The Last Escape

Reads
157
Votes
15
Parts
15
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 14 | "Cahaya Mercusuar"

Langkah kaki mereka kini tidak lagi beraturan. Suara gesekan daun pandan yang tajam seolah meratapi hilangnya Gilang ke dalam kegelapan. Di bawah langit yang semakin pekat, mercusuar tua itu berdiri tegak di atas bukit karang, tampak seperti raksasa bisu yang menyimpan ribuan rahasia. Cahaya rembulan yang redup memantul pada dinding betonnya yang sudah mengelupas, memberikan kesan angker sekaligus menjadi satu-satunya harapan bagi dua belas nyawa yang tersisa.


Bab 14: Cahaya Mercusuar


"Tahan... tahan sedikit lagi, San," bisik Bram dengan napas yang tersengal. Pundaknya sudah mati rasa karena memikul tandu Santi sejauh hampir dua kilometer melalui medan yang tidak manusiawi.

Santi hanya mengerang lemah. Wajahnya yang biasanya ceria kini seputih kertas. Nadia terus berjalan di sampingnya, satu tangannya memegang botol infus darurat yang ia rakit dari kantung plastik bersih, sementara tangan lainnya menekan luka di bahu Santi agar darah tidak kembali memancar.

"Kita hampir sampai," ucap Adit. Ia berada di baris paling depan, parang di tangannya sudah tumpul karena terus-menerus menebas semak belukar. Ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada lagi yang tertinggal. Kehilangan Jaka, Bimo, dan Gilang dalam waktu singkat telah mengubah sorot matanya.

Tidak ada lagi binar anak muda kaya yang sedang berlibur; yang tersisa hanyalah tekad dingin seorang pria yang merasa memikul nyawa teman-temannya di punggungnya.

Mereka sampai di pelataran mercusuar. Bangunan itu dikelilingi oleh pagar besi yang sudah berkarat dan bengkok di sana-sini. Di pintu masuk utama, terdapat sebuah pintu kayu jati yang sangat tebal dengan lapisan besi di bagian dalamnya.

"Coba buka, Dit!" seru Rio. Ia langsung menghampiri pintu itu, mencoba memutar gagangnya.

Klek. Klek.

"Terkunci," desis Rio. Ia menendang pintu itu dengan frustrasi. "Sial! Terkunci dari dalam!"

"Nggak mungkin, Yo. Ini bangunan kosong sejak tahun 80-an," sahut Aris sambil mendekat. Ia memeriksa lubang kunci. "Ini bukan dikunci pakai kunci biasa. Ada palang kayu atau besi yang melintang di baliknya. Seseorang, atau sesuatu, mengunci ini dari dalam."

"Atau mungkin ada orang lain di sini?" tanya Lala dengan nada penuh harapan yang naif.

"Kalau ada orang lain di sini, mereka pasti dengar teriakan kita dari tadi," kata Maya pelan. Ia menatap ke arah jendela-jendela tinggi mercusuar yang gelap gulita. "Atau mungkin mereka nggak mau kita masuk. Mungkin mereka tahu apa yang ada di luar sana, dan mereka nggak mau berbagi tempat perlindungan."

Rico tiba-tiba maju, wajahnya tampak kalut. Sejak kejadian Gilang, ia seolah-olah berusaha membuktikan bahwa ia bukan pengecut, namun caranya justru terlihat agresif dan tidak stabil. "Minggir! Biar gue dobrak pakai batu besar itu!"

"Jangan, Ric! Suaranya bisa mancing mereka ke sini!" peringat Adit.

Tapi Rico tidak mendengarkan. Ia mengangkat sebuah batu karang seukuran kepala manusia dan menghantamkannya ke arah engsel pintu.

BANG! BANG! BANG!

Suara itu bergema di seluruh pesisir, memantul di dinding bukit dan kembali ke telinga mereka sebagai pengingat betapa berisiknya mereka.

"Hentiin, Ric! Lu gila?!" Rio mencengkeram kerah baju Rico dan menariknya mundur. "Lu mau kita semua mati dikepung di tempat terbuka begini?!"

