BAB 36 | "Sinyal Di Tengah Sunyi"
Sekoci penyelamat itu terombang-ambing seperti kulit kacang di tengah hamparan samudera yang masih menyimpan sisa amarah badai. Di kejauhan, siluet kapal tanker MV Serayu tampak seperti raksasa yang sedang berlutut, perlahan-lahan tenggelam ke dalam pelukan karang hitam. Suara logam yang beradu dan ledakan kecil di kejauhan terdengar seperti ratapan perpisahan. Adit, Bram, Maya, dan Nadia duduk membeku di dalam sekoci, napas mereka mengeluarkan uap di udara malam yang dinginnya menembus tulang.
Bab 36: Sinyal di Tengah Sunyi
"Jangan ada yang tidur," suara Adit memecah kesunyian. Suaranya rendah, parau, dan membawa beban tanggung jawab yang amat berat. Ia memegang dayung kayu dengan tangan yang gemetar, bukan karena takut, tapi karena kelelahan yang sudah melewati batas manusia normal.
Nadia tidak menjawab. Ia sedang berlutut di tengah sekoci, memangku kepala Dina. Cahaya bulan yang muncul di balik celah awan menyinari wajah Dina yang semakin transparan. Luka gores di punggungnya tidak lagi mengeluarkan darah merah, melainkan cairan bening yang berkilau kebiruan di bawah cahaya bulan.
"Nad, gimana?" tanya Bram. Ia duduk di haluan sekoci, matanya terus waspada menatap permukaan air di sekitar mereka. Ia masih memegang kapak besinya, seolah-olah predator itu bisa melompat dari kedalaman air kapan saja.
Nadia mengusap dahi Dina dengan sepotong kain sisa baju Aris yang masih bersih. "Suhunya turun drastis, Bram. Dia kedinginan, tapi di dalam tubuhnya... gue bisa ngerasain denyut yang nggak wajar. Denyutnya bukan di jantung, tapi di sepanjang tulang belakangnya."
Maya yang duduk di sudut sekoci, memeluk lututnya erat-erat. "Dia bakal jadi kayak mereka, kan? Lu nggak usah bohong sama kita, Nad. Kita udah liat semuanya."
Nadia menoleh ke Maya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh empati. "Gue nggak tau, May. Secara biologis, apa yang terjadi sama Dina beda sama Santi atau Tora. Dia nggak digigit secara langsung untuk 'ditanam' benih. Dia dicakar saat frekuensi jiwanya lagi sangat terbuka karena dia ngerasa kasihan sama makhluk itu."
Sambil menatap kegelapan, Bram teringat pada Tora. Mereka sudah berteman sejak semester satu, tapi Bram selalu merasa ada tembok yang dibangun Tora. Tora lahir dari keluarga yang serba kekurangan namun memiliki harga diri yang setinggi langit. Ayah Tora adalah seorang pecundang di mata lingkungan sekitarnya, dan Tora berjanji tidak akan pernah menjadi seperti ayahnya.
Itulah alasan kenapa Tora sangat agresif. Ia ingin membuktikan bahwa dia lebih baik dari siapa pun di kelompok ini. Keinginannya untuk mendominasi itulah yang membuatnya menjadi "makanan" yang sangat lezat bagi parasit dari pulau itu.
"Tora itu sebenernya cuma takut," bisik Bram tiba-tiba.
"Takut apa?" tanya Adit tanpa menoleh.
"Takut jadi orang biasa. Takut nggak dianggap. Pas dia berubah jadi monster itu, gue ngeliat ekspresinya sedetik sebelum matanya berubah kuning. Dia keliatan... puas. Kayak akhirnya dia punya kekuatan yang bikin semua orang takut sama dia," lanjut Bram.
Adit mendesah. "Dan itu yang ngebunuh dia. Keinginannya buat berkuasa justru bikin dia jadi budak makhluk itu dalam hitungan menit."
Nadia kembali memberikan penjelasan yang sangat mendetail, sebuah cara untuk tetap menjaga otaknya tetap rasional di tengah situasi yang tidak masuk akal ini. Ia menjelaskan kenapa kondisi Dina jauh lebih unik dan lambat dibanding kasus Santi.
