The Last Escape

Reads
192
Votes
24
Parts
24
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 17 | "Perjalanan Pulang Yang Berdarah"

Air laut di sekitar mereka terasa seperti es yang menusuk pori-pori, namun adrenalin yang memompa di dada Adit membuatnya mengabaikan rasa dingin itu. Dengan satu tangan yang merangkul leher Rico, Adit menendang kakinya sekuat tenaga, membelah permukaan air yang tenang namun mematikan. Di belakang mereka, suara peluit tulang Pak Bakri masih melengking, memanggil maut menjauh dari perahu jukung yang kini hanya berjarak sepuluh meter lagi.


Bab 17: Perjalanan Pulang yang Berdarah


"Tangkap talinya, Dit! Cepat!" teriak Bram dari atas perahu. Ia melemparkan seutas tali tambat yang ujungnya sudah disimpul.

Adit menyambar tali itu dengan tangan kirinya yang bebas. Rico, yang wajahnya sudah sepucat kertas karena menahan nyeri dari kaki yang patah dan luka bakar, hanya bisa pasrah saat tubuhnya ditarik ke atas dek perahu oleh Bram dan Tora. Begitu tubuh mereka mendarat di atas papan kayu jukung, Adit langsung terjatuh telentang, dadanya naik turun dengan liar, menatap langit pagi yang perlahan berubah warna dari ungu menjadi oranye kemerahan.

"Kita aman... kita aman..." gumam Dina, ia duduk meringkuk di pojok perahu sambil memeluk lututnya. Suaranya terdengar seperti kaset rusak, terus mengulang kalimat yang sama seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa horor itu telah berakhir.

Aris segera menghampiri mesin perahu. Jukung tua itu memiliki mesin tempel yang tampak kasar namun terawat. Dengan satu tarikan kuat, suara tok-tok-tok yang kasar memecah keheningan laut. Asap hitam keluar dari knalpot, membawa aroma solar yang bagi mereka saat ini terasa lebih harum daripada parfum mahal mana pun.

"Jalan, Ris! Jalan sekarang!" teriak Rio, eh, bukan, Rio sudah tiada. Adit memejamkan mata sejenak, ia masih sering salah menyebut nama teman-temannya yang baru saja hilang. Ia menatap ke arah pantai.

Di sana, di bawah cahaya fajar yang baru menyingsing, siluet Pak Bakri sudah tidak terlihat lagi. Yang ada hanyalah tumpukan makhluk hitam yang menggeliat di tepi air, menutupi tempat pria tua itu berdiri tadi.

Air laut di pinggir pantai itu berubah warna menjadi merah pekat. Pak Bakri telah menunaikan janjinya; ia memberikan dirinya sebagai hidangan terakhir agar "anak-anak asuhnya" tidak mengejar perahu.

Perahu jukung itu perlahan menjauh dari bibir pantai Pulau Seribu Hening.

Kilas Balik: Rahasia Kecil Nadia

Di tengah guncangan perahu, Nadia duduk diam di samping Santi yang masih terbaring lemah. Nadia adalah mahasiswi kedokteran semester akhir yang selalu terlihat paling tegar. Namun, ada satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Nadia sebenarnya mengidap gangguan kecemasan yang parah. Ia ikut liburan ini atas saran psikolognya untuk "menghadapi ketakutan akan ketidakpastian".

Lucunya, ketidakpastian yang ia hadapi di pulau ini justru melampaui segala skenario terburuk yang pernah ia bayangkan. Saat ia mengobati teman-temannya, tangannya tidak pernah gemetar. Bukan karena ia berani, tapi karena otaknya sudah masuk ke mode survival yang mematikan segala emosi. Namun sekarang, saat perahu mulai bergerak menjauh, mode itu mulai luntur, digantikan oleh kesadaran yang sangat pahit: ia telah kehilangan teman-temannya, dan ia merasa gagal sebagai calon dokter.

"Santi, minum dulu pelan-pelan," bisik Nadia sambil menyodorkan botol air mineral terakhir yang mereka miliki.

Santi membuka matanya sedikit. "Rico... mana Rico?"

Rico yang sedang disandarkan di dekat mesin perahu menoleh. "Gue di sini, San. Gue nggak ke mana-mana."

Santi tersenyum lemah, namun ada sesuatu yang aneh di wajahnya. Ada bercak-bercak hitam yang mulai muncul di sekitar urat lehernya. Nadia melihat itu dan mengerutkan kening. Ia mendekat, menyentuh leher Santi.

