BAB 13 | "Labirin Hutan Pandan"
Bau darah Santi yang segar seolah menjadi undangan yang menggema di antara batang-batang pohon kelapa dan rimbunnya hutan pandan. Kelompok itu bergerak dengan napas yang terputus-putus, membawa tandu darurat dengan tangan yang gemetar. Mereka kini bukan lagi mahasiswa yang sedang berlibur; mereka adalah sekumpulan raga yang sedang dipacu oleh ketakutan paling murni. Di belakang mereka, kegelapan pulau seolah merayap maju, menutup setiap jengkal jalan yang baru saja mereka lalui.
Bab 13: Labirin Hutan Pandan
"Pelan-pelan, Bram! Sisi kanan lu terlalu rendah, Santi bisa merosot!" bisik Adit dengan nada yang tertahan namun penuh tekanan.
Bram menyeka keringat yang masuk ke matanya dengan bahu. "Gue tahu, Dit! Tapi akar-akar di bawah sini makin nggak masuk akal. Tanah ini kayak mau nangkep kaki kita."
Mereka kini memasuki area yang paling dihindari oleh warga lokal jika ada yang berani mendekati pulau ini: Hutan Pandan Berduri. Daun-daun pandan liar di sini tumbuh raksasa, dengan duri-duri tajam di sepanjang tepiannya yang sanggup merobek kulit sehalus pisau bedah.
Di dalam sini, jarak pandang mereka berkurang drastis. Senter hanya bisa menembus beberapa meter sebelum terhalang oleh rapatnya vegetasi hijau yang gelap.
"Aduh!" Lala merintih saat lengannya tergores daun pandan. "Dit, kita beneran nggak punya jalan lain? Ini perih banget."
"Tetap di jalur, La. Kalau kita keluar ke area terbuka sekarang, kita cuma jadi sasaran empuk mata merah itu," sahut Aris yang berjalan paling depan, memegang parang pendek yang ia temukan di gudang pondok untuk membuka jalan.
Di tengah barisan, Gilang tampak gelisah.
Sebagai seorang fotografer, instingnya selalu memaksanya untuk melihat apa yang orang lain tidak lihat. Ia memegang kameranya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membantu menjaga keseimbangan tandu Santi.
Di dalam kepalanya, ia masih terbayang-bayang sosok Bimo yang terbakar. Ia merasa bersalah karena sebagai orang yang paling sering mengabadikan momen, ia justru tidak bisa melakukan apa-apa saat Bimo meregang nyawa.
"Lang, lu fokus ke depan. Jangan liat ke belakang terus," tegur Nadia yang berjalan di samping tandu sambil terus memantau denyut nadi Santi.
"Gue ngerasa ada yang beda, Nad," bisik Gilang. "Lu denger nggak? Suara desisannya nggak dari atas lagi. Tapi dari bawah."
Nadia berhenti sejenak, mencoba mendengarkan. Hanya ada suara gesekan daun pandan yang tertiup angin laut dan isakan kecil dari Dina. "Mungkin cuma angin, Lang. Udah. Fokus."
Namun Gilang benar. Predator yang satu ini berbeda. Jika yang di gua tadi adalah tipe petarung fisik yang mengandalkan kekuatan murni seperti almarhum Bimo, yang satu ini adalah tipe pengintai.
Makhluk ini memiliki tubuh yang lebih ramping dan kulit yang bisa berubah tekstur menyerupai batang pohon atau daun kering. Ia adalah alasan mengapa pulau ini disebut "Seribu Hening", karena ia mampu membunuh tanpa mematahkan satu ranting pun.
Kilas Balik: Siapa Gilang Sebenarnya?
Gilang bukanlah anak dari keluarga kaya raya seperti Adit atau Rico. Ia bisa ikut dalam perjalanan "mahal" ini karena ia memenangkan kompetisi fotografi nasional yang hadiahnya adalah uang tunai besar. Baginya, kamera adalah pelindung. Sejak kecil, Gilang adalah anak yang pemalu dan sering dirundung karena gagap. Dengan kamera di depan wajahnya, ia merasa punya tameng. Ia tidak perlu bicara; biar fotonya yang bicara.
Alasannya ikut ke Pulau Seribu Hening sederhana: ia ingin mengambil foto matahari terbit yang paling sempurna untuk dipersembahkan kepada ibunya yang sedang sakit di panti jompo. Ia ingin menunjukkan bahwa dunia ini masih indah, meskipun kenyataannya seringkali pahit.
Keinginannya untuk selalu mendapatkan sudut pandang (angle) yang unik inilah yang nanti akan menjadi bumerang baginya.
