The Last Escape

Reads
5.9K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 39 | "Karantina Di Teluk Sunyi"

Garis pantai Teluk Sunyi terlihat seperti garis emas di bawah cahaya pagi yang semakin terik. Namun, bagi para penyintas di atas sekoci yang ditarik oleh kapal patroli itu, daratan bukan lagi simbol kebebasan, melainkan sebuah kurungan baru. Angin laut yang bertiup sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan pinus, sangat kontras dengan bau anyir yang masih melekat di serat pakaian mereka yang compang-camping.


Bab 39: Karantina di Teluk Sunyi


"Pelan-pelan, Bram. Jangan ditarik paksa tangannya," bisik Nadia saat mereka mulai merapat di sebuah dermaga kayu tua yang terisolasi.

Bram mengangguk, ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang kotor. "Gue tahu, Nad. Gue cuma mau kita cepet-cepet napak tanah. Perut gue rasanya masih goyang-goyang kayak mau tumpah."

Adit berdiri di haluan sekoci, mengawasi tiga orang petugas berseragam yang menunggu di dermaga. Mereka mengenakan masker penutup wajah dan sarung tangan, memegang alat komunikasi dengan tegang. Tidak ada senjata api yang terlihat, hanya ada tongkat besi dan jaring besar, seolah mereka sedang bersiap menangkap hewan buas yang lepas dari kandang.

"Tolong, jangan ada yang keluar dari sekoci sampai kami beri aba-aba!" teriak salah satu petugas lewat pengeras suara.

Maya mendengus pelan, matanya yang sembab menatap petugas itu dengan sinis. "Liat deh, kita udah kayak tersangka kasus kriminal kelas kakap. Padahal kita cuma anak kuliahan yang mau liburan tapi malah dapet paket wisata ke neraka."

"Sabar, May," Adit menepuk bahu Maya. "Mereka cuma takut. Mereka nggak tahu apa yang kita hadapin di tengah laut tadi. Mereka cuma liat cairan biru di sekoci kita dan mereka mikir itu virus mematikan."

"Emang bener, kan?" sahut Maya pahit. "Virus yang namanya 'lupa cara jadi manusia'."

Di tengah sekoci, Dina duduk mematung. Punggungnya yang terluka kini sudah tidak lagi mengeluarkan cahaya biru, namun kulit di sekitar lehernya mulai mengeras, memberikan tekstur seperti batuan halus yang dingin. Matanya yang kini memiliki pupil biru neon terus menatap ke arah hutan di balik dermaga.

"Din, lu oke?" tanya Nadia lembut. Ia mencoba memegang tangan Dina, namun tangan itu terasa begitu berat dan kaku, seperti memegang patung perunggu yang dibungkus kulit.

Dina menoleh perlahan. Gerakan lehernya terdengar sedikit berderit, suara yang membuat bulu kuduk Bram berdiri. "Nad... di sana ada banyak sekali suara," bisik Dina. Suaranya terdengar seperti dua frekuensi yang bertabrakan; suara aslinya yang lembut dan suara rendah yang bergema.

"Suara apa, Din? Petugas itu?"

"Bukan. Suara tanah. Suara serangga. Suara mereka yang lapar di bawah tanah pulau ini," jawab Dina dengan pandangan kosong. "Ternyata, Pulau Seribu Hening itu bukan cuma satu-satunya tempat mereka. Mereka ada di mana-mana yang belum terjamah manusia, Nad. Mereka cuma lagi... tidur."

Kalimat Dina membuat suasana di sekoci semakin dingin meskipun matahari sedang terik. Pesan tersirat mulai merayap: bahwa kemenangan mereka di laut hanyalah memenangkan satu pertempuran kecil dalam perang yang jauh lebih besar dan purba.

Sambil menunggu proses pemindahan ke fasilitas pengasingan, Adit duduk termenung melihat ke arah laut lepas. Pikirannya melayang kembali ke ruang tengah rumahnya di Jakarta, sebulan sebelum mereka berangkat.

Ia ingat betapa semangatnya ia memaparkan rencana liburan ini di depan teman-temannya. "Pulau Seribu Hening, guys. Nggak ada sinyal, nggak ada polusi, cuma kita, pantai, dan ketenangan," katanya saat itu sambil memegang brosur usang yang ia temukan.

Ia teringat wajah Rico yang langsung memesan alat pancing baru, wajah Lala yang sibuk memilih bikini, dan wajah Aris yang sibuk menghitung sisa tabungannya. Adit merasa dialah yang telah "menjual" mimpi itu kepada mereka, tanpa menyadari bahwa ia sebenarnya sedang menuntun teman-temannya ke meja makan predator.

"Gue yang pilih tempatnya, Ris," gumam Adit pelan, seolah bicara pada roh Aris yang ia bayangkan duduk di sampingnya. "Gue yang bilang tempat ini aman."

"Dit, berhenti," suara Bram mengejutkannya. Bram duduk di sampingnya, mematahkan ranting kayu kecil yang ia temukan di lantai sekoci. "Lu bukan Tuhan yang tahu masa depan. Kalaupun bukan lu yang ngajak, si Tora pasti bakal nyari tempat lain yang sama gilanya. Kita semua pengen petualangan, dan kita dapet apa yang kita cari. Harganya emang mahal, tapi jangan lu tanggung sendiri."

