BAB 30 | "Labirin Baja"
Gema langkah sepatu bot di atas dek besi kapal tanker MV Serayu terdengar seperti dentuman genderang perang yang diredam oleh rintik hujan. Struktur kapal ini sangat masif, sebuah labirin baja yang terdiri dari pipa-pipa raksasa, katup-katup berkarat, dan lorong sempit yang seolah menghimpit napas. Adit berdiri di tengah dek, membiarkan air hujan membasuh darah kering di wajahnya, namun matanya tetap tertuju pada Dina yang masih berdiri kaku di pagar kapal.
Bab 30: Labirin Baja
"Din, masuk ke dalam sekarang. Petugas keamanan sudah nyiapin ruangan medis buat kita," suara Adit terdengar serak, berusaha tetap tenang di tengah badai yang masih mengamuk.
Dina perlahan menoleh. Wajahnya yang pucat pasi terlihat kontras dengan latar belakang laut yang hitam pekat. "Dit... besi ini nggak sedingin yang lu kira. Besi ini punya detak jantung, dan mereka... mereka sekarang lagi ngerambat di atasnya."
Bram mendekat, memegang pundak Adit. "Dia syok, Dit. Biar gue yang bawa dia." Bram dengan lembut membimbing Dina menjauh dari tepian. Namun, saat mereka melangkah menuju pintu baja kabin utama, seorang mualim kapal bernama Pak Darman datang menghampiri dengan wajah cemas.
"Kalian harus ikut saya. Kapten ingin bicara, tapi sebelumnya, petugas medis kami harus memastikan kalian tidak membawa wabah atau sejenisnya. Luka-luka kalian... ini bukan kena karang, kan?" tanya Pak Darman sambil menyorotkan senter ke bahu Maya yang masih berdarah.
Maya mendengus, mencoba tetap terlihat tangguh meskipun tubuhnya gemetar. "Pak, kalau Bapak punya obat merah sama perban, itu jauh lebih berguna daripada pertanyaan Bapak. Kami baru saja lolos dari neraka, tolong jangan buat kami merasa sedang di kantor polisi."
Pak Darman terdiam, melihat kedewasaan dan ketajaman di mata Maya. Ia mengangguk pelan. "Maaf, Mbak. Ikut saya lewat lorong bawah, lebih aman dari angin."
Mereka masuk ke dalam perut kapal. Lorongnya sempit, diterangi lampu neon kuning yang berkedip-kedip. Suara mesin utama kapal yang berdentum di bawah lantai menciptakan getaran konstan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sambil berjalan di belakang, Aris tampak sangat waspada. Ia memperhatikan setiap sambungan pipa dan ventilasi udara. Aris bukan sekadar mahasiswa teknik yang pintar; ia tumbuh di lingkungan pelabuhan. Ayahnya adalah seorang tukang las kapal yang tewas terjebak di dalam tangki yang meledak. Sejak kecil, Aris sudah akrab dengan rasa takut akan ruang sempit dan gelap di dalam kapal.
"Ris, lu oke?" bisik Nadia yang menyadari napas Aris mulai tidak beraturan.
Aris mengangguk singkat, meskipun tangannya mencengkeram erat ranselnya yang sudah compang-camping. "Gue cuma nggak suka bau oli di sini, Nad. Bau ini... bau kematian buat gue."
Nadia menyentuh lengan Aris dengan empati yang dalam. "Kita sudah di kapal besar, Ris. Kita aman. Mereka nggak mungkin bisa naik setinggi ini."
Aris menatap Nadia, matanya memancarkan rasa terima kasih namun tetap penuh keraguan. "Nad, makhluk-makhluk itu... mereka bukan hewan. Mereka itu adaptasi murni. Kalau mereka bisa nemuin cara buat ternak manusia di pulau, mereka pasti tau cara manjat rantai jangkar atau masuk lewat saluran pembuangan air."
Tiba-tiba, Aris yang sedang diperiksa suhu tubuhnya oleh perawat kapal, mencoba memecah suasana yang terlalu berat itu.
"Mbak Perawat," panggil Aris dengan wajah serius. "Kalau nanti saya berubah jadi ganteng, tolong jangan disuntik mati ya. Difoto dulu, buat kenang-kenangan."
Perawat itu hanya menatap Aris dengan bingung, namun Maya langsung menyahut, "Ris, kalau lu berubah, yang pertama gue lakuin itu bukan foto lu, tapi mastiin lu dapet celana baru. Pantat lu masih keliatan itu dari sobekan tadi."
Ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari interkom ruangan medis, terdengar suara Kapten kapal yang berteriak panik.
"Semua petugas keamanan ke ruang mesin sekarang! Ada gangguan di katup tekanan utama! Sesuatu menyumbat saluran pendingin!"
Adit langsung berdiri, parangnya yang tadi sempat disita petugas kini ia rebut kembali dari atas meja. "Mereka sudah masuk," bisiknya.
"Nggak mungkin, Dit! Kita ada di tengah laut lepas sekarang!" seru Pak Darman yang baru saja kembali membawa air minum.