"Coba kalian pikir," kata Nadia sambil membenahi posisi duduk Dina. "Santi bertahan lama karena dia damai. Tapi pada akhirnya dia menyerah karena dia kesepian setelah Gilang mati. Tapi Dina... Dina ini punya 'kemarahan yang suci'. Dia marah karena temen-temennya dibunuh, tapi marahnya nggak bikin dia pengen jadi monster. Marahnya bikin dia pengen ngelindungi kita."
Nadia menyentuh luka di punggung Dina. "Luka ini... parasitnya bingung. Mereka masuk ke tubuh seseorang yang frekuensi jiwanya lagi stabil di titik 'perlindungan'. Parasit ini kan makhluk komunal, mereka butuh pemimpin. Karena pemimpin mereka di kapal tadi udah jatuh, mereka nyari pemimpin baru. Dan mereka ngeliat potensi itu di Dina."
"Jadi maksud lu, Dina nggak berubah jadi predator mangsa, tapi jadi calon ratu?" tanya Maya dengan nada sarkas yang mulai kembali, pertanda ia mulai mendapatkan kewarasannya.
"Mungkin lebih buruk dari itu, May," jawab Nadia lirih. "Dia bisa jadi penghancur mereka dari dalam, atau dia bakal jadi yang paling haus darah di antara semuanya kalau dia nggak kuat nahan tekanannya."
Adit mencoba menggerakkan sekoci lebih menjauh dari area karang. Namun, dayung kayunya terasa sangat berat.
"Bram, gantiin gue. Tangan gue udah nggak bisa ngerasain apa-apa," kata Adit sambil merosot ke lantai sekoci.
Bram pindah ke tengah, mengambil alih dayung. "Gue pengen banget sekarang tiba-tiba ada kapal pesiar mewah lewat, terus kita dijemput pake helikopter, dikasih steak daging wagyu, terus kita mandi air anget dua jam."
"Gue cuma mau tidur di kasur kosan gue yang bau apek, Bram," sahut Maya pelan. "Gue bakal bayar uang kos setahun penuh di muka, terus gue nggak bakal keluar kamar sampe lulus."
"Lu mau lulus, May?" ledek Bram sambil mulai mendayung. "Gue pikir lu mau buka galeri lukisan daster bunga-bunga buat Aris."
Maya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Iya. Itu juga."
Tawa kecil yang sangat getir terdengar di sekoci itu. Sebuah humor yang lahir dari kedewasaan mereka menghadapi tragedi. Mereka tidak lagi menangis tersedu-sedu, mereka sudah berada di fase di mana tawa adalah satu-satunya cara untuk tidak menjadi gila.
Dina tiba-tiba mengerang. Matanya terbuka, tapi tidak menatap siapa pun di sekoci. Ia menatap ke langit, ke arah bintang-bintang yang mulai terlihat jelas karena badai benar-benar hilang.
"Dia... dia sudah pergi," bisik Dina.
"Siapa, Din? Sang Pemimpin?" tanya Adit cepat.
"Iya. Dia nggak mati karena jatuh ke karang, Dit. Dia mati karena dia melepaskan 'kemauannya' untuk hidup. Pas dia liat aku kasih empati ke anak buahnya yang sekarat tadi, dia sadar kalau selama beratus-ratus tahun dia cuma jadi budak dari rasa lapar yang nggak ada ujungnya."
Dina menarik napas panjang, tampak sangat sakit di setiap tarikan napasnya. "Dia bilang... terima kasih. Karena kita sudah menunjukkan kalau kematian itu bukan akhir yang buruk. Dia selama ini nggak bisa mati karena dia merasa harus terus menjaga kawanannya. Sekarang dia bebas. Tapi masalahnya... kawanannya sekarang nggak punya pemimpin. Dan mereka... mereka sedang kelaparan."
Sesuatu menabrak bagian bawah sekoci. DUG.
Suasana langsung senyap. Bram berhenti mendayung. Adit meraih parangnya kembali. Maya menggenggam botol alkohol terakhirnya.
"Mereka di bawah kita?" bisik Bram.
