The Last Escape

Reads
6K
Votes
486
Parts
46
Vote
Report
Penulis Ezafareza

BAB 38 | "Pelabuhan Air Mata"

Sinar fajar mulai menyapu permukaan laut, mengubah warna air yang tadinya hitam pekat menjadi biru keabu-abuan yang tenang. Namun, ketenangan itu terasa palsu bagi empat pasang mata yang masih terjaga di atas sekoci kecil. Mereka mengapung di antara sisa-sisa buih biru dan potongan daging yang mulai tenggelam ke dasar samudera. Aroma amis yang tajam masih menempel di baju dan kulit mereka, sebuah pengingat bahwa pesta kanibal yang dipicu oleh Dina baru saja berakhir.


Bab 38: Pelabuhan Air Mata


Adit melepaskan pegangannya pada dayung kayu yang sudah retak. Telapak tangannya mati rasa, kulitnya yang melepuh karena uap panas di kapal tadi kini bergesekan dengan air garam, menciptakan rasa perih yang konsisten. Ia menoleh ke arah teman-temannya.

"Kita masih hidup," bisik Adit. Kalimat itu bukan sebuah perayaan, melainkan sebuah pernyataan fakta yang sulit dipercaya.

Bram menyandarkan punggungnya pada dinding sekoci, kapak besinya diletakkan di antara kakinya. Wajahnya yang tegap kini terlihat sangat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. "Hidup, Dit. Tapi gue nggak tau apa 'hidup' yang ini masih sama kayak 'hidup' kita yang dulu pas berangkat dari dermaga."

Maya mencoba duduk tegak, merapikan rambutnya yang kusut masai dan penuh noda. Ia meraih tas kecil yang entah bagaimana masih tergantung di bahunya. Di dalamnya, ia menemukan sebatang cokelat yang sudah meleleh dan hancur.

"Ada yang mau bagi rata?" tanya Maya dengan suara serak. Ia mencoba tersenyum, tapi bibirnya yang pecah membuat senyum itu terlihat menyedihkan. "Aris pasti bakal bilang kalau cokelat meleleh ini adalah bentuk seni abstrak yang paling jujur."

Tawa kecil yang sangat pendek keluar dari mulut Bram, tapi segera hilang saat mereka menatap Nadia yang masih memangku Dina.

Nadia menatap wajah Dina yang sangat tenang. Di mata teman-temannya, Nadia adalah sosok yang paling stabil; dia adalah mahasiswi kedokteran yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Namun, di dalam hatinya, Nadia sedang hancur. Ia tumbuh di bawah bayang-bayang ayahnya yang seorang dokter bedah ternama, pria yang selalu menuntut kesempurnaan.

Setiap kali ada temannya yang mati di pulau itu, Nadia merasa seolah-olah dia telah gagal dalam ujian paling penting dalam hidupnya. Ia merasa setiap nyawa adalah tanggung jawabnya.

"Dit," panggil Nadia pelan. Tangannya terus mengelus rambut Dina. "Dina nggak cuma tidur. Tubuhnya lagi ngelakuin sesuatu yang... yang nggak bisa gue jelasin pake logika dasar. Luka di punggungnya udah tertutup, tapi warnanya bukan warna kulit lagi. Warnanya perak, kayak sisik ikan tapi halus banget."

Adit mendekat, memperhatikan punggung Dina. "Apa dia bakal berubah total, Nad?"

Nadia menggeleng, air matanya jatuh ke pipi Dina. "Gue takut kalau dia tetep sadar tapi tubuhnya bukan milik dia lagi. Itu siksaan yang lebih parah daripada kematian Tora atau Santi. Dina itu orang yang paling suka menolong, Dit. Bayangin kalau dia harus hidup di dalam tubuh mesin pembunuh."

Sambil menunggu kemungkinan adanya kapal lewat, mereka mulai membahas hal yang selama ini mengganjal: sikap Sang Pemimpin kawanan predator yang seolah menyerahkan diri di akhir babak di kapal tanker.

"Kalian sadar nggak?" tanya Bram sambil menatap cakrawala. "Pas kursi kapten itu ngehantam dia, dia sebenernya bisa aja ngehindar. Dia punya kecepatan buat itu. Tapi dia diem aja. Dia malah ngebuka dadanya."

"Dina tadi bilang kalau dia capek," sahut Maya. "Gue mulai mikir, predator-predator ini sebenernya bukan jahat karena pilihan. Mereka itu cuma hasil dari proses yang salah di pulau itu berabad-abad lalu. Mungkin awalnya mereka cuma makhluk biasa yang terinfeksi sesuatu, terus mereka dipaksa buat makan supaya nggak ngerasain sakit."

Adit mengangguk setuju. "Pemimpin itu butuh seseorang yang punya empati buat 'ijinin' dia mati. Selama ribuan tahun, mereka cuma ketemu manusia yang takut atau marah sama mereka. Takut dan marah itu cuma bikin mereka makin kuat dan makin laper. Baru pas Dina ngeliat mereka dengan rasa kasihan, sistem mereka 'error'. Mereka baru sadar kalau mereka itu menderita."

Kebencian hanya akan melanggengkan siklus kekerasan, sementara empati, sekecil apa pun, bisa menjadi kunci untuk mengakhiri penderitaan yang paling purba sekalipun.

