The Last Escape

Reads
6K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 40 | "Perangkap Di Teluk Emas"

Cahaya lampu sorot dari mobil-mobil hitam di luar sana menghantam dinding kayu kamp pengasingan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara mereka berempat. Suara pintu mobil yang dibanting keras dan langkah sepatu bot yang menderap di atas pasir pantai terdengar seperti genderang perang. Di dalam ruangan, udara terasa semakin tipis, penuh dengan kecemasan yang mendidih namun tertahan oleh kedewasaan yang mereka pelajari secara paksa selama beberapa hari terakhir.


Bab 40: Perangkap di Teluk Emas


"Mereka nggak datang buat nolong kita, Dit. Mereka datang buat ngambil 'aset'," bisik Maya. Ia mencengkeram erat hulu parangnya yang masih berbekas noda biru kering. Wajahnya yang dulu selalu dipoles make-up mahal kini hanya berselimut debu dan keringat, namun matanya memancarkan sinar keberanian yang jauh lebih indah daripada perhiasan mana pun.

Adit berdiri di dekat jendela, mengintip melalui celah tirai yang kusam. "Ada sekitar sepuluh orang. Mereka bawa tas medis besar dan beberapa tabung gas tidur. Mereka mau ambil Dina pelan-pelan."

Bram mendekati Dina yang masih duduk bersimpuh. Ia meletakkan tangannya di bahu Dina yang terasa sedingin es. "Din, lu bisa denger gue? Gue butuh lu fokus. Lu bilang lu bisa ngerasain mereka, kan?"

Dina mendongak. Pupil biru neonnya berkilat di tengah kegelapan ruangan. "Aku bisa denger detak jantung mereka, Bram. Terlalu cepat. Mereka ketakutan. Mereka mikir aku ini monster yang bakal meledak kapan saja."

"Lu bukan monster, Din. Lu itu sahabat kita yang paling doyan jajan seblak di depan kampus," kata Bram dengan suara yang bergetar namun berusaha melucu. "Gue nggak bakal biarin mereka bawa lu ke tempat di mana lu cuma bakal jadi angka di atas kertas laporan."

Dina menatap tangannya yang kini mulai menunjukkan urat-urat berwarna biru samar. Ia teringat masa kecilnya di sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, sebelum pindah ke Jakarta. Ibunya adalah seorang wanita yang sangat sabar, yang selalu mengajarkannya bahwa "kekuatan terbesar manusia bukan pada ototnya, tapi pada kemampuannya untuk merasakan sakit orang lain."

Kini ia sadar, sifat itulah yang membuatnya terpilih atau mungkin dikutuk. Predator-predator itu adalah makhluk yang hidup dalam kesunyian tanpa emosi selama berabad-abad. Ketika mereka masuk ke dalam sistem saraf Dina, mereka tidak menemukan kemarahan seperti pada Tora, atau kepasrahan seperti pada Santi.

Mereka menemukan samudera empati yang luas.
"Dit," panggil Dina, suaranya kini terdengar lebih menyatu, meski masih ada gema yang aneh. "Pemimpin yang lama... dia ada di dalam kepalaku sekarang. Dia ngasih tahu aku gimana mereka dulu bisa ada di pulau itu. Mereka bukan alien dari langit, Dit. Mereka adalah orang-orang yang dibuang oleh peradaban ratusan tahun lalu karena dianggap pembawa kutukan, padahal mereka cuma orang-orang sakit yang memakan sesuatu di pulau itu untuk bertahan hidup, sampai akhirnya sesuatu itu mengubah mereka."

Penjelasan Dina mengalir lambat dan mendetail. Ia menceritakan bagaimana rasa lapar itu berawal dari kebutuhan fisik yang sederhana hingga menjadi kegilaan kolektif. "Mereka cuma pengen pulang, Dit. Tapi mereka lupa rumah itu di mana. Dan sekarang, mereka mikir rumah itu ada di dalam aku."

"Oke, dengerin," Adit memanggil mereka semua untuk mendekat. "Pak Hendra dan orang-orang pusat itu pake prosedur standar. Mereka bakal masuk pake gas tidur lewat ventilasi dulu sebelum dobrak pintu. Mereka pikir kita cuma anak kuliahan yang trauma dan nggak berdaya."

"Jadi?" tanya Nadia sambil menyiapkan kain basah untuk menutup hidung mereka.

"Kita bakal kasih mereka apa yang mereka mau. Dina, lu bisa nggak bikin pendar biru lu keliatan sangat terang dari luar jendela? Bikin mereka mikir kalau lu lagi 'meledak' atau nggak stabil. Itu bakal bikin mereka panik dan masuk tanpa persiapan matang," jelas Adit dengan otak cerdiknya yang selalu bisa melihat struktur di tengah kekacauan.

"Bram, lu sama Maya sembunyi di balik pintu atas. Pas mereka masuk, jangan serang mereka. Tapi tutup pintunya dan kunci dari luar. Biar mereka terjebak di dalam sini sama gas tidur mereka sendiri. Kita keluar lewat jendela belakang yang tadi bautnya udah gue longgarin."

"Terus Dina?" tanya Maya.

"Dina bakal bareng gue. Dia bakal pake kemampuan frekuensinya buat 'ngacauin' alat komunikasi mereka. Bikin suara denging di telinga mereka supaya mereka nggak bisa koordinasi," jawab Adit.

