BAB 26 | "Sisa-sisa Matahari"
Asap hitam yang membubung dari gudang garam yang runtuh itu perlahan menipis, digantikan oleh semburat jingga keunguan dari matahari yang mulai merayap naik di ufuk timur. Namun, cahaya fajar yang biasanya melambangkan harapan, kali ini terasa seperti lampu sorot panggung yang menyingkap sisa-sisa kehancuran. Enam pasang kaki masih berpijak di atas pasir pantai yang kini menghitam, namun jiwa mereka seolah-olah tertinggal di dalam kobaran api tadi.
Bab 26: Sisa-Sisa Matahari Pertama
"Sudah... benar-benar selesai?" suara Aris memecah kesunyian yang mencekam. Ia terduduk di atas pasir, kedua tangannya yang penuh luka bakar ringan diletakkan di atas lutut. Ia menatap tumpukan kayu jati tua yang masih mengeluarkan bara merah.
Adit tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung, menatap garis laut. Di kejauhan, sirip-sirip hitam yang tadinya bergerak lincah kini mengapung diam.
Benar apa yang mereka rasakan, kematian Sang Pemimpin telah memutus rantai kehidupan kawanan itu. Predator-predator kecil yang tadinya memiliki kecerdasan kolektif itu kini hanyalah onggokan daging tak bernyawa yang perlahan hanyut dibawa arus.
"Jangan pernah berpikir ini selesai sebelum kita benar-benar keluar dari sini, Ris," jawab Adit pelan. Suaranya berat, ada kelelahan yang begitu matang di sana. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang lain.
Bram sedang membantu Nadia membersihkan luka di kaki Maya. Di sudut lain, Dina masih berdiri tegak, matanya tidak berkedip menatap matahari. Perubahan pada Dina adalah hal yang paling mengkhawatirkan. Meskipun predator pusat sudah mati, sisa-sisa "hubungan" itu sepertinya telah meninggalkan jejak permanen pada diri Dina.
"May, tahan sedikit ya. Ini bakal perih banget," bisik Nadia sambil menuangkan sisa air bersih terakhir ke luka robek di paha Maya.
Maya meringis, namun tidak ada air mata yang keluar. Ia justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dewasa dan pahit. "Perih ini nggak ada apa-apanya dibanding liat nasib Gilang sama Tora... Lu tau nggak, Nad? Gue tadinya mikir bakal mati di Jakarta karena stres ngerjain skripsi. Ternyata dunia punya rencana yang lebih gila buat gue, buat kita."
Nadia berhenti sejenak, menatap Maya dengan empati yang dalam. "Kita semua pasti mikir gitu. Kita datang ke sini buat lari dari kenyataan, tapi malah kenyataan yang paling jujur yang nemuin kita. Di sini nggak ada yang namanya kemunafikan lagi, May."
Bram yang duduk di dekat mereka ikut bersuara. "Gue belajar satu hal semalam. Manusia itu sebenernya nggak takut mati. Kita cuma takut dilupakan. Sang Pemimpin itu... dia nggak takut sama api kita. Dia cuma takut kalau dia mati, nggak ada yang bakal inget kalau dia pernah ada."
Percakapan mereka mengalir sangat lambat. Di sela-sela rasa sakit, mereka mulai membicarakan hal-hal yang selama ini mereka simpan rapat. Tentang ketakutan masa depan, tentang orang tua mereka yang menunggu di rumah, dan tentang bagaimana mereka akan menjelaskan semua ini kepada dunia, jika mereka benar-benar bisa pulang.
Adit duduk agak menjauh, memandang ke arah hutan bakau. Ia teringat masa kecilnya saat ia sering diajak kakeknya berburu di hutan Kalimantan. Kakeknya selalu bilang, "Dit, predator yang paling berbahaya bukan yang punya taring paling panjang, tapi yang punya kesabaran paling lama."
Adit kini mengerti. Sang Pemimpin Predator telah menunggu berabad-abad hanya untuk momen semalam. Dan Adit, dengan segala kecerdikannya, telah menjadi "partner" yang diinginkan makhluk itu. Namun, ada beban berat di pundak Adit. Sebagai pemimpin kelompok, ia merasa gagal karena kehilangan hampir sepuluh temannya.
"Dit, jangan nyalahin diri sendiri terus," Dina tiba-tiba bicara. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah ia bisa membaca pikiran Adit.
Adit tersentak. "Din? Lu oke?"
Dina menoleh pelan. Pupil matanya yang hitam pekat mulai menunjukkan bintik-bintik cahaya asli kembali, namun ada sesuatu yang berbeda. "Gue denger semuanya, Dit. Bukan cuma suara kalian, tapi suara pulau ini. Pulau ini lagi napas lega sekarang. Bebannya sudah diangkat."