"Pak, buka cctv ruang mesin," perintah Adit dengan nada mature yang tak terbantahkan.
Saat Pak Darman menyalakan monitor di sudut ruangan, mereka semua terdiam. Di layar yang hitam putih dan bersemut itu, terlihat beberapa sosok bayangan ramping yang merayap di langit-langit ruang mesin. Mereka bukan predator besar yang mereka lawan di gudang garam. Ini adalah jenis yang lebih kecil, lebih licin, dan sepertinya... mereka bisa mengeluarkan semacam cairan yang melunakkan besi.
"Mereka bukan mau makan kru kapal," ucap Dina yang tiba-tiba bangun dari tempat tidurnya. Matanya kembali menggelap. "Mereka mau tenggelamkan kapal ini. Mereka mau kita semua kembali ke dasar laut bersama mereka."
Kapal tanker itu mulai miring ke kanan. Suara alarm tanda bahaya meraung-raung di seluruh lorong. Para kru kapal yang tidak tahu apa-apa mulai berlarian panik, justru menjadi mangsa empuk bagi predator yang bersembunyi di balik pipa-pipa uap panas.
"Kita nggak bisa lari lagi," tegas Adit. "Bram, lu jaga Nadia dan Dina di sini. Kunci pintunya dari dalam. Aris, ikut gue. Lu tau mesin kapal, gue tau cara bunuh mereka. Kita harus tutup katup manual sebelum mereka ngerusak mesin utamanya."
"Tapi Dit..." Nadia memegang tangan Adit.
"Nad, dengerin gue," Adit menatap Nadia dengan empati yang sangat dalam. "Kalau kapal ini meledak atau tenggelam, perjuangan kita di pulau kemarin sia-sia. Kita harus sampai ke daratan. Kita satu-satunya saksi kalau teman-teman kita pernah ada."
Aris mengambil sebuah kunci inggris raksasa yang ada di dinding. "Ayo, Dit. Gue nggak mau mati di kapal yang bau olinya lebih parah dari bengkel bokap gue."
Keduanya keluar menuju lorong yang kini dipenuhi uap panas. Kapal tanker raksasa ini sekarang menjadi medan perang baru. Mereka tidak lagi di hutan atau pantai, mereka berada di dalam perut monster baja yang sedang perlahan-lahan sekarat.
Setiap belokan lorong adalah misteri.
Setiap suara uap yang keluar dari pipa adalah ancaman. Adit dan Aris berjalan perlahan, saling membelakangi, siap menghadapi predator cerdas yang kini belajar menggunakan struktur kapal untuk menjebak mereka.
•••
Bab 30: Labirin Baja
"Din, masuk ke dalam sekarang. Petugas keamanan sudah nyiapin ruangan medis buat kita," suara Adit terdengar serak, berusaha tetap tenang di tengah badai yang masih mengamuk.
Dina perlahan menoleh. Wajahnya yang pucat pasi terlihat kontras dengan latar belakang laut yang hitam pekat. "Dit... besi ini nggak sedingin yang lu kira. Besi ini punya detak jantung, dan mereka... mereka sekarang lagi ngerambat di atasnya."
Bram mendekat, memegang pundak Adit. "Dia syok, Dit. Biar gue yang bawa dia." Bram dengan lembut membimbing Dina menjauh dari tepian. Namun, saat mereka melangkah menuju pintu baja kabin utama, seorang mualim kapal bernama Pak Darman datang menghampiri dengan wajah cemas.
"Kalian harus ikut saya. Kapten ingin bicara, tapi sebelumnya, petugas medis kami harus memastikan kalian tidak membawa wabah atau sejenisnya. Luka-luka kalian... ini bukan kena karang, kan?" tanya Pak Darman sambil menyorotkan senter ke bahu Maya yang masih berdarah.
Maya mendengus, mencoba tetap terlihat tangguh meskipun tubuhnya gemetar. "Pak, kalau Bapak punya obat merah sama perban, itu jauh lebih berguna daripada pertanyaan Bapak. Kami baru saja lolos dari neraka, tolong jangan buat kami merasa sedang di kantor polisi."
Pak Darman terdiam, melihat kedewasaan dan ketajaman di mata Maya. Ia mengangguk pelan. "Maaf, Mbak. Ikut saya lewat lorong bawah, lebih aman dari angin."
Mereka masuk ke dalam perut kapal. Lorongnya sempit, diterangi lampu neon kuning yang berkedip-kedip. Suara mesin utama kapal yang berdentum di bawah lantai menciptakan getaran konstan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sambil berjalan di belakang, Aris tampak sangat waspada. Ia memperhatikan setiap sambungan pipa dan ventilasi udara. Aris bukan sekadar mahasiswa teknik yang pintar; ia tumbuh di lingkungan pelabuhan. Ayahnya adalah seorang tukang las kapal yang tewas terjebak di dalam tangki yang meledak. Sejak kecil, Aris sudah akrab dengan rasa takut akan ruang sempit dan gelap di dalam kapal.
