The Last Escape

Reads
128
Votes
11
Parts
11
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 8 | "Pelarian Di Bawah Rembulan"

Udara di dalam pondok terasa semakin menipis seiring dengan meningkatnya detak jantung empat belas orang yang tersisa. Bau amis dari cairan bening yang menempel di lantai kayu sisa dari serangan mendadak tadi seolah menjadi pengingat bahwa dinding-dinding bambu ini tak lebih dari sekadar kulit ari yang rapuh di hadapan kekuatan luar biasa yang mengintai di bawah sana.


Bab 8: Pelarian di Bawah Rembulan


Dina masih terisak pelan di pelukan Bram. Lukanya tidak dalam, namun trauma diseret oleh sesuatu yang tak terlihat dari balik celah lantai telah meruntuhkan seluruh pertahanannya. Sebagai mahasiswi yang terbiasa dengan kenyamanan kota, realitas di Pulau Seribu Hening ini terasa seperti mimpi buruk yang tidak memiliki tombol bangun.

"Gue nggak bisa, Dit... kaki gue lemes. Gue nggak bisa lari," bisik Dina dengan suara parau.

Adit berjongkok di depan Dina, menatap mata temannya itu dengan tatapan paling tenang yang bisa ia kumpulkan. "Liat gue. Kita semua di sini bareng lu. Bram bakal jagain lu di sisi kanan, Bimo di kiri. Kita nggak bakal lari ninggalin lu. Tapi kita harus gerak. Pondok ini bukan tempat buat bertahan."

Nadia selesai membalut luka Dina dengan kain bersih dari kotak P3K-nya. Ia mengangguk pada Adit. "Lukanya cuma lecet biasa. Dia bisa jalan, pelan-pelan aja."

Aris berdiri di dekat jendela yang sudah dipaku papan, memegang jam tangan analognya. Ia menunggu saat yang tepat. "Awan besar sebentar lagi bakal nutupin bulan. Pas langit gelap total, kita keluar lewat pintu samping yang langsung menghadap ke area pasir terbuka. Jangan ada yang nyalain senter sampai kita masuk ke batas hutan timur. Paham?"

Semua mengangguk. Keheningan kembali melanda. Di tengah ketakutan itu, Rio duduk bersandar pada tas carier miliknya. Ia menatap kosong ke arah langit-langit. Pikirannya melayang pada Jaka.

Ia teringat bagaimana Jaka selalu menjadi orang pertama yang menghiburnya saat ia gagal dalam ujian mata kuliah tersulit. Jaka bukan sekadar teman; Jaka adalah sosok yang membuat hidup Rio terasa lebih ringan. Kehilangan Jaka dengan cara yang begitu misterius membuat Rio merasakan kemarahan yang dingin di dalam dadanya.

"Dit," panggil Rio pelan. "Kalau kita ketemu 'makhluk'' itu di luar... gue nggak bakal lari dari dia."

"Kita lari buat selamat dari maut, Yo. Bukan buat mati sia-sia," balas Adit tegas namun penuh empati.

"Gue tahu. Tapi kalau dia berani muncul lagi, gue bakal pastiin dia ngerasa sakit juga," ucap Rio sambil menggenggam sebilah pisau lipat yang biasanya ia gunakan untuk memotong tali saat berkemah. Itu senjata yang sangat kecil dibandingkan dengan apa yang menyerang mereka, tapi itu memberinya sedikit rasa berdaya.

Tiba-tiba, cahaya bulan yang masuk melalui celah papan mulai memudar. Langit di luar perlahan berubah menjadi hitam pekat saat awan mendung yang dibawa angin laut menutup rembulan sepenuhnya.

"Sekarang!" perintah Aris.

Bram dan Bimo dengan sigap menggeser lemari yang menghalangi pintu samping. Suara derit kayu yang beradu dengan lantai terdengar seperti teriakan di telinga mereka. Begitu pintu terbuka, udara malam yang dingin menyergap masuk. Mereka keluar satu per satu dengan langkah yang sangat hati-hati namun cepat.