Di bab ini, pembaca mulai diajak memahami secara mendalam lewat dialog Adit dan Nadia tentang mengapa predator ini memiliki kecerdasan yang hampir menyamai manusia. Mereka bukan sekadar hewan liar. Mereka adalah organisme yang berevolusi dengan cara menyerap ingatan dari setiap mangsa yang mereka makan.
"Pantesan mereka tahu cara nunggu kita di gudang bensin," gumam Aris. "Mereka udah makan nelayan-nelayan di sini. Mereka tahu fungsi bensin, mereka tahu cara kerja pintu. Mereka belajar dari kita."
"Dan Sang Pemimpin," sambung Nadia, "dia mungkin sudah makan ribuan orang selama ratusan tahun. Bayangin berapa banyak pengetahuan dan perasaan yang dia simpan di otaknya. Dia bukan cuma sekedar monster, Ris. Dia adalah perpustakaan rasa sakit yang berjalan."
Itulah alasan kenapa Santi berubah sangat lambat dibanding Tora. Santi digigit saat ia sedang dalam kondisi tenang (pingsan), sehingga metabolisme tubuhnya rendah. Sementara Tora digigit saat ia sedang berjuang (fight-or-flight), yang membuat darahnya terpompa cepat ke seluruh tubuh, menyebarkan racun lebih instan. Namun, ada faktor psikologis juga: Tora memiliki rasa dendam yang besar, dan predator itu menyukai energi negatif tersebut untuk mempercepat mutasi.
"Kita harus cari cara buat pergi dari sini," ucap Bram sambil berdiri, mencoba menstabilkan kakinya yang gemetar. "Kapal motor nelayan di dermaga sebelah barat kayaknya masih utuh. Aris, lu bisa cek mesinnya?"
Aris mengangguk ragu. "Gue bakal coba. Tapi kita butuh bahan bakar. Yang di gudang tadi sudah habis terbakar."
"Ada cadangan di bawah kolong rumah panggung yang di ujung," kata Dina tiba-tiba. Ia menunjuk ke sebuah rumah yang paling jauh dari api. "Gue 'liat' nelayan itu naruh tiga jeriken di sana."
Maya menatap Dina dengan curiga, namun Adit memberikan kode untuk tidak memperpanjang masalah itu. Apapun yang terjadi pada Dina sekarang, dia adalah satu-satunya navigasi mereka.
Mereka mulai berjalan menyusuri desa yang hancur itu. Setiap langkah terasa berat. Bau daging terbakar masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma amis laut. Mereka melewati rumah panggung tempat nelayan yang dijadikan "ternak" tadi berada. Rumah itu sudah kosong; para nelayan malang itu sepertinya sudah mati bersamaan dengan Sang Pemimpin karena koneksi saraf mereka yang sudah menyatu.
"Jangan liat ke dalem, Nad," ucap Adit sambil memegang tangan Nadia saat mereka melewati jendela yang terbuka.
Humor tipis muncul dari Aris saat mereka sampai di kapal motor. Kapal itu bernama 'Suka Maju'.
"Namanya doang Suka Maju, tapi kayak barang rongsok ya?" canda Aris hambar.
"Yang penting mesinnya nyala, Ris. Kalau nggak, lu yang gue suruh berenang narik kapal ini sampai ke Jawa, gimana?" sahut Maya, yang mulai kembali ke sifat aslinya yang sarkastik.
Tawa kecil pecah di antara mereka. Sebuah tawa yang mahal, yang menunjukkan bahwa meski mereka hancur secara fisik dan mental, esensi mereka sebagai manusia, kemampuan untuk menemukan kegembiraan di tengah penderitaan, tetap tidak bisa dimangsa oleh predator manapun.
Namun, di balik tawa itu, Adit menyadari satu hal. Langit mulai mendung kembali. Laut yang tadinya tenang, mulai menunjukkan riak-riak besar yang tidak wajar. Apakah benar seluruh kawanan sudah mati? Atau Sang Pemimpin sengaja "memberkati" mereka dengan kemenangan semu sebelum ujian yang sesungguhnya datang saat mereka berada di tengah samudra nanti?
"Dit, ayo naik," panggil Bram dari atas kapal.
Adit menatap pulau Seribu Hening untuk terakhir kalinya. Ia melihat sosok bayangan Lala, Gilang, dan teman-temannya yang lain seolah berdiri di pinggir pantai, melambaikan tangan sebagai perpisahan.
"Selamat tinggal, temen-temen. Kita bakal bawa cerita kalian pulang ke Jakarta" bisik Adit.
Kapal motor itu akhirnya menderu, membelah air laut yang gelap, meninggalkan pulau misteri itu di belakang. Namun, di dalam kabin kapal, Dina duduk menyendiri, tangannya mengelus permukaan air laut yang merembes masuk, dan ia berbisik pada dirinya sendiri, "Ini baru permulaan..."