"Ris, lu oke?" bisik Nadia yang menyadari napas Aris mulai tidak beraturan.
Aris mengangguk singkat, meskipun tangannya mencengkeram erat ranselnya yang sudah compang-camping. "Gue cuma nggak suka bau oli di sini, Nad. Bau ini... bau kematian buat gue."
Nadia menyentuh lengan Aris dengan empati yang dalam. "Kita sudah di kapal besar, Ris. Kita aman. Mereka nggak mungkin bisa naik setinggi ini."
Aris menatap Nadia, matanya memancarkan rasa terima kasih namun tetap penuh keraguan. "Nad, makhluk-makhluk itu... mereka bukan hewan. Mereka itu adaptasi murni. Kalau mereka bisa nemuin cara buat ternak manusia di pulau, mereka pasti tau cara manjat rantai jangkar atau masuk lewat saluran pembuangan air."
Tiba-tiba, Aris yang sedang diperiksa suhu tubuhnya oleh perawat kapal, mencoba memecah suasana yang terlalu berat itu.
"Mbak Perawat," panggil Aris dengan wajah serius. "Kalau nanti saya berubah jadi ganteng, tolong jangan disuntik mati ya. Difoto dulu, buat kenang-kenangan."
Perawat itu hanya menatap Aris dengan bingung, namun Maya langsung menyahut, "Ris, kalau lu berubah, yang pertama gue lakuin itu bukan foto lu, tapi mastiin lu dapet celana baru. Pantat lu masih keliatan itu dari sobekan tadi."
Ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari interkom ruangan medis, terdengar suara Kapten kapal yang berteriak panik.
"Semua petugas keamanan ke ruang mesin sekarang! Ada gangguan di katup tekanan utama! Sesuatu menyumbat saluran pendingin!"
Adit langsung berdiri, parangnya yang tadi sempat disita petugas kini ia rebut kembali dari atas meja. "Mereka sudah masuk," bisiknya.
"Nggak mungkin, Dit! Kita ada di tengah laut lepas sekarang!" seru Pak Darman yang baru saja kembali membawa air minum.
"Pak, buka cctv ruang mesin," perintah Adit dengan nada mature yang tak terbantahkan.
Saat Pak Darman menyalakan monitor di sudut ruangan, mereka semua terdiam. Di layar yang hitam putih dan bersemut itu, terlihat beberapa sosok bayangan ramping yang merayap di langit-langit ruang mesin. Mereka bukan predator besar yang mereka lawan di gudang garam. Ini adalah jenis yang lebih kecil, lebih licin, dan sepertinya... mereka bisa mengeluarkan semacam cairan yang melunakkan besi.
"Mereka bukan mau makan kru kapal," ucap Dina yang tiba-tiba bangun dari tempat tidurnya. Matanya kembali menggelap. "Mereka mau tenggelamkan kapal ini. Mereka mau kita semua kembali ke dasar laut bersama mereka."
Kapal tanker itu mulai miring ke kanan. Suara alarm tanda bahaya meraung-raung di seluruh lorong. Para kru kapal yang tidak tahu apa-apa mulai berlarian panik, justru menjadi mangsa empuk bagi predator yang bersembunyi di balik pipa-pipa uap panas.
"Kita nggak bisa lari lagi," tegas Adit. "Bram, lu jaga Nadia dan Dina di sini. Kunci pintunya dari dalam. Aris, ikut gue. Lu tau mesin kapal, gue tau cara bunuh mereka. Kita harus tutup katup manual sebelum mereka ngerusak mesin utamanya."
"Tapi Dit..." Nadia memegang tangan Adit.
"Nad, dengerin gue," Adit menatap Nadia dengan empati yang sangat dalam. "Kalau kapal ini meledak atau tenggelam, perjuangan kita di pulau kemarin sia-sia. Kita harus sampai ke daratan. Kita satu-satunya saksi kalau teman-teman kita pernah ada."
Aris mengambil sebuah kunci inggris raksasa yang ada di dinding. "Ayo, Dit. Gue nggak mau mati di kapal yang bau olinya lebih parah dari bengkel bokap gue."
Keduanya keluar menuju lorong yang kini dipenuhi uap panas. Kapal tanker raksasa ini sekarang menjadi medan perang baru. Mereka tidak lagi di hutan atau pantai, mereka berada di dalam perut monster baja yang sedang perlahan-lahan sekarat.
Setiap belokan lorong adalah misteri.
Setiap suara uap yang keluar dari pipa adalah ancaman. Adit dan Aris berjalan perlahan, saling membelakangi, siap menghadapi predator cerdas yang kini belajar menggunakan struktur kapal untuk menjebak mereka.
•••
Other Stories
Bisikan Lada
Tiga pemuda nekat melanggar larangan sesepuh demi membuktikan mitos, namun justru mengalam ...
Kacamata Kematian
Arsyil Langit Ramadhan naksir berat sama cewek bernama Arshita Bintang Oktarina. Ia berpik ...
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...