"Gue mau masuk! Gue mau Santi dapet tempat yang layak! Gue nggak mau dia mati di atas tandu busuk itu!" teriak Rico. Air matanya mengalir deras, sebuah ledakan emosi dari seorang pria yang merasa gagal melindungi pacarnya.

Di tengah pertikaian itu, Nadia menyadari sesuatu yang aneh. Ia melihat ke arah bawah pintu. Ada sebuah celah kecil, dan dari sana, keluar sebuah cairan berwarna merah gelap yang sudah mengering. Ia berjongkok, menyentuh cairan itu dengan ujung jarinya.

"Ini darah..." bisik Nadia. "Bukan darah baru. Tapi banyak."

Semua orang terdiam. Harapan mereka tentang mercusuar sebagai tempat perlindungan yang suci seketika runtuh. Jika ada darah di depan pintu yang terkunci dari dalam, artinya maut mungkin sudah lebih dulu masuk ke dalam sana.

Sisi Lain: Masa Lalu Rico

Rico selalu menjadi orang yang mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ayahnya adalah seorang politisi berpengaruh, dan ibunya adalah sosialita yang selalu menanamkan bahwa "citra adalah segalanya".

Sejak kecil, Rico diajarkan untuk tidak pernah terlihat lemah. Itulah sebabnya, saat ia ketakutan di gua tadi, egonya hancur berkeping-keping. Ia tidak tahu cara memproses rasa takut, sehingga ia mengubahnya menjadi amarah.

Ia mencintai Santi, benar-benar mencintainya. Tapi cintanya bersifat posesif, sebuah cara untuk mengisi kekosongan jiwanya yang selalu dituntut sempurna. Sekarang, melihat Santi sekarat karena kesalahannya, Rico merasa dunianya runtuh. Dan dalam keruntuhan itu, sisi gelapnya mulai merayap keluar insting untuk menyalahkan orang lain agar ia tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri.

"Dit, ada jendela di atas sana yang kacanya pecah," tunjuk Tora. "Kalau gue bisa manjat lewat pipa air itu, gue bisa masuk dan buka palangnya dari dalam."

"Bahaya, Tor. Kita nggak tahu apa yang nunggu di dalam," kata Adit ragu.

"Gue setuju sama Tora," sahut Aris. "Kita nggak bisa di sini. Liat ke arah hutan."

Senter Aris menyapu tepian pagar. Di sana, di balik semak-semak, terlihat beberapa pasang mata merah yang sedang bergerak melingkar. Mereka tidak menyerang secara frontal.

Mereka sedang menunggu mangsa-mangsanya kelelahan dan mulai saling serang. Predator ini sangat paham psikologi mangsa yang terdesak.

"Oke, Tora. Hati-hati. Bram, bantu Tora naik," perintah Adit.

Tora, yang bertubuh paling ringan dan lincah, mulai memanjat pipa besi yang sudah berkarat itu. Setiap gerakannya menimbulkan suara decit yang menyayat hati. Teman-temannya di bawah berjaga dengan senjata apa adanya. Bimo mungkin sudah tiada, tapi semangatnya seolah merasuki mereka; mereka berdiri lebih tegak sekarang.

Tora mencapai jendela. Ia mengintip ke dalam sejenak, lalu menelan ludah. Dengan gerakan pelan, ia masuk ke dalam kegelapan mercusuar.
Lima menit berlalu tanpa suara.

"Tora? Tor, lu di sana?" bisik Rio.

Tidak ada jawaban.

"Tor! Jangan bikin jantungan woi!" panggil Bram lebih keras.

Tiba-tiba, suara derit kayu yang berat terdengar dari balik pintu. Sreeet... BRAK. Palang pintu dijatuhkan. Pintu terbuka perlahan, memperlihatkan Tora yang berdiri dengan wajah pucat pasi dan tangan yang berlumuran debu hitam.

"Masuk... cepet masuk," bisik Tora. Suaranya bergetar hebat.

Mereka semua bergegas masuk, membawa Santi dan barang-barang yang tersisa. Begitu masuk, Adit dan Rio segera menutup kembali pintu dan memasang palangnya. Mereka berada di ruangan dasar mercusuar yang luas.