"Badan lu panas banget, San. Lebih panas dari sebelumnya," ucap Nadia cemas.

"Gue cuma capek, Nad... perih banget bahu gue," rintih Santi.

Maya yang duduk di depan mereka memperhatikan bercak hitam itu dengan teliti. "Nad, itu bukan memar biasa. Liat, warnanya kayak... merambat."

Memang benar. Urat-urat hitam itu perlahan merambat naik ke arah rahang Santi. Aris, yang masih memegang kemudi perahu, menoleh sekilas. "Mungkin itu infeksi dari kuku makhluk itu? Pak Bakri bilang mereka punya cairan di bawah lidah, mungkin kuku mereka juga mengandung sesuatu."

"Nggak ada istilah medis buat hal begini, Aris," sahut Nadia dengan nada mature namun frustrasi. "Ini bukan infeksi bakteri biasa. Ini kayak... racun yang mengubah jaringan tubuh."

Tiba-tiba, perahu berguncang hebat. Bukan karena ombak, tapi karena sesuatu menghantam bagian bawah jukung.

DUG!

"Apa itu?!" teriak Lala yang hampir terlempar ke air.
"Ada sesuatu di bawah kita!" Aris mempercepat laju perahu, namun mesinnya justru terbatuk-batuk. "Sial! Itu sampah atau lumut yang nyangkut di baling-baling!"

Adit berdiri, memegang pinggiran perahu. Di bawah permukaan air yang bening, ia melihat sebuah bayangan panjang yang bergerak sangat cepat. Itu bukan salah satu dari predator darat yang mereka lawan tadi. Ini berbeda. Bentuknya lebih mirip hiu, tapi dengan kaki-kaki pendek yang berselaput dan ekor yang sangat kuat.

"Mereka nggak cuma di darat..." bisik Adit. "Pak Bakri bener, mereka penguasa air."

Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah tangan panjang berselaput muncul dari air dan mencengkeram tepian belakang perahu, tepat di dekat tempat duduk Tora.

"TORA, AWAS!" teriak Bram.

Tora, yang sedang berusaha membantu Aris memperbaiki posisi mesin, tidak sempat menghindar. Makhluk air itu menarik bahu Tora dengan kekuatan yang sangat besar. Tora mencoba bertahan dengan memegang tiang atap jukung, namun kayu tua itu patah.

"TOLOOONG! TOLONG GUYS!" teriak Tora.

Bram segera menerjang, ia menangkap kaki Tora yang sudah terseret setengah keluar perahu. "Gue pegang lu, Tor! Jangan lepas! Pegang gue kuat!"

Terjadi aksi tarik-menarik yang mengerikan. Makhluk di dalam air itu tidak bersuara, hanya tarikan konstan yang dingin. Adit mengambil dayung kayu dan mulai memukuli tangan makhluk itu yang mencengkeram bahu Tora.

BUK! BUK! BUK!

Makhluk itu akhirnya melepaskan cengkeramannya karena jari-jarinya remuk oleh pukulan Adit. Tora terjatuh kembali ke dalam dek perahu, bahunya berlubang dalam bekas cengkeraman kuku-kuku makhluk itu.

"Sakit... AGHHH! Panas!" Tora berteriak sambil memegangi bahunya.

Nadia segera menghampiri Tora, namun saat ia melihat luka Tora, ia tertegun. Luka itu tidak mengeluarkan darah merah, melainkan cairan bening yang berbau amis menyengat. Dan yang lebih mengerikan, urat-urat hitam yang sama dengan yang ada di leher Santi mulai muncul di sekitar luka Tora dengan kecepatan yang jauh lebih cepat.

"Aris, kita harus lebih cepat! Mereka menyerang dari bawah!" perintah Adit.

"Gue udah gas pol, Dit! Tapi bebannya terlalu berat!" balas Aris panik.

Di tengah kepanikan itu, Santi tiba-tiba terbangun dengan sentakan keras. Matanya yang tadi sayu kini berubah menjadi putih seluruhnya, tanpa pupil. Ia mengeluarkan suara geraman yang sangat rendah, suara yang tidak mungkin keluar dari tenggorokan seorang gadis berumur 21 tahun.

"Santi? San, lu kenapa? Sayang, sadar!" tanya Rico cemas, ia mencoba menyentuh pipi pacarnya.

Tanpa peringatan, Santi menerjang Rico. Ia menggigit lengan Rico dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.