"Berhenti! Berhenti dulu!" seru Aris tiba-tiba.
Di depan mereka, jalur pandan itu berakhir pada sebuah rawa kecil yang airnya berwarna hitam pekat. Tidak ada jembatan, hanya ada beberapa bongkahan kayu yang tampak rapuh melintang di atasnya.
"Kita harus lewat sini?" tanya Tora dengan nada skeptis. "Ini kalau kita kejebur, kelar sudah."
"Nggak ada pilihan, Tor. Mercusuar itu ada di balik rawa ini," jawab Adit. Ia menatap teman-temannya yang kelelahan. "Kita bagi dua kloter. Bram, Tora, bawa Santi duluan. Rico, lu bantu jaga keseimbangan mereka dari belakang. Gue, Aris, dan Gilang bakal jaga barisan terakhir."
Satu per satu mereka menyeberang. Suasananya sangat mencekam. Bunyi kecipak air rawa terdengar seperti suara kunyahan di telinga mereka yang sudah paranoid.
Saat giliran Gilang menyeberang, ia melihat sesuatu di permukaan air yang tenang. Sebuah pantulan. Bukan pantulan wajahnya, melainkan pantulan sesuatu yang bergelantungan terbalik di dahan pohon tepat di atas kepalanya.
Gilang membeku di tengah kayu yang licin. "Guys... di atas..."
"Lang, jangan berhenti! Terus jalan!" teriak Rio dari seberang.
Namun, rasa penasaran Gilang mengalahkan rasa takutnya. Ia mengangkat kameranya, menyalakan lampu kilat (flash), dan membidik ke atas.
BLAST!
Cahaya putih terang menyambar kegelapan. Untuk sepersekian detik, seluruh hutan pandan itu terlihat jelas. Dan di sana, hanya berjarak satu meter dari kepala Gilang, makhluk itu sedang menjulurkan lidahnya yang panjang dan penuh duri halus.
Makhluk itu menjerit karena matanya terkena cahaya lampu kilat yang sangat kuat. Ia jatuh ke dalam air rawa dengan suara byur yang keras.
"LARI, LANG! LARI!" teriah Adit sambil menarik tangan Gilang.
Mereka berhasil mencapai seberang rawa, namun kepanikan tidak berhenti di situ. Makhluk itu, yang kini basah kuyup oleh air rawa hitam, merayap keluar dengan sangat cepat. Ia tidak mengejar kelompok besar. Ia justru mengincar Gilang yang posisinya paling belakang.
"Sini lu, setan!" Rio mencoba menghalang dengan pisau lipatnya, tapi makhluk itu menyabetkan ekornya yang panjang.
PLAK!
Rio terpental menghantam pohon pandan, duri-duri tajam merobek punggungnya. "Aghhh!"
"RIO!" teriak Adit.
Dalam kekacauan itu, Gilang menyadari satu hal. Kamera yang ia pegang adalah satu-satunya alat yang bisa membutakan makhluk itu sementara. Ia mulai menekan tombol shutter berkali-kali, menciptakan rentetan cahaya putih di tengah hutan.
Flash! Flash! Flash!
Makhluk itu kebingungan. Cahaya-cahaya itu merusak orientasi ruangnya. Namun, predator ini sangat cerdas. Ia menyadari bahwa cahaya itu berasal dari benda kecil di tangan Gilang.
Dengan gerakan yang tidak terduga, makhluk itu tidak menyerang Gilang secara langsung, melainkan menyambar kaki Gilang dengan lidahnya yang lengket dan menariknya masuk ke dalam kerimbunan pandan yang sangat rapat.
"ADIIIT! TOLOOONG!" teriak Gilang. Suaranya terdengar sangat memilukan, penuh dengan empati yang selama ini ia pendam dalam diam.
"GILANG!" Adit dan Bram mencoba mengejar, menebas daun-daun pandan dengan membabi buta. Namun, hutan pandan itu seperti labirin yang terus berubah. Setiap kali mereka merasa sudah dekat dengan suara teriakan Gilang, suara itu berpindah ke arah lain.
"Dia sengaja..." bisik Adit dengan wajah pucat. "Dia sengaja bikin suara di tempat yang beda-beda buat ngecoh kita."
Sepuluh menit mereka mencari di tengah kegelapan yang menyesakkan. Hingga akhirnya, suara teriakan Gilang menghilang sepenuhnya. Digantikan oleh suara gesekan dedaunan yang menjauh.
Di sebuah celah kecil di antara duri-duri pandan, Adit menemukan sesuatu. Kamera milik Gilang. Layarnya pecah, namun lampunya masih berkedip merah lemah, menandakan baterainya hampir habis. Di samping kamera itu, hanya ada topi rimba milik Gilang yang sudah sobek.