"Bukan cuma di bawah," ucap Dina, suaranya kini berubah menjadi lebih berat, lebih mature, seolah ada suara lain yang bergema di dalamnya. "Mereka ada di mana-mana. Mereka lagi nunggu aku buat ngasih perintah."
Adit menyadari bahwa mereka tidak mungkin lari dengan mendayung. Jika predator-predator itu sekarang tanpa pemimpin dan mulai mengikuti sekoci mereka karena tertarik pada Dina, maka sekoci ini adalah bom waktu.
"Dina, lu bisa kontrol mereka?" tanya Adit dengan tatapan tajam.
"Aku nggak tau, Dit. Kepalaku rasanya mau pecah."
"Dengerin gue, semuanya," Adit mengumpulkan mereka di tengah. "Kita nggak punya senjata besar. Kita nggak punya kapal tanker lagi. Tapi kita punya Dina. Kalau mereka nunggu perintah dari Dina, kita bakal kasih mereka perintah terakhir."
"Perintah apa, Dit?" tanya Nadia cemas.
"Perintah buat saling makan satu sama lain," jawab Adit dingin. "Kita bakal manfaatin kelemahan mereka yang paling dasar: rasa lapar yang nggak terkontrol. Kalau Dina bisa mancarin rasa 'lapar' itu ke mereka semua secara barengan, mereka bakal nganggep temen di samping mereka adalah makanan."
Ini adalah rencana yang sangat berisiko. Jika Dina gagal, dialah yang akan pertama kali dimangsa. Namun jika berhasil, mereka bisa menyapu bersih seluruh kawanan yang tersisa di perairan ini.
---
Malam semakin larut. Sekoci itu berhenti bergerak di tengah laut yang kini tenang seperti cermin. Di bawah permukaan air yang bening karena cahaya bulan, ribuan bayangan ramping mulai terlihat berputar-putar mengelilingi sekoci. Mata-mata kuning bermunculan di mana-mana, menunggu satu sinyal.
Dina duduk tegak. Ia melepaskan pegangan tangan Nadia. Ia berdiri di tengah sekoci yang goyah. Punggungnya yang terluka mulai mengeluarkan cahaya biru redup yang merambat ke seluruh pembuluh darah di leher dan wajahnya.
"Jangan tutup mata kalian," pesan Dina pada teman-temannya. "Liat gimana keserakahan bakal ngebunuh dirinya sendiri."
•••
Bab 36: Sinyal di Tengah Sunyi
"Jangan ada yang tidur," suara Adit memecah kesunyian. Suaranya rendah, parau, dan membawa beban tanggung jawab yang amat berat. Ia memegang dayung kayu dengan tangan yang gemetar, bukan karena takut, tapi karena kelelahan yang sudah melewati batas manusia normal.
Nadia tidak menjawab. Ia sedang berlutut di tengah sekoci, memangku kepala Dina. Cahaya bulan yang muncul di balik celah awan menyinari wajah Dina yang semakin transparan. Luka gores di punggungnya tidak lagi mengeluarkan darah merah, melainkan cairan bening yang berkilau kebiruan di bawah cahaya bulan.
"Nad, gimana?" tanya Bram. Ia duduk di haluan sekoci, matanya terus waspada menatap permukaan air di sekitar mereka. Ia masih memegang kapak besinya, seolah-olah predator itu bisa melompat dari kedalaman air kapan saja.
Nadia mengusap dahi Dina dengan sepotong kain sisa baju Aris yang masih bersih. "Suhunya turun drastis, Bram. Dia kedinginan, tapi di dalam tubuhnya... gue bisa ngerasain denyut yang nggak wajar. Denyutnya bukan di jantung, tapi di sepanjang tulang belakangnya."
Maya yang duduk di sudut sekoci, memeluk lututnya erat-erat. "Dia bakal jadi kayak mereka, kan? Lu nggak usah bohong sama kita, Nad. Kita udah liat semuanya."
Nadia menoleh ke Maya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh empati. "Gue nggak tau, May. Secara biologis, apa yang terjadi sama Dina beda sama Santi atau Tora. Dia nggak digigit secara langsung untuk 'ditanam' benih. Dia dicakar saat frekuensi jiwanya lagi sangat terbuka karena dia ngerasa kasihan sama makhluk itu."