"AAAAAARRRGGGHHH! SANTI! LEPASIN! INI GUE, RICO!" teriak Rico histeris.

Semua orang di perahu membeku. Nadia mencoba memisahkan mereka, namun tenaga Santi menjadi berkali-kali lipat lebih kuat. Ia seolah-olah bukan lagi manusia. Urat-urat hitam di wajahnya kini terlihat berdenyut-denyut.

"Dia tertular!" teriak Maya. "Racun itu... racun itu mengubah mereka jadi kayak makhluk-makhluk itu!"

"Jangan ngomong sembarangan, May!" bentak Adit sambil mencoba membantu Rico. "Santi pasti cuma syok!"

"Syok nggak bakal bikin mata lu putih semua, Dit!" balas Maya. Ia mengambil sebilah parang yang tergeletak di dek. "Kita harus dorong dia ke air! Sebelum dia gigit kita semua!"

"JANGAN! DIA PACAR GUE! JANGAN DORONG DIA KE AIR! PLEASE!" teriak Rico sambil menangis, meski lengannya masih dikunyah oleh Santi.

Konflik moral yang sangat berat terjadi di atas perahu yang bergoyang. Di satu sisi, Santi adalah teman mereka yang sangat mereka cintai. Di sisi lain, ia kini menjadi ancaman nyata yang bisa mengubah mereka semua menjadi monster.

Tiba-tiba, Tora yang tadi digigit di bahu juga mulai menunjukkan gejala yang sama. Ia mulai kejang-kejang, punggungnya melengkung secara tidak alami, dan suara tulang yang bergeser terdengar dari dalam tubuhnya.

"Tora juga..." bisik Dina. Ia mundur sampai ke ujung depan perahu, hampir jatuh ke laut. "Kita semua bakal mati jadi monster... kita semua terjebak disini..."

Aris menoleh ke belakang, melihat dua temannya mulai berubah. Ia menyadari bahwa jika ini terus berlanjut, perahu ini akan menjadi peti mati terapung. Dengan wajah yang penuh dengan duka dan ketegasan yang menyakitkan, Aris memutar kemudi perahu dengan tajam.

"KITA HARUS MENEPI KE KARANG ITU!" teriak Aris sambil menunjuk sebuah gugusan karang tajam di tengah laut. "KITA TURUNIN MEREKA DI SANA!"

"LU TEGA, RIS?!" bentak Bram.

"KALAU NGGAK, KITA SEMUA MATI DI TENGAH LAUT, BRAM! LIAT TORA! LIAT SANTI!" balas Aris dengan air mata mengalir di pipinya. "GUE JUGA SEDIH, TAPI GUE MAU KITA YANG MASIH WARAS TETEP HIDUP!"

Perdebatan itu terhenti saat Tora akhirnya berhenti kejang dan mendongak. Wajahnya sudah tidak bisa dikenali lagi. Mulutnya sobek hingga ke telinga, memperlihatkan deretan gigi yang baru tumbuh. Ia mengeluarkan suara lengkingan yang memanggil makhluk-makhluk di bawah air.

Seketika, puluhan sirip hitam muncul di permukaan air, mengepung perahu mereka.
"Mereka memanggil kawanannya..." bisik Adit. Ia menatap teman-temannya yang masih tersisa: Aris, Bram, Nadia, Maya, Dina, Lala, Eka dan Rico yang terluka. Dari lima belas orang, kini hanya tinggal sembilan yang masih memiliki kesadaran manusia.

Dan di tengah laut lepas, tanpa perlindungan apa pun, mereka menyadari bahwa perjalanan pulang ini hanyalah babak baru dari neraka yang lebih luas. Predator itu ternyata tidak hanya ingin memakan daging mereka, mereka ingin mengubah manusia menjadi bagian dari ekosistem mereka yang mengerikan.

Sisi Lain: Evolusi Predator Air

Makhluk air ini sebenarnya adalah bentuk larva dari predator darat. Mereka lahir di laut, menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai pemburu bawah air yang efisien. Namun, mereka membutuhkan inang organik untuk mempercepat proses metamorfosis mereka menjadi bentuk dewasa yang bisa hidup di darat.

Racun yang mereka suntikkan melalui kuku dan gigi adalah semacam enzim pengubah genetik. Tora dan Santi tidak sedang mati, mereka sedang "dilahirkan kembali" menjadi predator baru yang lebih cerdas karena memiliki sisa-sisa ingatan manusia. Inilah alasan mengapa Pak Bakri begitu takut: karena monster-monster ini adalah hasil perpaduan antara keganasan hewan dan kecerdasan manusia.