Bram menatap Adit dengan kedewasaan yang baru ia temukan dalam semalam. "Kita masih ada empat orang. Tugas lu sekarang bukan nyesel, tapi pastiin kita berempat nggak pecah lagi."

Mereka akhirnya dipindahkan ke sebuah bangunan kayu panjang yang biasanya digunakan sebagai kamp konservasi penyu. Bangunan itu dikelilingi pagar kawat tinggi. Mereka diberikan pakaian bersih, air minum, dan makanan hangat. Namun, mereka dilarang keluar dari ruangan masing-masing.

Seorang pria paruh baya dengan pakaian safari cokelat masuk ke ruangan Adit dan Bram. Namanya Pak Hendra, otoritas setempat yang bertanggung jawab atas wilayah Teluk Sunyi.

"Saya butuh kejujuran kalian," kata Pak Hendra sambil meletakkan sebuah map di meja kayu. "Tim kami menemukan sisa-sisa logam dari kapal tanker yang kalian ceritakan. Tapi ada yang aneh. Cairan biru di sekoci kalian... itu bukan oli. Dan luka di punggung teman kalian, Dina... itu bukan luka biasa."

Adit menatap Pak Hendra dengan tenang. "Kami diserang, Pak. Oleh sesuatu yang nggak seharusnya ada di dunia ini."

"Jangan bercanda, Nak Adit. Saya butuh laporan ilmiah untuk pusat. Apakah ini serangan teroris? Atau kebocoran zat kimia?" tanya Pak Hendra dengan nada mendesak.

"Bapak mau laporan ilmiah?" Maya tiba-tiba muncul di ambang pintu (ia menyelinap keluar dari ruangannya). "Gimana kalau Bapak liat sendiri ke laut? Tanya sama ikan-ikan di sana kenapa mereka tiba-tiba punya selera makan daging manusia. Nggak ada istilah ilmiah buat setan, Pak."
"Maya, diem!" tegur Adit.

Pak Hendra menghela napas panjang. "Gadis yang bernama Dina itu... dia harus dipindahkan ke fasilitas pusat besok pagi. Dokter kami bilang detak jantungnya sangat aneh. Hampir menyerupai frekuensi suara radio."

Mendengar kata "fasilitas pusat", Adit langsung berdiri. "Nggak bisa, Pak. Dina tetap sama kami. Dia butuh ketenangan, bukan penelitian."
"Ini bukan permintaan, ini prosedur," jawab Pak Hendra dingin.

Malam itu, di dalam kamp yang remang, mereka berempat (setelah berhasil menyelinap ke satu ruangan yang sama) duduk melingkar di atas lantai kayu yang berderit.

"Jadi kita sekarang tawanan ya?" tanya Bram sambil mengunyah biskuit pemberian petugas. "Gue pikir habis lolos dari alien, kita bakal dapet kalung bunga sama diarak keliling kota sebagai pahlawan."

Dina yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. Suaranya kini terdengar sangat jernih, menggetarkan kayu di bawah mereka.

"Kalian tahu kenapa pemimpin mereka di kapal tadi berterima kasih?" tanya Dina.

Mereka bertiga menggeleng.

"Karena dia bukan pemimpin pertama," ucap Dina lirih. "Dia adalah manusia, sama seperti kita, ratusan tahun yang lalu. Dia adalah nelayan yang terdampar di Pulau Seribu Hening. Dia terinfeksi, dan karena dia yang paling kuat bertahan, dia dijadikan 'otak' buat seluruh kawanan itu. Dia nggak bisa mati selama kawanannya masih ada. Dia terjebak dalam tubuh itu, menonton dirinya sendiri memakan orang-orang yang datang ke pulau itu."

Dina menatap Adit dengan mata biru neonnya yang kini berkaca-kaca. "Dia berterima kasih karena rencana kalian menghancurkan seluruh kawanannya di laut tadi... itu memutus rantai hidupnya. Dia akhirnya bisa mati sebagai manusia, bukan sebagai monster."

Dina menggenggam tangan Adit. "Tapi sekarang... rantai itu nyari jangkar baru. Dan jangkar itu ada di punggungku."

Suara sirene mobil-mobil hitam terdengar mendekat ke arah kamp. Cahaya lampu sorot mulai menyapu dinding bangunan kayu itu. Pihak otoritas pusat telah datang lebih cepat dari yang dijanjikan.

"Mereka datang," bisik Maya. Ia meraih parang yang tadi berhasil ia sembunyikan di bawah dipan. "Gue nggak bakal biarin mereka bawa Dina buat dibedah."

Adit berdiri, menatap teman-temannya yang tersisa. Ia menyadari satu hal: musuh mereka sekarang bukan lagi monster dari pulau terpencil, melainkan ketakutan manusia akan hal yang tidak mereka mengerti.

"Kita nggak lari lagi," ucap Adit dengan suara yang sangat mature dan tegas. "Kita bakal pakai otak kita buat jebak mereka di sini, sama seperti kita jebak predator di laut. Bram, Maya, Nadia... siapin rencana 'all you can eat' versi kita."

•••



Other Stories
Hotel Tanpa Cermin

Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...

Teka-teki Surat Merah

Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Boneka Sempurna

Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...

Desa Ria

Tidak ada yang bisa kupercaya. Di sini, di desa sialan ini, tidak ada lagi yang bisa kuper ...

Balada Cinta Kamaliah

Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...

Download Titik & Koma