•••
Bab 26: Sisa-Sisa Matahari Pertama
"Sudah... benar-benar selesai?" suara Aris memecah kesunyian yang mencekam. Ia terduduk di atas pasir, kedua tangannya yang penuh luka bakar ringan diletakkan di atas lutut. Ia menatap tumpukan kayu jati tua yang masih mengeluarkan bara merah.
Adit tidak langsung menjawab. Ia berdiri mematung, menatap garis laut. Di kejauhan, sirip-sirip hitam yang tadinya bergerak lincah kini mengapung diam.
Benar apa yang mereka rasakan, kematian Sang Pemimpin telah memutus rantai kehidupan kawanan itu. Predator-predator kecil yang tadinya memiliki kecerdasan kolektif itu kini hanyalah onggokan daging tak bernyawa yang perlahan hanyut dibawa arus.
"Jangan pernah berpikir ini selesai sebelum kita benar-benar keluar dari sini, Ris," jawab Adit pelan. Suaranya berat, ada kelelahan yang begitu matang di sana. Ia menoleh ke arah teman-temannya yang lain.
Bram sedang membantu Nadia membersihkan luka di kaki Maya. Di sudut lain, Dina masih berdiri tegak, matanya tidak berkedip menatap matahari. Perubahan pada Dina adalah hal yang paling mengkhawatirkan. Meskipun predator pusat sudah mati, sisa-sisa "hubungan" itu sepertinya telah meninggalkan jejak permanen pada diri Dina.
"May, tahan sedikit ya. Ini bakal perih banget," bisik Nadia sambil menuangkan sisa air bersih terakhir ke luka robek di paha Maya.
Maya meringis, namun tidak ada air mata yang keluar. Ia justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dewasa dan pahit. "Perih ini nggak ada apa-apanya dibanding liat nasib Gilang sama Tora... Lu tau nggak, Nad? Gue tadinya mikir bakal mati di Jakarta karena stres ngerjain skripsi. Ternyata dunia punya rencana yang lebih gila buat gue, buat kita."
Nadia berhenti sejenak, menatap Maya dengan empati yang dalam. "Kita semua pasti mikir gitu. Kita datang ke sini buat lari dari kenyataan, tapi malah kenyataan yang paling jujur yang nemuin kita. Di sini nggak ada yang namanya kemunafikan lagi, May."
Bram yang duduk di dekat mereka ikut bersuara. "Gue belajar satu hal semalam. Manusia itu sebenernya nggak takut mati. Kita cuma takut dilupakan. Sang Pemimpin itu... dia nggak takut sama api kita. Dia cuma takut kalau dia mati, nggak ada yang bakal inget kalau dia pernah ada."
Percakapan mereka mengalir sangat lambat. Di sela-sela rasa sakit, mereka mulai membicarakan hal-hal yang selama ini mereka simpan rapat. Tentang ketakutan masa depan, tentang orang tua mereka yang menunggu di rumah, dan tentang bagaimana mereka akan menjelaskan semua ini kepada dunia, jika mereka benar-benar bisa pulang.
Adit duduk agak menjauh, memandang ke arah hutan bakau. Ia teringat masa kecilnya saat ia sering diajak kakeknya berburu di hutan Kalimantan. Kakeknya selalu bilang, "Dit, predator yang paling berbahaya bukan yang punya taring paling panjang, tapi yang punya kesabaran paling lama."
Adit kini mengerti. Sang Pemimpin Predator telah menunggu berabad-abad hanya untuk momen semalam. Dan Adit, dengan segala kecerdikannya, telah menjadi "partner" yang diinginkan makhluk itu. Namun, ada beban berat di pundak Adit. Sebagai pemimpin kelompok, ia merasa gagal karena kehilangan hampir sepuluh temannya.
"Dit, jangan nyalahin diri sendiri terus," Dina tiba-tiba bicara. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah ia bisa membaca pikiran Adit.
Adit tersentak. "Din? Lu oke?"
Dina menoleh pelan. Pupil matanya yang hitam pekat mulai menunjukkan bintik-bintik cahaya asli kembali, namun ada sesuatu yang berbeda. "Gue denger semuanya, Dit. Bukan cuma suara kalian, tapi suara pulau ini. Pulau ini lagi napas lega sekarang. Bebannya sudah diangkat."
Di bab ini, pembaca mulai diajak memahami secara mendalam lewat dialog Adit dan Nadia tentang mengapa predator ini memiliki kecerdasan yang hampir menyamai manusia. Mereka bukan sekadar hewan liar. Mereka adalah organisme yang berevolusi dengan cara menyerap ingatan dari setiap mangsa yang mereka makan.
