The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 32 | "Hidangan Terakhir"

Bau obat-obatan yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan uap minyak dari sisa-sisa badai yang masih mengendap di baju mereka. Ruang medis kapal tanker MV Serayu kini berubah menjadi benteng terakhir yang penuh sesak oleh emosi yang tertahan. Aris terbaring di atas meja operasi logam yang dingin, napasnya tersengal, pendek-pendek, dan berat. Kulit wajahnya yang melepuh mulai mengeluarkan cairan bening, sebuah pemandangan yang membuat Nadia, yang biasanya paling tegar dengan urusan medis, harus berkali-kali menelan ludah untuk menahan mual dan tangis.


Bab 32: Hidangan Terakhir


"Adit, pegang tangannya. Bram, lu tahan bahunya. Gue harus bersihin sisa uap yang masuk ke pori-porinya sekarang atau dia bakal kena infeksi jaringan dalam," perintah Nadia. Suaranya bergetar, namun ada otoritas yang lahir dari kasih sayang seorang sahabat.

Adit menggenggam tangan Aris yang tidak terluka. Tangan itu terasa panas, seperti memegang bongkahan arang yang masih menyala. "Ris, denger gue. Lu udah berhasil tutup katup itu. Lu pahlawan kita hari ini. Jangan menyerah sekarang, oke? Kita dikit lagi sampe, Ris."

Aris mencoba tersenyum, tapi hanya sudut bibirnya yang bisa bergerak sedikit. "Pahlawan... pantat gue sobek, Dit. Mana ada pahlawan... yang kalau jalan... anginnya masuk ke mana-mana," bisik Aris lemah, mencoba melontarkan humor terakhirnya untuk meringankan beban di hati teman-temannya.

Maya yang berdiri di dekat lemari obat mendengus, air mata jatuh ke pipinya tanpa ia sadari. "Lu emang bego, Ris. Masih sempet-sempetnya ngomongin pantat. Kalau lu selamat, gue janji bakal beliin lu celana paling mahal se-Jakarta. Yang nggak bakal sobek biarpun lu kena uap naga sekalipun."

"Janji ya... May..." gumam Aris sebelum matanya perlahan menutup.

Nadia segera bekerja. Dengan peralatan seadanya, kapas, cairan pembersih, dan salep antibiotik yang stoknya mulai menipis, ia mulai membersihkan luka Aris. Setiap kali kapas itu menyentuh kulit yang mengelupas, tubuh Aris tersentak kecil, sebuah gerakan refleks yang mengirimkan rasa sakit ke hati semua orang yang melihatnya.

Saat Nadia sedang fokus, Bram menarik Adit ke sudut ruangan. Wajah Bram terlihat sangat gelap, penuh tekanan yang hampir mencapai titik didih.
"Dit, kita punya masalah baru," bisik Bram. Ia menunjuk ke arah galon air di pojok ruangan dan tumpukan kotak makanan darurat yang dibawa kru kapal tadi. "Gue barusan cek gudang logistik sama koki kapal sebelum pintu ditutup. Airnya berubah warna jadi kebiruan. Semuanya."

Adit membelalak. "Lendir mereka? Gimana bisa masuk ke sistem air kapal ini?"

"Kayaknya pas mereka nyumbat saluran pendingin di ruang mesin tadi, mereka juga ngerusak pipa tangki air tawar. Mereka cerdas, Dit. Mereka nggak cuma ngerusak mesin, mereka mau ngeracunin kita pelan-pelan supaya pertahanan kita lemah," jelas Bram. Suaranya terdengar sangat dewasa, penuh analisis yang pahit.

"Artinya... kita nggak punya air minum yang bersih?" tanya Maya yang rupanya menguping pembicaraan mereka.

Bram menggeleng pelan. "Tinggal botol-botol kecil yang kita bawa dari pulau. Itu pun nggak bakal cukup buat kita berenam, apalagi buat bersihin luka Aris dan kondisi Dina yang makin aneh."

Adit mengepalkan tinjunya ke dinding besi. "Mereka mainin kita. Mereka mau kita mati haus di atas kapal yang dikelilingi laut."

"Laper..." gumam Aris yang tiba-tiba sadar kembali. Suaranya terdengar lebih tenang sekarang, meskipun matanya masih bengkak.