Sambil menatap kegelapan, Bram teringat pada Tora. Mereka sudah berteman sejak semester satu, tapi Bram selalu merasa ada tembok yang dibangun Tora. Tora lahir dari keluarga yang serba kekurangan namun memiliki harga diri yang setinggi langit. Ayah Tora adalah seorang pecundang di mata lingkungan sekitarnya, dan Tora berjanji tidak akan pernah menjadi seperti ayahnya.
Itulah alasan kenapa Tora sangat agresif. Ia ingin membuktikan bahwa dia lebih baik dari siapa pun di kelompok ini. Keinginannya untuk mendominasi itulah yang membuatnya menjadi "makanan" yang sangat lezat bagi parasit dari pulau itu.
"Tora itu sebenernya cuma takut," bisik Bram tiba-tiba.
"Takut apa?" tanya Adit tanpa menoleh.
"Takut jadi orang biasa. Takut nggak dianggap. Pas dia berubah jadi monster itu, gue ngeliat ekspresinya sedetik sebelum matanya berubah kuning. Dia keliatan... puas. Kayak akhirnya dia punya kekuatan yang bikin semua orang takut sama dia," lanjut Bram.
Adit mendesah. "Dan itu yang ngebunuh dia. Keinginannya buat berkuasa justru bikin dia jadi budak makhluk itu dalam hitungan menit."
Nadia kembali memberikan penjelasan yang sangat mendetail, sebuah cara untuk tetap menjaga otaknya tetap rasional di tengah situasi yang tidak masuk akal ini. Ia menjelaskan kenapa kondisi Dina jauh lebih unik dan lambat dibanding kasus Santi.
"Coba kalian pikir," kata Nadia sambil membenahi posisi duduk Dina. "Santi bertahan lama karena dia damai. Tapi pada akhirnya dia menyerah karena dia kesepian setelah Gilang mati. Tapi Dina... Dina ini punya 'kemarahan yang suci'. Dia marah karena temen-temennya dibunuh, tapi marahnya nggak bikin dia pengen jadi monster. Marahnya bikin dia pengen ngelindungi kita."
Nadia menyentuh luka di punggung Dina. "Luka ini... parasitnya bingung. Mereka masuk ke tubuh seseorang yang frekuensi jiwanya lagi stabil di titik 'perlindungan'. Parasit ini kan makhluk komunal, mereka butuh pemimpin. Karena pemimpin mereka di kapal tadi udah jatuh, mereka nyari pemimpin baru. Dan mereka ngeliat potensi itu di Dina."
"Jadi maksud lu, Dina nggak berubah jadi predator mangsa, tapi jadi calon ratu?" tanya Maya dengan nada sarkas yang mulai kembali, pertanda ia mulai mendapatkan kewarasannya.
"Mungkin lebih buruk dari itu, May," jawab Nadia lirih. "Dia bisa jadi penghancur mereka dari dalam, atau dia bakal jadi yang paling haus darah di antara semuanya kalau dia nggak kuat nahan tekanannya."
Adit mencoba menggerakkan sekoci lebih menjauh dari area karang. Namun, dayung kayunya terasa sangat berat.
"Bram, gantiin gue. Tangan gue udah nggak bisa ngerasain apa-apa," kata Adit sambil merosot ke lantai sekoci.
Bram pindah ke tengah, mengambil alih dayung. "Gue pengen banget sekarang tiba-tiba ada kapal pesiar mewah lewat, terus kita dijemput pake helikopter, dikasih steak daging wagyu, terus kita mandi air anget dua jam."
"Gue cuma mau tidur di kasur kosan gue yang bau apek, Bram," sahut Maya pelan. "Gue bakal bayar uang kos setahun penuh di muka, terus gue nggak bakal keluar kamar sampe lulus."
"Lu mau lulus, May?" ledek Bram sambil mulai mendayung. "Gue pikir lu mau buka galeri lukisan daster bunga-bunga buat Aris."
Maya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Iya. Itu juga."
