The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 28 | "Gema Masa Lalu"

Udara di dalam palka itu terasa sangat tipis, seolah oksigen enggan masuk ke ruang yang dipenuhi kenangan pahit para korban. Adit terpaku, senter di tangannya sedikit bergoyang, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari liar di dinding kayu kapal. Suara itu, suara yang memanggil namanya dengan nada menggigil, terasa begitu nyata. Itu adalah suara Lala, suara yang seharusnya sudah tenggelam di kedalaman laut bersama pengorbanannya yang tragis.


Bab 28: Gema Masa Lalu


"Lala?" bisik Adit, suaranya nyaris hilang ditelan bunyi deru mesin kapal yang ada di balik dinding palka.

"Dit... tolong... di sini gelap banget... kaki gue sakit..."

Adit melangkah maju, kakinya menginjak tumpukan jaring yang terasa lembek dan licin. Pikirannya berperang hebat. Logika sehatnya berkata bahwa Lala sudah tiada, dicabik oleh kawanan di bawah sekoci.

Namun, nuraninya, bagian dari dirinya yang masih sangat manusiawi dan penuh luka, menolak untuk percaya. Ia ingin percaya bahwa ada keajaiban. Ia ingin percaya bahwa sahabatnya entah bagaimana caranya bisa kembali.

"La, lu di mana? Tunjukkin diri lu!" Adit mengarahkan senter ke arah sudut paling gelap, di balik tumpukan peti es yang sudah kosong.

Di sana, di antara celah kayu, ia melihat sekelebat bayangan rambut panjang. Namun, ada yang salah. Bayangan itu bergerak dengan cara yang terlalu kaku, seolah tulang-tulangnya tidak tersambung dengan benar.

"Dit... jangan deket-deket..." Suara itu berubah, sedikit lebih berat, sedikit lebih... kosong.

Tiba-tiba, dari atas palka, pintu kayu terbuka dengan keras. Cahaya senter dari atas menyambar punggung Adit.

"ADIT! KELUAR DARI SITU!" raung Bram.
Bram melompat turun tanpa menggunakan tangga, mendarat tepat di samping Adit. Ia langsung merangkul bahu sahabatnya dan menariknya mundur dengan paksa. Di tangannya, Bram memegang sebuah kapak besi kecil yang ia temukan di gudang alat.

"Bram, tunggu! Itu Lala! Gue denger suaranya!" Adit meronta, matanya masih terpaku pada sudut gelap itu.

"Itu bukan Lala, Dit! Liat pake mata kepala lu yang bener!" Bram menyorotkan senter besarnya tepat ke arah bayangan tadi.

Di bawah cahaya yang lebih terang, ilusi itu hancur. Di sana, di pojok palka, bukan Lala yang mereka temukan. Melainkan seekor predator kecil yang memiliki kantung suara yang besar dan berdenyut di lehernya.

Makhluk itu sedang memegang sepotong kain baju Lala yang tertinggal di palka. Ternyata, predator ini memiliki kemampuan meniru suara mangsanya dengan cara menyerap getaran pita suara dari sisa-sisa sel yang mereka makan.

Makhluk itu mendesis, kantung suaranya mengembang, dan sekali lagi ia mengeluarkan suara: "Dit... tolong..." tapi kali ini dibarengi dengan bunyi klik logam yang mengerikan.

"Bangsat!" Bram mengayunkan kapaknya.
Makhluk itu melompat ke dinding, merayap cepat seperti cicak raksasa, dan menghilang ke dalam celah-celah mesin kapal. Keheningan kembali melanda, menyisakan Adit yang napasnya memburu dan matanya yang berkaca-kaca.

"Mereka nggak cuma mau makan kita, Dit," ucap Bram sambil membantu Adit berdiri. Suaranya terdengar sangat dewasa, penuh dengan kepahitan yang dewasa. "Mereka mau ngebunuh kewarasan kita sebelum tubuh kita mati. Jangan dengerin lagi. Siapa pun yang lu denger manggil nama lu di kapal ini, itu bukan mereka. Temen-temen kita udah tenang, jangan biarin setan-setan ini ngerusak ingatan lu tentang mereka."

Di atas dek, Aris masih berjuang dengan kemudi. Langit sudah tidak lagi menunjukkan tanda-tanda fajar yang cerah. Awan kumulonimbus hitam pekat bergulung-gulung dari arah barat, menelan sisa cahaya matahari. Laut yang tadi tenang kini mulai menunjukkan taringnya.

Ombak setinggi dua meter mulai menghantam lambung Suka Maju, membuat kapal tua itu miring ke kiri dan ke kanan.

Maya dan Nadia sedang memegangi Dina yang mulai mengalami kejang ringan. Tubuh Dina terasa sangat panas, hampir seperti terbakar dari dalam.

"Nad, suhunya naik lagi! Gue rasa ini bukan cuma infeksi biasa," teriah Maya di tengah deru angin.
Nadia menempelkan kain basah ke dahi Dina. "Dia lagi perang, May. Sarafnya lagi berusaha nolak frekuensi sisa dari Sang Pemimpin. Ini soal kemauan. Kalau Dina menyerah pada rasa sakitnya, dia bakal berubah."

Dina membuka matanya. Matanya tidak lagi hitam pekat, melainkan berwarna abu-abu kusam. "Kapal... kapal ini nggak bakal sampe..." bisiknya lirih.

"Jangan ngomong gitu, Din! Aris lagi usaha! Tenang dulu ya." seru Nadia.

