The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 33 | "Napas Di Ujung Baja"

Guncangan hebat pada lambung MV Serayu membuat rak-rak di ruang medis bertumbangan. Suara besi yang beradu dan meliuk menciptakan kebisingan yang menyayat telinga, seolah kapal tanker raksasa ini hanyalah kaleng biskuit yang sedang diremas oleh tangan-tangan raksasa tak kasat mata. Cahaya senter yang diletakkan Adit di atas meja operasi berguling jatuh, menyorot ke arah genangan cairan biru yang mulai meluap dari celah-celah lantai.


Bab 33: Napas di Ujung Baja


"Semuanya, bangun! Jangan ada yang bengong!" teriak Adit. Ia mencengkeram kaki meja medis untuk menahan posisinya agar tidak terpelanting.

Aris tersedak, matanya terbuka sedikit, menampakkan pupil yang mengecil karena rasa sakit yang luar biasa. Bahunya yang melepuh terkena tetesan cairan biru dari plafon tadi kini mengeluarkan asap tipis yang berbau menyengat.

"Dit... jangan... jangan angkat gue dulu," rintih Aris. Suaranya sangat tipis, hampir seperti bisikan angin. "Kaki gue... kayaknya kejepit."

Bram langsung merangkak mendekati Aris, senternya menyorot ke bawah meja. Benar saja, lantai besi di ruang medis itu mulai terbelah karena tekanan dari lambung kapal di bawah sana, dan satu kaki Aris terjepit di antara dua lempeng baja yang perlahan-lahan merapat.

"Sial! Aris, tahan!" Bram mencoba memasukkan ujung linggis kecil yang ia temukan di tas alatnya untuk mengganjal celah itu. "May, bantu gue! Tarik pundaknya pas gue kasih aba-aba!"

Maya bergerak cepat, meski wajahnya pucat pasi. Ia memegang bahu Aris yang tidak terluka. "Ris, lu denger gue kan? Lu bilang mau dibeliin celana baru. Jangan mati sekarang, nanti gue beli daster buat lu kalau lu berisik!" ucap Maya, mencoba menyelipkan humor pahit di tengah drama yang menyesakkan itu.

Aris terkekeh lemah, darah merembes dari sudut bibirnya. "Daster... bunga-bunga ya, May... biar... anggun."

Di sisi lain ruangan, Nadia tidak lagi menangis. Ada ketenangan yang menakutkan di wajahnya. Ia melihat tabung oksigen berukuran besar yang tadi dibawa oleh sosok yang menyerupai Pak Darman. Ia juga melihat beberapa botol cairan alkohol murni dan tumpukan kain perban.

"Dit, kita nggak bisa cuma nunggu di sini sampai kapal ini hancur," kata Nadia dengan nada bicara yang sangat dewasa, jauh melampaui usianya yang baru dua puluh tiga tahun. "Predator-predator itu nggak ngerusak kapal ini secara acak. Mereka ngerusak jalur pembuangan dan saluran pendingin buat bikin suhu kapal ini naik. Mereka mau bikin 'sarang' yang panas."

Adit menoleh sambil terus memegangi kepala Aris. "Maksud lu, Nad?"

"Mereka makhluk yang suka panas, tapi mereka benci tekanan udara yang berubah mendadak," lanjut Nadia. Ia menunjuk tabung oksigen. "Kalau kita buka katup tabung ini dan arahin ke lubang di plafon, terus kita picu pake api dari alkohol Maya, kita bakal bikin ledakan balik yang bakal ngedorong mereka keluar dari saluran ventilasi."

"Tapi itu bakal ngebakar seluruh ruangan ini, Nad!" seru Bram yang masih berjuang dengan celah lantai.

"Makanya kita harus keluar sekarang! Bawa Aris keluar, biar gue yang jaga di sini buat mancing mereka makin deket ke lubang plafon," ucap Nadia mantap.

"Enggak! Gue nggak bakal ninggalin lu sendirian di sini!" bantah Adit tegas.

"Dit... Bram... dengerin gue," Aris bicara lebih jelas sekarang, matanya menatap langit-langit dengan tajam. "Kaki gue... udah nggak kerasa apa-apa. Gue rasa... syarafnya udah mati kena cairan biru itu."

"Jangan ngaco, Ris! Kita keluar bareng-bareng!" Bram terus menekan linggisnya, tapi lempeng baja itu terus merapat dengan kekuatan ribuan ton.

"Bram... liat gue," Aris memegang tangan Bram. Tatapan Aris sangat dalam, penuh empati. "Gue ini anak teknik. Gue tau bunyi besi yang mau patah. Kapal ini nggak bakal tahan lama. Kalau kalian terus di sini cuma buat nyelametin satu kaki gue... kita semua bakal mati."

"Nggak, Ris! Diem lu!" Maya mulai terisak, tangannya gemetar.

"May... lu pinter ngelukis kan? Lukis gue... pas lagi pake daster bunga-bunga tadi ya," Aris tersenyum sangat tulus. "Dit, bawa mereka pergi. Nadia bener soal tabung oksigen itu. Biar gue yang jaga katupnya. Gue yang paling deket sama tabung."