Adit memimpin di depan, matanya mencoba menangkap bayangan di kegelapan. Mereka bergerak dalam formasi rapat, menyerupai barisan semut di atas hamparan pasir putih yang kini tampak kelabu. Suara deburan ombak di sisi kanan mereka menjadi penyamar suara langkah kaki.

"Terus jalan, jangan menoleh ke belakang," bisik Bram kepada Dina dan Lala yang berada di tengah.
Mereka baru menempuh separuh jalan menuju batas hutan timur ketika Maya merasakan sesuatu. Indra perasanya yang tajam seolah menangkap getaran di atas pasir. Ia menoleh ke arah hutan tengah, tempat mereka lari tadi siang. Di sana, di antara batang-batang pohon kelapa yang tegak berdiri, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Bukan satu, bukan dua, tapi sepasang mata merah redup yang seolah melayang di udara. Mata itu tidak berkedip. Dan yang lebih mengerikan, mata itu tidak berada di atas tanah, melainkan setinggi tiga meter dari permukaan.

"Dit... dia ada di sana," bisik Maya dengan suara bergetar.

Adit tidak berhenti. "Jangan liat, May! Terus lari!"

Namun, predator itu rupanya sudah bosan bermain petak umpet. Sebuah raungan rendah yang terdengar seperti gesekan logam berat bergema di seluruh pulau. Suara itu begitu kuat hingga mereka bisa merasakan getarannya di bawah telapak kaki mereka.

Srekkkk!

Sesuatu melesat dari arah hutan dengan kecepatan yang tak masuk akal. Bukan ke arah rombongan utama, tapi ke arah Tora yang berada sedikit di pinggir barisan karena sedang membantu Eka membawa tas lukisannya yang berat.

"TORA!" teriak Eka.

Tora bereaksi dengan insting yang luar biasa. Ia tidak lari, melainkan menjatuhkan dirinya ke pasir dan berguling. Sesuatu yang besar dan berwarna gelap meluncur tepat di atas kepalanya, menghantam pohon waru kecil hingga tumbang seketika.

"LARI KE ARAH BATU!" teriak Bimo sambil melempar sebatang kayu besar ke arah bayangan itu.

Makhluk itu mendarat di atas pasir dengan bunyi deb yang berat. Di bawah sisa cahaya yang sangat minim, mereka bisa melihat siluetnya secara sekilas. Tubuhnya panjang, ramping namun berotot, dengan anggota tubuh yang tampak memiliki sendi tambahan. Kulitnya gelap dan kasar, seolah dilapisi oleh kepingan karang yang tajam.

Predator ini bukanlah alien yang datang dengan pesawat canggih. Ia adalah entitas yang sudah ada di bumi jauh sebelum manusia mengenal peradaban, sisa dari evolusi yang tersembunyi di palung laut terdalam dan naik ke permukaan melalui gua-gua bawah air di pulau ini. Jutaan tahun hidup dalam kegelapan total dan tekanan tinggi membuatnya memiliki struktur tubuh yang sangat padat dan indra yang melampaui logika manusia. Ia adalah predator yang belajar, ia belajar bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh secara fisik namun memiliki emosi yang bisa dimanfaatkan.

Makhluk itu mendesis, mengeluarkan lidah yang bercabang dan panjang, mengendus udara yang penuh dengan aroma ketakutan.

Bimo berdiri di depan Tora, menghalanginya. "Cepat bangun, Tor! Pergi sama Eka! Cepat!"

"Bim, jangan!" teriak Santi dari kejauhan.

"Gue bakal tahan dia sebentar! Jalan!" Bimo mengayunkan kayunya dengan penuh tenaga saat makhluk itu mencoba menerjang lagi.

Bimo bukan sekadar atlet basket biasa; ia adalah petarung. Di masa remajanya, ia tumbuh di lingkungan keras pinggiran kota sebelum beasiswa basket mengubah hidupnya. Ia tahu cara membaca gerakan lawan. Saat makhluk itu melompat, Bimo menghindar ke samping dan menghantamkan kayunya ke arah apa yang ia asumsikan sebagai kepala makhluk tersebut.

BRAK!

Kayu itu patah menjadi dua, namun hantaman itu cukup kuat untuk membuat sang predator terhuyung sejenak. Makhluk itu mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga.