Aris menyalakan senter besarnya.

Pemandangan di depan mereka membuat Dina dan Lala berteriak tertahan. Di tengah ruangan, terdapat tumpukan tulang-belulang. Bukan hanya tulang hewan, tapi tulang manusia yang sudah bersih dari daging, tertata rapi membentuk sebuah lingkaran besar.

Di tengah lingkaran itu, terdapat sebuah kursi kayu tua, dan di atasnya duduk sebuah kerangka yang masih mengenakan seragam penjaga mercusuar yang sudah hancur dimakan zaman.

"Ini... ini apa?" tanya Eka dengan suara gemetar.

"Penghormatan," bisik Maya. Ia mendekati lingkaran tulang itu. "Makhluk itu... mereka nggak cuma makan. Mereka punya semacam ritual. Mereka menghormati mangsa yang menurut mereka 'berharga'."

"Jangan ngaco, May! Mereka itu cuma binatang!" bentak Rico.

"Binatang nggak bakal nyusun tulang sedetail ini, Ric," balas Maya dengan tenang namun tajam. "Liat tengkoraknya. Semuanya menghadap ke satu arah: ke arah laut. Mereka menganggap kita sebagai kiriman dari laut."

Di tengah kengerian itu, Tora menarik Adit ke sudut ruangan. "Dit, gue nemu sesuatu di atas tadi pas gue masuk lewat jendela."

Tora menunjukkan sebuah buku log penjaga mercusuar yang ia temukan. Di halaman terakhir, terdapat tulisan tangan yang sangat berantakan, ditulis dengan tinta yang tampaknya dicampur dengan darah.

"Mereka bukan berasal dari pulau ini. Mereka datang dari bawah. Arus laut membawa mereka ke gua-gua dasar. Aku mencoba mengunci mereka, tapi aku salah. Aku justru mengunci diriku sendiri bersama mereka. Jika ada yang membaca ini, jangan mencoba lari lewat laut. Mereka adalah penguasa air sejati. Lari ke arah puncak bukit, cari 'Gua Matahari'. Itu satu-satunya tempat yang mereka takuti."

"Gua Matahari?" tanya Aris yang ikut membaca. "Itu pasti tempat yang dibilang Maya tadi. Tempat yang kena sinar matahari paling banyak atau punya kristal pemantul cahaya."

Namun, percakapan mereka terhenti oleh sebuah suara dari lantai atas mercusuar.

Tap... tap... tap...

Suara langkah kaki. Berat dan berirama.
"Itu bukan langkah kaki monster," bisik Rio. "Itu suara sepatu."

Mereka semua mendongak ke arah tangga spiral yang menuju ke atas. Dari kegelapan tangga, muncul seorang pria tua dengan janggut putih panjang dan mata yang sudah buta sebelah. Ia memegang sebuah senapan tua yang tampak masih terawat.

"Kalian seharusnya tidak membuka pintu itu," ucap pria tua itu dengan suara serak yang sangat mature. "Sekarang, mereka tahu kalian punya tempat persembunyian baru."

"Siapa Bapak?" tanya Adit sambil mengangkat tangannya, tanda damai.

"Aku adalah sisa dari kesalahan masa lalu," jawab pria itu. "Namaku Bakri. Dan kalian... kalian hanyalah umpan baru untuk permainan yang sudah berlangsung selama lima puluh tahun."

Tiba-tiba, suara benturan keras menghantam dinding luar mercusuar. Bukan dari pintu, tapi dari jendela-jendela tinggi. Makhluk-makhluk itu mulai memanjat dinding beton yang vertikal. Mereka tahu bahwa mangsa mereka terjebak di dalam sebuah tabung beton raksasa.

"Matikan semua cahaya!" perintah Pak Bakri. "Mereka tidak bisa melihat dengan mata, tapi mereka bisa melihat panas tubuh kalian melalui pantulan cahaya di udara!"

Di dalam kegelapan mercusuar, dua belas mahasiswa itu kini harus belajar mempercayai seorang asing yang tampak sama ngerinya dengan monster di luar.