Nadia menatap Aris dengan pandangan yang hancur. Ia tahu apa yang direncanakan Aris. Sambil mempersiapkan sumbu api, Nadia menjelaskan secara mendetail satu hal lagi yang baru ia sadari tentang perbedaan Santi dan Tora, sebagai cara untuk menguatkan mental teman-temannya.

"Dit, May, Bram... dengerin. Kenapa Santi lama berubah? Karena dia punya 'keinginan' untuk melindungi rahasia cintanya pada Gilang sampai akhir. Emosinya fokus pada satu titik positif. Sedangkan Tora, dia fokus pada rasa sakit dan pengkhianatan yang dia rasa dari kita. Parasit itu... mereka adalah cermin. Mereka memantulkan apa yang paling dominan di hatimu."

Nadia mendekat ke Aris, mencium dahi sahabatnya itu. "Aris... lu punya cinta yang paling besar buat ibu lu. Lu punya tekad buat pulang demi dia. Itu yang bikin lu tetap sadar biarpun tubuh lu udah kena cairan mereka. Jangan biarin rasa sakit ini berubah jadi kebencian, Ris. Tetaplah jadi Aris yang lucu."

Aris mengangguk pelan. "Ibu... bilang... kalau mau mati, harus dalam keadaan senyum... biar malaikat nggak bingung."

Tiba-tiba, sesosok predator yang ukurannya jauh lebih besar, dengan tangan-tangan yang lebih panjang, menjulurkan kepalanya dari lubang plafon. Ia mengeluarkan suara desisan yang terdengar seperti ribuan serangga yang bergesekan. Lendir panas menetes tepat di atas meja medis.

"SEKARANG! PERGI!" raung Aris.

Adit, Bram, Maya, dan Nadia dipaksa mundur oleh semburan uap panas yang tiba-tiba keluar dari dinding. Mereka tidak punya pilihan. Pintu medis mulai tertutup secara otomatis karena sistem darurat kapal mendeteksi adanya kebocoran tekanan.

"ARIIIIIS!" teriak Maya, suaranya parau menembus celah pintu yang menutup.

Di dalam ruangan, Aris tinggal sendirian dengan makhluk itu. Ia tidak lagi merasa takut. Ia meraih katup tabung oksigen dengan tangan yang gemetar. Ia menatap ke arah lubang plafon, melihat mata predator yang penuh dengan rasa lapar yang tak berujung.

"Sini lu, bangsat... gue kasih liat... gimana cara mahasiswa teknik bikin kembang api," bisik Aris.
Ia memutar katup oksigen hingga maksimal. Suara desisan udara murni memenuhi ruangan. Predator itu melompat turun, menerjang ke arah Aris. Di saat yang bersamaan, Aris menyulut pemantik api yang ditinggalkan Maya.

WUUUUUUSSSSSSSSSHHHHHH!

Oksigen murni yang bertemu dengan percikan api dan sisa alkohol menciptakan ledakan flash-back yang luar biasa kuat. Di luar lorong, Adit dan yang lain terlempar ke dinding karena guncangan ledakan tersebut. Api menyembur dari celah pintu medis, membakar segala sesuatu di dalamnya.
Jeritan predator itu terdengar memekakkan telinga sebelum akhirnya hilang ditelan suara gemuruh ledakan kedua dari pipa uap yang ikut terpicu.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, suasana menjadi hening. Hanya ada suara alarm yang meredup dan bunyi rintik hujan dari atap dek yang bocor. Adit merangkak mendekati pintu medis yang kini sudah hangus dan tak bisa dibuka lagi.

Ia menempelkan keningnya ke besi yang masih panas itu. Tak ada suara dari dalam. Tak ada Aris. Tak ada predator.

Maya jatuh terduduk, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat. Bram berdiri mematung, menatap pintu itu dengan kemarahan yang tertahan. Nadia hanya bisa memeluk Dina, yang sejak tadi hanya diam dengan air mata yang terus mengalir deras.

Aris telah memberikan segalanya untuk memastikan mesin kapal berhenti menghancurkan diri mereka dan untuk menghabisi salah satu predator paling berbahaya di kapal itu.

"Dia... dia beneran pake daster bunga-bunga di sana," bisik Maya di tengah tangisnya, mencoba mengingat humor terakhir Aris.

Adit berdiri, ia menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya kini berubah menjadi sangat dingin dan tajam. "Kita nggak boleh berhenti. Aris udah buka jalan buat kita. Kita harus ke anjungan kapal. Kita harus ambil alih kemudi kapal ini secara manual dan arahkan ke daratan terdekat sebelum kawanan yang lain sadar apa yang terjadi."

Namun, saat mereka hendak melangkah, Dina tiba-tiba bicara. Suaranya terdengar sangat berat, bukan lagi suara gadis dua puluh tahun.

"Pemimpin mereka... dia tidak mati karena ledakan tadi. Dia justru sedang berterima kasih pada Aris. Ledakan itu... membebaskan ribuan 'jiwa' kecil yang terperangkap di dalam saraf predator-predator bawah. Sekarang, mereka semua sedang menuju ke satu arah: ruang kemudi."

•••

Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

Hanya Ibu

kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Desa Ria

Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Download Titik & Koma