"BIM, SEKARANG!" teriak Adit dari depan mulut gua yang sudah terlihat.

Bimo berlari sekuat tenaga. Predator itu mencoba mengejar, namun langkahnya terhambat oleh pasir yang amblas karena berat tubuhnya yang luar biasa. Inilah kelemahan makhluk tersebut di area terbuka, ia terlalu berat untuk bergerak lincah di atas pasir lunak.

Mereka semua berhasil mencapai mulut gua tepat saat awan mulai bergeser dan bulan kembali menyinari pantai. Satu per satu mereka masuk ke dalam celah sempit di dinding batu granit. Adit dan Bram adalah yang terakhir masuk, mereka segera memasang barikade menggunakan batu-batu besar yang ada di sekitar mulut gua.

Di dalam gua, suasana sangat gelap dan dingin. Bau tanah dan lumut terasa sangat kuat. Mereka semua terduduk di lantai gua yang keras, terengah-engah, dengan adrenalin yang masih memuncak.

"Bimo... lu gila ya," ucap Tora sambil memeluk temannya itu. Tangannya gemetar hebat. "Lu hampir mati, Bim."

Bimo hanya tersenyum kecut, meski tangannya yang memegang kayu tadi kini memar membiru. "Gue cuma nggak mau mati sambil lari membelakangi setan itu, Tor. Lebih enak mati sambil liat mukanya yang busuk itu."

Nadia segera menghampiri Bimo, memeriksa tangannya yang terluka. "Jangan banyak gerak dulu, Bim."

Aris menyalakan senter kecilnya, mengarahkannya ke dalam gua. Gua ini ternyata cukup luas ke dalam. Dindingnya halus, tanda bahwa air pernah mengalir di sini ribuan tahun lalu. "Kita aman di sini untuk sementara. Batunya solid.."

Namun, di tengah rasa lega yang tipis itu, Maya tetap diam. Ia duduk di sudut gua, memandangi pintu masuk yang sudah dibarikade. Ia menyadari sesuatu yang tidak disadari oleh yang lain.
"Dia nggak ngamuk pas Bimo pukul tadi," bisik Maya pelan.

"Maksud lu gimana, May?" tanya Rico.

"Suaranya... suara lengkingan tadi. Itu bukan suara kesakitan," Maya menatap teman-temannya dengan tatapan dewasa yang penuh keprihatinan. "Itu suara panggilan. Dia nggak sendirian di pulau ini."

Kalimat Maya menjatuhkan mental mereka kembali ke dasar jurang. Jika satu makhluk saja sudah mampu melenyapkan Jaka dan membuat mereka semua kocar-kacir, bagaimana jika ada lebih dari satu?

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Gilang mencoba melihat hasil rekaman kameranya tadi. Di salah satu frame yang tertangkap saat kilatan bulan muncul, ia melihat sesuatu yang lebih detail tentang predator itu.

"Guys... liat ini," Gilang menunjukkan layar kameranya.

Di foto itu, terlihat punggung makhluk tersebut. Ada bekas luka bakar besar yang membentuk pola tertentu, seperti simbol atau tanda yang ditinggalkan oleh manusia.

"Itu bukan luka alami," kata Aris sambil mengamati foto itu. "Itu tanda. Seseorang pernah mencoba menangkap atau menandai makhluk ini. Pulau ini bukan cuma jarang didatangi... pulau ini pasti sengaja dikosongkan."

Misteri Pulau Seribu Hening mulai terkuak selapis demi selapis. Mereka yang datang untuk mencari kesenangan, kini mulai menyadari bahwa mereka adalah bagian dari sebuah rantai makanan yang sudah diatur sejak lama. Dan di luar sana, di bawah sinar rembulan yang pucat, sang predator pertama sedang menunggu kawan-kawannya, sementara mangsa mereka meringkuk di dalam gua, tidak menyadari bahwa gua ini memiliki jalan masuk lain yang tidak terlihat di peta Aris.

•••

Other Stories
DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Jika Nanti

Adalah sebuah Novel yang dibuat untuk sebuah konten ...

Download Titik & Koma