The Last Escape

Reads
6K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 37 | "Pesta Kanibal"

Lautan yang tadinya tenang seperti cermin hitam kini mulai bergejolak, bukan karena angin, melainkan karena pergerakan masif di bawah permukaan. Ribuan bayangan ramping yang tadinya hanya berputar-putar, kini mulai menunjukkan kegelisahan yang mengerikan. Di tengah sekoci, Dina berdiri dengan tubuh yang memancarkan pendar biru pucat, sebuah cahaya yang seolah menyedot kehangatan dari udara di sekitarnya.


Bab 37: Pesta Kanibal


"Dit, pegang pinggiran sekoci! May, Nad, peluk kursi tengah!" raung Bram. Ia menancapkan dayungnya kuat-kuat ke celah lantai sekoci, berusaha menciptakan titik tumpu agar perahu kecil itu tidak terbalik oleh gelombang buatan yang makin liar.

Adit tidak bergerak dari sisi Dina. Matanya yang merah karena kurang tidur menatap tajam ke arah air. "Dina, kalau lu bisa denger gue... lakuin sekarang. Jangan kasih mereka waktu buat mikir!"
Dina tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Urat-urat di lehernya menonjol, dan pendar biru di punggungnya merambat naik hingga ke pelipisnya. Tiba-tiba, sebuah gelombang kejut yang sunyi, namun terasa menyakitkan di gendang telinga, terpancar dari tubuhnya.

CRAAAASSSHHH!

Permukaan air di sekitar sekoci meledak. Bukan ledakan api, tapi ledakan nafsu makan yang murni. Predator-predator itu, yang selama berabad-abad dipimpin oleh satu kesadaran kolektif yang disiplin, mendadak kehilangan nalar mereka. Perintah yang dipancarkan Dina sangat sederhana namun mematikan: Lapar. Dan makanan ada di sebelahmu.

"Gue nggak bakal lepasin lu, Din," bisik Nadia di tengah deru ombak. "Biarpun lu jadi ratu mereka, lu tetep temen yang sering bagi bekal sama gue pas ospek."

Di sekeliling sekoci, pemandangan berubah menjadi pembantaian yang tak terbayangkan. Predator-predator itu mulai saling menggigit leher, merobek kulit transparan satu sama lain dengan cakar yang tadinya mereka gunakan untuk memburu manusia.

Air laut yang hitam perlahan berubah warna menjadi keruh oleh cairan biru pekat yang keluar dari tubuh mereka.

"Lihat itu..." Maya menunjuk ke arah kanan. Sesosok predator besar sedang mengoyak tubuh temannya sendiri, sementara ia sendiri sedang dimakan oleh tiga predator yang lebih kecil dari arah belakang.

Mereka tidak lagi peduli pada sekoci manusia itu. Bagi mereka sekarang, daging kawan mereka sendiri terasa jauh lebih menggiurkan karena perintah 'Lapar' yang terus berdenyut dari otak Dina.

"Ini gila," gumam Bram. "Mereka beneran makan satu sama lain. Otak manusia emang jauh lebih jahat kalau urusan begini."

"Bukan jahat, Bram," sahut Adit sambil menahan guncangan sekoci. "Ini cerdik. Kita cuma balikin sifat mereka yang paling dasar. Mereka hidup untuk makan, ya sudah, kita kasih mereka makan sepuasnya."

Di tengah adegan yang sangat sadis di depan mata mereka, Maya tiba-tiba menutup matanya sebentar dan menarik napas panjang.

"Dit, kalau kita selamat... gue kayaknya bakal jadi vegetarian seumur hidup," ucap Maya dengan nada sarkasnya yang khas. "Liat mereka makan begitu, gue jadi inget pas kita makan all you can eat di mall bulan lalu. Bedanya, yang ini nggak pake saus teriyaki."

Bram terkekeh pendek, meski wajahnya pucat. "Iya, May. Dan bedanya, pelayannya nggak bakal nanya 'mau tambah daging lagi kak?' karena mereka sibuk jadi dagingnya."

"Lu berdua masih sempet-sempetnya ya," keluh Nadia, meski ia sedikit tersenyum. Humor-humor kecil ini adalah jangkar yang menahan mereka agar tidak hanyut ke dalam kegelapan mental yang sama dengan para predator itu.

Sambil mengawasi proses kanibalisme massal itu, Nadia mulai menyadari sesuatu yang sangat detail tentang proses yang terjadi pada Dina. Ia berbisik pada Adit agar tidak mengganggu konsentrasi Dina.