Konflik baru muncul: Apakah Pak Bakri adalah penyelamat, atau justru dialah yang selama ini "memberi makan" para predator itu agar dirinya sendiri tetap hidup?

"Satu hal lagi," ucap Pak Bakri sambil mengisi peluru senapannya. "Di antara kalian, ada satu orang yang sudah 'ditandai' oleh sang pemimpin predator. Dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan orang itu."

Semua mata dalam kegelapan saling memandang dengan penuh kecurigaan. Penghianatan kecil mulai tumbuh di dalam hati masing-masing. Siapa yang sudah ditandai? Dan apakah mereka akan mengorbankan orang itu demi keselamatan yang lain?

---

Kegelapan di dalam ruang dasar mercusuar itu terasa lebih berat daripada kegelapan di hutan pandan. Bau debu, mesiu tua, dan anyir tulang-belulang yang disusun rapi menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Pak Bakri berdiri di bayang-bayang tangga spiral, wajahnya yang penuh keriput tampak seperti peta penderitaan yang panjang. Senapan tuanya masih mengarah ke lantai, namun jemarinya yang kapalan terlihat siaga di dekat pelatuk.

"Ditandai? Apa maksud Bapak?" tanya Adit, suaranya mencoba tetap tenang meski hatinya berdegup kencang. Ia melirik ke arah teman-temannya yang kini bersandar di dinding beton yang dingin.

Pak Bakri tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan mendekati lingkaran tulang, sepatu kulitnya yang sudah jebol mengeluarkan suara pletak-pletok yang kering. "Makhluk itu... mereka bukan sekadar lapar. Mereka punya dendam. Jika salah satu dari kalian pernah melukai mereka, atau membuat mereka merasa terhina, mereka akan menandai aroma kalian. Mereka punya kelenjar di bawah lidah yang bisa menyemprotkan cairan bening tak berbau ke pakaian atau kulit kalian. Bagi manusia, itu tidak terasa. Tapi bagi kawanan mereka, itu seperti sinyal GPS."

Mendengar itu, Rio mendadak pucat. Ia teringat saat ia menghujamkan pisau lipatnya ke tangan makhluk itu di celah gua, dan saat wajah Gilang terkena semprotan darah biru kehitaman.

"Gue... gue yang nusuk dia di gua tadi," bisik Rio. Suaranya bergetar. "Dan Gilang... Gilang kena darahnya."

"Dan Gilang sudah mereka ambil," potong Pak Bakri dingin. "Sekarang, mereka tinggal mencari siapa yang memegang senjata yang melukai saudara mereka."

Seketika, lingkaran pertemanan itu seolah melebar. Rico yang masih mendekap Santi, perlahan menggeser duduknya menjauh dari Rio. Gerakan kecil itu tidak luput dari pandangan mata yang lain. Ada sebuah empati yang mulai terkikis oleh naluri purba: jika aku jauh darinya, mungkin aku selamat.

"Ric, lu mau ke mana?" tanya Rio dengan nada yang sangat emosional. Ada kekecewaan mendalam di matanya. "Kita baru aja kehilangan Bimo dan Gilang, dan lu sekarang mau jaga jarak dari gue?"

"Gue cuma... gue harus mikirin Santi, Yo," jawab Rico terbata-bata. "Dia butuh ketenangan. Kalau makhluk itu ngincer lu, gue nggak mau Santi kena imbasnya lagi."

"Brengsek lu, Ric!" desis Bram. "Kita sampai sini karena kita bareng-bareng!"

"Sudah! Berhenti berantem!" bentak Nadia. Ia sedang sibuk mengganti perban Santi di bawah cahaya senter yang sangat redup. "Santi mulai demam. Kalau kita nggak dapet air bersih buat bersihin lukanya dan antibiotik yang lebih kuat, dia nggak bakal bertahan sampai besok pagi."

Pak Bakri mendengus, sebuah suara yang terdengar seperti tawa kering. "Tidak ada antibiotik di sini. Yang ada hanya keberuntungan. Dan keberuntungan kalian sudah habis saat kalian memutuskan untuk mendarat di pulau ini."