"Pantesan mereka tahu cara nunggu kita di gudang bensin," gumam Aris. "Mereka udah makan nelayan-nelayan di sini. Mereka tahu fungsi bensin, mereka tahu cara kerja pintu. Mereka belajar dari kita."
"Dan Sang Pemimpin," sambung Nadia, "dia mungkin sudah makan ribuan orang selama ratusan tahun. Bayangin berapa banyak pengetahuan dan perasaan yang dia simpan di otaknya. Dia bukan cuma sekedar monster, Ris. Dia adalah perpustakaan rasa sakit yang berjalan."
Itulah alasan kenapa Santi berubah sangat lambat dibanding Tora. Santi digigit saat ia sedang dalam kondisi tenang (pingsan), sehingga metabolisme tubuhnya rendah. Sementara Tora digigit saat ia sedang berjuang (fight-or-flight), yang membuat darahnya terpompa cepat ke seluruh tubuh, menyebarkan racun lebih instan. Namun, ada faktor psikologis juga: Tora memiliki rasa dendam yang besar, dan predator itu menyukai energi negatif tersebut untuk mempercepat mutasi.
"Kita harus cari cara buat pergi dari sini," ucap Bram sambil berdiri, mencoba menstabilkan kakinya yang gemetar. "Kapal motor nelayan di dermaga sebelah barat kayaknya masih utuh. Aris, lu bisa cek mesinnya?"
Aris mengangguk ragu. "Gue bakal coba. Tapi kita butuh bahan bakar. Yang di gudang tadi sudah habis terbakar."
"Ada cadangan di bawah kolong rumah panggung yang di ujung," kata Dina tiba-tiba. Ia menunjuk ke sebuah rumah yang paling jauh dari api. "Gue 'liat' nelayan itu naruh tiga jeriken di sana."
Maya menatap Dina dengan curiga, namun Adit memberikan kode untuk tidak memperpanjang masalah itu. Apapun yang terjadi pada Dina sekarang, dia adalah satu-satunya navigasi mereka.
Mereka mulai berjalan menyusuri desa yang hancur itu. Setiap langkah terasa berat. Bau daging terbakar masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma amis laut. Mereka melewati rumah panggung tempat nelayan yang dijadikan "ternak" tadi berada. Rumah itu sudah kosong; para nelayan malang itu sepertinya sudah mati bersamaan dengan Sang Pemimpin karena koneksi saraf mereka yang sudah menyatu.
"Jangan liat ke dalem, Nad," ucap Adit sambil memegang tangan Nadia saat mereka melewati jendela yang terbuka.
Humor tipis muncul dari Aris saat mereka sampai di kapal motor. Kapal itu bernama 'Suka Maju'.
"Namanya doang Suka Maju, tapi kayak barang rongsok ya?" canda Aris hambar.
"Yang penting mesinnya nyala, Ris. Kalau nggak, lu yang gue suruh berenang narik kapal ini sampai ke Jawa, gimana?" sahut Maya, yang mulai kembali ke sifat aslinya yang sarkastik.
Tawa kecil pecah di antara mereka. Sebuah tawa yang mahal, yang menunjukkan bahwa meski mereka hancur secara fisik dan mental, esensi mereka sebagai manusia, kemampuan untuk menemukan kegembiraan di tengah penderitaan, tetap tidak bisa dimangsa oleh predator manapun.
Namun, di balik tawa itu, Adit menyadari satu hal. Langit mulai mendung kembali. Laut yang tadinya tenang, mulai menunjukkan riak-riak besar yang tidak wajar. Apakah benar seluruh kawanan sudah mati? Atau Sang Pemimpin sengaja "memberkati" mereka dengan kemenangan semu sebelum ujian yang sesungguhnya datang saat mereka berada di tengah samudra nanti?
"Dit, ayo naik," panggil Bram dari atas kapal.
Adit menatap pulau Seribu Hening untuk terakhir kalinya. Ia melihat sosok bayangan Lala, Gilang, dan teman-temannya yang lain seolah berdiri di pinggir pantai, melambaikan tangan sebagai perpisahan.
"Selamat tinggal, temen-temen. Kita bakal bawa cerita kalian pulang ke Jakarta" bisik Adit.
Kapal motor itu akhirnya menderu, membelah air laut yang gelap, meninggalkan pulau misteri itu di belakang. Namun, di dalam kabin kapal, Dina duduk menyendiri, tangannya mengelus permukaan air laut yang merembes masuk, dan ia berbisik pada dirinya sendiri, "Ini baru permulaan..."
•••
Other Stories
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...
Bagaimana Jika Aku Bahagia
Sebuah opini yang kalian akan sadari bahwa memilih untuk tidak bahagia bukan berarti hancu ...
Dari Luka Menjadi Cahaya
Azzam adalah seorang pemuda sederhana dengan mimpi besar. Ia percaya bahwa cinta dan kerja ...
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...