The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 27 | "Penumpang Di Ruang Gelap"

Suara deru mesin kapal Suka Maju terdengar tidak stabil, sesekali tersedak seolah ada pasir yang mengganjal di dalam pistonnya. Kapal nelayan itu perlahan meninggalkan bayang-bayang Pulau Seribu Hening yang kini tampak seperti gundukan hitam raksasa di tengah laut yang mulai bergolak. Di atas dek yang sempit, enam orang itu masih terjaga, tak ada satu pun yang berani memejamkan mata meski tubuh mereka sudah mencapai batas kepayahan.


Bab 27: Penumpang di Ruang Gelap


"Ris, lu yakin mesinnya tahan sampai kita dapet sinyal?" Adit bertanya sambil menyeka oli yang menempel di pipinya. Ia duduk di lantai dek, menyandarkan punggungnya pada tumpukan jaring nelayan yang berbau busuk.

Aris yang sedang memegang kemudi hanya bisa mengangkat bahu dengan raut wajah cemas. "Gue udah kuras tangkinya tadi, tapi gue nggak tau kondisi filternya, Dit. Kapal ini kayaknya udah lama nggak melaut. Gue cuma berharap businya nggak rongsok parah."

Di sudut lain, Bram sedang mencoba membetulkan radio panggil yang ada di kabin kecil kapal. Suara statis berderak-derak memenuhi ruangan. "Masih nihil. Nggak ada jawaban dari frekuensi darurat manapun. Laut ini kayak mati, nggak ada kapal besar lewat, nggak ada patroli, nggak ada apa-apa."

"Mungkin kita terlalu jauh masuk ke wilayah yang nggak terpetakan," sahut Maya pelan. Ia sedang duduk di dekat pintu kabin, memutar-mutar pisau lipatnya dengan tatapan kosong. "Lu tau kan apa kata penduduk di dermaga awal dulu? Jangan pernah lewat dari gugusan karang melintang. Dan kita... kita malah liburan di balik karang itu."

Nadia sedang sibuk memperhatikan Dina. Sejak mereka naik ke kapal, Dina tidak banyak bicara. Gadis itu hanya menatap ke arah belakang, ke arah pulau yang semakin mengecil. Namun, ada yang aneh dengan cara Dina bernapas. Napasnya berat dan berirama, seolah-olah ia sedang mendengarkan sebuah melodi yang tidak bisa didengar orang lain.

"Dina, minum dulu ya? Lu pucet banget," Nadia menyodorkan botol air mineral yang tinggal setengah.

Dina menoleh perlahan. Pupil matanya tampak sangat besar, hampir menutupi bagian warna cokelat matanya yang indah. "Nadia... lu ngerasa nggak kalau kapal ini jadi lebih berat?"

Nadia mengerutkan kening. "Berat? Maksud lu?"

"Langkahnya... Aku ngerasa kayak ada yang lagi jalan di bawah kapal kita," bisik Dina.

Mendengar itu, Adit langsung berdiri. Tangannya refleks meraih parang yang diletakkan di sampingnya. Ia memberi kode kepada Bram dan Aris untuk diam. Keheningan mendadak mencekam di atas Suka Maju. Di tengah suara deru mesin dan deburan ombak, ada suara lain yang muncul dari arah palka bawah, tempat penyimpanan es dan ikan hasil tangkapan.

Srak... srak... tek...

Itu bukan suara tikus. Itu suara kuku yang bergesekan dengan kayu jati yang keras.

"Bram, buka palkanya. Pelan-pelan," perintah Adit.
Bram mengangguk. Ia mengambil sebilah kayu besar sebagai pengungkit. Adit berdiri di sampingnya dengan parang siap diayunkan. Maya sudah mengokang senapan rakitannya, meski pelurunya sudah tidak ada, ia menggunakannya sebagai gertakan.

Saat pintu palka terbuka sedikit, bau busuk yang luar biasa menyengat keluar. Bukan bau ikan busuk, tapi bau sesuatu yang hangus dan amis.

GRRRRRRR...

Sesosok makhluk berukuran kecil, tidak lebih besar dari anjing pelacak, melesat keluar dari kegelapan palka. Ia bergerak sangat cepat, mencoba menerjang kaki Bram.

"AWAS!" Maya berteriak dan menghantamkan popor senapannya ke kepala makhluk itu.

Makhluk itu terjungkal di atas dek. Saat cahaya bulan mengenainya, mereka semua terperangah. Itu bukan predator dari pulau. Bentuknya lebih mirip... manusia yang sedang mengerut. Kulitnya transparan, memperlihatkan otot-otot yang berdenyut biru.

"Itu... itu nelayan yang di desa tadi?" bisik Aris dengan ngeri.