Aris maju selangkah, mencoba berdiplomasi dengan cara yang lebih dewasa. "Pak Bakri, Bapak sudah di sini berapa lama? Bapak pasti tahu cara mereka berburu. Bantu kami. Kami punya logistik, kami punya rencana untuk ke Gua Matahari."

Mendengar nama 'Gua Matahari', Pak Bakri sedikit tertegun. Matanya yang buta sebelah tampak berkilat aneh. "Gua itu... itu tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang putus asa. Perjalanan ke sana melewati tebing karang yang licin. Dengan kondisi gadis itu," ia menunjuk Santi, "kalian hanya akan menyerahkan diri sebagai makanan pembuka."

Tiba-tiba, suara garukan terdengar dari arah luar pintu utama. Sreek... sreek... disusul dengan suara dentuman pelan, seolah ada sesuatu yang sedang menyandarkan berat tubuhnya ke pintu kayu jati itu.

"Mereka sudah di depan pintu," bisik Maya. Ia berdiri di dekat celah kecil dinding mercusuar. "Bukan cuma satu. Gue liat ada empat... tidak, lima pasang mata merah."

Suasana di dalam mercusuar mendadak menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara napas mereka yang memburu.

"Pak, apa senapan Bapak masih bisa nembak?" tanya Adit.

"Hanya sisa lima peluru. Dan itu tidak akan cukup buat kawanan di luar," jawab Pak Bakri. "Tapi... ada satu cara. Mercusuar ini punya lampu raksasa di atas. Mesin pemutarnya sudah rusak, tapi minyaknya masih ada di tangki atas. Kalau kalian bisa nyalain lampu itu, cahayanya bakal bikin mereka buta sementara. Mereka benci cahaya yang sangat terang."

"Tapi lampunya tinggi banget di atas," kata Tora sambil melihat ke arah tangga spiral yang seolah tak berujung.

"Dan tangki minyaknya harus dipompa manual dari ruang mesin di lantai tiga," tambah Pak Bakri. "Masalahnya, lantai tiga itu punya jendela yang sudah jebol. Salah satu dari mereka mungkin sudah nunggu di sana."

Inilah titik di mana penghianatan kecil itu mulai mengeras. Mereka harus memilih siapa yang akan naik ke lantai tiga untuk memompa minyak, sementara yang lain bertahan di bawah.

"Rio yang harus pergi," ucap Rico tiba-tiba.

Suaranya kini lebih stabil, dipenuhi egoisme yang terencana. "Dia yang 'ditandai'. Kalau dia naik ke atas, makhluk itu bakal ngikutin dia, dan kita yang di bawah punya kesempatan buat kabur kalau lampunya udah nyala."

"Lu bener-bener nggak punya hati ya, Ric?" sahut Lala dengan nada benci. "Rio itu temen kita sendiri! Emang keterlaluan lu Ric!"

"Temen? Temen itu saling ngelindungi, kan?" balas Rico sengit. "Kalau Rio tetep di sini, kita semua mati bakal bareng dia. Kalau dia naik ke atas, dia jadi pahlawan, sama kayak Bimo. Lu nggak mau jadi pahlawan, Yo?"

Rio menatap Rico dengan tatapan yang sangat dalam, penuh empati yang menyedihkan. Ia melihat betapa ketakutan telah mengubah sahabatnya menjadi monster yang berbeda. "Gue bakal naik, Ric. Bukan karena gue mau jadi pahlawan buat lu. Tapi karena gue nggak mau liat muka lu lagi di bawah sini."

Rio mengambil senter dari tangan Aris. Ia menatap Adit dan Bram. "Jagain yang lain. Kalau gue nggak turun lagi... kasih tahu nyokap Jaka kalau gue udah coba yang terbaik."

Adit memegang tangan Rio. "Kita naik bareng, Yo. Gue nggak bakal biarin lu sendiri."

"Jangan, Dit," cegah Rio. "Gue yang ditandai. Bapak ini bener, kalau gue sendiri, mereka bakal fokus ke gue. Lu tetep di sini, pimpin mereka. Lu satu-satunya yang mereka dengerin."

