnya. Itu satu-satunya jalan keluar. Tapi ada satu pilihan sulit yang harus kalian ambil."
"Apa pilihannya?" tanya Aris.
"Seseorang harus tinggal di sini untuk meledakkan tangki minyak di bawah mercusuar," kata Pak Bakri. "Mercusuar itu berdiri di atas titik pertemuan saluran udara gua. Kalau tangki itu meledak, seluruh sistem gua di bawah pulau ini akan runtuh. Makhluk-makhluk itu akan terkubur hidup-hidup. Tanpa ledakan itu, mereka akan mengejar perahu kalian di air. Dan percayalah, mereka jauh lebih cepat di air daripada di darat."
Keheningan kembali melanda. Pilihan itu adalah misi bunuh diri. Siapa yang mau tinggal dan mati demi yang lain setelah mereka melihat betapa mengerikannya kematian teman-teman mereka?
Rico tiba-tiba berdiri. Wajahnya yang tadinya penuh ketakutan kini tampak mengeras oleh sesuatu yang sulit dibaca. "Bapak bohong, kan? Ini cuma cara Bapak buat ngurangin beban biar perahu itu lebih ringan?"
"Saya tidak butuh perahu itu," jawab Pak Bakri. "Saya sudah memilih untuk mati di pulau ini sejak lama. Tapi saya tidak bisa meledakkan tangki itu sendirian. Butuh dua orang, satu untuk memicu pemantik di bawah, dan satu lagi untuk memastikan pintu ventilasi tetap terbuka dari luar agar oksigen masuk dan ledakan terjadi."
Adit menatap teman-temannya satu per satu. Ia melihat ketakutan di mata Dina, kesedihan di mata Lala, dan kelelahan yang amat sangat di mata Tora dan Bram. Ia merasa berat di dadanya semakin menekan.
"Gue yang bakal tinggal," ucap Adit pelan.
"Enggak, Dit! Lu harus pimpin mereka keluar!" sahut Nadia.
"Gue yang ngerencanain liburan ini, Nadia," kata Adit dengan nada yang sangat emosional. "Gue yang maksa kalian ikut ke pulau yang 'jarang didatangi' ini cuma buat pamer. Ini tanggung jawab gue."
"Gue bakal temenin Adit," suara itu datang dari tempat yang tak terduga. Rico.
Semua orang menoleh ke arah Rico. Santi, yang baru saja siuman sedikit, menatap pacarnya dengan mata sayu. "Rico... jangan..."
Rico berlutut di samping Santi, memegang tangannya yang dingin. "Santi... maafin gue buat semuanya. Maafin gue karena tadi gue jadi pengecut. Gue harus lakuin ini. Bukan buat jadi pahlawan, tapi biar gue bisa liat muka gue sendiri di cermin kalau seandainya gue selamat nanti."
Rico menatap Adit. Ada sebuah pengertian dewasa di antara dua pria yang biasanya selalu bersaing dalam hal kemewahan ini. Di titik terendah hidup mereka, mereka akhirnya menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang: martabat.
"Rico... lu serius?" tanya Bram dengan suara serak.
"Jagain Santi buat gue, Bram. Bawa dia pulang," Rico tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus untuk pertama kalinya.
Pak Bakri mengangguk. "Waktu kita tidak banyak. Matahari akan muncul dalam dua jam. Kalian yang lain, ikuti jalan di belakang lemari ini. Jalan itu tembus ke pantai timur tempat perahu berada. Adit, Rico, ikut saya ke ruang bawah tanah."
Perpisahan itu terjadi dengan sangat cepat dan penuh air mata. Lala memeluk Adit dengan kencang, Dina menangis di bahu Tora, dan Nadia memberikan tas medis cadangannya kepada Adit, berharap itu tidak akan pernah digunakan.
"Kita bakal ketemu di dermaga utama kalau semuanya lancar, kan?" tanya Eka dengan nada naif yang menyedihkan.
Adit tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, meski ia tahu peluangnya sangat kecil.
Saat kelompok besar mulai menghilang di lorong rahasia, Adit dan Rico berdiri bersama Pak Bakri di tengah ruangan. Pak Bakri mengambil dua buah jerigen bensin yang tersembunyi di bawah lantai papan.
"Kalian tahu," ucap Pak Bakri sambil menyerahkan jerigen itu, "makhluk-makhluk itu... mereka sebenarnya bukan monster. Mereka adalah hasil dari keserakahan manusia di masa lalu yang membuang limbah ke laut ini. Mereka hanya beradaptasi. Mereka hanya ingin bertahan hidup, sama seperti kalian."
Adit menatap jerigen itu. "Bertahan hidup tidak harus dengan memangsa orang lain, Pak."
"Dunia tidak sesederhana itu, Nak," balas Pak Bakri.
Mereka mulai berjalan kembali menuju arah mercusuar melalui jalan pintas bawah tanah. Di dalam kegelapan, Adit sempat bertanya pada Rico, "Rico, kenapa lu tiba-tiba berubah pikiran?"
Rico menghela napas, suaranya bergema di lorong sempit. "Pas gue liat Bimo bakar dirinya sendiri... gue sadar satu hal, Dit. Selama ini gue punya segalanya, tapi gue nggak punya apa-apa yang layak buat diperjuangin sampai mati. Sekarang gue punya. Gue punya kalian."
Di tengah percakapan itu, mereka tidak menyadari bahwa di atas langit-langit lorong tersebut, 'pangeran' predator yang terbakar itu sedang merayap dengan sisa-sisa kulitnya yang menggantung, mengikuti aroma dendam yang terpancar dari tubuh Adit. Ia tidak akan membiarkan tangki minyak itu meledak begitu saja.
Sisi Lain: Kisah Sang Predator (Pangeran yang Terluka)
Makhluk ini dulunya adalah yang terkecil di kawanannya. Ia sering mendapatkan sisa-sisa makanan dan sering dipukuli oleh pejantan dominan. Namun, hal itu membuatnya belajar untuk lebih cerdas, lebih licik, dan lebih sabar. Ia belajar cara menjebak mangsa di sudut-sudut gua yang tidak terpikirkan oleh yang lain.
Luka bakar yang diberikan Bimo tidak hanya merusak fisiknya, tapi juga meruntuhkan statusnya di dalam kawanan. Kini, untuk mendapatkan kembali kehormatannya, ia harus membawa kepala orang yang paling bertanggung jawab atas serangan itu. Dan baginya, Adit si pemberi perintah adalah buruan utamanya. Ia membiarkan teman-temannya yang lain mengejar kelompok besar ke pantai, karena ia ingin menyelesaikan urusannya sendiri di ruang bawah tanah mercusuar.
•••
Other Stories
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
O
o ...
Penulis Misterius
Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...