•••

Guncangan perahu jukung itu semakin tak terkendali. Suara kayu yang berderit karena hantaman dari bawah air beradu dengan suara geraman mengerikan yang keluar dari kerongkongan Tora dan Santi. Bau amis darah dan cairan kimia alami yang keluar dari pori-pori kulit mereka yang mulai berubah memenuhi udara yang sempit.

Adit mencoba menyeimbangkan tubuhnya di atas dek yang licin. Ia menatap Santi yang masih menancapkan giginya di lengan Rico. Rico sendiri sudah tidak berteriak lagi, ia hanya mengerang pelan, matanya menatap langit dengan kekosongan yang amat sangat. Rasa sakit fisiknya mungkin sudah kalah oleh rasa hancur di jiwanya melihat wanita yang ia cintai berubah menjadi sesuatu yang bukan manusia.

"Lepasin dia, San! Please, lepasin Rico!" suara Dina melengking di antara isak tangisnya. Ia memegangi lengan Lala erat-berdua mereka meringkuk di haluan perahu, mencoba sejauh mungkin dari pusat horor tersebut.

Nadia mencoba mendekat dengan tangan gemetar, membawa botol sisa alkohol. "Kita harus siram matanya! Makhluk ini benci bau menyengat, mungkin itu bisa bikin dia lepas!"

"Jangan, Nad! Nanti dia malah nyerang lu!" teriak Aris dari kemudi. Aris terus berusaha menstabilkan perahu, namun kemudinya terasa sangat berat. "Bram! Bantuin Adit! Kita harus pisahin Rico dari Santi sebelum Rico juga tertular!"

Bram, si pendaki gunung yang biasanya tenang, kini terlihat sangat emosional. Ia mengambil dayung kayu dan mendekati Santi. "Maafin gue, San... gue bener-bener minta maaf."

Bram menggunakan ujung dayung untuk mencongkel rahang Santi secara perlahan namun kuat. Begitu rahang itu terbuka sedikit, Adit langsung menarik tubuh Rico menjauh. Rico terjatuh di lantai kayu, lengannya hancur dengan lubang-lubang bekas gigi yang dalam. Darahnya yang keluar bukan lagi merah terang, tapi mulai bercampur dengan gumpalan hitam kental.

"Sakit, guys... panas banget..." Rico merintih, tubuhnya mulai menggigil hebat.

Namun, perhatian mereka teralihkan oleh Tora. Tora, yang tadi masih menunjukkan sisa-sisa kesadaran, kini sudah tegak berdiri. Punggungnya membungkuk, tangannya memanjang dengan kuku yang mulai mengeras menjadi hitam pekat. Ia menatap Eka yang berdiri paling dekat dengannya.

Eka, yang sejak awal hanya bisa diam membatu karena syok, baru tersadar saat wajah Tora berada hanya beberapa senti dari wajahnya. "To... Tora? Ini gue, Eka. Kita sering main game bareng kan, inget? Jangan serang gue Tor.. Gue mohon!"

Tora tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeluarkan desisan panjang yang menyemprotkan uap amis ke wajah Eka. Tora melompat ke arah Eka, namun Bram lebih cepat. Bram menghantamkan dayung kayunya ke samping kepala Tora.

PLAK!

Tora terpental ke sisi perahu, hampir jatuh ke laut. Namun, bukannya kesakitan, ia justru merayap di dinding luar jukung dengan posisi terbalik, kakinya mencengkeram kayu seolah-olah dia memiliki perekat. Ia menatap mereka dari sisi luar perahu dengan mata putih yang bersinar di bawah cahaya fajar.

"Dia bukan Tora lagi," bisik Maya. Maya adalah yang paling dewasa dalam menyikapi situasi ini. Ia mengambil pisau dari tas logistik dan berdiri di depan Dina dan Lala. "Dit, Aris, dengerin gue. Kalau kita biarin Tora sama Santi tetep di atas sini, kita nggak bakal sampai ke daratan. Mereka bakal manggil kawanannya buat ngebajak perahu ini."

"Tapi kita nggak bisa buang mereka begitu aja, May!" protes Lala dengan nada empati yang dalam. "Gimana kalau ada obatnya? Gimana kalau pas sampai di rumah sakit mereka bisa sembuh?"