"Dia... dia dibawa ke mana?" tanya Dina sambil terisak.
Adit menggenggam kamera itu dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih. Ia melihat ke arah teman-temannya yang kini tersisa dua belas orang (ditambah Santi yang pingsan).
Kehilangan Gilang terasa berbeda dengan Bimo. Bimo mati sebagai pejuang, sementara Gilang... Gilang hilang begitu saja ditelan kegelapan, meninggalkan rasa ketidakpastian yang lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri.
"Kita harus lanjut," ucap Adit. Suaranya kini terdengar sangat mature dan dalam, tanpa emosi yang meledak-ledak. "Kita nggak bisa nyelamatin Gilang kalau kita semua mati di sini."
"Tapi Dit, dia masih hidup! Gue yakin dia masih hidup!" teriak Rio yang baru saja berdiri dengan punggung berdarah.
"Rio, dengerin gue," Adit memegang bahu Rio dengan sangat kencang. "Gue juga mau cari dia. Tapi liat Santi. Liat Dina. Kita target empuk di sini. Kalau kita nggak sampai ke mercusuar sebelum fajar, mungkin nggak akan ada yang tersisa di antara buat ceritain jasa Bimo dan Gilang, dan juga kebaikan Jaka ke khalayak ramai. Orang-orang harus tau tentang pulau ini."
Perkataan Adit memukul mereka semua dengan telak. Mereka kembali berjalan, melewati hutan pandan yang kini terasa seperti kuburan hijau. Setiap kali angin berhembus dan menggesekkan daun pandan, mereka seolah mendengar suara shutter kamera Gilang yang berbunyi di kejauhan, sebuah pengingat bahwa mereka sedang diawasi oleh sesuatu yang lebih dari sekadar hewan.
Di dalam kegelapan yang lebih dalam, predator yang membawa Gilang tidak langsung membunuhnya. Ia membawa Gilang ke sebuah tempat yang tinggi di atas pohon.
Makhluk itu tertarik dengan pantulan cahaya dari lensa kamera yang masih menggantung di leher Gilang. Predator ini sedang belajar, belajar tentang benda-benda yang dibawa manusia. Dan Gilang, dengan segala ketakutannya, hanya bisa melihat mata merah itu dari jarak yang sangat dekat, menyadari bahwa di pulau ini, keindahan yang ia cari ternyata adalah maut yang paling nyata.
•••
Bab 13: Labirin Hutan Pandan
"Pelan-pelan, Bram! Sisi kanan lu terlalu rendah, Santi bisa merosot!" bisik Adit dengan nada yang tertahan namun penuh tekanan.
Bram menyeka keringat yang masuk ke matanya dengan bahu. "Gue tahu, Dit! Tapi akar-akar di bawah sini makin nggak masuk akal. Tanah ini kayak mau nangkep kaki kita."
Mereka kini memasuki area yang paling dihindari oleh warga lokal jika ada yang berani mendekati pulau ini: Hutan Pandan Berduri. Daun-daun pandan liar di sini tumbuh raksasa, dengan duri-duri tajam di sepanjang tepiannya yang sanggup merobek kulit sehalus pisau bedah.
Di dalam sini, jarak pandang mereka berkurang drastis. Senter hanya bisa menembus beberapa meter sebelum terhalang oleh rapatnya vegetasi hijau yang gelap.
"Aduh!" Lala merintih saat lengannya tergores daun pandan. "Dit, kita beneran nggak punya jalan lain? Ini perih banget."
"Tetap di jalur, La. Kalau kita keluar ke area terbuka sekarang, kita cuma jadi sasaran empuk mata merah itu," sahut Aris yang berjalan paling depan, memegang parang pendek yang ia temukan di gudang pondok untuk membuka jalan.
Di tengah barisan, Gilang tampak gelisah.
Sebagai seorang fotografer, instingnya selalu memaksanya untuk melihat apa yang orang lain tidak lihat. Ia memegang kameranya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membantu menjaga keseimbangan tandu Santi.
Di dalam kepalanya, ia masih terbayang-bayang sosok Bimo yang terbakar. Ia merasa bersalah karena sebagai orang yang paling sering mengabadikan momen, ia justru tidak bisa melakukan apa-apa saat Bimo meregang nyawa.
"Lang, lu fokus ke depan. Jangan liat ke belakang terus," tegur Nadia yang berjalan di samping tandu sambil terus memantau denyut nadi Santi.