Saat rencana mulai dijalankan, Nadia menahan tangan Adit. Wajahnya yang mature tampak menyimpan keraguan yang sangat dalam.

"Dit, ada satu hal yang belum gue kasih tahu," bisik Nadia. "Cairan biru di tubuh Dina... itu terus berkembang. Kalau dia nggak dapet suhu yang stabil di daratan, dia bakal terus-terusan mancarin sinyal itu. Seluruh predator yang mungkin masih ada di hutan-hutan tersembunyi di sekitar teluk ini bakal ditarik ke sini."

Adit terdiam. Ia menatap ke arah hutan yang gelap di balik pagar kawat. "Artinya kita nggak cuma lari dari manusia, tapi kita lagi narik monster ke arah pemukiman?"

"Iya," jawab Nadia sedih. "Kecuali... Dina mau ngelakuin apa yang dilakuin pemimpin lama itu. Memutus sinyalnya secara permanen."

"Gimana caranya?" tanya Adit.

"Dia harus masuk ke air laut yang dingin banget, di kedalaman tertentu, supaya sistem syarafnya 'beku'. Itu bakal matiin parasitnya tanpa ngebunuh Dinanya... tapi risikonya, dia mungkin nggak bakal bangun lagi sebagai manusia biasa."

Percakapan ini sangat emosional. Mereka berempat terdiam, menyadari bahwa kemenangan mereka selalu menuntut harga yang lebih besar.

Sesuai dugaan, suara desisan gas mulai terdengar dari lubang ventilasi. Asap putih tipis merayap masuk. Adit dan Nadia segera memakai kain basah. Dina berdiri di tengah ruangan, punggungnya memancarkan cahaya biru yang sangat menyilaukan hingga menembus celah-celah dinding kayu.

"DIA SEDANG BERMUTASI! MASUK SEKARANG! AMANKAN SUBJEK!" teriak suara dari luar.
Pintu didobrak keras. Lima petugas dengan pakaian pelindung lengkap merangsek masuk dengan membawa jaring dan suntikan penenang.

Di saat mereka fokus pada cahaya dari tubuh Dina, Bram dan Maya melompat turun dari atap dengan gerakan yang sangat lincah, seperti macan yang selama ini tersembunyi.

Bram tidak memukul mereka, ia hanya menendang salah satu petugas hingga jatuh, sementara Maya menarik tuas pintu dan membantingnya hingga terkunci rapat dari luar menggunakan palang besi besar yang sudah mereka siapkan.

"SEKARANG! LEWAT JENDELA!" raung Adit.
Mereka berempat melompat keluar jendela belakang. Di dalam kamp, terdengar teriakan panik para petugas yang mulai menghirup gas tidur mereka sendiri dan kebingungan karena alat komunikasi mereka hanya mengeluarkan suara dengingan yang menyakitkan telinga akibat frekuensi dari Dina.

Saat mereka berlari menuju bibir pantai, bayangan Sang Pemimpin yang jatuh di karang seolah muncul kembali di ingatan Dina.

"Dia bilang... terima kasih," bisik Dina sambil berlari.

"Hah? Lagi?" tanya Adit heran.

"Iya. Karena dengan kita ngebawa dia ke karang kemarin, kita udah ngebuka jalan buat Dina jadi 'pemutus'. Dia bilang, kematian yang dia inginkan bukan cuma buat dia, tapi buat seluruh penderitaan jenis mereka. Dan dia tahu, cuma manusia yang punya 'otak cerdik' sekaligus 'hati yang dalam' yang bisa ngelakuin itu."

Dina berhenti tepat di tepi air laut yang dingin. Ia menoleh ke arah teman-temannya. Fajar mulai menyingsing, mewarnai langit dengan warna emas yang sangat megah.

"Hanya tiga orang yang boleh selamat," ucap Dina tiba-tiba dengan nada yang sangat tenang dan dewasa.

Adit, Bram, Maya, dan Nadia saling pandang. "Apa maksud lu, Din? Kita berempat di sini!" seru Bram.

"Nadia... kamu harus pergi bareng Bram dan Maya," kata Dina sambil menatap Nadia dengan kasih sayang yang murni. "Adit harus tinggal di sini sebentar sama aku. Dia arsiteknya, dia yang harus bantu aku buat nyusun 'bangunan terakhir' ini di bawah air."

Nadia mulai menangis. "Enggak, Din! Gue dokter lu! Gue nggak bakal ninggalin pasien gue!"

"Nad, dengerin," Dina memegang pipi Nadia. "Lu udah nyelametin raga kita berkali-kali. Sekarang, biarin gue nyelametin jiwa tempat ini. Bawa Bram dan Maya ke perahu kecil di ujung teluk itu. Jangan menoleh ke belakang."

Nadia, Bram, dan Maya akhirnya terpaksa pergi, didorong oleh ketegasan Adit yang luar biasa. Mereka melihat dari kejauhan bagaimana Adit menuntun Dina masuk ke dalam air laut yang tenang namun dingin di Teluk Emas.

Cahaya biru di punggung Dina perlahan meredup saat ia tenggelam lebih dalam, sementara Adit memegang tangannya erat-erat, seolah-olah ia sedang menuntun sahabatnya pulang ke rumah yang sebenarnya.

•••

Other Stories
Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

KEDUNG

aku adalah dia yang tertutup ...

Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Download Titik & Koma