Rio mulai melangkah menaiki tangga spiral. Suara langkah sepatunya bergema, menciptakan irama yang seolah-olah menjadi lagu pengantar kematian. Di bawah, teman-temannya hanya bisa menatap punggungnya yang perlahan menghilang di kegelapan tangga.

Pak Bakri menatap Adit dengan tatapan yang sulit diartikan. "Temanmu itu... dia punya nyali. Jarang ada anak muda jaman sekarang yang mau mati buat orang yang baru saja mengkhianatinya."

Di lantai tiga, Rio sampai di ruang mesin yang pengap. Bau karat dan oli bekas sangat menyengat. Di sudut ruangan, sebuah jendela besar terbuka lebar, membiarkan angin laut masuk bersama suara deburan ombak. Rio mendekati tuas pompa manual yang terbuat dari besi berat.
Ia mulai memompa. Kriet... kriet...

Suaranya sangat keras di tengah keheningan malam. Dan di tengah suara pompa itu, Rio mendengar sesuatu yang lain. Suara napas yang berat dari arah plafon kayu di atasnya.

Ia tidak mendongak. Ia terus memompa dengan sisa tenaganya. Air mata jatuh ke pipinya, bercampur dengan keringat. Ia teringat tawa Jaka, teringat semangat Bimo, dan teringat kamera Gilang.

"Ayo... naiklah minyaknya... ayo..." bisiknya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan hitam menjatuhkan diri dari plafon, tepat di belakang Rio. Predator itu tidak langsung menyerang. Ia mengeluarkan suara desisan yang terdengar seperti sebuah bisikan yang memanggil nama seseorang.

Rio berhenti memompa. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyinarkan senter ke arah makhluk itu.
"Lu mau gue, kan?" tanya Rio dengan suara yang sangat mature dan tenang. "Ayo. Tapi tunggu sampai lampu ini nyala."

Makhluk itu menerjang. Rio tidak lari. Ia justru melompat ke arah tuas pompa, menggunakan berat tubuhnya untuk memberikan satu sentakan terakhir pada mesin tersebut.

Di puncak mercusuar, sebuah percikan api muncul di dalam lensa Fresnel raksasa yang berisi minyak. Dan dalam sekejap, sebuah pilar cahaya putih yang sangat terang meledak, menembus kegelapan Pulau Seribu Hening, menyinari hutan, pantai, dan pelataran mercusuar hingga tampak seperti siang hari.

Teriakan melengking terdengar dari seluruh penjuru pulau. Predator-predator itu jatuh dari dinding mercusuar, menutupi mata mereka yang terbakar oleh cahaya murni.

Di bawah, Adit dan yang lainnya melihat cahaya itu dengan harapan yang membuncah. Namun, dari lantai tiga, terdengar suara hantaman keras dan teriakan Rio yang singkat, sebelum semuanya kembali menjadi sunyi di tengah benderangnya cahaya mercusuar.

"RIO!" raung Bram.

Pak Bakri segera membuka palang pintu utama. "Sekarang! Lari ke arah bukit selagi mereka buta! Ayo cepat! Jangan menoleh ke belakang lagi!"

Mereka berlari keluar dari mercusuar, melewati predator-predator yang sedang menggeliat kesakitan di atas tanah. Namun, di tengah pelarian itu, Adit sempat menoleh ke arah jendela lantai tiga. Di sana, ia melihat siluet Rio yang diseret masuk ke dalam kegelapan oleh sebuah tangan panjang, tepat sebelum cahaya mercusuar perlahan meredup karena mesin pemutarnya yang memang sudah rusak total.

Liburan ini telah mengambil korban keempat. Dan di balik cahaya yang memudar itu, Pak Bakri menyimpan sebuah senyuman kecil yang tidak dilihat oleh siapa pun sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang jauh lebih gelap sedang direncanakan oleh pria tua itu untuk sisa rombongan yang tersisa.

•••

Other Stories
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Kidung Vanili

Menurut Kidung, vanili memiliki filosofi indah: di mana pun berada, ia tak pernah kehilang ...

Rahasia Ikal

Ikal, bocah yang lahir dari sebuah keluarga nelayan miskin di pesisir Pulau Bangka. Ia tin ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Download Titik & Koma