"Dit, lu sadar nggak? Kenapa predator itu tunduk sama Dina, padahal tadi pemimpin mereka di kapal cuma pengen mati?"

Adit menggeleng.
"Karena Dina punya apa yang nggak dipunya pemimpin mereka sebelumnya: Rasa Kehilangan," jelas Nadia secara mendalam. "Pemimpin yang lama itu cuma punya rasa bosan. Tapi Dina, dia punya rasa sedih yang sangat besar karena kehilangan 11 temannya.

Parasit ini menyerap emosi itu. Rasa sedih Dina berubah jadi frekuensi yang sangat tajam, kayak jarum yang nusuk saraf mereka. Mereka tunduk karena mereka takut sama kesedihan Dina. Mereka pikir itu adalah otoritas baru yang lebih kuat dari rasa lapar."

Nadia menatap punggung Dina yang bergetar. "Tapi masalahnya, semakin banyak predator yang mati di bawah sana, semakin banyak 'informasi' yang masuk ke otak Dina. Dia lagi nyerap semua ingatan mereka, Dit. Ingatan dari berabad-abad lalu pas mereka pertama kali mendarat di pulau itu."

Tiba-tiba, guncangan hebat menghantam bagian bawah sekoci. Bukan karena ombak, tapi karena ada satu predator yang tidak terpengaruh oleh perintah Dina. Makhluk ini lebih tua, dengan kulit yang sudah mengeras seperti karang.
"Ada satu yang nggak makan temennya!" teriak Bram.

Predator tua itu melompat ke pinggiran sekoci, membuat perahu itu miring tajam. Matanya tidak kuning, melainkan putih susu. Ia buta secara fisik, tapi ia bisa merasakan keberadaan Dina.

"Dia pengawal pemimpin yang lama!" Dina tiba-tiba bicara, suaranya sangat berat dan berlapis. "Dia mau bawa aku balik ke Pulau Seribu Hening! Dia nggak mau kawanan ini abis!"

Predator itu mengayunkan cakarnya ke arah Adit. Adit menghindar, tapi lengan bajunya robek. Bram mencoba menghantamkan kapaknya, tapi kulit makhluk itu terlalu keras, kapaknya terpental.
"May! Alkohol!" raung Adit.

Maya melempar botol alkohol terakhirnya. Adit menangkapnya di udara, menghantamkannya ke wajah predator itu, dan Nadia dengan sigap menyulutnya dengan pemantik.

BLAAARRRR!

Wajah predator tua itu terbakar. Di tengah rasa sakitnya, ia mencoba menarik Dina ikut jatuh ke laut. Adit melompat, memeluk pinggang Dina, sementara Bram menghantamkan dayung kayunya berkali-kali ke arah cakar predator itu yang mencengkeram pinggiran sekoci.

"PERGI LU DARI TEMEN GUE!" teriak Bram.
Dengan satu hentakan terakhir, predator itu jatuh kembali ke dalam lautan yang sedang membara oleh kanibalisme. Di bawah sana, ia langsung diserbu oleh kawanannya sendiri yang sudah menggila.

Setelah hampir satu jam pembantaian itu berlangsung, lautan perlahan kembali tenang. Cairan biru yang mengapung mulai mengendap. Tak ada lagi bayangan yang berputar-putar. Ribuan predator itu telah habis, saling memakan satu sama lain sampai hanya tersisa potongan-potongan daging tak bernyawa yang tenggelam ke dasar laut.

Dina ambruk ke pelukan Adit. Pendar biru di tubuhnya meredup, menyisakan kulit yang sangat pucat dan dingin.

"Sudah selesai..." bisik Dina. "Mereka... mereka sudah tidur semua."

Adit menatap ke sekeliling. Di cakrawala, semburat warna jingga mulai muncul. Fajar pertama setelah pelarian panjang mereka dari Pulau Seribu Hening. Mereka selamat. Tapi saat ia menatap teman-temannya, Bram yang berlumuran oli, Maya yang gemetar, dan Nadia yang menangis sambil memeluk Dina, ia tahu bahwa mereka yang selamat hanyalah raga. Jiwa mereka tertinggal di pulau itu, terkubur bersama teman-teman yang lain.

"Kita masih punya satu botol air mineral yang bersih," kata Adit dengan suara yang sangat mature dan tenang. "Kita bagi empat. Terus kita dayung ke arah matahari terbit. Di sana ada jalur kapal niaga."

•••



Other Stories
Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Pacar Sewaan

Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...

Kk

jjj ...

Dua Mata Saya ( Halusinada )

Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...

Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )

Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...

Download Titik & Koma