"Gue ngerasa ada yang beda, Nad," bisik Gilang. "Lu denger nggak? Suara desisannya nggak dari atas lagi. Tapi dari bawah."
Nadia berhenti sejenak, mencoba mendengarkan. Hanya ada suara gesekan daun pandan yang tertiup angin laut dan isakan kecil dari Dina. "Mungkin cuma angin, Lang. Udah. Fokus."
Namun Gilang benar. Predator yang satu ini berbeda. Jika yang di gua tadi adalah tipe petarung fisik yang mengandalkan kekuatan murni seperti almarhum Bimo, yang satu ini adalah tipe pengintai.
Makhluk ini memiliki tubuh yang lebih ramping dan kulit yang bisa berubah tekstur menyerupai batang pohon atau daun kering. Ia adalah alasan mengapa pulau ini disebut "Seribu Hening", karena ia mampu membunuh tanpa mematahkan satu ranting pun.
Kilas Balik: Siapa Gilang Sebenarnya?
Gilang bukanlah anak dari keluarga kaya raya seperti Adit atau Rico. Ia bisa ikut dalam perjalanan "mahal" ini karena ia memenangkan kompetisi fotografi nasional yang hadiahnya adalah uang tunai besar. Baginya, kamera adalah pelindung. Sejak kecil, Gilang adalah anak yang pemalu dan sering dirundung karena gagap. Dengan kamera di depan wajahnya, ia merasa punya tameng. Ia tidak perlu bicara; biar fotonya yang bicara.
Alasannya ikut ke Pulau Seribu Hening sederhana: ia ingin mengambil foto matahari terbit yang paling sempurna untuk dipersembahkan kepada ibunya yang sedang sakit di panti jompo. Ia ingin menunjukkan bahwa dunia ini masih indah, meskipun kenyataannya seringkali pahit.
Keinginannya untuk selalu mendapatkan sudut pandang (angle) yang unik inilah yang nanti akan menjadi bumerang baginya.
"Berhenti! Berhenti dulu!" seru Aris tiba-tiba.
Di depan mereka, jalur pandan itu berakhir pada sebuah rawa kecil yang airnya berwarna hitam pekat. Tidak ada jembatan, hanya ada beberapa bongkahan kayu yang tampak rapuh melintang di atasnya.
"Kita harus lewat sini?" tanya Tora dengan nada skeptis. "Ini kalau kita kejebur, kelar sudah."
"Nggak ada pilihan, Tor. Mercusuar itu ada di balik rawa ini," jawab Adit. Ia menatap teman-temannya yang kelelahan. "Kita bagi dua kloter. Bram, Tora, bawa Santi duluan. Rico, lu bantu jaga keseimbangan mereka dari belakang. Gue, Aris, dan Gilang bakal jaga barisan terakhir."
Satu per satu mereka menyeberang. Suasananya sangat mencekam. Bunyi kecipak air rawa terdengar seperti suara kunyahan di telinga mereka yang sudah paranoid.
Saat giliran Gilang menyeberang, ia melihat sesuatu di permukaan air yang tenang. Sebuah pantulan. Bukan pantulan wajahnya, melainkan pantulan sesuatu yang bergelantungan terbalik di dahan pohon tepat di atas kepalanya.
Gilang membeku di tengah kayu yang licin. "Guys... di atas..."
"Lang, jangan berhenti! Terus jalan!" teriak Rio dari seberang.
Namun, rasa penasaran Gilang mengalahkan rasa takutnya. Ia mengangkat kameranya, menyalakan lampu kilat (flash), dan membidik ke atas.
BLAST!
Cahaya putih terang menyambar kegelapan. Untuk sepersekian detik, seluruh hutan pandan itu terlihat jelas. Dan di sana, hanya berjarak satu meter dari kepala Gilang, makhluk itu sedang menjulurkan lidahnya yang panjang dan penuh duri halus.
Makhluk itu menjerit karena matanya terkena cahaya lampu kilat yang sangat kuat. Ia jatuh ke dalam air rawa dengan suara byur yang keras.
"LARI, LANG! LARI!" teriah Adit sambil menarik tangan Gilang.
Mereka berhasil mencapai seberang rawa, namun kepanikan tidak berhenti di situ. Makhluk itu, yang kini basah kuyup oleh air rawa hitam, merayap keluar dengan sangat cepat. Ia tidak mengejar kelompok besar. Ia justru mengincar Gilang yang posisinya paling belakang.
"Sini lu, setan!" Rio mencoba menghalang dengan pisau lipatnya, tapi makhluk itu menyabetkan ekornya yang panjang.
PLAK!
Rio terpental menghantam pohon pandan, duri-duri tajam merobek punggungnya. "Aghhh!"