Suara Adit bergetar. Ia teringat alasan mereka terjebak di sini. Semuanya berawal dari keinginannya mencari tempat liburan yang "beda" dan "eksklusif". Ia merasa dirinya adalah arsitek dari tragedi ini.

"Dit, jangan nyalahin diri sendiri," kata Nadia seolah bisa membaca pikiran Adit. "Kita semua setuju buat ikut. Kita semua seneng-seneng di empat bab pertama liburan ini, inget? Kita ketawa-ketawa di pantai, kita bakar ikan, kita main kartu sampe pagi. Itu pilihan kita bersama. Tragedi ini bukan salah lu, ini cuma nasib yang ketemu sama keberanian kita."

Tiba-tiba, sebuah suara deru mesin terdengar dari kejauhan. Bukan suara mesin tanker yang berat, tapi suara mesin kapal patroli yang cepat.
"Liat! Di sana!" teriak Bram sambil berdiri dan melambaikan tangannya yang lemas.

Sebuah kapal patroli air dengan lampu rotator biru-merah terlihat di cakrawala, membelah ombak menuju ke arah mereka. Harapan meledak di dada mereka. Maya menangis bahagia, Bram berteriak-teriak sampai suaranya hilang.

Namun, Dina tiba-tiba terbangun. Ia duduk tegak, matanya terbuka lebar. Tapi pupil matanya tidak berwarna hitam, pupil itu berwarna biru neon yang menyala redup.

"Jangan..." bisik Dina. Suaranya berlapis, seperti ada dua orang yang bicara bersamaan.
"Din? Lu udah bangun?" Adit mendekat dengan cemas.

"Suruh mereka pergi, Dit... suruh mereka jangan mendekat," kata Dina. Tangannya mencengkeram pinggiran sekoci hingga besinya melengkung. "Aku bisa ngerasain mereka... jantung mereka... darah mereka... baunya manis banget..."

Nadia memundurkan tubuhnya, wajahnya dipenuhi ketakutan. "Dina, kontrol diri lu! Itu orang-orang yang mau nyelametin kita!"

"Aku nggak bisa!" Dina mengerang, ia memegangi kepalanya. "Informasi dari predator-predator yang mati tadi... semuanya masuk ke aku. Aku tau semua cara mereka berburu. Aku tau gimana rasanya ngerobek leher manusia. Dan bagian dari diriku... bagian itu pengen banget ngelakuinnya sekarang."

Kapal patroli itu kini hanya berjarak seratus meter. Petugas di atas kapal mulai berteriak menggunakan pengeras suara, menanyakan keadaan mereka.

"Adit, apa yang harus kita lakuin?" tanya Bram panik. "Kalau kita naik ke kapal itu dan Dina lepas kendali, kita cuma mindahin neraka dari pulau ke kapal patroli."

Adit berdiri, menatap Dina yang sedang berjuang melawan insting predator di dalam dirinya, lalu menatap kapal patroli yang semakin dekat. Ini adalah konflik moral yang paling berat. Mereka sudah selamat dari pulau, selamat dari kapal tanker, tapi sekarang ancaman terbesarnya adalah teman mereka sendiri.

"Kita nggak bisa naik ke kapal itu," ucap Adit dengan suara yang sangat dewasa dan penuh kesedihan.

"Apa maksud lu, Dit? Kita bakal mati di sini kalau nggak naik!" seru Maya.

"Dengerin gue! Kalau kita bawa Dina sekarang, dia bakal jadi subjek penelitian, atau dia bakal ngebunuh orang-orang itu tanpa sengaja. Kita harus stabilin dia dulu," jelas Adit.

Adit mengambil mic radio darurat di sekoci yang ternyata masih berfungsi secara terbatas. Ia menekan tombol bicara.

"Jangan mendekat! Kami membawa wabah berbahaya! Tetap di jarak lima puluh meter! Lempar tali dan tarik kami ke daratan kosong, jangan biarkan siapa pun naik ke sekoci ini!" teriak Adit ke arah kapal patroli.

Petugas di kapal patroli tampak bingung, namun mereka mengikuti instruksi itu karena melihat kondisi fisik para penyintas yang mengerikan. Mereka melemparkan tali pengait.

Saat sekoci itu mulai ditarik menuju daratan, Dina kembali tenang, namun ia terus menggumamkan nama-nama teman mereka yang sudah mati, Rico, Lala, Tora, Santi, Gilang, Aris, seolah nama-nama itu adalah mantra untuk menjaga kemanusiaannya agar tidak hanyut.

Nadia memegang tangan Dina yang kini terasa dingin dan keras seperti marmer. Ia tahu, perjalanan pulang ini bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari perjuangan baru untuk menyembuhkan apa yang tidak bisa disembuhkan oleh medis konvensional.

Maya menatap ke arah matahari yang kini sudah tinggi. "Pelabuhan air mata," gumamnya. "Kita pulang, tapi kita nggak bener-bener pulang."

•••



Other Stories
Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Ngidam

Clara mengira ngidam anehnya—memegang milik pria lain—akan membuat suaminya murka. Nam ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Melodi Nada

Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...

Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Download Titik & Koma