"Bukan... bukan karena badai," Dina mencengkeram tangan Nadia dengan kekuatan yang tak wajar. "Ada yang manggil... dari bawah laut. Sesuatu yang lebih tua dari Sang Pemimpin. Mereka marah karena kita ngebunuh 'pusatnya'."

Tiba-tiba, mesin kapal terbatuk hebat. Bruk... brak... ssss... dan kemudian, sunyi. Kapal Suka Maju kehilangan tenaganya. Mesin itu mati total di tengah ombak yang semakin besar.

"RIS! KENAPA MATI?" teriak Adit yang baru saja muncul dari palka bersama Bram.

"Filternya mampet, Dit! Oli bercampur sama cairan biru mereka! Mesinnya macet total!" Aris memukul kemudi dengan frustrasi. Ia keluar dari ruang kemudi, wajahnya berlumuran jelaga. "Kita terombang-ambing sekarang. Tanpa mesin, ombak bakal ngebalikin kapal ini dalam hitungan menit!"

"Adit, Aris... dengerin gue," Bram memanggil semua temannya berkumpul di tengah dek. "Kita nggak punya mesin, oke. Tapi kita punya layar darurat dari jaring dan terpal di bawah. Kalau kita pasang sekarang, kita bisa manfaatin angin badai ini buat dorong kita menjauh dari wilayah pulau, ke arah jalur kapal besar."

"Gila lu, Bram? Angin badai itu bisa ngerobek kapal ini!" protes Maya.

"Daripada kita diem di sini dan tenggelam mati konyol?" balas Bram tegas. "Kita ini mahasiswa teknik, mahasiswa kedokteran, mahasiswa seni... kita punya otak! Pakai otak kalian!"

Adit menatap Bram, lalu menatap Aris. "Aris, lu bisa pasang tiangnya? Pakai pipa besi di gudang?"
Aris terdiam sejenak, menghitung secara teknis di kepalanya. "Bisa. Tapi seseorang harus naik ke atas atap kabin buat ngiket talinya di tengah angin kencang begini."

"Gue yang naik," ucap Adit tanpa ragu.

"NAIK SEKARANG!" teriak Aris.
Adit memanjat atap kabin yang licin karena air laut. Angin menderu-deru, mencoba menghempaskan tubuhnya ke laut. Di bawah sana, Bram dan Aris menarik tali jaring dengan sekuat tenaga. Nadia dan Maya memegangi kaki Adit dari bawah agar ia tidak terjatuh.

Di saat yang sama, sosok-sosok predator kecil mulai muncul dari balik ombak, mencoba memanjat dinding kapal. Mereka tertarik pada getaran ketakutan dan kerja keras para manusia ini.

"JANGAN BIARIN MEREKA NAIK! MAYA, PAKE KAPAKNYA!" raung Adit dari atas.

Maya berdiri di pinggir dek, menebas setiap tangan berselaput yang mencoba meraih pinggiran kapal. "Jangan harap lu dapet makan pagi ini, bangsat!" teriaknya penuh amarah.

Humor tak terduga muncul saat Aris yang sedang menarik tali tiba-tiba terpeleset karena genangan oli. Ia jatuh terduduk, namun tangannya tetap mencengkeram tali itu dengan erat. "Anjrit! Celana gue sobek di pantat! Kalau gue mati, tolong pastiin mayat gue pake celana yang bener ya!"

Bram tertawa di tengah badai. "Tenang, Ris! Kalau lu mati, gue kasih celana kolor gue!"

Tawa itu adalah bensin bagi semangat mereka. Di tengah badai yang mematikan dan kepungan predator, mereka masih bisa menertawakan kemalangan sendiri. Inilah yang membuat mereka berbeda dari monster-monster itu.

Layar jaring akhirnya terbentang. Kapal Suka Maju mendadak tersentak maju saat angin badai menghantam terpalnya. Kapal itu melaju dengan kecepatan yang mengerikan, membelah ombak besar, meninggalkan kerumunan predator yang tertinggal di belakang.

Namun, di tengah laju kapal yang liar itu, Dina tiba-tiba berdiri. Ia menunjuk ke arah air di depan kapal.

"Ada yang besar di depan... bukan predator," bisiknya dengan suara yang jernih.

Adit menajamkan pandangan dari atas atap kabin. Di balik tirai hujan yang lebat, ia melihat sebuah cahaya lampu sorot yang sangat besar. Bukan lampu mercusuar, tapi lampu dari sebuah kapal tanker raksasa.

"KAPAL TANKER! KITA KETEMU KAPAL TANKER!" teriak Adit dengan air mata yang bercampur hujan.
Harapan menyala kembali. Tapi mereka tahu, mendekati kapal tanker sebesar itu di tengah badai dengan kapal nelayan tanpa mesin adalah misi bunuh diri lainnya. Mereka harus sangat cerdik, atau mereka akan hancur dihantam lambung besi kapal raksasa itu.

"Siapin semua obor! Kita kasih sinyal!" perintah Adit.

Enam orang itu kini berdiri di dek, menyalakan api di tengah badai, berteriak sekencang mungkin, mempertaruhkan sisa napas mereka untuk sebuah kepulangan yang sangat mahal harganya.


•••

Other Stories
Jam Dinding

Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...

Kepingan Hati Alisa

Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...

Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Kucing Emas

Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...

Kenangan Indah Bersama

tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...

(bukan) Tentang Kita

Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...

Download Titik & Koma