"RIO!" teriak Adit.
Dalam kekacauan itu, Gilang menyadari satu hal. Kamera yang ia pegang adalah satu-satunya alat yang bisa membutakan makhluk itu sementara. Ia mulai menekan tombol shutter berkali-kali, menciptakan rentetan cahaya putih di tengah hutan.
Flash! Flash! Flash!
Makhluk itu kebingungan. Cahaya-cahaya itu merusak orientasi ruangnya. Namun, predator ini sangat cerdas. Ia menyadari bahwa cahaya itu berasal dari benda kecil di tangan Gilang.
Dengan gerakan yang tidak terduga, makhluk itu tidak menyerang Gilang secara langsung, melainkan menyambar kaki Gilang dengan lidahnya yang lengket dan menariknya masuk ke dalam kerimbunan pandan yang sangat rapat.
"ADIIIT! TOLOOONG!" teriak Gilang. Suaranya terdengar sangat memilukan, penuh dengan empati yang selama ini ia pendam dalam diam.
"GILANG!" Adit dan Bram mencoba mengejar, menebas daun-daun pandan dengan membabi buta. Namun, hutan pandan itu seperti labirin yang terus berubah. Setiap kali mereka merasa sudah dekat dengan suara teriakan Gilang, suara itu berpindah ke arah lain.
"Dia sengaja..." bisik Adit dengan wajah pucat. "Dia sengaja bikin suara di tempat yang beda-beda buat ngecoh kita."
Sepuluh menit mereka mencari di tengah kegelapan yang menyesakkan. Hingga akhirnya, suara teriakan Gilang menghilang sepenuhnya. Digantikan oleh suara gesekan dedaunan yang menjauh.
Di sebuah celah kecil di antara duri-duri pandan, Adit menemukan sesuatu. Kamera milik Gilang. Layarnya pecah, namun lampunya masih berkedip merah lemah, menandakan baterainya hampir habis. Di samping kamera itu, hanya ada topi rimba milik Gilang yang sudah sobek.
"Dia... dia dibawa ke mana?" tanya Dina sambil terisak.
Adit menggenggam kamera itu dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih. Ia melihat ke arah teman-temannya yang kini tersisa dua belas orang (ditambah Santi yang pingsan).
Kehilangan Gilang terasa berbeda dengan Bimo. Bimo mati sebagai pejuang, sementara Gilang... Gilang hilang begitu saja ditelan kegelapan, meninggalkan rasa ketidakpastian yang lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri.
"Kita harus lanjut," ucap Adit. Suaranya kini terdengar sangat mature dan dalam, tanpa emosi yang meledak-ledak. "Kita nggak bisa nyelamatin Gilang kalau kita semua mati di sini."
"Tapi Dit, dia masih hidup! Gue yakin dia masih hidup!" teriak Rio yang baru saja berdiri dengan punggung berdarah.
"Rio, dengerin gue," Adit memegang bahu Rio dengan sangat kencang. "Gue juga mau cari dia. Tapi liat Santi. Liat Dina. Kita target empuk di sini. Kalau kita nggak sampai ke mercusuar sebelum fajar, mungkin nggak akan ada yang tersisa di antara buat ceritain jasa Bimo dan Gilang, dan juga kebaikan Jaka ke khalayak ramai. Orang-orang harus tau tentang pulau ini."
Perkataan Adit memukul mereka semua dengan telak. Mereka kembali berjalan, melewati hutan pandan yang kini terasa seperti kuburan hijau. Setiap kali angin berhembus dan menggesekkan daun pandan, mereka seolah mendengar suara shutter kamera Gilang yang berbunyi di kejauhan, sebuah pengingat bahwa mereka sedang diawasi oleh sesuatu yang lebih dari sekadar hewan.
Di dalam kegelapan yang lebih dalam, predator yang membawa Gilang tidak langsung membunuhnya. Ia membawa Gilang ke sebuah tempat yang tinggi di atas pohon.
Makhluk itu tertarik dengan pantulan cahaya dari lensa kamera yang masih menggantung di leher Gilang. Predator ini sedang belajar, belajar tentang benda-benda yang dibawa manusia. Dan Gilang, dengan segala ketakutannya, hanya bisa melihat mata merah itu dari jarak yang sangat dekat, menyadari bahwa di pulau ini, keindahan yang ia cari ternyata adalah maut yang paling nyata.
•••
Other Stories
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan lagi naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia b ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Membabi Buta
Mariatin bekerja di rumah Sundari dan Sulasmi bersama anaknya, Asti. Awalnya nyaman, namun ...