Adit tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan empati yang hancur. Ia mengambil satu pak biskuit terakhir yang ia tahu masih bersih karena terbungkus plastik kedap udara. Ia membagi-bagi biskuit itu menjadi enam bagian kecil.

"Ayo, makan. Ini hidangan kita," kata Adit.
Mereka duduk melingkar di lantai ruang medis yang dingin. Tak ada meja mewah, tak ada pemandangan pantai yang indah seperti di awal liburan mereka. Hanya ada dinding besi, suara alarm yang masih berbunyi di kejauhan, dan bau darah.

"Gue inget pas hari pertama di Pulau Seribu Hening," kata Maya tiba-tiba, sambil mengunyah biskuitnya pelan. "Rico masak ikan bakar yang bumbunya kebanyakan garem. Kita semua komplain, tapi sekarang... gue rela ngelakuin apa aja buat makan ikan asin buatan Rico lagi."

"Gue kangen suara ketawa Gilang yang kayak suara knalpot rusak," sambung Bram.

"Gue kangen Lala yang selalu ribet nanyain outfit mana yang bagus buat difoto," Nadia menambahkan, air matanya jatuh ke atas biskuitnya.

Mereka mulai membicarakan teman-teman mereka yang sudah gugur satu per satu. Bukan dengan rasa takut, tapi dengan rasa sayang yang mendalam. Mereka menceritakan detail kecil: kebiasaan buruk, hobi aneh, sampai impian-impian yang kini hanya tinggal kenangan.

Percakapan ini sangat lambat, sangat emosional, dan penuh dengan kedewasaan. Mereka tidak lagi menangisi kematian sebagai akhir, tapi merayakan kehidupan teman-teman mereka sebagai alasan untuk tetap bertahan.

"Kita harus selamat," ucap Adit tegas. "Bukan cuma buat diri kita sendiri, tapi buat bawa nama mereka pulang. Supaya orang tahu kalau mereka nggak cuma mati sia-sia di tempat antah-berantah ini. Mereka melawan. Mereka hebat."

Tiba-tiba, lampu di ruang medis berkedip hebat sebelum akhirnya padam sepenuhnya. Keadaan menjadi gelap gulita. Hanya ada cahaya dari beberapa senter kecil yang mulai meredup.

Srak... srak... srak...

Suara itu terdengar lagi. Kali ini bukan dari luar pintu, tapi dari dalam plafon ruangan.
"Dina, lu ngerasa sesuatu?" tanya Adit waspada.
Dina berdiri perlahan. Ia tidak menoleh ke atas, tapi ia menempelkan telinganya ke dinding besi.

"Mereka nggak butuh air tawar lagi," bisik Dina. "Mereka udah belajar cara minum minyak kapal ini. Mereka... mereka lagi ngerubah metabolisme mereka buat jadi lebih panas, sebanding sama mesin kapal ini."

Tiba-tiba, sepotong bagian plafon jatuh menimpa meja operasi. Dari atas lubang itu, tidak ada monster yang melompat turun. Hanya ada tetesan cairan biru yang sangat kental dan panas, yang mulai membakar permukaan meja logam.

"Mereka mau ngelelehkan ruangan ini," ucap Adit. "Mereka tahu kita ada di sini."

Kapal MV Serayu mendadak berguncang hebat. Bukan karena ombak, tapi karena ada sesuatu yang sangat besar di bawah sana yang sedang mencoba 'memeluk' lambung kapal tanker itu. Suara logam yang tertekuk mulai terdengar dari arah bawah lantai mereka.

"Adit... kapal ini rasanya kayakmau diremes..." isak Nadia.

"Enggak," Adit meraih parangnya. "Bram, Maya, siapin semua alkohol dan oksigen yang tersisa. Kita nggak bakal nunggu mereka masuk. Kita yang bakal keluar dan bakar jalur mereka. Kita bakal tunjukkin kalau otak manusia jauh lebih licin daripada lendir mereka!"

Adit yang berdiri di depan pintu, menatap kegelapan lorong dengan api di matanya. Mereka tahu, ini adalah awal dari babak terakhir mereka di kapal ini. Mereka tidak akan pindah tempat, mereka akan menjadikan raksasa besi ini sebagai kuburan bagi para predator, atau menjadi peti mati bagi mereka sendiri.

•••

Other Stories
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )

(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...

Turut Berduka Cinta

Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...

Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Cinta Di Ibukota

Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Download Titik & Koma