Ternyata, saat Sang Pemimpin mati, tidak semua anaknya langsung binasa. Ada beberapa yang sedang dalam tahap "inkubasi" di dalam tubuh inang manusia yang paling kuat. Nelayan malang ini rupanya sempat merangkak naik ke kapal saat mereka sibuk dengan api, dan di dalam palka, proses mutasinya selesai dengan cara yang cacat karena kehilangan pusat perintah.

"Dia nggak punya otak sehat lagi," ucap Adit melihat makhluk itu bergerak linglung. "Dia liar. Dia nggak cerdik kayak yang di pulau. Dia cuma lapar."

Makhluk itu kembali menyerang, kali ini dengan kecepatan yang luar biasa. Ia melompat ke dinding kabin, merayap di langit-langit, dan mencoba menjatuhkan diri ke arah Nadia.

Bram dengan sigap menangkap kaki makhluk itu di udara dan membantingnya ke lantai dek. Tanpa ragu, Adit menghujamkan parangnya tepat di jantung makhluk tersebut. Cairan biru menyembur, dan makhluk itu akhirnya diam setelah beberapa kali kejang.

Melihat mayat nelayan yang bermutasi itu, Nadia terduduk lemas. Ia teringat alasan sebenarnya kenapa ia ikut liburan ini. Ia baru saja kehilangan ayahnya karena malpraktik di sebuah rumah sakit besar. Nadia yang saat itu adalah mahasiswa kedokteran berprestasi, mendadak kehilangan kepercayaan pada sains. Ia merasa ilmu pengetahuan hanyalah alat yang dingin.

"Dunia ini nggak bisa dijelasin cuma pake buku, Nadia," pesan ayahnya sebelum meninggal.

Kini, di atas kapal Suka Maju, Nadia mengerti. Apa yang mereka hadapi bukanlah fenomena alam yang bisa dimasukkan ke laboratorium. Ini adalah misteri tentang kehidupan yang mencari jalan untuk terus ada, meskipun dengan cara yang paling mengerikan. Nadia mulai menyadari bahwa tugasnya bukan lagi menyembuhkan secara medis, tapi menjaga martabat teman-temannya agar tetap mati sebagai manusia, bukan sebagai monster.

"Kita nggak bisa terus-terusan begini," ucap Maya sambil membersihkan darah biru di bajunya. "Satu mati, mungkin masih ada yang lain. Kapal ini nggak aman."

"Tapi kita nggak punya pilihan, May! Kita di tengah laut!" bentak Aris yang mulai kehilangan kesabaran. "Lu mau berenang ke Jakarta?"

"Diem kalian berdua!" Adit menengahi dengan suara mature yang sangat berwibawa. "Kita bagi tugas. Aris, lu fokus ke mesin. Jangan biarin kapal ini mati. Bram, lu jaga di luar kabin, lapor kalau ada riak air yang aneh. Maya, Nadia, kalian jaga Dina di dalam kabin. Gue bakal periksa seluruh palka, gue mau pastiin nggak ada 'penumpang' lain di bawah sana."

"Sendirian, Dit? Bahaya," ucap Nadia khawatir.
Adit menatap Nadia dengan tatapan yang sangat dalam, penuh empati namun tak tergoyahkan.

"Kalau gue nggak ngelakuin ini, kita nggak bakal bisa tidur nyenyak. Dan kalau kita nggak tidur, kita bakal gila sebelum nyampe daratan."

Adit turun ke dalam kegelapan palka dengan hanya berbekal sebuah senter kecil yang cahayanya mulai meredup. Di bawah sana, di antara sisa-sisa es yang mencair, ia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan dari sekadar predator liar.

Ia menemukan tumpukan barang milik teman-temannya yang sudah mati di pulau. Tas Gilang, sepatu Lala, kacamata Rico. Semuanya terkumpul di sana, seolah-olah predator itu sengaja membawanya sebagai "kenang-kenangan" atau trofi kemenangan.

Adit terduduk di antara barang-barang itu. Untuk pertama kalinya sejak tragedi ini dimulai, ia menangis tanpa suara. Ia memeluk tas milik Gilang, sahabat karibnya sejak kecil. Pesan tersirat tentang kehilangan yang amat sangat memenuhi ruang palka yang sempit itu. Ia sadar, meskipun mereka selamat, mereka tidak akan pernah benar-benar kembali ke rumah sebagai orang yang sama.

Tiba-tiba, dari balik tumpukan jaring di pojok palka, terdengar suara bisikan kecil.

"Dit... tolong... dingin..."
Adit membeku. Suara itu... suara itu sangat mirip dengan suara Lala.

•••

Other Stories
Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Blind

Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...

Bu Guru Dan Mantan Murid

Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Aku Pulang

Raina tumbuh di keluarga rapuh, dipaksa kuat tanpa pernah diterima. Kemudian, hadir sosok ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Download Titik & Koma