"Lu liat Tora, La!" bentak Aris. "Tulang-tulangnya geser! Kulitnya berubah jadi sisik! Nggak ada rumah sakit yang bisa sembuhin itu!"

Tiba-tiba, dari arah bawah air, sebuah guncangan yang jauh lebih besar terjadi. Perahu itu miring hampir 45 derajat. Eka yang masih gemetar di dekat pinggiran perahu kehilangan keseimbangan.

"AAAAGH!" Eka tergelincir. Tangannya sempat mencengkeram tepian kayu, namun tubuhnya sudah menggantung di atas air laut yang kini dipenuhi sirip hitam.

"EKA! PEGANG TANGAN GUE!" teriak Adit. Adit tiarap di dek, mencoba menjangkau tangan Eka.
Namun, dari bawah permukaan air, sebuah mulut besar dengan ribuan gigi halus muncul dan menyambar kaki Eka. Eka menjerit sejadi-jadinya saat tubuhnya ditarik ke bawah.

"ADIIIT! TOLOOONG!"

Bram dan Adit berusaha menarik baju Eka, namun kekuatan dari bawah air itu terlalu besar. Kayu tempat Eka berpegangan pun mulai retak. Di saat kritis itu, Tora yang masih merayap di sisi luar perahu justru ikut membantu makhluk air itu. Tora mencengkeram bahu Eka dan menariknya dengan paksa.

"TORA, JANGAN! ITU EKA!" raung Bram.
Dalam satu tarikan yang sangat brutal, tubuh Eka terlepas dari dek perahu. Ia jatuh ke air dan dalam hitungan detik, permukaan laut itu berubah menjadi pusaran warna merah. Eka hilang ditelan ombak bersama teriakan terakhirnya yang memilukan.

Dina dan Lala jatuh pingsan karena tidak kuat melihat adegan itu. Nadia hanya bisa menutup mulutnya, air matanya mengalir deras membasahi tangannya yang berlumuran alkohol. Sisa sembilan orang kini menjadi delapan orang.

"Ris! Gas perahunya sekarang!" teriak Adit dengan kemarahan yang meluap.

Aris menarik tuas mesin sampai mentok. Perahu melaju lebih cepat, meninggalkan area di mana Eka baru saja tewas. Tora dan Santi, entah karena insting atau perintah dari makhluk air, melompat masuk ke laut, mengikuti perahu itu dari belakang sebagai pengawal maut.

Rico tergeletak di tengah perahu, memandangi lengannya yang kini sepenuhnya menghitam. Ia tahu waktunya tidak banyak. Ia menoleh ke arah Adit yang duduk lemas di sampingnya.

"Dit..." bisik Rico. "Pas tadi Eka jatuh... gue ngerasa bersyukur."

Adit menoleh, terkejut. "Maksud lu apa, Ric?"

"Gue bersyukur bukan gue yang jatuh duluan... itu jahat banget ya, Dit?" Rico tertawa kecil, suara tawa yang sangat sedih. "Di saat terakhir, kita tetep aja egois. Gue sayang sama kalian, tapi gue lebih sayang sama nyawa gue sendiri. Dan itu yang bikin gue ngerasa jadi manusia paling sampah sekarang."

Adit memegang tangan Rico yang masih hangat. "Itu insting, Rico. Bukan jahat. Kita semua ketakutan. Kita semua mau tetap hidup."

"Dit... kalau gue mulai berubah kayak Tora..." Rico menatap mata Adit dengan serius. "Jangan biarin gue nyakitin Santi. Eh, maksud gue... jangan biarin gue jadi monster kayak mereka. Bunuh gue sebelum mata gue jadi putih."

Adit tidak sanggup menjawab. Ia hanya bisa terdiam di tengah suara mesin perahu yang terus menderu, membelah lautan menuju daratan utama yang masih tampak sangat jauh di ufuk timur. Mereka masih hidup, tapi sebagian dari jiwa mereka sudah terkubur di Pulau Seribu Hening bersama teman-teman yang telah tiada.

Misteri tentang bagaimana predator ini bisa ada mulai terkuak di benak Aris yang terus memperhatikan perilaku makhluk-makhluk di belakang mereka. Mereka bukan sekadar pemangsa daging, mereka adalah cermin dari sisi gelap manusia. Mereka cerdas, mereka berkomunikasi, dan mereka tahu cara menghancurkan mental mangsanya sebelum menghabisi fisiknya.

•••


Other Stories
Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Download Titik & Koma