Tawa kecil yang sangat getir terdengar di sekoci itu. Sebuah humor yang lahir dari kedewasaan mereka menghadapi tragedi. Mereka tidak lagi menangis tersedu-sedu, mereka sudah berada di fase di mana tawa adalah satu-satunya cara untuk tidak menjadi gila.
Dina tiba-tiba mengerang. Matanya terbuka, tapi tidak menatap siapa pun di sekoci. Ia menatap ke langit, ke arah bintang-bintang yang mulai terlihat jelas karena badai benar-benar hilang.
"Dia... dia sudah pergi," bisik Dina.
"Siapa, Din? Sang Pemimpin?" tanya Adit cepat.
"Iya. Dia nggak mati karena jatuh ke karang, Dit. Dia mati karena dia melepaskan 'kemauannya' untuk hidup. Pas dia liat aku kasih empati ke anak buahnya yang sekarat tadi, dia sadar kalau selama beratus-ratus tahun dia cuma jadi budak dari rasa lapar yang nggak ada ujungnya."
Dina menarik napas panjang, tampak sangat sakit di setiap tarikan napasnya. "Dia bilang... terima kasih. Karena kita sudah menunjukkan kalau kematian itu bukan akhir yang buruk. Dia selama ini nggak bisa mati karena dia merasa harus terus menjaga kawanannya. Sekarang dia bebas. Tapi masalahnya... kawanannya sekarang nggak punya pemimpin. Dan mereka... mereka sedang kelaparan."
Sesuatu menabrak bagian bawah sekoci. DUG.
Suasana langsung senyap. Bram berhenti mendayung. Adit meraih parangnya kembali. Maya menggenggam botol alkohol terakhirnya.
"Mereka di bawah kita?" bisik Bram.
"Bukan cuma di bawah," ucap Dina, suaranya kini berubah menjadi lebih berat, lebih mature, seolah ada suara lain yang bergema di dalamnya. "Mereka ada di mana-mana. Mereka lagi nunggu aku buat ngasih perintah."
Adit menyadari bahwa mereka tidak mungkin lari dengan mendayung. Jika predator-predator itu sekarang tanpa pemimpin dan mulai mengikuti sekoci mereka karena tertarik pada Dina, maka sekoci ini adalah bom waktu.
"Dina, lu bisa kontrol mereka?" tanya Adit dengan tatapan tajam.
"Aku nggak tau, Dit. Kepalaku rasanya mau pecah."
"Dengerin gue, semuanya," Adit mengumpulkan mereka di tengah. "Kita nggak punya senjata besar. Kita nggak punya kapal tanker lagi. Tapi kita punya Dina. Kalau mereka nunggu perintah dari Dina, kita bakal kasih mereka perintah terakhir."
"Perintah apa, Dit?" tanya Nadia cemas.
"Perintah buat saling makan satu sama lain," jawab Adit dingin. "Kita bakal manfaatin kelemahan mereka yang paling dasar: rasa lapar yang nggak terkontrol. Kalau Dina bisa mancarin rasa 'lapar' itu ke mereka semua secara barengan, mereka bakal nganggep temen di samping mereka adalah makanan."
Ini adalah rencana yang sangat berisiko. Jika Dina gagal, dialah yang akan pertama kali dimangsa. Namun jika berhasil, mereka bisa menyapu bersih seluruh kawanan yang tersisa di perairan ini.
---
Malam semakin larut. Sekoci itu berhenti bergerak di tengah laut yang kini tenang seperti cermin. Di bawah permukaan air yang bening karena cahaya bulan, ribuan bayangan ramping mulai terlihat berputar-putar mengelilingi sekoci. Mata-mata kuning bermunculan di mana-mana, menunggu satu sinyal.
Dina duduk tegak. Ia melepaskan pegangan tangan Nadia. Ia berdiri di tengah sekoci yang goyah. Punggungnya yang terluka mulai mengeluarkan cahaya biru redup yang merambat ke seluruh pembuluh darah di leher dan wajahnya.
"Jangan tutup mata kalian," pesan Dina pada teman-temannya. "Liat gimana keserakahan bakal ngebunuh dirinya sendiri."
•••
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Breast Beneath The Spotlight
Di tengah mimpi menjadi idol K-Pop yang semakin langka dan brutal, delapan gadis muda dari ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...